Pandemic

Pandemic
Petunjuk dari Kondopoga



Malam terasa lama sekali. Hanya api unggun saja yang membuatku terasa hangat. Aku ambil peta perjalananku. Tujuanku adalah Saint Petersburg. Disana mungkin aku bisa menemukan istri dan anakku. Selain itu aku harus mencari tahu darimana para bandit itu berasal. Pasti mereka punya markas di suatu tempat, mengingat perbekalan yang mereka tinggalkan cukup banyak.


Memang akhirnya kami harus mencari barang-barang untuk bertahan hidup. Tidak ada yang tersisa di barat. Apa yang kau harapkan dari kota-kota yang hancur? Kau beruntung kalau bisa menemuka roti kering dari reruntuhan itu, setidaknya roti kering bisa dimakan tanpa harus khawatir akan sakit. Tidak ada jamur yang tumbuh di reruntuhan, asal tidak lembab. Yang harus kau khawatirkan adalah kotoran yang mungkin saja bisa masuk ke dalam mulutmu.


Kalau kau menemukan air bersih, kau lebih dari sekedar beruntung. Kami sendiri sering kali mengambil air kotor dari sungai lalu merebusnya supaya bisa diminum. Biasanya bekas supermarket masih memiliki air kemasan, itupun kalau belum diambil orang. Beberapa kali aku dan Anastasia menemukan banyak sekali air di supermarket kota Murmansk. Tidak hanya itu, di Murmansk segalanya masih lebih baik. Setidaknya bahan makanan lebih mudah ditemukan di Murmansk waktu itu.


Satu hal lagi adalah jaringan komunikasi yang benar-benar putus. Handphone tidak akan berguna sekarang disini, di Rusia. Tidak ada sinyal, tidak ada listrik. Menemukan baterai untuk senter saja sudah bagus. Semuanya benar-benar hancur di barat.


Aku menaruh petaku dan keluar dari rumah itu, merasakan dinginnya angin malam yang menusuk jauh ke tulang. Aku sudah biasa dengan ini. Setelah dua minggu akhirnya aku bisa kebal dengan angin malam. Kota ini kosong, mungkin hanya ada kami bertiga dan Edgar belum juga kembali.


Saat aku hendak kembali ke dalam, mataku menangkap bayangan orang. Ada yang mendekat. Segera ku keluarkan pistol Makarov untuk berjaga-jaga. Aku berdiri tegak. Aku sudah siap membidik orang itu, kalau saja dia tidak berteriak. Itu Edgar. Akhirnya dia kembali juga.


"Huh bung, harusnya kau membantuku membawa tas ini daripada menodongku dengan Makarov" protes Edgar di depan wajahku. Edgar menjatuhkan dua kantong besar. "Kau tidak akan percaya ini. Aku menemukan surga makanan. Segezha benar-benar hebat."


Aku membuka salah satu kantong itu. Isinya penuh dengan daging kaleng, sereal, dan susu kental. Mungkin totalnya ada lebih dari 30 kaleng. "Ini benar-benar gila. Untung saja aku lebih dulu menemukan semua ini sebelum orang lain" kata Edgar bangga. "Lalu kantong yang satu lagi isinya apa?" tanyaku.


Edgar membukanya dan terlihat beberapa potong daging segar. Ohh bentuknya berantakan. Edgar tidak pandai memotong daging sepertinya. "Daging segar. Daging tikus. Lebih baik daripada kau makan daging busuk meski itu daging sapi" kata Edgar. "Aku sudah biasa makan daging tikus goreng jadi aku tidak akan protes soal rasanya" timpalku.


"Kau tahu, disaat seperti ini kau tidak bisa memilih-milih makanan. Makan apa saja yang kau temukan asal masih bisa dimakan" kata Edgar. "Masuklah, kau butuh istirahat."


Edgar meninggalkanku sendirian di luar. Orang itu memang ahli kalau soal mengumpulkan makanan. Kurasa dua anggota Navy Seals itu ada gunanya. Tentu saja mereka lebih hebat daripada kami berdua. Mereka orang militer, sedangkan aku dan Anastasia bukan apa-apa.


Waktu berlalu...


Sekarang pasti sudah tanggal 24 September,


Tidak ada bintang di langit, hanya ada bulan purnama. Ohh sial, kalau begini jadinya aku tidak akan mengizinkan anak dan istriku pergi. Satu-satunya alasan adalah anakku merengek minta bertemu dengan ibuku (neneknya) disana. Aku tidak pernah mendengar berita kalau Saint Petersburg dibom, bahkan aku juga tidak pernah mendengar berita kalau kota-kota di selatan dibom.


Tapi bodohnya aku. Tidak pernah mendengar bukan berarti tidak ada yang terjadi. 25 Desember 2020, tepat satu minggu setelah istri dan anakku pergi, Kolpino, kota terdekat dengan Saint Petersburg, dibom. Setelah itu selama 2 bulan, aku sama sekali tidak tahu kabar istri dan anakku. Telepon tidak berguna, tidak ada komunikasi yang berfungsi di barat. Aku bertahan di Nikel sampai rudal menghantam kota itu Februari tahun ini.


"Tidak merasa dingin?"


Tiba-tiba Anastasia datang dan memberikan selimut kecil padaku. Jujur, aku tidak merasa dingin, tapi aku tidak mau mengecilkan hatinya, jadi aku terima saja. Anastasia sendiri memakai jaket yang cukup tebal untuk menahan angin malam.


"Sama sekali tidak. Tapi terima kasih" kataku singkat. "Ayolah, jangan murung begitu! Kau pasti bisa menemukan anak dan istrimu" seru Anastasia.


"Kau akan mengerti rasanya ketika kau ada di posisiku saat ini" balasku pelan. Aku rasa dia tidak mengerti perasaanku sebagai seorang ayah. "Orangtuaku pergi ke Moskow. Aku anak yang baik dan aku tidak berpikir ada yang aneh. Aku pikir Moskow adalah tempat yang aman saat rudal-rudal itu mulai ditembakan. Yah, aku juga tidak tahu apakah Moskow masih bertahan atau tidak. Kita hanya harus kesana kan?" kata Anastasia.


Yah, kalau dipikir-pikir lagi keadaannya lebih sulit. Dia hanya anak berusia 16 tahun dan harus bertahan dengan kita. Kalau soal dua orang Amerika itu aku tidak masalah, begitu juga soal diriku. Kalau aku mati pun tidak ada yang akan tahu, termasuk anak dan istriku kalau mereka memang masih hidup. Tapi Anastasia, yang masih 16 tahun, dia menjalani hidup yang keras.


"Kalau kita berjalan kaki seperti ini terus, kita bisa mencapai Moskow dalam dua minggu atau lebih. Aku harap kita bisa menemukan kendaraan yang bisa dipakai" kataku. "Aku tidak masalah kalau harus berjalan kaki. Tapi lebih baik naik kendaraan" jawabnya.


Angin malam semakin dingin, tapi kami berdua masih berada diluar. Aku yakin Edgar dan Claire masih tidur sekarang.


"Kenapa kau tidak takut denganku saat itu?" tanyaku mencoba memancing ingatannya. "Hmm saat itu ya... aku sedang memasak mie untuk makan siang. Mungkin rasa laparku mengalahkan rasa takutku" jawab Anastasia.


"Aku memegang pistol Makarov ditanganku, lalu ada juga pisau. Kenapa kau tidak lari?" tanyaku lagi. "Jujur saja, aku tidak masalah kalau aku mati saat itu juga. Orangtuaku pergi, dan mungkin mereka tidak akan kembali ke Murmansk. Kalau aku mati, aku tidak akan membuat siapapun sedih kan? Paling aku hanya dimakan tikus atau membusuk dan menyisakan tulang saja. Disaat seperti ini, banyak orang lebih peduli pada diri mereka sendiri dibanding dengan orang lain" jawab Anastasia.


Ayolah Yuri!! Kenapa kau bisa kalah dengan anak kecil itu?


Tapi aku sadar kalau dia lebih kuat dariku, setidaknya dalam hal mental. Mungkin hanya Anastasia yang berpikiran tanpa beban begitu. Mungkin anak seumurannya tidak akan bisa sepertinya.


"Yah, mungkin kau benar. Aku merasa tertekan ketika rudal itu muncul. Aku hanyalah seorang buruh pabrik. Istriku sangat cantik dan pengertian. Anakku juga masih kecil saat peristiwa itu terjadi, baru 5 tahun. Kau tahu, kepalaku ini terasa ingin meledak sewaktu aku tahu kalau Kolpino dibom. Aku berpikir kalau Kolpino dibom, maka Saint Petersburg juga akan dijatuhi rudal" kataku.


"Aku juga tidak tahu apakah orangtuaku sudah sampai di Moskow atau tidak. Orangtuaku pergi pada tanggal 20 Desember 2020, tepat satu hari setelah Tula dibom. Aku tidak tahu kenapa orangtuaku pergi kesana. Aku harap mereka sampai di Moskow" kata Anastasia. "Akan jadi sangat sulit kalau kita memikirkan itu semua. Berarti tujuanmu sekarang itu Moskow kan?" kataku.


Anastasia mengangkat bahunya. "Entah. Untuk sekarang memang Moskow. Tapi kalau orangtuaku tidak ada disana, aku akan terus mencari mereka, meski itu sendirian. Kalau aku mati ya sudah, semua selesai" jawabnya. "Kau memang anak kecil yang keras kepala" kataku sambil memukul pelan bahunya.


"Tapi, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kalau aku tidak menemukan mereka di Saint Petersburg, aku akan terus mencari mereka berdua" kataku. "Kau ayah yang baik, Yuri. Aku yakin kau pasti akan menemukan mereka berdua" timpal Anastasia.


Aku tersenyum pahit. Ya itu sedikit bisa membantuku. Setelah percakapan singkat itu, aku dan Anastasia kembali ke rumah. Malam terlalu dingin jika terus berada diluar, kami berdua tidak mau sakit karena angin malam. Hanya orang bodoh yang melakukannya.


"Kau yakin kuat berjalan Edgar? Kau baru kembali kemarin malam" kata Claire. "Ya, aku yakin. Aku sudah tidur semalam. Aku hanya butuh sedikit makan" jawab Edgar.


Edgar membuka satu kaleng sereal dan memakannya sedikit. Menghemat makanan juga penting disaat seperti ini. "Isi penuh senjata kalian semua. Mungkin kita akan bertemu banyak bandit" kata Edgar setelah menyelesaikan sarapan kecilnya.


"Kalau kita jalan kaki, paling cepat 3 hari kita sudah sampai di Saint Petersburg. Yah paling lama 5-7 hari" kata Anastasia sambil membaca peta. "Apa ada kota ditengah perjalanan kita?" tanya Claire.


"Kondopoga dan Petrozavodsk. Jaraknya masing-masing 1-2 hari kalau berjalan kaki" jawabku. "Jalan kaki ya...." gumam Edgar yang sedang mengisi amunisi MP5-nya. "Hei, aku menemukan sebuah mobil di suatu tempat. Aku rasa masih bisa dipakai" seru Edgar.


Kami bertiga memandang ke arah Edgar. Orang itu hanya geleng-geleng kepala. "Akan aku tunjukan tempatnya. Tidak jauh dari sini" kata Edgar.


Setelah selesai menyiapkan segala perlengkapan, kami menuju tempat yang dibilang Edgar. Ternyata memang tidak jauh. Sebuah bengkel yang kelihatannya masih bagus, dan ada mobil GAZ yang masih berfungsi.


"Hebat! Aku kira tidak ada yang tersisa di kota ini" kata Anastasia. "Ya, mobil ini memang berfungsi baik. Tapi bensinnya, aku rasa tidak cukup kalau sampai Saint Petersburg" kataku.


"Paling jauh mobil ini bisa membawa kita kemana?" tanya Claire. "Ke Petrozavodsk, kurasa. Edgar, kau tidak menemukan adanya bensin disini?" kataku.


"Entah, tidak ada. Tapi ada beberapa kendaraan yang rusak didalam. Mungkin masih ada bensinnya" kata Edgar sambil menunjuk ke dalam bengkel.


Aku turun dari mobil itu dan berjalan ke dalam. Banyak sekali peralatan disini, sayangnya sudah rusak. Yang membuatku terkejut adalah, aku melihat mobil Volga disini. Ahh, andai mobil itu masih bisa digunakan.


"Lihat itu kan? Ada Volga disini, tapi sayangnya sudah rusak" kata Edgar. "Tidak penting, ayo kita lihat bensinnya" suruhku.


Aku menemukan satu jerigen kosong. Segera Edgar membongkar mobil itu. Kami mengambil bensin yang tersisa dari mobil mewah itu. "Jerigen ini bisa muat 30 liter, mungkin cukup" kata Edgar.


Benar saja. Jerigen itu hampir penuh. Aku rasa ini cukup untuk perjalanan kami. Setidaknya di Petrozavodsk nanti kita bisa menemukan bensin lagi.


"Ini sudah cukup. Ayo pergi!" kata Edgar.


09.30


Kami sampai di Kondopoga. Sama seperti kota lainnya, Kondopoga hancur. Hanya saja, tidak seperti Nikel, Murmansk, atau Segezha, sepertinya kota ini tidak dihancurkan dengan roket. Tidak ada kawah-kawah bekas hujan roket ditanah, atau reruntuhan gedung-gedungnya. Rusia punya cara lain untuk menghancurkan negerinya sendiri. Meski begitu, tidak banyak bangunan utuh, setidaknya itu yang aku lihat begitu memasuki kota ini. Kami berhenti di salah satu rumah sakit dan mencari barang-barang yang mungkin berguna. Aku mencari dengan Claire, sedangkan Edgar dengan Anastasia.


Aku masuk ke gudang obat. Seperti yang kami duga, banyak obat-obatan yang sudah kadaluarsa. Aku hanya mengambil beberapa lusin perban, delapan botol kecil alkohol, dan sekotak pil belerang. Claire menemukan suatu yang lebih bagus, dua botol obat anti-radiasi. Obat itu akan sangat berguna nanti.


"Hanya ini yang masih bisa digunakan" kata Claire. "Tidak apa-apa. Ini cukup untuk beberapa hari" kataku sambil memasukan benda yang aku temukan ke dalam tas.


"Ayo kita pergi dari sini. Bau obat basi hampir menghambat pernapasanku" keluhku. Ruangan ini memang benar-benar bau.


Aku dan Claire keluar dari sana. Kami berdua berkeliling rumah sakit berlantai tiga ini. Ruang bangsal kosong, tidak ada mayat. Hanya tersisa alat-alat yang sudah rusak. Aku rasa tidak ada yang bisa ditemukan disini.


"Kita susul Edgar. Pasti mereka ada di kantin" kataku. Aku yakin mereka ada disana. Edgar, entah kenapa, sangat ahli dalam hal mencari dan mengumpulkan makanan. Sambil ke kantin, aku merasa ada yang tertinggal.


"Ada apa Yuri? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu" kata Claire. "Entahlah. Aku merasa pusing, dan ini aneh" jawabku.


"Kau sakit? Masih ada Paracetamol di tas" kata Claire. "Tidak tidak. Bukan pusing yang itu. Aku merasa ada yang tidak beres disini. Bahkan di seluruh kota ini" jawabku.


Kami berdua tidak sampai ke kantin. Aku duduk di lobby rumah sakit, menunggu Edgar dan Anastasia. Mereka pasti juga akan kesini. Aku mengambil sebotol air dan meminumnya sedikit. Hemat air, itu penting.


"Kalian ada disini ya?" seru Edgar yang datang dari arah belakang. "Apa yang kau dapatkan?" tanyaku.


"Cukup banyak. Sepuluh botol air, tiga kotak pasta, enam daging kaleng, dan kopi. Tidak buruk kan?" jawab Edgar. "Tidak, itu bagus. Lebih dari cukup kalau hanya untuk ke Saint Petersburg" timpalku.


"Edgar, kau lupa sesuatu" kata Anastasia. "Ohh iya, ada yang aku lupakan. Tadi kami menemukan sebuah ruangan yang terkunci rapat. Sepertinya itu ruangan kepala rumah sakit ini. Kalian mau lihat?" kata Edgar.


Bingo. Itu yang mungkin mengganggu pikiranku tadi. "Bawa kami kesana!" seruku.


Dipimpin Edgar, kami menuju ruangan terkunci itu. Aku yakin ada satu informasi yang sangat berguna. Ruangan itu tidak jauh dari lobby. Pintunya terbuat dari besi dan sayangnya, memang terkunci.


Bersambung