
Sial, benar-benar keras. Pintu seperti ini tidak bisa didobrak dan tidak ada kuncinya. Pintu ini dikunci dari dalam, pastinya.
"Hufftt...tidak bisa dibuka" keluhku. "Kita harus menggunakan sesuatu yang lebih keras dari besi" kata Anastasia.
"Atau sesuatu yang bisa menghancurkan besi" kataku lalu memandang Claire dan Edgar. "Apa? Ada apa dengan kami?" tanya Claire.
"Berapa banyak granat yang kalian punya?" tanyaku. "Kau gila!" jawab Claire ketus. "Kau mau membuang satu granat demi pintu ini?" kata Claire.
"Yang aku tanya adalah berapa banyak granat yang kalian punya. Dan bukan begitu jawabannya" kataku menahan emosiku. "Cukup. Mungkin ada sepuluh. Tapi kalau kita menggunakan granat, kemungkinan bisa menghancurkan lebih dari sekedar pintu ini" kata Edgar.
"Edgar! Kau mau membuang granat itu demi sebuah pintu besi yang bahkan kau tidak tahu apa isinya?" kata Claire. Kali ini dia benar-benar marah. "Biarkan Yuri melakukan pekerjaannya. Kita hanya perlu melihat saja" balas Edgar.
Claire mendengus kesal dan pergi menjauh dari kami. Edgar membuka tasnya dan melempar satu granat padaku. "Satu granat sudah cukup untuk meledakkan pintu itu" kata Edgar.
Kami bertiga mengambil posisi agak jauh dari pintu itu. Sementara aku melempar granat itu, mereka bertiga menutup telinga masing-masing dan....
BOOM!!!!
Granat itu meledak pas di depan pintu besi itu. Lemparanku tepat sasaran. Pintu itu jebol, dan ada bagian tembok yang rusak akibat ledakan itu. Kami berempat masuk ke dalam, cukup gelap sehingga aku harus menyalakan senter.
"Ohh sial!"
Aku spontan mengumpat ketika melihat apa yang ada di depanku. Itu mayat, masih lengkap dengan seragam dokternya. Sepertinya dokter itu meninggal saat dia tidur di kursinya. Edgar memberanikan diri mendekati mayat itu, mengangkat kepala mayat itu dari atas meja kerjanya.
"Ohh shit" umpat Edgar. Sebagian kepala mayat itu sudah berubah jadi tengkorak, sebagian lagi dipenuhi belatung. Edgar sibuk membersihkan belatung yang menempel di bajunya.
"Aleksander Shabanov" ucap Edgar membaca pin nama mayat itu. "Sepertinya dia kepala rumah sakit ini" lanjut Edgar.
"Siapapun dia, kita tak punya urusan lagi dengannya" protes Claire. "Tunggu!" selaku. "Kalian semua, tolong cari apapun yang ada di tempat ini! Aku yakin ada petunjuk yang bisa kita dapatkan" lanjutku.
Anastasia segera mengacak-acak rak buku. Usahanya nihil karena hanya ada buku-buku tentang kedokteran. Edgar memeriksa mayat dokter itu sambil menahan nafasnya. Dia cukup berani melakukannya, tapi ada ada apapun yang tersisa dari mayat itu. Claire memeriksa semua lemari yang ada di ruangan itu. Aku sendiri tertarik dengan meja kerja dokter Aleksander. Tapi, tidak ada benda penting disana. Hanya saja, ada satu laci yang terkunci.
"Sobat, sepertinya aku menemukan sesuatu" seruku. Karena tidak menemukan kuncinya, aku tarik dengan paksa laci yang terkunci itu. Bingo. Ada satu buku catatan disana. Buku itu penuh dengan debu.
"Mari kita lihat apa yang ditulis oleh kawan kita" kataku. Halaman awal buku itu hanya menceritakan keseharian dokter itu. Dimulai dari tanggal 24 April 2016, tanggal dimana dia jadi kepala rumah sakit disini. Selanjutnya berisi catatan-catatan yang tidak begitu penting. Sampai di halaman yang bertuliskan 2 Januari 2020.
"2 Januari 2020
Sial! Tahun ini tahun yang buruk. Aku bahkan tidak sempat melihat kembang api pada tahun baru. Pasien disini membludak. Bahkan para dokter tidak mampu menangani semuanya. Tapi aku yakin kita bisa"
"Ini pasti tentang virus itu" seru Anastasia. "Baca lebih jauh sobat. Aku penasaran" timpal Edgar.
Lima halaman selanjutnya benar-benar kosong tanpa coretan sedikitpun. Entah disengaja atau tidak, yang jelas catatan lainnya muncul 6 halaman berikutnya. Tapi tanggalnya lewat jauh, kali ini di bulan Maret.
"14 Maret 2020
Lebih banyak pasien yang meninggal daripada yang sembuh di Kondopoga. Kami kekurangan tenaga medis, bahkan para relawan tidak memberikan dampak signifikan terhadap penanganan penyakit ini. Aku harap vaksin ampuh segera ditemukan"
Aku membalik halaman lagi. Kali ini sangat jauh, sampai langsung ke bulan September,
"1 September 2020
Putraku berulang tahun hari ini. Sayang aku bisa merayakannya. Aku terjebak disini. Suasananya lebih mirip neraka. Para dokter mulai ikut terinfeksi virus. Tidak ada yang sehat disini, hampir tidak ada. Mungkin tinggal aku dan temanku, Vladimir, yang masih sehat. Semua ruangan penuh mayat, bahkan lobby juga"
Ini mengerikan. Aku tidak pernah membayangkan kalau begini kejadiannya. Kota asalku, Nikel, mungkin memiliki masalah yang sama. Aku saja yang tidak tahu.
"Apa itu yang terakhir?" tanya Claire.
Aku membalik halaman lagi. Bulan Desember,
"*2 Desember 2020
Persetan dengan Rusia! Severodinsk dibom. Aku jadi takut sekarang, semakin takut. Apakah kota ini akan memiliki nasib yang sama*?"
"Tanggalnya tepat. Severodinsk memang dibom tanggal 2 Desember" kata Anastasia. "Kau bilang kapan orangtuamu pergi?" tanyaku pada Anastasia.
"19 Desember, satu hari setelah Tula dibom" jawab Anastasia. "Istri dan anakku pergi tanggal 18 Desember. Itu berdekatan dengan hari orang tuamu pergi" kataku.
Pandanganku beralih ke Edgar dan Claire. "Kapan Kola dijatuhi rudal?" tanyaku. "Sekitar tanggal 15 Desember. 15 atau 16. Sekitar tanggal itu" jawab Edgar.
Apa yang terjadi pada minggu kedua bulan Desember? Aku membalik halaman lagi. Tepat. Tanggal 10 Desember.
"10 Desember 2020
Entah apalagi yang terjadi. Moskow menyuruh kami pindah sekarang juga. Aku tidak mau kesana, begitu juga Vladimir. Tapi tidak dengan yang lain. Para dokter dan pasien berbondong-bondong pergi dari tempat ini. Aku harap mereka baik-baik saja"
Sebuah perintah ke Moskow. Itu yang tertulis. Aku membalik halaman lagi. Kali ini tanggal 10 Januari 2021.
"10 Januari 2021
Vladimir meninggal. Hanya ada aku sendiri disini. Nafasku semakin sesak. Obat-obatan di gudang sudah kadaluarsa, begitu juga dengan makanan di kantin rumah sakit ini. Ohh Tuhan, apapun yang sudah aku lakukan, aku bersyukur tidak ikut pergi ke Moskow"
Selesai. Hanya sampai 10 Januari 2021. Mungkin dokter itu meninggal tidak lama setelah menulis catatan terakhir itu. Ada satu kesimpulan yang aku ambil, Kondopoga tidak dibom. Kota ini hancur karena ditinggalkan penduduknya. Mereka semua pergi ke Moskow. Tapi apa yang terjadi sebenarnya?
12.00
Kami bersiap meninggalkan Kondopoga setelah mengumpulkan beberapa barang yang kami butuhkan, terutama bahan makanan. Selanjutnya adalah Petrozavodsk. Bensinnya masih cukup untuk kesana.
"Menurutmu apa yang terjadi di Moskow?" tanya Edgar. "Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga tidak pernah mendengar perintah pergi ke Moskow. Istri dan anakku pergi ke Saint Petersburg, bukan ke Moskow" jawabku.
"Anastasia, orangtuamu pergi ke Moskow kan? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Edgar. "Tidak, aku tidak tahu apa-apa. Orangtuaku pergi begitu saja. Mereka tidak bilang apa-apa" jawabnya.
"Kalau kalian mau tahu, kalian harus ke Moskow. Yuri, Saint Petersburg dan Moskow tidak terlalu jauh kan?" kata Claire. "Tidak jauh kalau menggunakan kendaraan. Kalau aku tidak menemukan istri dan anakku disana, aku pasti ke Moskow" jawabku.
14.45
Kami sampai di Petrozavodsk. Kali ini berbeda dengan kota-kota yang pernah aku singgahi, hampir tidak ada bangunan yang rusak disini. Kota ini tidak dibom seperti yang lainnya. Dan tidak terlihat seperti kota yang ditinggalkan, meski aku tidak melihat seorang pun disini.
"Mobil ini butuh bahan bakar. Semoga aku menemukan bengkel disini" kataku. "Aku tidak masalah berjalan kaki sampai ke Moskow" kata Edgar.
Tapi, belum sempat aku menemukan apa yang aku cari, mobil ini keburu berhenti. Bensinnya habis. Kami berhenti di dekat kantor polisi. Dilihat dari bentuknya, sepertinya ini kantor kepolisian daerah.
"Apa yang kira-kira bisa kita temukan di dalam?" tanya Edgar. "Kalau kita beruntung, kita bisa menemukan amunisi disana" jawabku.
Dengan cepat Edgar menuju kesana. Gerbangnya tidak dikunci, kami bisa dengan mudah masuk kesana. Di halaman kantor polisi itu ada truk tipe KRAZ. Aku mengecek kondisi truk itu dan masih berfungsi. Keberuntungan masih berpihak pada kita.
"Truk yang bagus" puji Claire. "Ini bukan truk biasa" jawab Anastasia. "Truk ini memiliki kemampuan off-road dan hemat bahan bakar. Ini cocok untuk perjalanan panjang kita" lanjutnya.
Kami meninggalkan beberapa perbekalan kami di dalam truk. Tidak akan ada yang mengambilnya, kami yakin tidak ada orang lain disini. Hanya amunisi dan granat yang kami bawa masuk ke dalam sana.
Pintunya tidak dikunci, bahkan engselnya sudah rusak dan berkarat. Anehnya, saat kami masuk, kami melihat ada bekas goresan di dinding dengan sedikit bercak darah.
"Goresan ini seperti goresan serigala. Padahal seharusnya tembok setebal ini tidak akan mudah digores dengan kuku serigala. Bahkan ini lebih besar" kataku. "Mungkin bekas beruang. Yang jelas kita harus berhati-hati sekarang" kata Claire.
Kami berjalan berempat untuk berjaga-jaga. Ruang pertama yang kita tuju tentu saja gudang senjata. Pintunya terkunci, tapi karena terbuat dari kayu, aku bisa dengan mudah mendobraknya.
"Lihat semua ini!" seru Edgar girang. Dia menemukan banyak amunisi untuk MP5 miliknya. Sedangkan tidak banyak amunisi AK-47 disini. Tapi aku menemukan satu pistol tipe Glock yang masih bagus beserta amunisinya. Claire? Jangan harap dia bisa menemukan amunisi Dragunov disini.
"Sial. Tidak ada amunisi yang pas untukku" kata Claire. "Ayolah Claire, kau bisa menemukan senjata lainnya" kata Edgar.
Claire berkeliling ruangan ini. Tidak ada apa-apa yang menarik perhatiannya. Dia hanya mengambil beberapa granat yang tersisa. Aku bisa lihat dia kecewa karena tidak mendapat apa yang diinginkan.
Belum selesai kami mencari perlengkapan disana, sekelebat bayangan terlihat olehku. Aku segera menyuruh yang lainnya untuk merapat ke tembok, menjauhi pintu. Tak lama, kami semua hampir tak percaya dengan apa yang kami lihat. Seekor serigala seukuran Beruang Grizzly. Itulah yang menyebabkan goresan di dinding yang tadi kami lihat. Mungkin hewan ini juga menyebabkan kerusakan di kantor ini.
Aku memberi isyarat pada mereka untuk tetap diam. Serigala besar itu hanya lewat, sama sekali tidak mengendus atau melirik masuk ke dalam. Setelah beberapa lama, aku memberanikan diri melihat keluar. Serigala itu sudah tidak ada, mungkin pergi ke ruangan lain. Dengan cepat aku menyuruh mereka keluar. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini.
Kami berempat berhasil keluar hampir tanpa suara. Dengan cepat kami semua berlari menuju pintu keluar.
BRUUGGHH!!!!
Anastasia terjatuh. Suara yang ditimbulkannya cukup keras karena tempat ini kosong. Edgar, yang posisinya paling dekat dengan Anastasia, segera membantunya berdiri. Tapi sepertinya kita ketahuan.
"Teman, kita harus menghadapi anak besar sekarang" seru Edgar.
Serigala itu berada tepat di depan kami, mungkin berjarak kurang dari 10 meter dengan tempat Edgar dan Anastasia. Mereka berdua akan jadi santapan empuk untuk serigala besar itu.
"Hey волк¹!! Ikuti aku!!"
Aku melepas satu tembakan dan berlari ke sisi jauh Edgar dan Anastasia. Dengan begini serigala itu mengejarku sehingga mereka berdua bisa menyelamatkan diri. Serigala itu memang besar, tapi di tempat seperti ini yang sempit dan banyak reruntuhan, larinya terkesan kikuk. Seringkali dia menabrak yang mengakibatkan kecepatannya berkurang.
"Kau lambat глупый²!" Aku melompat ke depan dan membalik badanku. Dengan tepat aku menembak salah satu kakinya dengan Glock yang baru aku temukan tadi. Serigala itu tersungkur dan terseret beberapa meter. Aku yang terpentok di tembok segera memberondong makhluk besar itu dengan AK-47. Aku bahkan sampai menghabiskan satu magazin demi makhluk itu.
"Woo!! Dasar makhluk besar sialan!" umpatku sambil meninggalkan serigala besar itu. Hewan itu tidak bergerak. Aku yakin dia sudah mati. Tidak mungkin dia bertahan dari hujaman peluru sebanyak itu.
Aku menuju ke arah Claire, Edgar, dan Anastasia. Tinggal beberapa langkah dan tiba-tiba Claire menunjuk ke belakangku. "Yuri, sepertinya temanmu itu belum mati" ujar Claire setengah panik.
Aku berbalik. Serigala itu masih bisa berdiri. Sial! Sebenarnya makhluk apa yang aku hadapi sekarang? Makhluk besar itu mengambil ancang-ancang, bersiap untuk menyerang kami semua.
"Claire, seberapa jitu tembakanmu?" tanyaku. Serigala itu berjalan ke arah kita. "Hampir tidak ada yang pernah meleset" jawab Claire.
"Bagaimana dengan akurasi lemparan granatmu?" tanyaku. "Aku pernah membunuh 10 tentara Taliban dengan sebuah granat" jawab Claire.
"Kalau begitu, ini saatnya kau beraksi!" kataku. Serigala itu berlari ke arah kita. Aku lihat Claire sudah siap dengan granat. 20 meter, 15 meter, 10 meter...
"Lempar Claire!!!!"
"Rasakan ini keparat!!!!"
Claire melempar granat itu ke samping makhluk besar itu. Terbalik dengan diriku yang kaget melihatnya, Claire malah tersenyum senang. "Jangan remehkan Navy Seals, Comrade" kata Claire sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dugaanku meleset. Makhluk besar itu berbalik arah mengikuti granat yang tadi dilempar Claire. "Semuanya lari!!!!" teriak Claire.
BOOM!!!!!
Tepat saat granat itu meledak, kami berempat berhasil keluar dari dalam kantor itu. Serigala itu pasti mati sekarang. "Rasakan itu! Makhluk besar menjijikan!" umpat Claire.
"Kerja bagus Claire" kataku. "Lain kali kau harus sering-sering mengandalkanku" kata Claire.
16.00
Kami memberesi perlengkapan yang kami bawa dan pergi dari Petrozavodsk. Edgar yang menyetir, ditemani oleh Claire. Sedangkan aku dan Anastasia berada di bagian belakang truk (dibagian bak terbuka).
"Sudah selesai" kataku. Aku tidak sadar kalau lutut Anastasia berdarah saat dia terjatuh tadi. Kami terlalu fokus dengan serigala itu. "Terima kasih Yuri" kata Anastasia.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini bukan apa-apa" kataku. "Lebih baik sekarang kau istirahat, tidur. Kau membutuhkan itu" lanjutku.
"Aku tidak lelah. Aku baik-baik saja" timpal Anastasia. "Perjalanan ke Saint Petersburg akan jadi sangat panjang kalau kau tidak tidur" kataku.
"Baiklah, terserah kau saja. Bangunkan aku kalau kita sudah sampai" kata Anastasia.
Aku mengangguk. Anastasia lama kelamaan tertidur. Aku sendiri terjaga. Melihat-lihat keadaan sekitar yang hancur. Aku hampir tidak menemukan orang lain sepanjang perjalanan. Mungkin hanya kami berempat, selain bandit, yang bertahan dari utara.
19.35
Kami sampai di Kudrovo. Tapi bensin kendaraan kami habis. Tinggal 12km lagi ke Saint Petersburg. Kami berempat mengemasi barang-barang kami dan bersiap berjalan kaki ke kota Saint Petersburg.
"Edgar, bisa kau bawa barang-barang milik Anastasia?" pintaku. "Tentu. Berikan padaku!" kata Edgar dengan senang hati.
Aku melempar tas milik Anastasia ke Edgar. Aku sendiri menggendong Anastasia yang masih tertidur pulas. Hanya tinggal 12km, bukan jarak yang jauh setelah kami terbiasa berjalan kaki selama ini.
Bersambung...
Catatan
волк¹ : dibaca volk, artinya serigala
глупый² : dibaca gluppy, artinya bodoh