Pandemic

Pandemic
Petunjuk Kedua dari Moskow



"Cepat!!"


Aku berteriak pada Anastasia yang sedang buang air di sungai paling besar di Rusia, Volga. Lama sekali, mungkin karena dia sudah tidak buang air selama beberapa hari.


Tepian sungai Volga sekarang sudah ditumbuhi banyak pohon. Sepertinya setelah manusia musnah, alam mengambil alih dan melakukan sisanya dengan baik, bahkan mereka melakukannya dengan cepat. Meski baru setahun sejak peristiwa itu terjadi, sudah banyak pohon-pohon besar disini. Bukan di tepi sungai Volga saja, tapi sepertinya hal itu berlaku di kota ini, Tver. Begitu kami sampai disini, Tver kelihatan berbeda dengan kota-kota yang lain. Banyak sekali pohon, lumut, dan semak-semak.


"Yuri!! Cepat kesini!!"


Aku bergegas ke tempat Anastasia begitu mendengar teriakannya. Hampir saja aku terpeleset karena lumut karena aku hamlud tidak memperhatikan langkahku. Begitu sampai disana, aku lihat Anastasia sedang jongkok dan menunjuk ke arah sungai. Sturgeon! Kami melihat ikan sturgeon yang kelihatannya masih sehat dan segar sedang berenang di tepi sungai.


"Aku tidak punya alat pancing. Jadi ayo kita tembak saja" kataku.


Aku melepaskan beberapa tembakan ke ikan tersebut dan usaha ku berhasil. Air sungai berubah jadi merah karena darah ikan itu. Aku menyeret ikan itu ke darat, benar-benar ikan yang besar.


"Meski kita memotong-motong ikan ini, kita tidak akan bisa membawanya. Tas kita sudah penuh" kata Anastasia. "Yah, kita tidak bisa membawa seluruh ikan ini. Tapi kita bisa bawa beberapa potong kesana. Sisanya kita tinggalkan disini" kataku.


Anastasia mengangguk. Dia membantuku memotong daging ikan ini. Aku rasa cukup. Aku mencari beberapa batang ranting, menusuk daging ikan itu lalu membawanya ke mobil kami.


"Hey!! Kalian mau ikan?" teriakku pada Claire dan Edgar. "Dia menembak seekor sturgeon yang masih sehat. Tapi ikan itu terlalu besar, jadi kami tidak mengambil semua dagingnya" kata Anastasia.


"Yah, tas sudah terlalu penuh. Tapi bukan masalah. Kita makan ikan ini sekarang" kata Edgar.


Edgar mengeluarkan kompor portabel dari tasnya. Memasang gas nya, dan dalam sekejap kompor itu bisa digunakan.


"Tidak ada api yang lebih besar dari dari itu?" kata Claire. "Kau mau buat api unggun? Aku malas mengumpulkan kayu bakarnya" jawab Edgar.


"Harusnya kau mencari wajan atau panci juga, jangan hanya kompor saja" kataku. "Yah, soal itu.. aku tidak berpikir sampai sejauh itu" kata Edgar.


"Dasar bodoh!" umpat Claire. Tapi akhirnya Claire itu membakar ikan miliknya dengan api seadanya itu. "Ayolah, kita perlu bertengkar. Orang Jepang sehat-sehat saja makan ikan mentah" kata Anastasia.


"Ya ya ya, terserah kalian saja" kata Claire.


Sepuluh menit kemudian, gasnya habis. Kami yakin ikan itu belum setengah matang tapi mau tidak mau kami tetap memakannya. Rasanya tidak buruk, mungkin karena kami terbiasa makan seadanya setahun ini.


"Tidak buruk. Bahkan lebih baik daripada daging tikus" kata Edgar. "Ya, lebih baik, dalam pengertian yang buruk" kata Claire.


"Kau lebih suka daging tikus daripada daging ikan sekarang?" tanya Edgar. "Aku lebih suka daging matang dibanding daging setengah matang" jawab Claire cepat.


Edgar dengan santai membuang kompor itu ke sembarang arah. Aneh, padahal masih ada satu kaleng gas lagi.


"Benda itu hanya membuat tasku jadi penuh. Aku bisa membawa lebih banyak barang kalau benda itu hilang" kata Edgar. "Lagipula, aku tahu ada kegunaan lain dari gas itu dibanding untuk menyalakan kompor" lanjutnya.


Edgar menyusul Claire ke dalam mobil. Sedangkan aku bertukar tatapan dengan Anastasia sebelum ikut masuk ke dalam. Edgar yang menyetir, tujuan kami, Moskow, hanya tinggal beberapa kilometer lagi.


Pemandangan sungai Volga di sisi jalan mungkin adalah satu hal yang kami butuhkan. Otot-otot tubuhku jadi sedikit rileks, begitu juga dengan yang lain. Aku bisa melihatnya. Cuaca hari ini sangat cerah untuk tanah terkutuk ini. Bangunan hancur disana-sini dan kadang aku melihat kawah menganga bekas hantaman rudal milik Rusia sendiri.


"Hei Yuri, menurutmu apakah kawah-kawah itu akan jadi seperti kolam renang kalau turun hujan?" tanya Anastasia dengan nada seperti anak kecil. "Kau mau berenang disana? Silahkan saja! Itu kotor, sama kotornya dengan kubangan lumpur" jawab Claire tegas.


Anastasia merengut kesal. "Aku bertanya pada Yuri, bukan padamu!" kata Anastasia. "Dan bisakah kau bertanya tentang hal yang lebih penting daripada hal bodoh seperti itu?" kata Claire.


"Diam" kataku singkat. "Aku lebih lelah mendengar pertengkaran kalian berdua daripada berjalan kaki seharian penuh" lanjutku.


"Dan ayolah Claire.. apa kau benar-benar tidak punya selera humor?" tanya Edgar. "Hah.. sepertinya disini terlihat seperti aku yang selalu salah" jawab Claire.


"Yah.. selera humormu tidak sebaik caramu menggunakan sniper" kata Edgar lalu tertawa. "Mungkin lain kali aku akan tembak kepalamu. Tunggu saja" ancam Claire.


"Tembak saja. Mungkin aku akan senang melihatnya" kataku. "Hei hei hei. Kalau kau membunuhku tidak ada yang mencarikan makanan lagi" kata Edgar.


Aku tertawa, begitu juga dengan Claire. Aku lihat kearah Anastasia, gadis itu tidur rupanya. Pantas saja dia tidak bicara apapun saat Claire diejek oleh Edgar. Tapi lebih baik begini daripada harus menjawab pertanyaan aneh darinya.


Kami terus melaju sampai akhirnya aku bisa melihat gerbang masuk kota Moskow, serta Basilika Santo Petrus jadi kejauhan. Sejak dulu aku sangat ingin kesana, hanya untuk melihat arsitekturnya saja.


Begitu kami memasuki kota Moskow, yang kami lihat pertama kali adalah seorang pria dengan seragam militer berdiri di tengah jalan. Di tangannya, AK-47 dan aku yakin senjata itu terisi penuh. Di mulutnya ada rokok dan dia mengarahkan senjata itu ke mobil kami.


"Turun dan perlihatkan diri kalian!" teriak pria itu. Aku turun dari mobil untuk memastikan kalau kami bukan bandit atau orang jahat lainnya.


"Bukan hanya kau nak, suruh teman-temanmu turun" kata pria itu. "Aku akan melakukannya saat kau letakan senjata itu ke tanah" kataku, berharap dia melakukannya.


Pria itu menatapku sejenak. Aku rasa dia sedang mempertimbangkan tawaranku itu. "Baiklah. Aku beri kau waktu dua menit untuk menyuruh temanmu keluar. Kalau lewat dua menit, akan aku tembak kalian semua" kata pria itu.


Aku mengangguk. Aku memberi isyarat pada mereka untuk keluar. Hanya Claire dan Edgar. Anastasia masih tidur.


"Ahh ini menarik sekali. Dua orang tentara Amerika. Aku kira tidak ada yang selamat dari peristiwa di Kola waktu itu" kata pria itu. "Apa yang kau inginkan dari kami? Kau juga tentara kan?" tanya Claire.


"Aku bukan tentara. Aku mencuri seragam ini dari seorang yang tewas berbulan-bulan lalu. Seorang yang masih muda, sayang sekali dia mati sebagai budak pemerintah" kata pria itu.


Pria itu mengambil AK-47 miliknya. "Dan kalian punya mobil yang bagus ya. Aku terkesan dengan kalian. Aku pikir tidak ada yang selamat dari utara. Benar kan kalian dari utara?" kata pria itu.


"Aku dari Nikel. Mereka berdua kali Kola, dan ada satu teman kami di dalam, sedang tidur, dari Murmansk" jawabku. "Beruntung kalian tidak mati. Ayo, ikut aku. Akan lebih baik kalau kalian memberiku tumpangan" kata pria itu.


"Tapi aku bercanda. Kau lihat motor itu? Itu punyaku. Ikuti aku kalau kalian mau selamat!" kata pria itu.


Kami segera masuk ke mobil dan mengikuti pria itu. Cukup jauh, dan dia berhenti di sebuah rumah yang setengah hancur. Sebagian atapnya rusak dan beberapa batu bata berserakan di halamannya.


Aku membangunkan Anastasia. Kubilang kita sudah sampai di Moskow dan dia terkejut. Kami berempat keluar dari mobil dan pria itu sedang asyik mengisap rokok, di tangannya ada sebotol Vodka.


"Siapa namamu?" tanya Claire tegas. "Ohh iya, aku lupa. Namaku Vladimir, Vladimir Ogryzko. Aku seorang dokter" jawabnya.


"Tunggu. Apa dulu kau bekerja di Kondpoga? Dengan dokter Aleksander Shabanov?" tanyaku. "Ya, aku bekerja dengannya selama 5 tahun sampai virus ini muncul. Kenapa kau bisa tahu soal itu?" kata Vladimir.


"Aku membaca buku catatan temanmu itu. Dan dia bilang kalau kau sudah mati" kataku. "Hah...pria itu. Aku yakin dia sudah tidak bisa membedakan wajah orang lagi. Tapi, dia hebat. Dia pasti orang terakhir yang hidup di Kondopoga" kata Vladimir.


Vladimir membawa kami ke ruang bawah tanah rumah itu. Berantakan. Aku melihat beberapa kertas yang isinya coret-coretan yang sama sekali tidak bisa aku baca. Hanya ada dua kursi disitu. Satu untuk Vladimir dan sisanya, aku berikan untuk Anastasia.


"Jadi, untuk apa kalian kesini?" tanya Vladimir. "Mencari keluargaku, mereka dari Saint Petersburg. Dari catatan istriku, mereka pergi ke Moskow, tidak lama setelah Kolpino dibom" jawabku.


"Dan juga, mencari orangtua anak ini. Dia sangat merindukannya" kataku sambil menunjuk ke arah Anastasia.


"Begitu ya" jawab Vladimir sambil mengisap kuat-kuat rokoknya. "Tapi sayang sekali mereka semua sepertinya sudah mati" lanjutnya.


Anastasia menatap tajam ke arah Vladimir, seperti ingin membunuhnya. Aku menenangkannya, menyuruhnya untuk mendengar cerita Vladimir.


"Dengar. Aku tahu ini aneh dan bodoh, bahkan ini adalah hal yang paling bodoh yang pernah dilakukan oleh Rusia. Merek membuka Moskow sebagai tempat pengungsian dan kau tahu apa yang terjadi?" kata Vladimir, menggantungkan kalimatnya.


"Semua orang datang ke Moskow" jawab Anastasia. "Tepat nak. Semua orang, dari berbagai tempat, sehat atau sakit, memenuhi kota Moskow. Kota ini lebih mirip neraka dibanding sebuah kota. Segera virus itu menyebar dimana-mana. Kota ini dipenuhi orang-orang yang sakit, hampir tidak ada yang sehat. Bisa dibilang aku selamat karena tidak terinfeksi virus itu" kata Vladimir.


"Kau yakin dirimu sehat?" tanya Claire. "Tentu saja. Aku seorang dokter, dan aku tahu bagaimana gejala orang-orang yang sakit" jawab Vladimir.


"Lalu kemana orang-orang? Mereka semua mati?" tanya Edgar. "Pertanyaan bagus nak. Suatu hari, presiden menyuruh semua orang berkumpul di Lapangan Merah, dia bilang sudah ada vaksin untuk menyembuhkan penyakit ini. Semua orang, terutama yang sakit, memenuhi Lapangan Merah, tapi kau tahu apa yang terjadi? Militer menembaki mereka semua. Negara ini membunuh rakyatnya sendiri. Orang-orang yang pergi dari sana dikejar oleh tentara. Beruntung aku menemukan tempat ini, kalau tidak mungkin aku sudah mati" jawab Vladimir.


"Selama beberapa hari tank-tank itu memenuhi jalan, menembak rumah-rumah atau bangunan apa saja yang ada disini. Mungkin satu minggu aku tidak keluar dari tempat ini. Tapi begitu aku keluar, yang aku lihat adalah mayat-mayat berlumur darah, bergeletakan dimana-mana. Di pinggir jalan, di gang-gang, bahkan dalam keadaan terbakar, aku melihat itu semua" lanjutnya.


"Lalu apa yang terjadi? Apakah keluargaku termasuk yang jadi korban?" tanya Anastasia. "Jujur saja, aku tidak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin ada yang selamat dan cukup beruntung untuk kabur dari kota ini. Berharap saja begitu. Ya, berharap saja" jawab Vladimir.


Anastasia lemas, aku tahu itu. Aku juga sama dengannya, dengan begini aku tidak bisa menemukan keluargaku. Bisa saja mereka mati terbunuh disini, itu kemungkinan terburuknya.


"Lalu kita harus kemana? Kau tidak tahu kemana orang pemerintahan itu pergi?" tanyaku. "Kau harus tahu ini sobat" jawab Vladimir. "Diantara orang-orang jahat itu, terselip orang baik diantara mereka. Seorang tentara muda, aku yakin dia masih berpangkat rendah, aku bertemu dengannya saat aku sedang mencari makanan di supermarket. Dia hampir ingin menembakku, tapi tidak. Dia bilang aku tidak boleh terlihat oleh tentara lainnya, tapi dia memberitahuku satu hal. Pemerintah berencana membuat Rusia Baru di timur, tepatnya di Vladivostok. Mereka berencana membangun ibu kota disana. Dan kalian tahu ajaibnya apa? Tidak ada satupun yang terinfeksi virus ini di timur" lanjut Vladimir.


"Apa? Itu gila. Tidak ada yang sehat di barat, bahkan aku hanya bertemu satu kelompok bandit disana, lalu aku tidak menemukan makhluk hidup lain kecuali yang bermutasi karena virus itu" kataku. "Itu keajaiban. Kalau kau percaya Tuhan, maka mudah bagimu untuk mempercayai hal itu" kata Vladimir.


"Sayangnya aku bukan orang yang taat pada Tuhan meski aku selalu ke gereja setiap hari Minggu" kataku. "Okay, itu urusanmu. Tapi kalau kau mau pergi, kau harus ke timur, ke Vladivostok. Dan kalau kalian beruntung, mungkin masih ada yang selamat disana" kata Vladimir.


"Untuk pergi kesana kita harus melewati Yekaterinburg. Tempat itu masih penuh dengan radiasi kan?" tanya Anastasia. "Kalian harus memutar otak kalian agar tidak masuk kesana" jawab Vladimir.


Vladimir mengarahkan pandangannya ke arah Edgar dan Claire.


"Dan mungkin kalian berdua bisa pulang ke Amerika. Aku tahu kalian sangat ingin pulang kan? Tapi, aku juga tidak tahu bagaimana keadaan di Amerika. Aku harap keadaannya tidak lebih buruk daripada disini" kata Vladimir.


Vladimir menyalakan satu batang rokok lagi. Kami berempat saling bertukar tatapan. Perjalanan kita sekarang jadi semakin jauh tanpa ada harapan yang jelas disana.


"Oh satu lagi. Tadi kalian bilang kalau kalian bertemu dengan makhluk yang bermutasi karena virus itu kan? Makhluk apa yang kalian temukan? Serigala, tikus, atau manusia?" tanya Vladimir. "Manusia dan serigala. Apa yang kau tahu tentang makhluk itu?" kataku.


Vladimir segera mematikan rokoknya dan membuangnya ke sembarang arah. "Ini unik. Virus itu awalnya hanya menyerang sistem pernapasan manusia, atau makhluk yang terinfeksi. Tapi aku menemukan suatu hal yang menarik. Aku tidak tahu penyebabnya apa, apa virus itu seperti berevolusi. Mereka masuk ke pembuluh darah, dan menunju ke otak. Perlahan virus itu mengambil alih sistem kerja otak mereka yang terinfeksi dan mengacaukan fungsi otaknya" kata Vladimir.


"Itu mirip seperti zombie" kata Claire. "Tepat. Tapi zombie hanya ada di film-film. Dan zombie, orang yang sudah mati bisa menjadi zombie kalau virus itu masuk ke tubuh mayat itu. Tapi virus ini tidak, orang yang sudah mati tidak akan bermutasi jadi seperti itu. Intinya, mereka hanya menyerang otak orang yang hidup, dan jika orang yang mereka infeksi itu mati sebelum virus itu mengambil alih fungsi otaknya, virus itu otomatis akan mati" kata Vladimir.


"Ketika virus itu berhasil mengambil alih otak mereka, orang yang terinfeksi akan bertindak seolah-olah mereka harus menyebarkan virus itu pada orang yang sehat. Mereka bisa membedakan jenis mereka dan orang yang sehat. Tapi mereka hidup, mereka punya pikiran, pikiran untuk menyebarkan virus itu pada aku dan kalian, orang-orang yang sehat" kata Vladimir. "Itu kenapa ada yang mencoba menyerangnya dengan pisau" kataku.


"Tepat. Dan untuk membunuhnya, kalian cukup hancurkan sistem pernapasan mereka. Tembak leher mereka, hidung mereka, jantung mereka. Dengan begitu mereka akan mati. Kalau kalian hanya menembak badan, tangan, kepala, makhluk itu tidak akan mati dan terus mengejar kalian. Makhluk itu sudah tidak punya rasa takut, tidak bisa merasakan sakit. Cukup hancurkan sistem pernapasan mereka, makhluk itu akan mati. Virus itu terus hidup karena makhluk itu terus bernafas. Kalian harus membuat makhluk itu tidak bernafas. Kalau itu terlalu sulit, ledakan saja dengan granat. Itu lebih mudah" kata Vladimir.


"Kau tahu begitu banyak soal mereka" kata Edgar. "Aku pernah bertemu dengan mereka sobat. Jadi aku tahu sistem kerja mereka. Beruntungnya aku bisa menceritakan semua ini pada kalian. Aku kira hanya aku yang selamat dari utara, tapi ternyata tidak. Aku senang bisa memberitahu semua ini pada kalian" kata Vladimir.


"Kami akan pergi sekarang. Waktu sangat penting. Dan satu lagi, apakah ada makhluk semacam itu di Moskow?" tanyaku. "Menurutku, kemungkinannya sedikit. Tapi bukan berarti tidak ada. Kalian harus berhati-hati. Tapi, dilihat dari senjata yang kalian bawa, terlihat lebih dari cukup untuk melawan makhluk itu" jawab Vladimir.


Vladimir kemudian mengacak-ngacak lemari kecil, mengambil tiga buah magazine dan memberikannya padaku. Itu magazine untuk AK-47, beruntungnya aku. Dan satu lagi, itu magazine untuk Claire, untuk Dragunov miliknya.


"Hanya itu yang bisa aku berikan untuk kalian. Kau juga bisa membawa senjataku ini. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi" kata Vladimir.


Aku mengambil AK-47 milik Vladimir dan aku berikan pada Anastasia. Gadis itu terlihat bingung, dia belum pernah memegang senjata seperti itu. Tapi dia tetap menerimanya.


"Baiklah, kami pergi. Dan semoga beruntung untukmu, Vladimir. Dokter Aleksander pasti akan bangga melihatmu berguna seperti ini" kataku. "Aku beruntung, tidak seperti dia. Tapi dia lebih pintar karena tidak ikut kesini. Semoga beruntung untuk kalian, sobat" kata Vladimir.


Kami berempat pergi dari ruang bawah tanah itu. Tujuan kami masih sangat panjang, ke timur, ke Asia. Sepertinya perjalanan ini akan jadi lebih sulit sekarang.


Baru beberapa langkah kami menjauh dari tempat itu, aku mendengar suara tembakan dari dalam. Aku segera berlari kesana dan aku lihat, Vladimir, sudah tewas dan tergeletak di lantai. Darah mengucur dari kepalanya, sedangkan Makarov masih ada di tangan kanannya. Dia bunuh diri.


"Ada apa...?"


Anastasia berhenti berkata setelah melihat apa yang ada di depannya, begitu juga Edgar dan Claire. Mereka semua tidak bisa berkata apa-apa melihat pria itu tewas.


Aku mendekatinya dan mengambil pistol itu. Sekilas aku lihat lubang di kepalanya, bekas tembakan itu. Aku menutup matanya, membiarkan dia beristirahat dengan tenang disana, sendirian. Kini aku tahu alasan dia membantu kami dan menceritakan semua itu. Dia tahu kalau dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, atau dia sudah terlalu lelah untuk bertahan hidup tapi kematian tidak datang padanya. Jadi dia memilih untuk mendatangi kematian itu sendiri.


"Dia pria yang baik" kata Anastasia. "Ya, dia pria yang baik. Ayo, perjalanan kita masih panjang" kataku.


Kami pergi dan menutup pintu ruang bawah tanah itu. Sepanjang perjalanan kami di kota ini, kami sama sekali tidak bicara apa-apa. Bahkan kami tidak berhenti dimana-mana. Setengah putus asa, mungkin itu yang cocok menggambarkan keadaan kami sekarang.


Bersambung..