
"Kita aman?"
Aku mengintip ke belakang. Serigala itu ada beberapa meter di depan mataku. Dia seperti kebingungan mencari kami. Ini aneh, karena serigala seharusnya memiliki penciuman yang tajam. Tapi beruntung, dengan rusaknya indera penciumannya, kami bisa selamat.
"Kita harus membunuhnya selagi dekat" kata Claire. "Kita pernah menghadapi yang seperti ini di Petrozavodsk, kita bisa melakukannya" lanjut Claire.
"Melakukan cara yang sama seperti yang pernah kita lakukan" kataku. Claire mengangguk. "Tenang! Aku baru sadar kalau ada satu granat yang tersisa di tasku" kata Claire.
Aku mengangguk. Aku lihat serigala itu masih mengendus semak-semak di depannya. Sebelum aku maju, aku melihat sekitarku. Banyak pohon dan semak-semak tinggi disini.
"Lindungi aku!"
Mereka semua mengangguk. Aku keluar dari persembunyianku, menghadap serigala besar yang hanya beberapa meter di depan. Begitu aku ada di depannya, serigala itu menatapku, menunjukan gigi-giginya yang besar dan tajam. Saat aku bersiap menembaknya, serigala itu dengan cepat lari dari hadapanku. Aku menembaknya, mengincar kakinya tapi terlalu sulit di saat seperti ini. Aku lihat serigala itu menjauh dari menghilang di kegelapan.
"Sialan!" umpatku. Aku menyuruh mereka semua keluar dari persembunyian. "Sekarang apa?" tanyaku, kepada Claire.
Sesaat setelah itu, Claire memberi isyarat 'diam' padaku. Claire mengambil senternya, menyorot ke arah kanannya. Dan kami melihat apa yang ada disana,
"Lari! Lari!!!!"
Serigala itu, dengan kecepatan penuh berlari ke arah kami. Akhirnya aku tahu kenapa dia lari. Dia memutar, membuat kami lengah dan menyerang kami dari samping. Kami berlima segera berlari, tapi di tengah hutan yang gelap begini sedikit mengganggu kami. Serigala itu tampak makin dekat dengan kami, terlebih dengan Tanya yang berada di paling belakang.
"Yuri!"
Kami berempat berhenti. Tanya terjatuh dan serigala itu sekarang mengincar Tanya. Kami berempat mengambil posisi menembak dan dengan cepat, puluhan butir peluru menghantam tubuh serigala itu, dimana aku berharap salah satunya mengenai lehernya. Tapi gagal. Serigala itu tidak bergeming sama sekali, malah mempercepat laju larinya. Sayangnya, Tanya begitu ketakutan untuk bergerak.
"Tanya!!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hah... Hah... Aku masih hidup..."
Kami berempat mengangguk. Tanya menoleh ke arah serigala yang mati itu. Darah mengucur deras dari lehernya. Tepat saat serigala itu melompat ke arah Tanya, Tanya melepaskan tembakan tepat ke leher serigala itu. Sebuah tindakan yang Tanya sendiri tidak sadar kalau dia melakukannya.
"Terlambat satu detik saja dan kepalamu sudah ada di dalam perut serigala itu" kata Claire. "Tembakanmu tepat di lehernya. Makanya kau selamat" sahut Anastasia.
Claire membantu Tanya berdiri. Pakaiannya cukup banyak terkena darah serigala itu. Tinggal satu serigala lagi yang tersisa. Makhluk itu mengejar Ruslan dan timnya. Kini kita harus menemukan mereka berdua.
Kami berjalan menuju arah Ruslan dan timnya menggiring serigala itu. Dengan jumlah mereka yang 4 kali lebih banyak daripada kami, harusnya mereka bisa membunuh serigala itu dengan mudah.
Saat kami berjalan kesana, sesekali aku mencium bau anyir dari semak-semak. Beberapa kali menyorot senter kesana dan hanya ada bercak-bercak darah, tidak ada apa-apa lagi.
"Mungkin itu darah serigala" kata Anastasia. "Mungkin saja. Mereka sama sekali tidak mendengar apa yang aku katakan" kataku.
Kami terus berjalan mencari keberadaan Ruslan dan timnya, dan yang terpenting adalah serigala itu. Meski serigala itu sebesar beruang Kodiak, 20 orang adalah jumlah yang cukup untuk membunuhnya, jika mereka melakukannya persis seperti yang aku katakan. Tapi kurasa orang-orang ini tidak sepintar yang aku kira.
"Yuri, lihat!"
Aku menyorot ke arah yang ditunjukan oleh Anastasia. Itu tim Ruslan. Aku hitung ada 10 orang. Kami segera kesana dan langkah kami terhenti setelah melihat serigala besar itu tergeletak bersimbah darah di dekat mereka.
"Serigala ini benar-benar menyebalkan" kata salah satu dari mereka. "Untuk membunuhnya, kami harus mengorbankan 10 orang" lanjutnya.
Begitu ya. Mereka harus mengorbankan 10 orang demi serigala itu. "Kenapa kalian diam saja?" tanya orang itu pada kami, tepatnya mungkin padaku.
"Tidak, tidak apa-apa" jawabku. "Apa kau kaget karena kami bisa membunuh serigala ini? Jangan remehkan kami semua" katanya.
"Kalian tidak akan bisa membunuhnya kalau Yuri tidak memberikan petunjuk pada kalian" sergah Claire. "Memang benar, tapi bukan berarti tiap orang bisa melakukan kan? Kalian membunuh serigala yang lebih kecil, sedangkan serigala yang kami bunuh lebih besar" jawabnya, benar-benar sombong.
"Tidak ada gunanya kalian bertengkar disini" kataku. "Tugas kita adalah membunuh satu serigala lagi yang ada di rumah itu" lanjutku.
"Ngomong-ngomong, dimana Ruslan?" tanya Edgar tiba-tiba. "Aku sama sekali tidak melihatnya bersama kalian. Apa dia sudah mati?" lanjutnya.
"Aku tidak melihatnya setelah kami dikejar oleh serigala ini tadi. Dia juga tidak ada diantara orang-orang kami yang tewas" jawab orang itu. "Memang kenapa? Kau punya urusan dengannya?" lanjutnya.
"Tidak ada" jawab Edgar. "Aku hanya bersumpah kalau aku akan meludahi dan mengencingi mayatnya kalau dia mati lebih dulu daripada aku" lanjut Edgar.
Anggota tim Ruslan semuanya menatap tajam ke arah Edgar, begitu juga denganku. Sepertinya Edgar benar-benar dendam dengan Ruslan.
"Cukup!"
Aku bicara cukup keras. Jangan sampai misi ini berubah jadi pertengkaran konyol. "Kita bisa bahas itu setelah membunuh serigala terakhir itu. Ayo bergerak! Sekarang sudah hampir larut dan serigala sangat aktif di malam hari. Semakin malam maka akan semakin berbahaya" kataku.
Kami menyelesaikan pertengkaran kecil itu dan menuju rumah jagal, tempat serigala betina itu bersembunyi. Tinggal satu, hanya satu dan misi ini berhasil. Setelah ini selesai, aku akan menagih janji Gregory.
"Kalian di belakang saja!"
Tim Ruslan itu benar-benar meremehkan kami rupanya. Tapi, posisi belakang bukan posisi yang buruk. Setidaknya kalau serigala itu datang dari depan, kami bukan yang pertama kali mati.
Di dalam rumah ini, keadaannya benar-benar buruk. Bau darah langsung menusuk hidungku, lebih tepatnya, rumah ini memang dipenuhi oleh darah. Bercak darah terlihat dengan jelas di lantai dan dinding tempat ini. Beberapa furnitur disini juga hancur.
"Dimana serigala itu?" tanyaku.
Mereka tidak menjawab, terus saja berjalan. "Dimana serigala itu?" tanyaku lagi.
Mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. "Aku paham. Kalian tidak pernah masuk kesini" kataku.
"Kau sudah tahu jawabannya kan? Tutup mulutmu dan buka matamu!" bentak salah satu anggota tim Ruslan.
Aku menyuruh Claire untuk mengeluarkan satu-satunya granat yang dia punya. Baiklah, kami sudah menyusuri ruang utama di rumah ini. Belokan ke kanan adalah ruang penyimpanan daging, setidaknya itu yang tertulis di peta waktu itu.
Begitu kami masuk ke dalam ruang penyimpanan, bau darahnya semakin kuat. Selain itu, ada sesuatu yang bergerak-gerak dibalik kegelapan. Kami semua segera bersiap, menodongkan senjata ke arah itu.
Sesuatu yang bergerak itu menunjukan wujudnya. Itulah serigala yang kami cari. Besarnya kurang lebih sama dengan yang tadi Tanya bunuh, hanya saja mungkin sedikit lebih besar. Aku menyorot senter ke arahnya, kedua matanya mengeluarkan cairan berwarna kuning, seperti nanah. Aku jamin makhluk itu sepenuhnya buta. Tapi aku yakin kalau indera penciumannya jauh lebih tajam.
"Tembak!"
"Tunggu--"
Belum sempat aku menahan mereka, puluhan peluru yan ditembakan tim Ruslan enghantam tubuh serigala itu. Serigala itu tidak bergerak sedikitpun, malah terlihat seperti menikmati hantaman peluru-peluru itu di tubuhnya. Dalam sekejap, tim Ruslan kehabisan amunisi, sedangkan tubuh serigala itu penuh darah. Kini keadaannya berbalik, serigala itu siap menyerang.
"Lari!!!"
Sedetik setelah aku berteriak, serigala itu menerkam salah satu dari tim Ruslan. Sisa 14 orang, berlari keluar dari ruangan itu. Malang bagi dua orang di belakang, serigala itu menerkam mereka dengan cepat. 3 orang sudah tewas dan aku sempat melihat mereka tewas.
Sisa 11 orang. Kami bersembunyi di ruang depan. Di keadaan terdesak seperti itu, sepertinya tidak ada seorang pun yang berniat lari. Tim Ruslan kehilangan Ruslan yang hilang entah kemana, sementara aku dan teman-temanku tidak mungkin lari. Ini kunci dari sesuatu yang kami cari selama ini.
Aku bisa mendengar suara langkah kaki serigala itu disini. Satu yang aku takutkan adalah ruangan ini sebenarnya cukup besar, tapi cukup kecil untuk bersembunyi, terlebih dari makhluk sebesar itu. Langkah kaki serigala itu semakin jelas. Sialan, otakku tidak bisa berpikir di keadaan seperti ini.
"Yuri, kau ada ide?" tanya Claire. "Tidak ada" jawabku. "Bagaimana kalau aku langsung melempar granat ini?" tanya Claire.
"Itu ide bagus, tapi daya ledaknya mungkin bisa membunuh kita semua yang ada disini" jawabku. "Bagaimana kalau bom kaleng?" tanya Edgar.
Bom kaleng ya? "Ledakannya terlalu kecil, tapi resikonya tidak sebesar dengan granat" jawabku.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya seseorang tapi tim Ruslan. "Memikirkan cara untuk membunuh serigala itu dengan bom" jawab Edgar.
"Kalian punya granat?" tanya orang itu. "Aku punya satu" jawab Claire. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Claire.
Orang itu melihat ke depan, bayangan serigala itu semakin jelas sekarang. "Aku akan membunuh serigala itu dengan ledakan. Selagi aku berlari ke arah monster itu, kalian semua lari keluar" jawabnya.
Gila. Dia ingin bunuh diri demi membunuh satu monster itu. "Makhluk itu sangat besar. Meski jumlah kita banyak, sulit untuk membidik lehernya" katanya. Pandangannya kemudian beralih ke arahku.
"Dan kau bilang kalau ledakan ada cara yang ampuh kan? Kau punya satu granat, cukup untuk membunuhnya. Kalau dia selamat, luka yang dia dapat terlalu parah untuk membuatnya tetap hidup. Ini harus diakhiri sekarang" katanya.
Claire dan aku saling berpandangan, begitu pula dengan mereka yang lain. "Baiklah. Kalau itu kan kau inginkan. Sejujurnya aku tidak mau ada yang mati lagi" kataku.
"Tidak masalah. Selain teman-temanku, aku tidak punya siapa-siapa lagi di Kazan. Keluargaku semuanya sudah mati. Dan, kalau aku mati, aku mati dengan rasa bangga di dadaku" katanya.
"Orang Rusia. Mereka memang aneh" keluh Claire. Meski begitu, Claire menyerahkan satu-satunya granat itu kepadanya.
"Namaku Ilzat. Ingat itu saat kau bertemu dengan Gregory!" katanya.
Ilzat berdiri, memandang satu per satu orang-orang disini sambil memamerkan granat itu, seakan memberi isyarat kalau dia akan meledakkan tempat ini, sendirian.
"Kalian semua bisa pergi dari sini sekarang. Setelah ini, tidak ada serigala lagi. Tidak ada yang akan mengganggu kalian lagi. Setelah ini, Kazan akan jadi kota yang aman untuk kalian semua."
Ilzat mengakhiri pidato singkatnya dengan gaya. Beberapa detik kemudian, kami semua bisa melihat serigala itu, meski hanya moncongnya saja. Ilzat memberi isyarat lagi, menyuruh kami untuk segera pergi. Dalam satu hitungan, semua orang, kecuali Ilzat berlari keluar, mengambil tempat yang agak jauh dari rumah itu, sembari menunggu ledakan terakhir itu.
Tidak sampai lima menit, rumah itu meledak. Ledakannya cukup besar dan kami semua yakin kalau serigala itu pasti mati. Kami semua bersorak girang. Semua kecuali Claire dan Edgar. Mereka menatap tajam kebakaran itu, seperti menunggu sesuatu.
"Semuanya diam!" teriak Edgar. "Siapkan senjata kalian! Semuanya!"
Benar kata Edgar. Serigala itu masih hidup. Dengan tubuh terbakar, serigala itu keluar dari api. Serigala itu masih hidup, dan seperti monster, tubuhnya bahkan sudah rusak. Aku bisa lihat kalau tulang-tulangnya terlihat jelas. Beberapa bagian kulitnya mengelupas dan menggantung. Tapi serigala itu masih hidup.
"Arahkan senjata kalian semua! Tidak ada waktu untuk membidik lehernya!" kata Edgar.
Kami semua, yang tersisa, mengarahkan senjata ke serigala itu dan menghujani monster itu dengan ratusan peluru. Serigala itu tetap berjalan ke arah kami beberapa langkah, sebelum akhirnya dia roboh ke tanah. Dia mati, benar-benar mati.
"Ini.. sudah selesai kan?" kata Anastasia pelan. "Iya, tentu. Mustahil serigala itu bisa bertahan setelah serangan seperti itu" jawabku.
"Berarti misi kita selesai?" kata Claire. "Ya, untuk sekarang. Sekarang kita kembali ke Kazan. Ada beberapa hal yang harus aku urus disana" jawabku.
"Aku juga. Aku yakin kalau keparat itu melarikan diri dari sini. Kalau aku menemukannya, aku akan buat sebuah lubang yang rapih di kepalanya" kata Edgar.
Aku tahu siapa keparat yang dia maksud, Ruslan. Ya, dia tidak ada disini, dan dari penuturan tim nya, Ruslan juga tidak tewas. Apapun itu, kami semua pergi dari sana. Semua sudah selesai. Serigala-serigala itu sudah mati. Tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan disini.
Bersambung...