
27 September, 01.25
Semua sudah tidur, kecuali aku dan Claire. Kami berdua duduk santai di depan rumah tua ini sambil menghisap masing-masing sebatang rokok. Malam ini tidak begitu dingin, meski sudah tengah malam. Aku bisa lihat beberapa rumah dan bangunan di sekitarku penuh dengan cahaya. Ada juga beberapa orang yang sesekali lewat di depan kami, ada yang menenteng AK-47, ada juga yang bertangan kosong.
"Kesepakatan macam apa itu?" tanya Claire tiba-tiba. Yang dia maksud pasti kesepakatanku dengan Gregory. "Meski kau tidak menyukainya, aku harus melakukannya" jawabku.
"Harusnya kau bunuh saja orang itu selagi kau punya kesempatan" kata Claire. "Aku tidak akan bertindak segegabah itu. Gregory punya pengaruh kuat disini dan bisa saja kita semua diburu oleh orang-orangnya" kataku.
Claire menghisap rokoknya dua kali dalam-dalam. Sepertinya dia sudah terbiasa merokok sebelum ini, meski saat ini adalah pertama kalinya aku melihat Claire merokok.
"Aku masuk militer setelah lulus SMA. Lalu saat umurku 25 tahun, aku sudah bergabung dengan Navy Seals. Tapi selama aku berada di militer, aku belum pernah membuat kesepakatan sebodoh itu" kata Claire.
"Kadang ada beberapa hal dalam hidup yang tidak pernah kau bayangkan akan terjadi. Segalanya bisa terjadi dalam hidup, bahkan kadang lebih tidak masuk akal daripada perang" kataku.
"Aku sudah berperang di Timur Tengah sejak berusia 23 tahun, bersama dengan Edgar. Kami tidak terpisahkan, kami melihat banyak sekali kematian di depan mata kita. Mungkin itulah yang membentuk kepribadianku jadi seperti ini" kata Claire.
"Apa kau berusaha mengatakan kalau hidupmu lebih keras dibanding kami semua?" tanyaku. "Tidak, mungkin tidak. Hanya saja, karena diriku sering melihat banyak sekali kematian, aku jadi tak segan-segan untuk membunuh seseorang" jawab Claire.
Claire mematikan rokoknya dan melemparnya jauh-jauh. Kemudian dia melepas ikat rambutnya, membiarkan rambut panjang pirangnya itu tergerai. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.
"Kau harusnya membunuh serigala itu selagi dia ada di depanmu" kata Claire. "Tidak. Serigala itu terlalu berharga untuk dibunuh pertama kali. Aku biarkan dia kalau-kalau dia akan mengingkari kesepakatannya denganku" kataku.
"Bagaimana kalau dia melarikan diri diam-diam selagi kau memburu serigala lainnya?" tanya Claire. "Maka aku akan memburunya. Kemanapun" jawabku.
Claire mengambil sebatang rokok lagi lalu menyalakannya. "Itu jadi masalahmu, bukan masalahku atau yang lainnya" kata Claire.
Claire menghisap rokok itu sampai habis lalu membuangnya. Setelah itu, dia meninggalkanku sendirian disini tanpa bicara sepatah katapun lagi. Tidak masalah kalau dia tidak mau membantuku, aku bisa mengatasinya sendiri.
09.10
"Jadi, kalian benar-benar yakin dengan keputusan kalian?" tanya Ruslan yang duduk santai di meja kerjanya. "Aku sudah membuat kesepakatan dengan Gregory. Jadi tidak masalah" jawabku.
"Dan orang Amerika itu?" tanya Ruslan. "Kau tidak tahu kalau ada banyak hal yang bisa aku lakukan selain memburu serigala-serigala kecil itu" jawab Edgar.
"Ini bukan serigala biasa. Mereka mutasi, dan ada lebih dari satu. Mungkin 4 atau 5 serigala. Aku telah kehilangan beberapa orang-orangku saat memburu mereka" kata Ruslan.
"Di Petrozavodsk kami menghadapi seekor serigala sebesar beruang Grizzly. Di Saint Petersburg dan Nizhny Novgorod kami selamat dari kejaran makhluk-makhluk aneh seperti zombie. Serigala bukanlah hal yang sulit untuk kami sekarang" kata Edgar.
"Serigala yang ini lebih besar dari beruang Grizzly dan meski jumlah mereka lebih sedikit dari makhluk aneh yang mengejar kalian itu, mereka jauh lebih cepat dan berbahaya" kata Ruslan.
"Sebesar dan secepat apa?" tanyaku. "Entahlah, dua kali lebih besar dari Grizzly dan mungkin secepat cheetah. Kau tahu cheetah kan?" kata Ruslan.
"Secepat cheetah ya. Kedengarannya kau melebih-lebihkannya" kata Edgar. "Mungkin, tapi soal ukurannya, aku tidak melebih-lebihkannya" sahut Ruslan.
"Kapan kita akan pergi?" tanyaku. "Malam ini. Orang-orangku terbaik dibidang ini hanya tersisa 30 orang. Jadi, aku harap tidak ada yang mati malam ini, cukup serigala itu saja" jawab Ruslan.
"Dimana terakhir kali serigala itu terlihat?" tanyaku. "Di sebuah rumah jagal, kira-kira 10km dari sini" jawab Ruslan.
"Kita akan berkumpul disini jam sembilan malam, jangan sampai terlambat!" kata Ruslan. "Dan buktikan kalau kalian tidak akan jadi beban kami disana" lanjutnya.
Beban ya? Kalimat terakhirnya itu membuatku jadi sedikit marah.
"Beban ya? Dengar, aku punya kesepakatan dengan Gregory, itu sebabnya aku melakukan ini. Kalau sampai Gregory mengkhianatiku, maka aku akan memburunya seperti aku memburu serigala ini nanti" kataku.
"Itu masalahmu, bukan masalahku. Lagipula, kalian orang baru. Cobalah untuk bertahan hidup 5 menit saat perburuan dimulai" kata Ruslan. "Baik, akan kami lakukan" sahut Edgar cepat.
Edgar mendekati Ruslan dan menarik kerah bajunya. "Kalau sampai kau yang mati saat perburuan nanti, maka aku akan meludahi dan mengencingi mayatmu, ingat itu!" kata Edgar.
Edgar melepas kerah baju Ruslan dengan agak kasar dan mengajakku pergi dari tempat ini. Aku bersumpah kalau itu pertama kalinya Edgar bertingkah seperti itu. Aku tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.
Malam hari, 20.15
"Kalian benar-benar serius soal berburu serigala itu?" tanya Anastasia. "Ya, ini demi sebuah jawaban yang selama ini kita cari" jawabku.
"Aku ikut."
Kami semua menoleh ke arah Anastasia. Apa yang dipikirkan bocah itu kali ini?
"Kali ini bukan satu, tapi empat atau lima serigala yang akan kita hadapi. Lebih besar daripada yang di Petrozavodsk. Lebih baik kau disini saja dengan yang lainnya" kataku.
"Kau kira siapa yang akan tinggal disini? Aku juga akan ikut" kata Claire. "Ikut? Kau bilang kalau kau tidak mau ikut campur soal urusan ini" kataku.
"Kalau anak ini mau ikut, aku juga ikut. Aku tidak percaya kalau aku meninggalkan anak ini pada kalian berdua" kata Claire.
"Aku... akan ada disini" kata Tanya. "Kau tidak mau ikut?" tanya Claire. "Haruskah? Aku hanya akan menghambat kalian" jawab Tanya.
"Kau bisa menggunakan AK-47?" tanyaku. "Mungkin bisa. Aku pernah menggunakan AKM" jawab Tanya.
"Kalau begitu, kau ikut dengan kami" kataku. Aku mengambil AK-47 yang diberikan Dokter Vladimir waktu itu dan memberikannya ke Tanya.
"Kita semua akan pergi. Kita harus bekerja sebagai tim, meski kita tidak mengenal siapa yang bersama kita" kata Edgar. "Dan jangan ada yang mati" lanjutnya.
Kalimat terakhir Edgar cukup membuat para gadis itu menelan ludahnya sendiri. Setelah komando singkat itu, kami menuju ke mobil dan berkendara ke tempat Ruslan. Disana sudah berkumpul sekitar 20-an orang. Mereka semua melihat ke arah kami semua.
"Selamat datang di Persaudaraan" sapa Ruslan begitu kami mendekat. "Tiga orang wanita ya? Aku yakin kau lebih suka mereka pulang daripada ikut dalam perburuan ini" lanjutnya.
Dengan cepat Claire menodongkan M153 ke arah Ruslan, tepat ke kepalanya. "Katakan sekali lagi makan kepalamu pecah" kata Claire.
"Tenang kawan. Kita hemat amunisi kita untuk berburu" kata Ruslan. Lima anak buahnya langsung menurunkan senjatanya, tapi tidak dengan Claire.
"Kau masih berniat menembakku? Maka kau akan diburu seperti serigala" kata Ruslan. Aku menyuruh Claire untuk menurunkan senjatanya. Claire akhirnya menurut.
"Itu bagus. Sekarang sudah terkumpul 25 orang. Masih ada beberapa teman yang akan datang. Kemarilah! Bergabung dengan kami" kata Ruslan.
Kami berlima mengikuti Ruslan dan bergabung dengan anak buahnya. 90% dari mereka membawa AK-47, sisanya membawa Mosin-Nagant.
"Kau butuh lebih dari Mosin-Nagant untuk membunuh seekor serigala raksasa" kata Claire. "Aku berpikir kau bermaksud menyombongkan SVD milikmu" kata Ruslan.
Claire tersenyum sinis, tanpa menanggapi perkataan Ruslan. "Bagaimana dengan peledak?" tanyaku.
"Aku punya beberapa granat, sekitar 10 atau 15. Lalu juga ada C4. Tapi, peledak hanya sebagai pilihan terakhir" jawab Ruslan.
"Apa kau punya beberapa anak panah?" tanya Anastasia tiba-tiba. "Anak kecil, kalau kau hanya bisa menggunakan busur silang, lebih baik kau pulang saja" jawab Ruslan.
Anastasia mengangkat busurnya dan mengarahkannya ke Ruslan. "Aku tanya sekali lagi. Apa kau punya anak panah?" kata Anastasia.
Ruslan mendengus kesal mendengarnya. "Ilyas, ambilkan persediaan busur kita pada bocah ini!" perintah Ruslan.
Pria yang bernama Ilyas itu berdiri dan masuk ke dalam kantor Ruslan. "Dia akan membawakanmu seratus anak panah" kata Ruslan.
Anastasia menurunkan busurnya. Pandangan Ruslan beralih ke Edgar, tepatnya ke MP5 milik Edgar. "Sayang sekali aku tidak punya amunisi untuk senjata Amerika seperti itu" kata Ruslan.
"Ohh, soal ini? Biarkan saja. Kalau ada satu anak buahmu yang mati, aku akan mengambil senjatanya" kata Edgar.
Lima belas menit kemudian, pria bernama Ilyas itu datang dan memberikan banyak anak panah pada Anastasia. Anastasia terlihat sangat senang. Kurasa perlengkapan ini sudah cukup.
"Sekarang kita bahas rencananya."
Ruslan mengambil peta dan membentangkannya di tanah. Itu denah, sebuah rumah jagal yang tadi dikatakan Ruslan, tempat serigala-serigala itu.
"Baiklah. Sudah 3 kali kami tidak bisa menembus rumah ini. Pintunya selalu dijaga oleh 3 serigala jantan, dan betinanya pasti ada di dalam" kata Ruslan.
Aku perhatikan denah rumah itu baik-baik. Letter L, bisa jadi serigala betina ada di pojok rumah itu. Bersembunyi di tempat paling dalam.
"Selama ini kamu selalu menembaki mereka tapi tidak ada gunanya. Serigala itu bagai terbuat dari besi, sama sekali tidak merasa sakit. Bahkan ketika darah mereka mengucur deras, mereka sama sekali tidak merasakannya" kata Ruslan.
"Memang. Tidak akan pernah" kataku. Ruslan dan anak buahnya kompak menatap ke arahku. "Apa maksudmu tidak pernah?" tanya Ruslan.
"Serigala-serigala itu bermutasi, entah karena virus, atau karena nuklir. Mereka tidak akan bisa merasakan sakit lagi. Jadi menembak mereka berkali-kali hanya membuang-buang amunisi kalian" jawabku.
"Jadi, bagaimana cara kita membunuh serigala-serigala itu?" tanya Ruslan. "Kau hanya perlu mencari saluran nafasnya, terutama tenggorokan. Incar leher bawahnya, tembak dan serigala itu mati. Incar saja lehernya, jangan badannya. Secara teori, itu mudah. Tapi kurasa prakteknya tidak semudah teorinya" jawabku.
Ruslan dan yang lainnya menyimak penjelasanku. Beberapa dari mereka sepertinya pesimis dengan kemungkinannya. Apalagi kita berburu di malam hari.
"Berapa kemungkinannya?" tanya Ruslan. "Kalau kau menembak leher bawahnya, kemungkinan kematian serigala itu adalah 100%. Tapi peluang mengenainya mungkin tidak lebih dari 20%, memperhitungkan kondisi berburu kita sekarang" jawabku.
"Bukan berarti mustahil untuk mengenainya" kata Ruslan. "Ya, itu benar. Tapi seperti kata Gregory padaku waktu itu, sepertinya kita butuh pengorbanan nyawa untuk misi kali ini" kataku.
Aku menatap Ruslan yang sepertinya marah dengan kata-kataku, tapi dia tidak bisa mengekspresikan kemarahan itu.
"Dan satu lagi" kataku. "Ada dua tim disini. Timku dan anak buahmu. Bukan satu tim, tapi dua tim" lanjutku.
Ruslan mengangguk saja. Setelah percakapan singkat yang kurang mengenakan untuk Ruslan itu, kami bersiap untuk pergi ke lokasi perburuan. Ruslan dan timnya segera menuju ke kendaraan mereka, sebuah truk tentara. Sedangkan aku dan yang lainnya tetap setia dengan Volvo XC90 dari Saint Petersburg itu.
Kami mengikuti truk Ruslan. Semakin jauh kami pergi dari tempat awal kami, maka semakin sepi dan gelap, serta dingin. 10km ini terasa seperti 100km sekarang. Jalan kesana juga lebih mirip seperti hutan. Hanya pohon besar dan semak-semak di kanan kiri kami. Dan benar-benar gelap. Kurasa jaraknya lebih dari 10km sebelum truk Ruslan berhenti.
"Kita sampai?" tanya Tanya. "Sepertinya begitu" jawabku sambil melihat wajah Tanya yang panik itu. "Tenang, kami tidak akan membiarkanmu mati konyol disini" kataku.
Kami berlima turun dari mobil. Aku lihat Ruslan dan timnya turun dari truk. Mereka semua berjalan di depan kami sampai di tempat perburuan. Rumah jagal itu letaknya agak menjorok di bawah, kira-kira 30 meter dibawah tempat kami berdiri sekarang.
"Itu tempatnya."
Aku mengarahkan senter kesana. Jujur, itu serigala yang benar-benar besar. Bahkan aku hampir menjatuhkan senterku karena tidak percaya dengan ukurannya. Tiga serigala jantan, yang salah satunya memiliki tubuh hampir sebesar Beruang Kodiak dan panjang satu setengah kali serigala biasa. Sedangkan dua lainnya memiliki ukuran yang sama seperti yang kami temui di Petrozavodsk.
"Kau lihat masalahnya sekarang kan?" kata Ruslan.
Ya, aku lihat. Ini tak akan jadi perburuan yang mudah, meski tiga serigala jantan itu sedang tidur. Mereka tidak terganggu dengan cahaya senterku. Itu bagus, karena kalau mereka bangun, kita akan jadi santapan lezat untuk mereka.
"Biar aku yang mulai duluan."
Claire memasang supressor di moncong SVD miliknya dan membidik salah satu serigala itu. Serigala terbesar itu ada di tengah, dan Claire memilih menghabisi yang sebelah kiri terlebih dahulu karena posisi leher bawahnya terbuka.
Aku mengarahkan senter itu ke serigala yang dibidik Claire, dan dengan sekali tembakan yang tepat di leher bawahnya, serigala itu mati dan mengeluarkan darah yang sangat banyak. Bahkan ada yang bercampur dengan nanah.
"Satu tumbang" kata Claire puas.
Tapi sepertinya, dua serigala lainnya terganggu meski Claire sudah memasang peredam. Dua serigala itu bangun, dan melihat ke arah temannya yang sudah mati itu. Kami semua segera membidik mereka, tapi segera ingat kalau menembak mereka membabi buta tidak ada artinya.
"Ada rencana?" celetuk Ruslan.
Sementara itu, dua serigala besar itu berjalan ke arah kami, siap untuk membunuh kami satu per satu.