
"Apa rencana kalian setelah ini?" tanya Tanya. "Rencana? Hanya satu, ke Vladivostok" jawabku.
"Aku dengar kalau Rusia membangun ibukota baru disana. Jadi, disana adalah tempat yang aman dari virus-virus ini" terangku. "Hampir tidak ada yang tersisa di barat dan sekarang, kalian ingin pergi ke timur yang bahkan kalian tidak tahu apa yang terjadi di sana" kata Tanya.
"Hanya itu satu-satunya pilihan. Orang yang aku temui di Moskow memberi tahuku kalau virus ini tidak menjangkiti siapapun di timur" kataku. "Dan kau yakin perkataannya benar? Setidaknya, sampai sekarang?" tanya Tanya lagi.
Sebelum aku menjawab, Claire menepuk bahuku,
"Dengar, kau mau ikut dengan kami ke Vladivostok atau tidak?" tanya Claire. "Tergantung. Aku tidak akan mengikuti siapapun kalau itu hanya sia-sia belaka" jawab Tanya.
"Tidak ada jaminan kau akan selamat juga disini" kata Claire. "Lebih baik kau ikut dengan kami daripada kau tinggal sendirian di kota ini" sahut Edgar.
Tanya tampak berpikir. Sementara aku tidak mau ikut campur soal urusan itu. Terserah dia mau ikut atau tidak. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.
"Lebih baik kau tutup mulutmu dan ikut dengan kami" kataku. "Kalau tidak ada apa-apa di timur nantinya, setidaknya kau bisa hidup sedikit lebih lama" lanjutku.
"Sekarang aku tanya padamu, Tanya. Apa tujuanmu selain bertahan hidup?" tanyaku. "Tujuanku? Tidak ada. Hanya itu. Berusaha hidup lebih lama lagi" jawab Tanya.
"Keluargaku sudah mati, begitu juga dengan kedua temanku itu" kata Tanya sambil mengarah ke mayat itu. "Dan sejak awal, tujuanku, tujuan Anton dan Aleksey hanya bertahan hidup sekuat yang kami bisa" lanjutnya.
"Dan mereka berubah jadi makhluk menjijikan itu" kata Claire. "Ya, begitulah. Lalu kalau aku ikut dengan kalian, apakah ada jaminan kalau aku akan selamat?" tanya Tanya.
"Ada. Asal kau tetap dengan kami. Tidak ada jaminan juga kalau kau tetap tinggal disini. Kami akan segera pergi dan kalau kau tidak ikut, hanya kau satu-satunya manusia disini. Satu manusia, di kota yang dipenuhi orang-orang yang terinfeksi seperti dua temanmu itu. Cepat atau lambat, kau juga akan jadi seperti mereka" kataku.
"Itu benar. Lebih baik kau ikut dengan kami. Mobil kami masih muat untuk satu orang lagi" sahut Anastasia tiba-tiba.
Tanya akhirnya mengangguk. Itu lebih baik daripada kami harus meninggalkannya sendiri disini. Paling tidak, kami bisa menyelamatkan satu orang untuk sekarang.
"Jadi, kita mau pergi lagi sekarang?" tanya Edgar. "Tergantung. Bagaimana dengan yang lain?" kataku.
"Hahh... sebenarnya aku masih lelah setelah dikejar-kejar tadi" kata Anastasia. "Tapi kalau disuruh berangkat sekarang, tidak masalah. Aku bisa tidur di mobil" lanjutnya.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang?"
Aku dan yang lainnya mengangguk, setuju dengan Edgar. Kami langsung saja keluar dari rumah itu dan menuju mobil kami. Dua mayat itu? Kami tinggalkan saja. Meski dokter Aleksander bilang kalau virus itu otomatis mati kalau orang yang terinfeksi mati, kita semua tidak mau ambil resiko.
20.35
"Sebelum kejadian ini, kota ini adalah kota yang indah" kata Tanya. "Aku tahu. Bukan hanya Nizhny, tapi semua kota di Rusia. Semuanya baik-baik saja sampai virus ini muncul" kataku.
"Darimana kau datang?" tanya Tanya. "Cukup jauh, dari Nikel. Sementara gadis ini berasal dari Murmansk" jawabku sambil menunjuk ke arah Anastasia yang tertidur di bahu kiriku. "Sementara dua orang Amerika itu, dari Kola" lanjutku.
"Aku mendengar ada yang membicarakan kami di belakang" sahut Edgar. "Bukan hal yang penting. Fokus saja pada pekerjaanmu" kataku.
Aku bisa lihat Edgar menggelengkan kepalanya sebelum dia menancap gas lebih cepat. Setelah dari Nizhny, tujuan kami adalah kota terbesar di Republik Tatarstan, Kazan. Bisa dibilang, Kazan sudah masuk di wilayah timur Rusia.
"Lalu kenapa kau bisa sampai sejauh ini?" tanya Tanya. "Keluargaku pergi dari Nikel, bisa dibilang mengungsi ke Saint Petersburg. Tapi ternyata, mereka sudah pergi dari sana saat Kolpino di bom. Mereka pergi ke Moskow dan Moskow juga sudah hancur. Aku berharap mereka selamat dan pergi ke timur juga" terangku.
"Sedangkan Anastasia, dia hanya bilang kalau keluarganya pergi ke Moskow. Dia sama sepertiku, bertahan hidup demi bertemu kembali dengan keluarga kami. Dua orang itu mencari jalan pulang ke Amerika. Kita punya tujuan, meski terdengar agak bodoh, tapi tujuan itu yang membuat kami tetap hidup" lanjutku.
"Bagaimana kalau tujuan kalian itu malah mengkhianati kalian?" tanya Tanya. "Kalau aku tidak berhasil menemukan keluargaku, atau ternyata keluargaku sudah mati, aku tidak akan menyesali apa yang aku perbuat. Setidaknya, aku sudah berusaha mencari mereka" jawabku.
"Sesederhana itu?" tanya Tanya. "Ya, hanya seperti itu. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi di tanah terkutuk ini. Jadi kita hanya harus--"
BRAKKK!!!!
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatmu, satu makhluk menjijikan itu menghantam mobil kami dari samping kanan, dari arah Tanya.
"Tancap gas!!"
Edgar menginjak pedal gas, mobil berjalan lebih cepat, sangat cepat. Makhluk itu masih bertahan di sana, berusaha memecahkan kaca mobilnya. Keadaan berisik itu membuat Claire dan Anastasia bangun dari tidur mereka.
"Apa yang...??"
Mereka berdua langsung membelalakan mata begitu melihat apa yang terjadi. Claire dengan sigap mengambil M153 dan mengarahkannya ke belakang, beruntung aku sempat melarangnya.
"Tunggu, menembaknya dari posisi ini bukan ide bagus. Makhluk itu bisa masuk kesini kalau kacanya pecah!"
Sepertinya Edgar berpikir lebih pintar. Aku sempat melihat beberapa meter di depan kami ada tikungan.
"Semuanya, pegangan yang erat!"
Edgar langsung menikung dengan tajam disertai kecepatan tinggi. Dengan guncangan seperti itu, makhluk itu akhirnya terlempar dari mobil. Edgar berhenti sebentar, makhluk itu masih bangun. Segera aku ambil AK-47 milikku dan menembaknya sampai mati.
"Dia sudah mati" kataku. "Sekarang sudah aman."
Edgar kembali menjalankan mobil, menuju ke Kazan. Mungkin kita akan sampai tepat tengah malam.
26 September, 00.10
"Kita istirahat disini."
Mobil kami berhenti di sebuah gedung berlantai lima yang sudah rusak. Entah dimana ini, aku harap sudah dekat dengan Kazan. Setelah memarkirkan mobil diluar, aku dan Edgar lebih dulu masuk ke dalam, memastikan kalau tidak ada makhluk-makhluk aneh atau apapun yang bisa mengancam kami.
Di dalam sini sangat gelap, bahkan cahaya dari senter tidak cukup membantu penglihatan kami. Tapi di lantai yang mungkin seluas 60m² itu tidak menemukan apa-apa. Hanya keadaan di dalam sini saja yang berantakan.
"Disini aman. Suruh mereka semua masuk! Aku akan keatas" kata Edgar.
Aku mengangguk. Aku kembali ke depan sementara Edgar melangkah ke tangga, ke lantai atas. Aku menyuruh para wanita itu masuk ke dalam gedung. Setidaknya tidak ada apa-apa di lantai ini.
"Dimana Edgar?" tanya Claire. "Di atas, lantai dua" jawabku.
Claire menyuruhku menyusul Edgar. Tanpa berlama-lama lagi aku segera naik tangga ke lantai dua. Tapi begitu sampai di sana, aku tidak menemukan Edgar.
Aku menyalakan senter dan menyorot ke semua bagian di lantai ini. Ada tiga pintu disini dan semua tertutup. Aku mencoba untuk membuka pintu yang paling dekat dengan tempatku berdiri. Sayangnya, pintu itu terkunci.
Tinggal dua lagi. Kali ini tangan kananku memegang Glock, untuk berjaga-jaga. Aku coba pintu yang letaknya agak jauh dari tempatku. Kukira awalnya pintu itu tertutup rapat, tapi ternyata terbuka sedikit terbuka. Aku dorong perlahan pintu itu dan aku melihat seseorang di dalam sana.
"Untuk apa pistol itu?"
Huh... Aku lega setelah mengetahui kalau itu Edgar. Tapi kenapa dia tidak menjawab panggilanku?
"Sedang apa kau disini?" tanyaku. "Ruangan ini menarik perhatianku. Aku pikir ada sesuatu yang berguna disini" jawab Edgar.
"Kau menemukan sesuatu?" tanyaku lagi. "Tidak. Sejujurnya aku belum menemukan apa-apa disini" jawab Edgar.
Ruangan ini seperti sebuah kantor pribadi, semacam ruang kerja. Tapi benar-benar berantakan dan kotor. Beberapa map berceceran di lantai. Beberapa map itu malah hanya map kosong. Sedangkan rak buku yang ada di sana hanya berisi majalah-majalah lama.
Mataku malah tertuju pada kotak kecil yang ada di atas rak buku itu. Aku mengambilnya dan aku tahu kalau benda itu adalah semacam perekam. Aku mencoba menyalakan benda itu dan masih berfungsi.
"Edgar, kesini!"
Aku memutar satu-satunya rekaman yang ada di alat perekam itu. Suaranya tidak terlalu jelas saat pertama kali aku mendengarnya. Aku coba putar kembali rekaman itu,
"Lakukan Uborka! Lakukan Uborka!"
Aku sedikit terkejut ketika berhasil mendengarnya. Sambil memegang perekam itu, aku mengacak-acak map-map yang ada di lantai, berharap menemukan petunjuk lain disana. Edgar juga membantuku dan tidak lama kemudian dia memberikan sebuah map berwarna biru bertuliskan уборка¹.
"Coba kita lihat."
Aku membuka map itu. Di dalamnya ada beberapa kertas yang sudah dicoret-coret disana-sini. Di paling belakang, ada sebuah dokumen berjudul
Dua lembar dan kondisinya sangat buruk. Kotor dan dipenuhi coretan dimana-mana. Aku mengarahkan senter ke dokumen itu dan berusaha membacanya. Kertas dokumen pertama sepertinya terdiri dari 4 paragraf.
"Seperti yang kita tahu, virus yang menyebar dari China ini hampir tidak bisa dikendalikan. Penyebarannya terlalu cepat dan tidak ada vaksin yang benar-benar ampuh untuk menanganinya..." (Paragraf 1)
Itu yang bisa dibaca dari paragraf satu. Sisanya tidak bisa dibaca. Aku langsung lompat ke paragraf dua.
"Segala cara sudah dilakukan oleh Departemen Kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus ini, tetapi tidak berhasil. Malah semakin banyak tenaga kesehatan yang terjangkit. Rumah sakit adalah pusat penyebaran virus itu..." (Paragraf 2)
Sial, sisanya tidak terbaca. Baiklah, paragraf ketiga.
"Situasi semakin genting ........ karena itu militer menawarkan Proyek Uborka sebagai jalan keluar..." (Paragraf 3)
Proyek Uborka, pembersihan. Apa ini yang selama ini dilakukan oleh Rusia?
"Proyek ini ditujukan untuk memutus penyebaran virus terutama di barat yang banyak penduduk. Membersihkan para pasien dengan cara memusnahkan mereka menggunakan asap dan api..." (Paragraf 4)
Ternyata benar. Selama ini memang Rusia sudah merencanakan semua ini. Aku membalik kertas itu, membaca kertas kedua di belakangnya. Hanya ada satu paragraf pendek disana.
"Proyek ini tidak boleh bocor, harus tetap rahasia. Kalau ada masalah, temui aku di 49 Ulitsa Butlerova, Kazan" (Paragraf 5)
Kazan. Yang membuat proyek ini ada di Kazan.
"Aku tidak bisa membaca tulisan Rusia" kata Edgar. "Nanti akan aku jelaskan. Pokoknya, dokumen ini sangat penting bagi kita" kataku.
Kami keluar dari ruangan itu dan turun ke lantai bawah. Disana, ternyata Claire dan Tanya sudah tidur. Hanya Anastasia yang masih terjaga ditemani 3 batang lilin yang menyala. Sepertinya lilin-lilin itu dari Tanya.
"Kalian lama sekali" kata Anastasia. "Kami menemukan satu hal yang penting disini" kataku sambil menunjukan map itu pada Anastasia.
"Lebih baik kau tidur karena besok kita akan menuju ke Kazan, secepatnya" kataku.
Aku duduk di samping Anastasia, dia masih belum mau tidur sepertinya.
"Apa yang kau temukan?" tanya Anastasia. "Beberapa dokumen tentang kebusukan Rusia selama ini. Suatu hal yang mungkin bisa membantu kita untuk selamat dari tanah ini" jawabku.
"Selamat? Kita sudah selamat kan?" tanya Anastasia. "Ya, tapi kita perlu mengungkapkan apa yang telah dilakukan oleh Rusia oleh tanahnya sendiri" jawabku.
"Semoga saja itu bisa berhasil" kata Anastasia lalu bersandar di bahuku. "Kau mirip sekali dengan ayahku, hanya saja kau sedikit lebih kasar" lanjutnya.
"Tidak lama lagi kita akan bertemu dengan keluarga kita. Tenang saja. Sekarang kau cepat tidur!"
Tidak ada jawaban dari Anastasia. Aku lihat ternyata dia sudah terpejam. Begitu pula dengan Edgar. Mereka semua sudah tidur, hanya aku yang masih terjaga sekarang.
07.15
"Aku mau mandi" keluh Anastasia sambil melihat aliran sungai Volga yang membentang sepanjang jalan.
"Bukan kau saja, aku juga" sahut Claire. Tidak biasanya dia menyahuti ucapan Anastasia. "Kita semua mau mandi. Aku juga sudah tidak nyaman dengan kondisi badanku" kata Edgar.
"Memangnya ada apa di Kazan?" tanya Tanya. "Mungkin sesuatu yang bisa sedikit menolong kita mencapai timur Rusia. Atau.. setidaknya kita tahu kenapa Rusia melakukan ini" jawabku.
"Seseorang yang tahu soal kejadian ini ada di Kazan?" tanya Tanya. "Ya, aku yakin itu. Dan orang ini bisa membawa kita ke timur. Tidak, orang ini harus membawa kita ke timur" jawabku.
Seperti menemukan semangat baru, itulah yang cocok menggambarkan diriku. Apalagi setelah aku tahu alasan Rusia melakukan genosida pada rakyatnya sendiri. Rusia, kalian mungkin bisa menghancurkan kota-kota di barat. Kalian mungkin bisa menciptakan monster yang mengejar kami berkali-kali. Tapi Rusia, satu hal yang tidak kalian sadari...
Masih ada para penyintas yang selamat.
Bersambung...
NB:
¹dibaca Uborka, artinya Pembersihan
²dibaca Proyekt Uborka, artinya Proyek Pembersihan