
happy readings
..
"Mah.. mama beneran harus pergi? mama kenapa gak di sini aja sama Deira?" mata Deira berair, ia sungguh tidak sanggup harus berpisah dengan orang tua nya.
"Dei.. kalo mama di sini sama kamu, papa nanti gimana? lagian nanti di sana mama takut ada yang main serong!" lice melirik tajam suami nya.
"William.. tolong jaga putri saya, saya percayakan dia sama kamu! walau dia agak malas.." Ayden menepuk pundak william, mata sang papa serasa sungguh percaya dengan menantu lelaki nya.
"iya pa.. william janji, william bakalan jagain Deira" william menatap mata mertua nya, walau dengan ekspresi dingin nya.
"Pahhh!!! Deira mau ikut papa aja!!" Deira menarik lengan papa nya, memohon agar tidak berpisah dengan nya walau hanya beberapa tahun ataupun bulan.
"kamu sudah besar sayang.. kamu sudah mempunyai seorang suami, dan sekarang itu adalah tanggung jawab kamu.." ayden mencoba memberikan penjelasan agar putri semata wayang nya itu mengerti.
Deira menggeleng kan kepala nya, air mata yang sudah di tahan nya langsung keluar dari mata nya tapa aba aba sedikit pun.
"gak gak!! hiks, gak mau.. lagian Deira dari awal gak pernah mau nikah! kalian nya aja yang terus maksa Deira!!! hiks!" Deira menangis, menumpahkan segala curahan hati yang telah di pendam nya.
melihat anak perempuan nya yang menangis, nyonya cadisa juga tidak bisa menahan tangisan nya, dia memeluk anak perempuan nya.
"sayang.. jangan berbicara seperti itu.. william adalah suami kamu sekarang, dan kamu harus bersyukur akan hal itu.. " Lice memeluk erat Deira yang terus menangis sesegukan.
"tap-i hikss, Deira gak mau di tinggal sendiri.. hiks!" Deira kembali menangis, biar saja dia di panggil alay atau yang lain.
"mah.. jangan tinggalin Deira mah.. " Deira memohon untuk terakhir kali nya, kepergian orang tua nya adalah hal yang tiba tiba dan sulit di cerna oleh nya.
"jaga diri kamu dan suami kamu sayang.." lice dan Ayden melambaikan tangan nya pada anak dan menantu nya, mereka berjalan sampai sudah tidak terlihat tubuh mereka lagi.
William memeluk Deira yang semakin mengencangkan suara tangisan nya itu.. "hiks, hiks, will, gw mau ikut sama orang tua gue will" Deira membalas pelukan yang di berikan william, dia membutuhkan seseorang untum bersandar sebentar.
"nanti saat sudah lulus, kita kunjungi mereka.." William mencium puncak kepala Deira.
"Bener ya? jangan boong!!" setelah tenang dari tangisan nya Deira tidak melepaskan pelukan nya dari william dan malah semakin mengeratkan pelukan nya dia bahkan menghirup hirup aroma tubuh william yang berbau mint.
" tadi siapa yang bilang gak mau nikah sama saya?" William bertanya saat melihat Deira yang mengendus ngendus tubuh nya layak nya anj*ng.
"gak ada yang bilang gitu!!" Deira semakin semakin mengeratkan pelukan nya.. dan dia mencoba untuk menyembunyikan wajah memerah nya itu.
"ada!" william mencoba melihat wajah Deira yang memerah, lucu sekali..
"gak ada!!" Deira bersih keras dengan keras kepala nya itu.
"pulang" William melepaskan pelukan nya dari Deira dan menggandeng tangan nya untuk pulang dari bandara.
_____________________________
Next -> 🤓