Only For You

Only For You
Chapter 8



Seseorang tengah asik melempar-lemparkan kunci motornya ke udara lalu menangkapnya dengan sempurna.


Abaikan saja Alexa, abaikan!


"Hei" bisik Zevan lembut


Jalan saja, tak usah pedulikan makhluk astral di sampingku ini.


"Kau kenapa diam saja?"


Menurutmu aku diam saja karena apa? Dasar bodoh!


"Kau sedang sakit? Atau ... "


"Malas bicara denganmu!" ucap Alexa cepat menatap mata hazel milik Zevan.


Shit! Kenapa harus sedekat ini. Dan lagi, matanya..


"Hahaha... Baiklah aku diam"


"Terserah kau saja"


"Kalau begitu aku akan terus bicara denganmu"


"Aku tidak akan menjawab"


"Kau cukup mendengarkan saja"


"Kalau begitu lebih baik kau diam!"


Alexa, Alexa, kau ini menyebalkan tapi sangat menggemaskan.


Zevan akui dia baru pertama kali bertemu dengan seorang perempuan seperti Alexa pasalnya ketika ia bertemu para perempuan selalu saja membuatnya geram dengan tingkah mereka yang bahkan membuat Zevan merasa jijik karenanya. Berbeda dengan Alexa, perempuan dengan tampilan sederhana dan apa adanya serta semua sifat menyebalkan yang begitu menggemaskan dimata Zevan mampu memikat seorang Zevano Bagas Antariksa. Lelaki tampan yang banyak digandrungi banyak wanita.


"Sore tante" sapa Zevan menghampiri Mama alexa yang tengah menyiram bunga.


"Kalian sudah pulang ya, ayo semuanya masuk"


"Zevan harus buru-buru pulang Ma, ada janji dengan Bundanya" sebelum Zevan mengiyakan ucapan Ana, Alexa sudah lebih dulu mendahului ucapan Zevan. Tentu saja dia tidak akan mengizinkan Zevan mampir untuk ke ketiga kalinya di rumahnya ini.


Zevan membulatkan mata menatap Alexa, yang ditatap memberikan isyarat bahwa Zevan harus segera mengiyakan ucapannya.


"Iya tante, Zevan ada janji dengan Bunda. Mungkin lain kali Zevan mampir"


Bagus. Aku kira dia akan mengiyakan ucapan Mama.


"Yasudah, kalau begitu tante titip salam untuk Bundamu ya Zevan"


"Iya tante, pasti saya sampaikan. Kalau begitu Zevan pamit dulu tante," setelah mencium punggung tangan Ana, Zevan menatap sekilas ke arah Alexa sebelum benar-benar pergi meninggalkan halaman rumahnya."Sampai nanti, Alexa"


"Zevan itu sangat manis ya" ucap Ana tiba-tiba.


"Manis? Tidak Ma, dia itu menyebalkan."


"Yang Mama lihat dia baik, sopan dan sepertinya dia mencintai kamu"


"Alexa tidak tertarik dengan Zevan, Mama tidak usah membahas dia lagi"


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?"


"Sangat yakin"


"Yah baiklah, terserah kamu saja. Semoga kamu tidak akan pernah menyesal dengan keputusanmu"


Mama ini bicara apa, tentu saja aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku. Karena memang aku tak pernah mencintai Zevan, mana mungkin aku menerima cintanya. Sedang cinta adalah sebuah ikatan di mana mendapat persetujuan dari kedua bela pihak. Bukan hanya satu, atau salah satu pihak jelas itu hanya akan menggoreskan pisau pada kulit sendiri. Bukankah itu sangat menyakitkan.


Sudahlah, lebih baik aku masuk lalu mengistirahatkan tubuhku. Rasanya, tubuhku sudah sangat lelah. Semenjak kejadian waktu itu dengan Zevan, akhir-akhir ini aku sering terlibat dengannya. Memuakkan!


Tapi, apa benar yang dikatakan Mama? Kalau sebenarnya Zevan itu mencintai ku? Kalau benar, aku harus apa? Haruskah aku menerima cintanya? Bagaimana jika ia tidak sungguh-sungguh mencintai ku? Bagaimana jika ia hanya ingin menaklukkan ku? Aku melihat cinta Zevan itu tidaklah tulus terhadap ku. Atau itu hanya sebatas asumsiku saja. Tidak! Itu tidak mungkin! Mana mungkin Zevan mencintai ku! Jangan berekspektasi lebih jauh lagi Alexa!