Only For You

Only For You
Chapter 1



"Tidak ada yang pernah tahu kapan dan di mana Tuhan akan mempertemukan dua insan untuk merajut sebuah kisah"


Sebuah motor sport melaju begitu cepat tanpa memperhatikan sekitarnya. Hingga ban motornya menginjak kubangan air, lalu mengenai seorang gadis yang tengah berjalan di samping kubangan itu.


"Hei!" pekik gadis itu kepada pengendara ugal-ugalan tadi.


Motor sport berwana merah itu berhenti, ia menoleh ke arah gadis yang tengah menatap matanya tajam, tanpa melepas helm full facenya.


Gadis itu mempercepat langkahnya, bersama pengendara motor yang ikut melesat.


"Argh! Menyebalkan! Bukannya meminta maaf , malah langsung pergi begitu saja." Geram gadis itu sembari mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan kaki kanannya karena kesal.


Gadis itu kembali berjalan, melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Pagi Pak ... " sapa gadis itu kepada satpam yang sedang berdiri di samping gerbang.


"Pagi juga neng Alexa" balas satpam itu sembari tersenyum.


Alexa mengedarkan pandangannya, siapa tahu ia menemukan seorang pengendara ugal-ugalan tadi yang membuat sebagian seragamnya kotor. Karena Alexa sempat melihat seragamnya yang ia yakini satu sekolah dengannya.


Benar saja. Apa yang ia cari ada di depan matanya. Alexa berjalan mendekati motor sport berwarna merah yang terparkir sempurna di parkiran sekolah.


"Tidak salah lagi. Benar ini motornya, tapi siapa seseorang yang mempunyai motor ini?"


Alexa yakin betul, bahwa yang ada di hadapannya adalah sepeda motor yang membuat seragamnya terkena kubangan air. Ditambah lagi, ia sempat melihat plat nomornya.


Alexa berdiri di depan motor itu, baru saja tangannya ingin menyentuh bagian bannya dan berniat mengempeskannya, yang entah siapa pemiliknya itu, tiba-tiba suara bariton mengejutkannya.


"Ngapain? Mau kempesin motor saya?" ujar suara bariton tepat di samping Alexa, sembari membungkukkan badannya.


Sontak, Alexa bangkit lalu mundur beberapa langkah.


"Ooh ... Jadi kamu pengendara ugal-ugalan itu?" tanyanya menatap pemuda yang berdiri menghadap ke arahnya dengan wajah kebingungan.


Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya, tidak tahu apa yang dimaksud gadis yang ada dihadapannya ini. Ugal-ugalan katanya?


Pemuda itu diam, sembari memikirkan apa maksud perkataannya tadi. Mata hazelnya menatap tubuh gadis itu dan menemukan sebagian seragamnya yang kotor.


Jadi ... Seragam dia kotor karena saya? Lalu, dia ingin saya meminta maaf atas kejadian tadi? Dan-.


Baru saja pemuda itu ingin melanjutkan ucapan dalam hatinya, gadis di depannya sudah terlebih dahulu memotong ucapannya.


"Sekarang juga aku ingin kau meminta maaf, atas kejadian tadi" ujar Alexa to the point.


Benar dugaanku. Pemuda itu membatin.


"Cepat! Aku menyuruh kau untuk meminta maaf. Bukan untuk diam" tegasnya.


Menarik. Lagi lagi pemuda itu hanya membatin.


"Hei! Aku tahu kau tidak bisu" ucap Alexa mulai geram.


Pemuda itu membungkukkan tubuhnya. Sementara Alexa menarik pelan kepalanya ke belakang karena jarak diantara mereka yang cukup dekat. Membuat kedua mata mereka saling beradu.


"Kalau saya tidak mau, bagaimana?" ucap pemuda itu masih dengan membungkukkan tubuhnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Aku memaksa!" tegas Alexa


Lalu setelahnya, ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Alexa sembari berkata.


"Terserah kau saja." Pemuda itu melambaikan tangan kanannya membelakangi Alexa.


Alexa tidak akan membiarkan pemuda itu lepas begitu saja darinya, sebelum meminta maaf kepadanya.


Dengan cepat, Alexa mengikuti langkah pemuda itu. Meskipun Alexa kesulitan mengikuti langkah jenjangnya, namun Alexa tetap pada tujuan awalnya yaitu membuat pemuda itu agar meminta maaf pada dirinya.


"Aduhh!" pekik Alexa karena baru saja dahinya membentur sesuatu.


"Sedang apa?" tanya pemuda itu ketika sudah membalikkan tubuhnya.


Alexa memegangi dahinya, "Aku? mengikutimu" jawab Alexa benar adanya.


Seulas senyum terukir di wajah tampannya. Gadis yang ada dihadapannya ini benar-benar lucu, unik dan berbeda dengan gadis lainnya.


"Kenapa senyum?" tanya Alexa heran.


"Kau menyukai saya?" pemuda itu bertanya dengan sangat percaya diri.


Alexa tertegun.


Bisa-bisanya pemuda itu mengatakan pertanyaan semacam ini. Kenal saja tidak, dengan sangat percaya diri dia bilang kalau aku menyukainya? Sepertinya pemuda ini sudah gila.


"Jadi benar ya. Kau ini menyukai saya?" Godanya.


"Kau ini sudah gila ya? Siapa juga yang menyukaimu"


"Tadi kau diam. Saya pikir kau menyukai saya" katanya sembari menyisir rambutnya ke belakang.


"Ha-ha-ha ... Mana mungkin aku menyukaimu" Alexa tertawa mengejek. "Kau ini gila"


"Hmm ... Begitu ya? Jadi... " Pemuda itu sengaja menggantungkan ucapannya.


"Jadi apa?" tanya Alexa penasaran.


"Bagaimana jika saya membuat kau jatuh cinta?"


Pertanyaan macam apa ini? Apa itu artinya dia akan berusaha membuat aku jatuh cinta padanya?. Alexa membatin.


"Itu tidak akan pernah terjadi" jawab Alexa mantap.


"Oh iya? Bagaimana jika kau sampai menyukaiku?" tanyanya lagi memastikan.


"Tidak akan pernah!"


Pemuda itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Kita lihat saja nanti"


Kemudian pemuda itu berlalu meninggalkan Alexa yang masih menatap punggung tegap pemuda itu.


"Alexa!" Teriak Mauren-sahabat Alexa, sembari melambaikan tangannya.


Alexa. Gumam pemuda itu dalam hati.