
Tok tok tok
"Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu"
"Hust! Tidak boleh berkata seperti itu, biar Mama saja yang buka pintunya, kamu lanjutkan sarapannya"
Ana berdiri meninggalkan Alexa yang tengah sibuk makan, dalam hati Alexa menyumpah serapahi orang yang telah mengganggu ketenangannya pagi ini.
"Pagi tante" ucap seseorang itu sembari mencium punggung tangan Ana dan memamerkan senyumnya.
Ana membalas senyumannya, "Eh, kamu Zevan. Mau jemput Alexa ya?" tebak Ana tepat sasaran.
"Iya tante, Alexanya ada?"
"Ada, Alexa sedang sarapan, yaudah kamu juga ikut sarapan ya, pasti belum sarapan kan?"
Zevan hanya mengangguk. Ana membawa Zevan menuju meja makan.
"Selamat pagi Alexa" sapa Zevan lalu duduk di sebelah Alexa.
Mata Alexa terbelalak kaget melihat Zevan yang begitu mudahnya masuk ke dalam rumahnya dan sekarang duduk di sebelahnya. Apa-apaan ini! Dasar menyebalkan!
"Suruh siapa kau duduk di situ?"
"Mama yang menyuruhnya" Ana menghampiri mereka berdua menghentikan perdebatan kecil diantara Zevan dan Alexa.
"Ma, jangan sembarangan menerima tamu dong, apalagi sepagi ini. Yang bertamu juga tidak tahu waktu!" Alexa menatap Zevan tajam setelah mengucapkan kalimat terakhir. Yang ditatap hanya tersenyum.
"Zevan ini kan temanmu. Dia ke sini juga mau mengajak kamu berangkat sekolah sama-sama"
"Alexa tidak mau. Alexa bisa berangkat sendiri"
"Tidak boleh menolak ajakan baik seseorang, apalagi orangnya sudah ada di sini untuk menjemput kamu"
"Tapi Maa ... "
"Sudah, cepat habiskan sarapannya. Kamu juga makan ya Zevan"
Baru saja Ana ingin mengambilkan makan untuk Zevan, Alexa sudah lebih dulu menarik lengan Zevan hingga membuat dirinya hampir saja terjatuh.
"Ayo Zevan kita berangkat. Ma Alexa berangkat dulu ya daaahhh..."
Ana melambaikan tangannya tanpa berkata. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua.
Setiba di halaman rumah Alexa tepat di depan motor sport milik Zevan, Alexa menghempaskan Zevan kasar, untung saja dirinya kuat hingga tidak terjatuh.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku sarapan lebih dulu, kau tahu aku belum sarapan dan aku lapar"
"Kau pikir aku akan perduli, lalu menyuruh mu masuk kembali sambil mempersilahkan kau untuk makan?" Zevan mengangguk kecil, "Tentu saja tidak!"
Alexa benar-benar geram dibuatnya, ada saja tingkah Zevan yang membuat Alexa kesal. Bahkan sepagi ini.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku jadi gemas"
"Kau ini-" ucapan Alexa terhenti ketika dirasa ada tangan kokoh yang melingkarkan jaket di pinggangnya.
"Aku tidak mau pahamu menjadi tontonan gratis untuk lelaki mata keranjang di jalanan" ucap Zevan masih mengikatkan kedua lengan jaketnya di pinggang Alexa.
❇❇❇
"Alexa!" teriak Mauren menggelegar tapi Alexa lebih memilih mengabaikannya.
"Alexa, apa benar kau berangkat sekolah dengan Zevan?" tanya Mauren heboh.
"Ohh.. hmm iya" jawab Alexa masih fokus dengan buku bacaannya.
"Jadi gosip yang ku dengar itu memang benar ya" gumam Mauren sembari memegangi dagunya.
Alexa menutup bukunya, menatap Mauren seolah menyuruhnya untuk menjelaskan ucapannya tadi.
"Gosip? Apa maksudmu?
"Tadi pagi aku dengar anak-anak berbicara soal kau dengan Zevan, katanya Zevan berangkat dengan pacarnya" jelas Mauren
"Pacar? Mereka mengira aku sebagai pacar Zevan?"
"Ya, Zevan sendiri yang membenarkan"
"Mauren, apa semua yang kau katakan itu benar?"
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada yang bersangkutan"
Kalau dipikir-pikir mungkin saja Zevan sengaja memberi klarifikasi aku ini adalah pacarnya, apa dia mau membuat ku kesal? Lelaki itu benar-benar menyebalkan! Sekarang juga aku akan bertanya padanya.
"Hei, kau mau ke mana Alexa?"
"Aku ada urusan sebentar"
Dengan langkah terburu-buru Alexa meninggalkan Mauren. Maureun sudah bisa menebak ke mana Alexa akan pergi. Padahal ia ingin sekali mengikuti Alexa tapi Mauren tahu betul bagaimana Alexa, dia selalu berpikir kalau dia mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak ingin melibatkan siapapun.
"Zevan!" Alexa memanggil Zevan dengan mengeraskan volumenya, terdengar seperti bentakan.
Zevan menoleh, ia mendapati Alexa dengan wajah merah padam karena kesal, "Ada apa? Kau ingin makan bersama ku?"
"Aku ke sini ingin memintamu untuk segera membersihkan nama baikku"
Zevan mengernyit, "apa maksudmu? Nama baikmu? Aku tidak mengerti"
"Kau pikir aku tidak tahu, kau sengaja menjemput ku, itu semua karena kau berharap orang lain akan mengira bahwa kita berdua pacaran. Benar kan kataku?
"Oh ... Soal itu.."
"Kau sengaja kan? Mengatakan pada semua orang kalau aku ini adalah pacarmu! Kenapa kau melakukan itu?"
Zevan diam, ia tak menyangka hanya karena ia mengatakan pada semua orang bahwa Alexa adalah pacarnya menjadi serumit ini. Padahal niatnya hanya ingin membuat Alexa kesal. Dan itu sudah berhasil, tapi kenapa menjadi serumit ini.
"Dengan kau mengatakan aku adalah pacarmu, secara tidak langsung kau membuatku berada dalam bahaya Zevan"
Alexa berbalik lalu meninggalkan Zevan yang menatapnya penuh tanda tanya. Aku hanya ingin hidup damai di sekolah ini.
Membuatnya berada dalam bahaya? Apa maksudnya? Tunggu, Liora. Yah, aku mengerti sekarang.