
"Hei! Kamu tidak punya otak apa bagaimana hah?!" teriak seseorang dari luar.
"Maaf nona, jangan teriak-teriak. Sudah malam" ujar satpam rumah itu memperingati.
Perempuan itu menggoyang-goyangkan pagar besi rumah tersebut.
"Harusnya bapak berkata itu pada majikan bapak. Bukan pada saya," terang perempuan itu.
"Sekarang tolong bukakan pagarnya. Biarkan saya masuk dan memberi pelajaran kepada majikan bapak yang tidak tahu waktu itu!" pintanya.
Satpam itu masih enggan untuk membukakan pagar.
"Bapak mau saya laporkan? Karena telah melindungi majikan bapak yang telah menganggu ketenangan orang lain itu?" ujarnya terdengar mengancam.
Karena takut dilaporkan, satpam itu segera membukakan pagarnya. Membiarkan perempuan itu masuk, sementara satpam itu mengikutinya dari belakang.
Tok Tok Tok!
"Hei! Bams! Bukakan pintunya!" seru perempuan itu dari balik pintu.
"Aduhh ... Non, sudah. Jangan teriak-teriak begitu, mas Bams tidak akan dengar" kata satpam itu.
Tapi perempuan itu terus mengetuk pintu tak sedikitpun mendengarkan kata satpam yang berdiri di sampingnya.
Tok Tok Tok!
"Hei! Cepat buka atau-"
Klek!
"Atau apa?"
Benar saja, ternyata pendengaran Zevan masih normal. Dia pikir dia salah dengar, ternyata memang benar ada ribut-ribut di luar.
"Kau?" ujar perempuan itu terkejut.
Zevan tersenyum. Mendekatkan dirinya dengan Alexa. Yah, perempuan itu adalah Alexa seseorang yang sudah dengan lancang memasuki pikiran Zevan.
"Jujur saja, kau mengikutiku ya?"
"Kau ini terlalu percaya diri!"
"Aku yang terlalu percaya diri, atau kau yang tidak mau mengakui?"
Tunggu, sejak kapan dia berkata 'aku'. Sepertinya otak Zevan sempat terbentur.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku sudah bilang, kalau aku tidak mengikutimu!" sergah Alexa.
"Tadi kau diam. Aku anggap itu iya" jawabnya enteng.
Sementara Bams dan Hendrick turun, mencari Zevan karena tidak kembali juga ke kamar membawa cemilan dan minuman sesuai permintaan Bams. Mereka berdua melihat pintu yang terbuka dan suara gaduh dari luar.
"Alexa? Sedang apa kau kemari?" ujar Bams bingung.
Bams memberi kode kepada Hendrick, yang diberi kodepun langsung naik ke atas menuju kamar Bams dan mematikan musiknya.
"Tenang Alexa, aku tidak bermaksud mengganggu kau dan yang lain" ungkap Bams.
Ternyata mereka sudah saling kenal, sejak kapan Bams kenal dengan Alexa?. Ah! Sudahlah nanti saja aku tanyakan.
"Aku tidak bisa tidur karena kau Bams! Dan kau dengan mudahnya menyuruhku untuk tenang?"
"Ternyata kau tampak lebih cantik ketika sedang marah ya" celetuk Zevan membuat Alexa memelototinya.
"Hahaha ... Jangan begitu kau tampak menyeramkan" ledek Zevan dengan tawanya.
Alexa semakin kesal dibuatnya, "Kau bisa diam tidak?! Aku sedang bicara dengan Bams"
"Baiklah Alexa, aku minta maaf jika sudah membuat kau terganggu. Aku tidak akan mengulanginya lagi" ungkap Bams mengaku salah.
"Sudah, sudah, kalian tidak lihat sekarang jam berapa? Sudah semakin larut. Dan untuk kau Alexa, lebih baik kau pulang, jangan ribut-ribut di sini, sudah malam, jangan membuat orang lain semakin terganggu" lerai Hendrick.
"Yang meganggu itu temanmu bukan aku!" tukas Alexa.
"Ya, Alexa. Kami mengerti, kami minta maaf sudah membuat kau merasa terganggu. sekarang lebih baik kau pulang" ucap Hendrick dengan lembut.
"Ingat ya! Jangan di ulangi lagi, kalian ini benar-benar menganggu!"
Belum sempat Alexa membalikkan tubuhnya, sentuhan hangat menahannya.
"Biar aku antar" ujar Zevan menawarkan.
"Tidak perlu. Sekarang lepaskan tanganku!"
"Kalau kau menolak, aku tidak akan melepaskannya"
"Sebenarnya kau ini mau apa sih?"
"Mengantar kau pulang"
"Terima saja tawaran Zevan Alexa, dia tidak akan berbuat macam-macam. Dia hanya ingin mengantar kau pulang" ujar Bams memberitahu Alexa agar mau diantar oleh Zevan.
"Hufft ... Baiklah"
Mereka berjalan berdampingan dengan hening. Tidak ada obrolan diantara keduanya.
Alexa memberhentikan langkahnya, "Sudah sampai, ini rumahku"
"Kalau begitu, cepat kau masuk" suruh Zevan ketika mereka sudah sampai depan pagar rumah Alexa.
"Yasudah, kau pulang saja sana" usir Alexa.
"Saat ini mungkin aku belum bisa bertemu orang tua mu, tapi aku pastikan besok aku akan bertemu orang tuamu"
"Itu ramalan?"
"Itu takdir," kata Zevan kemudian berlalu meninggalkan Alexa yang masih terdiam di tempatnya.