
Suasana kantin sangatlah ramai dipenuhi orang-orang yang tengah kelaparan. Tak terkecuali Alexa dan dua sahabatnya.
"Kita duduk disebelah sana saja" ajak Vivyan kepada Alexa dan Mauren.
"Kalian duduk saja, biar aku yang memesan makanannya" ucap Alexa.
"Tidak Alexa, biar kita sendiri saja yang memesan" Mauren berujar.
"Iya, antriannya panjang, belum lagi kau akan repot ketika membawa makanannya" tambah Vivyan.
"Baiklah. Ayo!" ajak Alexa
Alexa dan dua sahabatnya berjalan menuju pedagang yang sudah berjejer rapih. Setelah mereka sampai, mereka memesan makanan kesukaan mereka masing-masing.
Untungnya mereka tidak menunggu terlalu lama. Akhirnya mereka mendapatkan pesanannya. Mereka berjalan menuju tempat duduk yang menjadi incarannya sedari tadi.
Setelah sampai, mereka meletakkan nampan di atas meja. Lalu duduk dan segera memakan makanannya sebelum dingin.
"Jadi, tadi seragam mu kotor karena terkena kubangan air, Alexa? tanya Mauren membuka obrolan.
"Yaa ... Begitulah Ren. Tapi syukurlah masih bisa dibersihkan" jawab Alexa santai masih dengan menyantap makanannya.
"Lalu, kau sudah bertemu dengan orang itu?" imbuh Vivyan ingin tahu.
Alexa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Siapa orangnya?" ucap Mauren dan Vivyan bersamaan.
"Saya orangnya"
Baik Mauren dan Vivyan mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
"Zevan?" ucap Mauren dan Vivyan bersamaan, dengan suara pelan.
"Kau!" Alexa bangkit dari duduknya, menatap tajam ke arah pemuda tadi.
"Mau apa kau ke sini?" Alexa bertanya dengan suara yang sedikit meninggi.
Sementara Mauren dan Vivy hanya diam menyaksikan dua orang yang tengah beragumentasi.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, saya Zevano Bagas Antariksa, kau boleh memanggilku Zevan, Vano, atau ... Sayang juga tidak apa-apa" kataya sembari memarkan senyum menawannya.
Apa katanya? Sayang? Benar-benar sudah gila!. Ucap Alexa dalam hati.
Alexa masih diam. Tidak berniat membalas uluran tangan Zevan.
"Aku jadi semakin yakin, kalau kau ini memang benar-benar gila"
Zevan menurunkan uluran tangannya, "Saya gila karena kau, Alexa"
Tunggu. Kenapa dia bisa tahu nama ku? Ah iya aku ingat, pagi tadi Mauren memanggil namaku. Mungkin dia mendengarnya. Alexa membatin.
"Mauren, Vivyan ayo kita pergi!" Ajak Alexa yang sudah terlebih dulu melangkah. Berlalu meninggalkan Zevan yang kini tengah menatapnya dengan seulas senyum.
❇❇❇
Alexa, sepertinya saya tertarik dengan gadis itu. Baiklah kita lihat saja nanti, apakah dia masih keras kepala dan kaku untuk mengakui kalau sebenarnya dia mencintaiku.
Drrttt ... Drrttt ...
Zevan meraih benda pipih berbentuk persegi panjang yang berada di sampingnya. Membuka kuncinya, tertera nama Bams pada layar hpnya.
Zevan menempelkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu ke telinganya. Begitu ribut di sana. Zevan tidak bisa mendengar dengan jelas.
"Apa?" ucapnya
"Kalian bicara apa? Saya tidak dengar. Sangat berisik di sana!" ujar Zevan dengan mengeraskan suaranya.
Hahaha ... Sorry Van, bagaimana, kau dengar aku bicara tidak?. Tanya Bams dari seberang sana memastikan.
"Ada apa?"
Cepat ke rumahku! Kami sedang mengadakan pesta kecil.
"Orang tua kau kemana?"
Mereka sedang ke luar kota untuk beberapa hari ke depan. Jawab Bams
Hey Zevan! Tidak usah banyak bertanya, cepat kau ke sini.
"Baiklah. Aku akan ke sana" finalnya.
Zevan bangkit dari tidurnya, membuka lemari pakaiannya untuk mencari sweater yang menjadi favoritnya.
Setelahnya Zevan berjalan menuruni anak tangga yang mengantarkannya untuk turun ke bawah. Tampak kedua orang tua Zevan tengah asik mengobrol sembari menonton televisi, dengan segera Zevan menghampiri mereka.
"Ma, Pa. Zevan mau keluar sebentar ya" kata Zevan kepada orang tuanya.
"Mau kemana sayang?" tanya mama Zevan.
"Ke rumah Bams Ma"
"Yasudah, jangan pulang terlalu malam ya" papa Zevan memperingati.
"Ingat, besok kamu sekolah Zevan" imbuh mamanya.
"Iya, Zevan mengerti. Kalau begitu Zevan pergi dulu ya"
Zevan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya, ia menaiki sepeda motornya tak lupa dengan helm full face yang selalu ia kenakan. Setelahnya motor sport berwarna merah itu melesat bersama Zevan.
Motor sport itu berhenti di halaman depan rumah minimalis dengan balutan warna coklat muda sebagai lapisan cat dindingnya.
Zevan membuka helm full facenya lalu segera menuruni motornya dan melangkah mendekati pintu. Beberapa kali Zevan memencet bel rumah itu, namun tak seorangpun yang keluar untuk membukakan pintu untuknya. Yang terdengar hanyalah dentuman musik yang cukup keras.
Zevan memutuskan untuk menghubungi Bams pemilik rumah. Ya, semoga saja Bams sedang memegang handphonenya.
Apa? Kau sudah datang?
Oke, oke, aku akan segera keluar. Ucap Bams dari ujung telpon. Ia segera membukakan pintu untuk Zevan.
"Kau menyuruhku datang cepat, tapi kau sendiri lama sekali membukakan pintu"
"Sudah lah, ayo masuk. Kau ini seperti wanita, hahaha"
Zevan tak menggubris ucapan Bams, "Di mana Hendrick?"
"Di sini!"
Hendrick menghampiri Zevan dan Bams sembari membawa minuman kaleng lalu menyerahkannya kepada Zevan yang langsung di terima oleh Zevan.
Zevan mengedarkan pandangannya, gelap, hanya ada lampu disko yang menggantung di kamar Bams. Begitu banyak warna membuat mata Zevan terganggu ditambah lagi dentuman musik semakin memekakkan telinga.
Harusnya saya tidak usah datang. Berada di sini membuat kepala saya pusing.
"Ini yang kalian sebut pesta?" tanya Zevan masih menatap sekitar.
Bams dan Hendrick mengangguk mantap.
"Kenapa mengadakan pesta seperti ini?" tanya Zevan lagi.
"Orang tua ku sedang tidak ada, aku bosan. Dari pada aku pergi ke club lebih baik aku mengadakan pesta semacam ini. Benar kan Hendrick?"
Hendrick mengangguk mengiyakan ucapan Bams, "Sudah lah Van, kau nikmati saja"
Zevan menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan. Dua sahabatnya ini memang suka aneh-aneh. Ia tak habis pikir kenapa bisa ia memiliki dua sahabatnya yang memiliki tingkah tak wajar semacam ini.
Bayangkan saja, sekarang sudah pukul 09.00 pm. Itu artinya sebentar lagi malam akan semakin larut. Apa mereka tidak memikirkan tetangga mereka yang tidak bisa tidur karena suara musik yang cukup keras.
Zevan memilih duduk di atas sofa yang berada di kamar Bams, membuka minuman kaleng, lalu meneguknya perlahan.
Lebih baik saya duduk sambil menyaksikan mereka berjoget layaknya orang gila.
Sudah hampir setengah jam Zevan hanya diam dan duduk saja. Karena sudah terlalu bosan akhirnya Zevan memutuskan untuk keluar dari kamar Bams, menuju ruang tengah.
"Mau kemana Van?" tanya Hendrick yang melihat Zevan ingin melangkah.
"Turun" balasnya singkat.
"Kalau begitu tolong ambilkan cemilan dan minuman ya" kata Bams menyuruh Zevan.
"Oke"
Zevan menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil cemilan dan minuman sesuai permintaan Bams.