
"Kenapa kau terus mengikuti ku?" Alexa berbalik menghadap Zevan yang sedang mengikutinya terang-terangan.
"Aku hanya ingin memastikan kau aman sampai kelas"
Alexa mengangkat satu alisnya dengan mencondongkan kepalanya menimbulkan jarak cukup dekat diantara mereka.
"Kau ini bukan bodyguard ku kan? Untuk apa terus mengikuti ku. Pergi sana!" Alexa kembali membenarkan posisinya menjadi tegap kembali,
"kembalilah ke kelas. Tidak usah membuntuti ku seperti tadi,"
"Oh iya, lebih baik kau jangan pura-pura perduli dengan ku! Mengerti? Baiklah sampai jumpa"
"Aku hanya ingin menjaga mu!" Ucapan Zevan tidak terlalu keras, namun berhasil membuat Alexa menghentikan langkahnya.
Perlahan Zevan berjalan mendekati Alexa yang enggan berbalik kepadanya.
"Aku hanya ingin menjaga mu Alexa! Apa itu salah?" Ulang Zevan tepat ditelinga Alexa.
Alexa masih diam tak bergeming.
Zevan memegang kedua bahu Alexa, memutar tubuhnya agar menghadap ke arahnya.
"Aku takut Liora menyakiti mu" ucap Zevan lembut sembari memegang dagu Alexa dengan tangan kanannya.
Zevan menyadari pipi Alexa yang semakin memerah karena ucapannya. Ada rasa senang dalam hati Zevan.
"Aku hanya tidak ingin tersiar kabar, kalau kalian berkelahi karena memperebutkan aku si tampan ini hahaha" Zevan melepaskan tangannya dari bahu Alexa dan beralih untuk menyisir rambutnya dengan jemarinya.
Alexa mendorong dada bidang Zevan kuat-kuat, membuatnya mundur beberapa langkah.
"Tidak akan ada yang berkelahi! Dengan senang hati aku akan menyerahkanmu pada Liora!"
"Hahaha ... Kau tahu? Tadi kau tampak menggemaskan! Wajahmu merah seperti udang rebus"
Zevan tertawa puas karena berhasil membuat Alexa kesal sekaligus malu.
"Berhenti mentertawakan aku! Kau ini sangat menyebalkan!"
"Baiklah, baiklah aku berhenti. Kalau begitu aku akan kembali ke kelas. Kau cepatlah ke kelasmu"
"Tidak perlu kau suruh aku juga akan ke kelas"
Zevan mendahului Alexa yang masih berdiri di tempatnya.
"Alexa, kau tak perlu mendengarkan ucapan Liora. Aku ada di sini untuk menjaga mu" bisik Zevan.
Alexa menatap Zevan yang berjalan dengan santai menuju kelasnya, laki-laki itu hanya berniat mempermainkannya. Tapi Alexa mengakui satu hal, hari ini ada perasaan aneh pada dirinya. Perlahan tapi pasti, tembok beton yang dibangun Alexa perlahan runtuh.
"Tidak usah dipikirkan, lebih baik aku ke kelas saja" gumam Alexa lalu berlalu pergi.
Dari sudut koridor tampak dua orang perempuan tengah berbincang serius.
"Kau yakin akan melakukan itu?"
"Sangat yakin"
❇❇❇
"Alexa ayo pulang" ajak Mauren.
"Kau mau ikut aku dengan Mauren pulang kan?" Tanya Vivyan.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa pulang bersama kalian"
"Begitu ya, sayang sekali" ucap Vivyan.
"Hati-hati"
Lebih baik aku segera ke perpustakaan sebelum di kunci.
Alexa bergegas menuju perpustakaan. Ia berniat meminjam buku di sana, mengingat besok ada ulangan harian yang mengharuskannya mau tak mau membaca buku untuk mempersiapkan diri.
"Apa target kita sudah terlihat?" Ucapnya seolah-olah agen rahasia.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya, "Belum terlihat"
"Mungkin dia sudah pulang"
"Tidak! Itu targetnya, bersiaplah, kita harus jatuhkan benda ini tepat di atas kepalanya"
"Apa itu tidak berlebihan?"
"Kenapa? Kau takut? Minggir! Biar aku sendiri yang melakukannya"
Dalam hitungan ketiga benda ini akan jatuh tepat di atas kepalamu Alexa! Satu ... Dua ... Tig-
"ALEXA AWAS!" Seseorang dengan sigap menarik tangan Alexa membawanya dalam dekapan, tangan kirinya melingkar sempurna di pinggang Alexa. Dan tangan kanannya yang memegang kepala Alexa, memberi ketenangan untuknya.
Bugh!
Suara benda jatuh dari ketinggian, dilihatnya benda itu adalah sebuah pot dengan berukuran sedang terbuat dari tanah liat pecah berkeping-keping dengan tanah dan bunganya yang berhamburan ke segala arah.
"Shit! Ini bukan akhir Alexa!" Ucapnya kesal menatap Zevan yang tengah memeluk Alexa-menggagalkan rencananya.
Liora?
"Alexa, kau tidak apa-apa?" Zevan melepaskan pelukannya.
Alexa menggeleng.
"Baguslah. Aku senang jika kau baik-baik saja"
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu"
Zevan pikir Alexa akan mengikutinya tapi dugaan Zevan salah, Alexa masih terpaku di tempatnya, pandangannya menatap pot yang sudah hancur itu. Segera Zevan menghampiri Alexa kembali.
"Hey ... Kau masih syok?"
"A-aku ... Kalau saja pot itu ... hiks"
"Jangan menangis Alexa!" Zevan memberikan pelukan hangatnya untuk menenangkan Alexa kembali.
"Aku ... Hiks! Takut Zevan ... " Alexa meremas seragam Zevan kuat.
Tubuh gadis itu bergetar hebat. Terlihat sekali jika Alexa sangat ketakutan. Zevan mengeratkan pelukannya mengelus puncak kepala Alexa berusaha menenangkannya.
"Jangan takut Alexa! Aku kan sudah pernah bilang padamu. Aku ada di sini untuk menjagamu, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu" ucap Zevan masih mengelus-elus puncak kepala Alexa.
Ucapan Zevan tadi membuat hati Alexa hangat dan jauh lebih tenang. Kalau saja Zevan tidak tepat waktu untuk meyelamatkannya, mungkin saat ini Alexa hanyalah tinggal sebuah nama.
Alexa mendongak menatap Zevan yang tengah tersenyum ke arahnya.
Dengan lembut Zevan menghampus air mata Alexa dengan jemarinya.
"Kau lebih cantik jika tidak menangis"
Sungguh! Membayangkannya saja Alexa tidak berani. Perlakuan Zevan kepadanya begitu manis, membuat Alexa terbuai dengan semua ucapan Zevan.
Zevan melepaskan pelukannya. Meraih tangan Alexa, menggenggamnya erat membawa Alexa menuju parkiran sekolah. Dan untuk ke sekian kalinya Alexa hanya diam dan menerima tanpa menolak perlakuan manis Zevan.