Only For You

Only For You
Chapter 6



"Jadi, kau tak menganggap ku sebagai teman? lalu apa? kau menganggap ku pacar ya?"


"Jelas tidak!" bantah Alexa, karena memang faktanya Alexa tidak pernah terbesit dalam pikirannya bahwa ia akan berpacaran dengan Zevan.


"Alexa, kenapa kamu menutup pagarnya? Kenapa tidak menyuruhnya masuk?" Ana-mama Alexa menghampiri mereka yang masih berdiri di depan pagar. Ana segera membukakan pagar untuk Zevan, dengan sopan Zevan mencium punggung tangannya.


"Saya Zevan tante, teman satu sekolahnya Alexa" ucap Zevan ramah.


Ana tersenyum, mengelus rambut Zevan lembut. Alexa yang menyaksikan sang mama yang bersikap begitu manis membuat hatinya terasa aneh, seperti melihat pasangannya sedang berselingkuh. Yah, Alexa sedikit cemburu.


Dengan malas, dan berat hati Alexa membukakan dan mengizinkan Zevan menginjakkan kakinya di pekarangan rumahnya.


"Ayo masuk Zevan, maafkan atas perlakuan Alexa tadi ya, dia memang suka iseng" kata Ana sembari menggenggam lengan Zevan membawanya masuk.


"Iya tante, tidak apa-apa"


"Alexa, kamu duduk di situ temani Zevan, mama akan membuatkan kalian minuman"


Alexa menuruti perintah mamanya.


"Tidak perlu repot-repot tante"


Memang kau ini merepotkan.


"Sama sekali tidak repot, tunggu sebentar ya"


"Terima kasih tante"


Ana membalas dengan seulas senyum.


Akhirnya Zevan tahu darimana senyum memesona Alexa itu berasal. Ternyata berasal dari mamanya.


"Kau ingat yang aku katakan tempo hari itu?" tanya Zevan kepada Alexa yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. gadis itu tengah sibuk berselancar di dunia maya.


"Yang mana? Aku tidak ingat"


"Saat ini mungkin aku belum bisa bertemu orang tua mu, tapi aku pastikan besok aku akan bertemu orang tuamu. Benar kan kataku?"


Alexa ingat, Zevan pernah mengucapkan kata-kata itu.


"Lalu kenapa?" tanyanya malas.


"Berarti ini adalah salah satu bentuk rencana Tuhan yang mempertemukan dua insan yang saling mencintai dalam sebuah pertemuan yang dinamakan takdir"


Apa maksudnya, tempo lalu Zevan hanya berkata ia akan bertemu dengan orang tuanya, dan memang saat ini takdir telah mempertemukan mereka. Lalu kenapa dia berkata seperti itu? apakah memang ini adalah salah satu rencana Tuhan untuk mempersatukan dirinya dengan pemuda yang suka memaksa itu?. Oh no! I really didn't expect it.


"Kau ini bicara apa? Jangan terlalu banyak berharap itu hanya akan membuat kau kecewa"


Sudut bibir Zevan terangkat, seulas senyum tipis terukir di wajah tampannya. "Aku tidak berharap, aku hanya percaya pada takdir. Menurut kau berapa kali kita bertemu?"


Alexa menatap Zevan lekat. "Itu hanya kebetulan"


"Tidak ada yang namanya kebetulan, karena itu adalah takdir Alexa, dan kau harus mempercayainya"


Takdir? Apa yang dikatakan Zevan sepenuhnya adalah benar? Apa selama ini kita selalu bertemu itu bukan kebetulan atau ketidaksengajaan, melainkan itu sudah diatur oleh Tuhan dalam kata lain itu adalah rencana Tuhan, sudahlah Alexa tak usah menghiraukan omong kosongnya.


Zevan tersenyum. "Tidak apa-apa tante"


Anak itu kenapa selalu saja memamerkan senyumnya. Apa dia tidak mengerti jika senyuman itu bisa menghipnotis siapa saya yang melihatnya. Bibir tebal yang berwarna merah muda itu... sungguh menggairahkan. Tunggu! apa yang kau pikirkan Alexa!


"Kamu kenapa Alexa?" Ana yang sedari tadi menatap heran putrinya yang tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya akhirnya bertanya pada anaknya itu.


"Ah! Tidak apa-apa ma"


"Diminum ya Zevan, tidak perlu sungkan anggap saja seperti rumah sendiri" Ana mempersilahkan Zevan untuk minum.


"Terima kasih tante"


❇❇❇


Zevan. Laki-laki yang Alexa temui kala itu entah kenapa selalu muncul dalam kehidupannya. Alexa pikir ia tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki yang bernama Zevano Bagas Antariksa itu. Sayangnya, takdir malah semakin mempertemukan mereka, entah bagaimana caranya mereka selalu saja bertemu Alexa juga tidak tahu, apa memang benar ini adalah cara Tuhan mempertemukan mereka yang nantinya akan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan yang dihalalkan.


Tunggu! Apa katanya? Takdir? Apa memang benar itu semua takdir? Skenario yang sudah dirancang oleh Tuhan, bukan suatu kebetulan, bukan pula suatu ketidaksengajaan? Bagaimana jika Alexa benar-benar berjodoh dengan Zevan? Tidak! Alexa bukan tipikal gadis yang mau dengan lelaki yang selalu memaksa seperti Zevan.


Tapi Alexa juga tidak memungkiri kalau Zevan sangatlah tampan ditambah tatanan rambutnya yang rapih menambah nilai plus untuknya, alis tebalnya serta mata hazelnya mampu membuat siapa saja betah berlama-lama untuk menatapnya. Rahang kokohnya serta bibir tebal yang berwarna merah muda itu, benar-benar menggairahkan. Belum lagi kulitnya yang putih bersih serta tubuhnya yang tegap dan tinggi semakin menambah ketampanan Zevan. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan Alexa. Bukankah laki-laki itu teramat sempurna untukmu? Tidak kah kau membukakan sedikit saja celah untuk membiarkan dirinya masuk? Memberi warna pada hatimu yang sempat meredup.


"Yah, aku akui Zevan memang tampan, sangat tampan" gumam Alexa tanpa sadar.


"Begitu ya? Menurut mama juga dia tampan, ramah juga sopan"


Alexa terperanjat melihat mamanya yang sudah duduk di atas tempat tidurnya, sementara Alexa berdiri di depan jendela yang dibiarkannya terbuka.


"Mama! Kenapa mama tidak ketuk pintu lebih dulu" gadis itu menghampiri mamanya yang tengah mengerlingkan mata jahilnya.


"Apa kamu menyukai Zevan?"


"Tentu saja tidak. Siapa yang menyukai laki-laki pemaksa seperti dia"


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja"


Ana menatap anaknya lekat.


"Kenapa mama melihat Alexa seperti itu?"


"Mama lihat kamu menyukainya"


"Mamaaa... berhenti menggoda anakmu" Alexa merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan mamanya.


"Alexa dengarkan mama, jangan menjadi seseorang yang munafik yang tidak pernah mau mengakui isi hatimu sendiri" Ana mengelus lembut puncak kepala anak semata wayangnya itu.


Apa benar aku ini munafik? Apa benar yang dikatakan mama kalau aku menyukai Zevan? Ah! Semakin dipikirkan semakin membuat kepalaku berdenyut.


"Yasudah, jangan terlalu dipikirkan, lebih baik kamu tidur, jangan sampai terlambat lagi"


Alexa hanya mengangguk, mengiyakan ucapan mamanya. Alexa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size miliknya, entahlah malam ini kepalanya begitu pening memikirkan banyak hal tentang Zevan. Perlahan Alexa memejamkan matanya, dan setelahnya Alexa hilang kesadaran.