Only For You

Only For You
Chapter 11



"Kau apakan Alexa?" ucap Zevan sarkastik.


"Aku hanya memperingatkannya untuk menjauhi mu" jawab gadis itu enteng, sembari memainkan ujung rambutnya dengan jari lentiknya.


"Berhenti berbuat gila Liora! Mau sampai kapan kau seperti ini terus?"


"Sampai kau berada dalam dekapanku"


Zevan menyunggingkan senyumnya. "Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Sudahlah Zevan, jangan terlalu angkuh. Akui saja kalau sebenarnya kau memang mencintai ku"


"Apa kau tidak mengerti juga kalau aku tidak mencintaimu bahkan tidak pernah!"


Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Hati Liora pecah berkeping-keping ketika mendengar pernyataan Zevan. Pernyataan Zevan terus berdengung di telinganya. Sakit sekali, rasanya begitu sesak. Tapi, Liora mencoba untuk terlihat kuat di depan pujaan hatinya.


"Itu semua karena kau jatuh cinta pada Alexa kan?"


Zevan diam, tak bergeming. Bahkan kedua matanya tak mampu menatap mata bulat milik Liora.


"Jawab Zevan! Kenapa kau hanya diam! Katakan padaku kau tidak benar-benar mencintainya! Katakan padaku Zevan! Katakan! Kata-" perempuan itu terus memukul dada bidang milik Zevan, kini napasnya terengah, sesak di dadanya seakan mencuat keluar meluruhkan cairan bening yang selama ini ia tahan.


"Yah! Aku memang jatuh cinta pada Alexa! Aku benar-benar mencintainya" Zevan memegang bahu Liora yang semakin bergetar. Perempuan di hadapannya ini benar-benar kacau.


Liora menundukkan pandangannya. Lagi-lagi hatinya dihantam oleh ratusan bahkan ribuan benda tajam yang sudah siap meluluhlantakkan hatinya.


"K-kau jahat Zevan! Kau benar-benar jahat!" bahu Liora kembali bergetar hebat, perlahan cairan bening itu mulai jatuh membasahi lantai.


"KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!!" teriak Liora sembari mendorong Zevan kasar, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.


Zevan tidak bermaksud ingin menyakiti Liora, hanya saja ia hanya ingin jujur tentang perasaannya. Zevan berharap setelah kejadian ini Liora berhenti mengganggu Alexa, meski Zevan sendiri tidak yakin akan hal itu. Melihat wajah Liora yang sudah basah karena air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya, mengingatkannya pada Bundanya. Sungguh ini membuat dada Zevan terasa sesak.


"Aku kecewa padamu Zevan!"


Belum sempat Liora melangkahkan kakinya, sebuah tangan kokoh menyentuhnya. Liora menghempaskan tangan Zevan lalu menamparnya cukup keras.


Zevan diam, ia berhak mendapatkan tamparan itu dari Liora. Pikirnya.


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan Alexa jatuh ke pelukan mu. Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, mereka juga tidak berhak atas dirimu! Camkan itu Zevan!"


❇❇❇


Zevan mengacak rambutnya frustasi. Kacau, hari ini benar-benar kacau. Baru saja dirinya mendapatkan dua tamparan sekaligus dari perempuan yang berbeda, padahal sebelumnya Zevan belum pernah ditampar oleh perempuan. Jelas saja, mana mungkin ada perempuan yang berani menampar Zevan terlebih lagi ia adalah laki-laki pujaan di kalangan perempuan di sekolahnya.


Keynan menatap Zevan tidak mengerti. Jadi, dia menyuruhku datang ke sini hanya untuk melihatnya mengacak rambut seperti orang frustasi lalu setelahnya hanya diam? Ini hanya membuang-buang waktu ku.


"Hei bodoh! Kau menyuruhku datang ke sini hanya untuk melihatmu yang sudah seperti orang gila itu?


"Kalau kau ada masalah, ceritalah padaku. Kau lupa aku ini teman masa kecilmu?"


"Aku benar-benar bingung Key"


"Ada masalah dengan Alexa?"


"Lebih parah dari itu"


Keynan menautkan kedua alisnya lalu mengangkat satu alisnya tidak mengerti, "apa? Kau berkelahi di sekolah dan terancam di DO? Atau-"


"Arrgghh! Tentu saja bukan itu"


"Lalu?"


"Liora menyuruh Alexa menjauhiku. Apa yang harus aku lakukan? Kau tahu kan Liora tidak pernah main-main dengan ucapannya, bagaimana kalau dia macam-macam kepada Alexa? Oh God!"


"Tenang kan dirimu"


"Bagaimana bisa aku tenang? Sedangkan keselamatan seseorang yang aku cintai dalam bahaya. Liora itu orang yang nekat kau tidak melupakan soal itu bukan?"


"Pfftt.. Hahaha..."


"Hei! Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu di sini! Aku serius!"


"Ah maaf. Baru pertamakali aku melihat mu sepanik itu setelah sekian lama, aku jadi teringat wajah panikmu ketika Bundamu-"


"Berhenti membahas Bundaku! Lebih baik kau bantu aku agar Liora tidak bisa menyentuh Alexa, bahkan mendekatinya"


Aku paham kenapa kau masih enggan membahas soal bundamu dan ayah mu. Sepertinya luka di masa lalumu belum benar-benar pulih ya.