Only For You

Only For You
Chapter 10



Plak!!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Alexa. Alexa memegangi pipinya yang terasa perih.


"Dasar perempuan jalang!" bentak perempuan dengan rambut terurai itu, dengan wajah merah padam.


"Terlalu banyak orang tidak berakal sehat di sekolah ini"


Perempuan itu menautkan kedua alisnya menatap Alexa penuh emosi. "Kau yang tidak berakal sehat! Apa kau tidak bisa mencari lelaki lain hah?! Sampai kau berani merebut milik orang lain! Perempuan murahan!" ucapnya penuh penekanan.


Plak!!


Alexa melayangkan tamparannya, berhasil membuat perempuan di hadapannya itu meringis. Sedari tadi Alexa sudah berusaha untuk meredam amarahnya. Tapi semua ucapan yang dilontarkannya membuat Alexa naik pitam.


"Berhenti memanggilku perempuan murahan!"


"Kalau kau tidak mau dipanggil dengan sebutan perempuan murahan, berhenti mendekati Zevan!"


"Hahaha... Siapa kau berani mengatur hidupku"


Perempuan itu menyunggingkan senyum sinisnya, "Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang harus perlu kau tahu adalah, berhenti mendekati Zevan!"


Oh bagus! Sekarang mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Mulai saat ini Aku tidak akan hidup damai di sekolah ini seperti dulu lagi. Ini semua gara-gara kau Zevan!


"Jadi, kau perempuan gila yang terobsesi dengan Zevan ya?" ucap Alexa dengan senyum miring'


"Beraninya kau berkata seperti itu! Rupanya kau belum tahu siapa aku"


"Aku tidak peduli siapa kau, sekalipun kau anak dari pemilik yayasan ini!"


"Besar juga nyalimu, baiklah, kita lihat saja siapa yang akan menang. Aku perempuan gila atau kau perempuan murahan!"


Alexa sudah mengepalkan tangannya bersiap melayangkannya pada perempuan gila itu, tapi dengan cepat dia mengurungkan niatnya. Sabar Alexa, ini masih wilayah sekolah.


"Hei!" Alexa berjalan menghampiri perempuan itu yang sudah berlalu meninggalkannya, "Kau camkan ini, aku tidak tertarik dengan Zevan, lelaki pujaan mu itu. Dan lagi, aku tegaskan padamu aku bukan perempuan yang kau tuduhkan. Mengerti!"


Alexa berlalu mendahuluinya. Mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kelasnya.


Rupanya kau mau bermain-main dengan ku ya.


Suasana kantin saat ini begitu ramai, orang-orang di sini sudah mulai riuh karena kelaparan. Sepertinya para pedagang di kantin ini membutuhkan karyawan segera untuk membantu mereka agar tidak kewalahan.


Di salah satu sudut kantin, tepatnya di pojok sebelah kanan, terlihat Zevan dan Bams tengah sibuk menyantap makanannya.


"Bams" panggil Zevan kepada Bams yang masih fokus dengan bakso di depannya.


"Hmm" gumam Bams. "Akhirnya kenyang juga" Bams meneguk minumannya. Es teh adalah minuman favorit seorang Bams.


"Aku mencintai Alexa!"


"Sial! Kenapa kau menyemburkan minuman padaku? Menjijikkan!" pekik Zevan menjadikannya pusat perhatian. Zevan mengusap wajahnya yang basah karena Bams tidak sengaja menyemburkan minumannya ke arah Zevan.


"Sorry, sorry Van, aku tidak sengaja. Aku hanya terkejut dengan perkataan spontan mu tadi"


Dan saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian bagi penghuni kantin tak terkecuali oleh Alexa dan teman-temannya.


"Lihat apa yang kau lakukan? Mengotori seragamku!"


"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja. Kau sendiri yang tiba-tiba berkata kalau kau menyukai Alexa"


Pletak!


"Aduh! Kenapa kau memukul kepalaku?" Bams mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit karena pukulan Zevan.


"Bodoh! Ini kantin. Bagaimana kalau mereka mendengar ucapanmu"


Bams mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya, benar saja mereka tengah menjadi pusat perhatian saat ini.


"Mengerikan. Mereka seolah-olah mau menerkam ku" Bams bergidik ngeri.


"Van, ayo kita pergi dari sini!" Bams lebih dulu berlalu meninggalkan Zevan yang menatap dirinya bingung.


Mau tidak mau Zevan harus mengikuti kemana Bams pergi. Merepotkan!


Hah! kejadian tadi siang di kantin benar-benar membuat dirinya malu setengah mati. Harusnya ia tidak usah menceritakan soal dirinya yang mencintai Alexa kepada Bams. Tapi, bagaimanapun juga Bams adalah sahabatnya mau tidak mau Zevan harus menceritakannya pada Bams.


"Alexa! Alexa tunggu!" Zevan menyekal pergelangan tangan milik Alexa, yang langsung di tepis kasar olehnya.


"Berhenti mengganggu ku!" bentaknya tepat di depan Zevan.


"Maaf jika kau merasa terganggu. Aku hanya ingin mengantar mu pulang, kenapa kau selalu menghindari ku?"


"Berapa kali aku harus mengatakan pada mu? Aku bisa pulang sendiri!" sentak Alexa penuh emosi.


"Alexa.. Kenapa kau sampai semarah ini? Aku hanya ingin mengantar mu pulang, apa itu salah?"


Tidak Zevan! Kau tidak salah. Aku hanya tidak ingin orang gila yang terlalu terobsesi denganmu menggangguku lagi. Aku hanya ingin hidup damai di sekolah ini.


"Aku mau pulang. Sebaiknya kau juga cepatlah pulang. Jangan ikuti aku"


Ada apa sebenarnya dengan kau Alexa? Apa yang salah dari perkataan ku? Aku belum pernah melihat kau semarah ini.


Zevan menatap Alexa yang mulai lenyap tertutup kerumunan murid lain.


"Bagus, sepertinya dia sadar kalau kau hanyalah milikku seorang"