Only For You

Only For You
Chapter 5



"Zevan!" panggil Bams setengah berteriak. Ia menghampiri Zevan yang tengah berlari mengitari lapangan.


"Apa?" Zevan berdiri di hadapan Bams.


"Biar aku yang melanjutkan hukumannya, kau kembali saja ke kelas" ucap Bams merasa bersalah.


"Tidak perlu, kau saja yang kembali ke kelas" tolaknya.


"Ini semua salah ku, harusnya aku yang mendapatkan hukuman bukan kau"


Bams teringat masa di mana ketika dirinya dan Zevan berada dalam sekolah yang sama, menikmati masa masa sekolah menengah pertama dengan penuh kebodohan, serta canda tawa yang menghiasi hari-hari mereka.


Bagi Bams, Zevan adalah sosok sahabat yang begitu baik pada dirinya. Bagaimana tidak? Hanya gara-gara tingkah bodoh yang dilakukan Bams, Zevan yang selalu mendapatkan imbasnya, tapi ia sama sekali tidak emosi atau menyimpan dendam kepada Bams.


Zevan menepuk pundak Bams, "Bagaimana kalau kita lakukan hukuman ini bersama, toh kita sama-sama salah kan?"


"Baiklah, itu ide yang bagus"


Setelahnya, mereka kembali berlari mengitari lapangan basket yang cukup besar. Lelah? Sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi mereka harus bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan.


Zevan memegangi lututnya, dilihatnya peluh yang jatuh bersama napasnya yang tak beraturan. Sementara Bams sudah terkapar di pinggir lapangan.


"Ini"


Zevan menoleh ke sumber suara. Tampak seorang perempuan tengah menyodorkan air mineral untuknya.


"Cepat ambil!"


Zevan mengubah posisinya menjadi berdiri, menatap gadis itu dan mengabaikan air mineral yang gadis itu sodorkan.


"Ini untukmu, aku tahu kau haus," gadis itu membukakan tutupnya lalu kembali menyodorkannya kepada Zevan. "Nih, minum"


Zevan mengambilnya dan meneguknya, diikuti jakunnya yang bergerak seirama ke atas dan ke bawah. Membuat gadis yang berada di depannya salah fokus, justru mata gadis itu tak lepas dari jakun milik Zevan yang bergerak ke atas dan ke bawah.


"Hei, Alexa! Kau tidak membawakan minum juga untukku?" ucap Bams dengan mengubah posisinya menjadi duduk.


Sebelum Alexa menjawab ucapan Bams, Zevan sudah lebih dulu melempar botol yang berisikan air mineral ke arah Bams yang bisa ditangkap dengan sempurna olehnya.


"Te-"


"Kenapa bisa sampai dihukum?"


Zevan diam beberapa saat. Ketika dirasa ada sentuhan lembut mengusap pelipisnya.


"Ah, maaf aku tidak bermaksud-"


Alexa tersadar atas apa yang dia lakukan, segera ia menarik tangannya tapi dia kalah cepat, Zevan menarik tangan Alexa yang membuat tubuh gadis itu terhuyung ke depan.


"Jangan terlalu perhatian, nanti aku bisa suka" bisik Zevan tepat di telinga Alexa.


"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya mengusap keringat kau yang hampir mengenai mata itu"


"Hahaha... Apa semua wanita tidak pernah mau mengakui? Meski sudah tertangkap basah?"


"Apa maksudmu?


"Tidak apa, lupakan saja. Lebih baik kau cepat kembali ke kelas"


Alexa sebenarnya penasaran dengan ucapan Zevan, namun ia lebih memilih mengabaikannya. Lebih baik ia segera kembali ke kelas sebelum terkena hukuman.


Kring.. kring.. kring..


Akhirnya bel sekolah berbunyi, suara yang selalu bisa membuat mereka bersemangat. Tentu saja bersemangat untuk pulang.


Semua murid berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Memenuhi koridor, diikuti suara langkah kaki dan kericuhan obrolan mereka. Sangat ramai.


Ada satu laki-laki yang justru memilih naik ke atas daripada turun ke bawah untuk pulang. Siapa lagi kalau bukan Zevano Bagas Antariksa. Lelaki yang akhir-akhir ini selalu membuat jantung Alexa berdegup.


Matanya hazelnya menangkap seorang perempuan yang tengah memasukkan buku dan alat-alat tulisnya. Perlahan Zevan mendakati seseorang itu yang tak lain adalah Alexa.


"Aduh!" Pekik Alexa ketika dirasa tubuhnya membentur dada bidang milik Zevan.


Alexa mendongak karena postur tubuh Zevan yang lebih tinggi dibanding dirinya.


Ia mendorong Zevan kasar, lalu ia mundur beberapa langkah.


"Kau mengagetkan ku," omel Alexa. "Untuk apa kau ke sini?"


"Menjemputmu" ucapnya enteng


"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri"


"Kau berangkat dengan ku, berarti pulang juga harus dengan ku"


"Terserah kau saja, minggir! Aku mau pulang"


Alexa kembali mendorong tubuh Zevan, tapi sebelum dirinya berlalu mendahuluinya, Zevan menarik tangan Alexa hingga Alexa kehilangan keseimbangan dan tubuh mungilnya mendarat pada tubuh tegap milik Zevan.


"Aku tidak mau kau beranggapan kalau aku adalah laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Jadi, biar aku antar kau pulang"


Zevan melepas genggamannya, bersamaan dengan Alexa yang menjauhkan tubuhnya dari tubuh Zevan.


"Bagaimana?"


"Baiklah, sekalipun aku menolak kau akan tetap memaksa bukan?" ucap Alexa sebal. Zevan ini benar-benar tipikal pria yang suka memaksa dan Alexa benci itu.


"Ayo!"


Alexa berjalan lebih dulu diikuti Zevan yang dengan setia mengekor di belakang Alexa. Sepertinya aku mulai menyukainya.


❇❇❇


Alexa turun dari motor Zevan ketika sudah sampai di depan pagar rumahnya. Zevan membuka helmnya, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya. Laki-laki dihadapanku ini sungguh aneh, kenapa dia tidak segera pulang? Terserahlah, aku tidak mau memikirkannya. Tangan kanan Alexa meraih pagar rumahnya, membukanya lalu segera masuk, sungguh ia tak mau berlama-lama dengan Zevan yang membuat dirinya menjadi kesal.


"Tunggu," tangan kokohnya menahan pagar yang ingin Alexa tutup rapat-rapat itu. "Kau tidak mau membiarkan aku masuk?"


"Apa kau sangat ingin?"


"Iya, kau mengizinkannya?" tanya Zevan berharap Alexa mengatakan iya.


"Tentu saja tidak. Hahaha.." senang sekali rasanya ketika dirinya berhasil membuat Zevan menampilkan wajah kesalnya. Tatapan wajahnya seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan itu sangat lucu.


"Alexa, kenapa kamu hanya berdiri di sana, cepat masuk, dan itu siapa? temanmu? ajak dia masuk juga"


"Ah! Dia bukan teman Alexa Ma.."


Yes! Zevan tersenyum penuh kemenangan, sepertinya Dewi Fortuna tengah memihak kepadanya.