Only For You

Only For You
Chapter 4



"Sial! Aku terlambat!" teriak Alexa ketika melihat jam weker yang berada di atas nakasnya.


Alexa segera menyibakkan bedcover yang telah membungkus sebagian tubuhnya. Berlari menuju kamar mandi, membasahi tubuhnya dengan beberapa guyuran air. Dengan cepat gadis itu membuka lemari pakaiannya lalu memakai seragam sekolahnya. Mengikat rambutnya asal, tangan kanannya meraih tas ransel di atas meja belajar. Kemudian gadis itu menuruni anak tangga dengan begitu cepat, untung saja Alexa tidak terpeleset.


Tatapannya mengarah pada sandwich yang berada di atas meja makan, Alexa mengambil lalu memasukkan sandwich itu ke dalam mulutnya. Sementara kedua tangannya tengah sibuk memakai sepatu. Ana sang mama yang melihat tingkah anaknya seperti itu hanya menggelengkan kepala.


Dengan mulut yang masih tersumpal sandwich, Alexa berlari kecil sambil melambaikan tangannya ke arah Ana.


"Hati-hati sayang. Telan dulu makanannya!"


Anak itu, dari dulu sampai sekarang masih saja seperti itu kelakuannya. Selalu membuat orang-orang di sekitarnya geleng-geleng kepala.


Alexa berlari secepat kilat berharap ada keajaiban agar dirinya datang ke sekolah tepat waktu. Gadis itu terus berlari, yang menjadi fokusnya hanya datang ke sekolah tepat waktu, ia tak mau kalau harus berurusan dengan guru piket. Bisa-bisa ia disuruh membersihkan toilet sekolah. Bagi Alexa itu adalah mimpi buruk.


Bodoh! Sudah tahu terlambat kenapa tidak lari.


Brmm ... Brmm ...


Suara deru motor terdengar jelas di telinga Alexa, tapi gadis itu sama sekali tidak memperdulikannya. Saat ini ia sedang mengontrol napasnya, membungkukkan badannya sembari kedua tangannya memegangi lututnya. Lelah sekali!


Rasanya aku.. tidak sanggup lagi untuk berlari ...


Gumam Alexa terengah-engah.


"Bodoh! Sudah tahu terlambat, kenapa kau hanya diam saja?" ucap Zevan masih mengenakan helmnya.


Meski Zevan masih mengenakan helm yang menutupi seluruh bagian wajahnya hanya menyisakan kedua matanya, tapi Alexa tahu betul itu adalah Zevan. Dan lagi, suara Zevan sudah tersimpan dalam memori Alexa. Tunggu? Tersimpan? Apa itu artinya ...


Tidak! Tidak! Apa yang kau pikirkan Alexa! Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal semacam itu. Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, sementara Zevan menautkan kedua alisnya.


"Kau ini sedang apa? Cepat naik!" ucap Zevan dengan memberi isyarat kepada Alexa dengan kepalanya. Menyuruh Alexa untuk duduk di atas motornya


"Kau tidak mau dihukum kan? Ayo cepat naik! atau aku tinggal?" ancam Zevan mulai bersiap untuk melajukan motornya.


"Baiklah, aku naik"


Alexa memegang bahu Zevan ragu ketika ingin menaiki motornya.


"Iya"


Tanpa membalas ucapan Alexa, Zevan bersiap untuk melajukan motornya. Bukan, bukan karena Alexa, hanya saja Zevan juga malas ketika harus dihukum seperti apa yang dikatakan Alexa tadi.


Grep!


Sebuah dekapan melingkar sempurna. Ingin rasanya Alexa melepas dekapannya itu, namun hati kecilnya menolak, karena Zevan mengendarai sepeda motornya dengan cepat membuat kedua tangan Alexa masih tetap melingkar dengan sempurna pada tubuh atletis Zevan.


Zevan tak bergeming sedikitpun, pemuda itu hanya diam. Menatap dari pantulan spion motornya, tampak seorang Alexa gadis beo yang sedang merasa ketakutan. Menggemaskan. Dari dalam helmnya tampak kedua sudut bibirnya terangkat.


❇❇❇


"Hari yang begitu membosankan" Bams merenggangkan otot-ototnya, ia merasa begitu bosan. Rasanya ia ingin sekali pergi ke kantin daripada berada dalam sebuah ruangan yang membuat dirinya menjadi tidak ada gairah untuk mendengarkan materi apa yang sedang disampaikan.


Bams menoleh ke arah Zevan yang tengah fokus menatap bu Riani.


"Van, aku bosan" tutur Bams sembari menyenggol lengan Zevan.


Zevan hanya diam. Telinganya hanya diatur untuk mendengarkan ibu Riani yang sedang menyampaikan materi. Tapi bukan berarti ia tak mendengar ucapan Bams tadi.


"Van.. Kau tidak mendengarkan aku?"


Zevan masih diam tidak bergeming.


"Zevan aku bosan" Bams semakin kencang menyenggol lengan Zevan karena sedari tadi tidak ada jawaban darinya.


"Kau ini berisik!" bentak Zevan lantang.


Seluruh mata yang ada di dalam kelas tertuju ke arah Zevan, tak terkecuali dengan ibu Riani. Sementara Bams hanya diam sambil merutuki kebodohannya.


Mampus!


"Zevano Bagas Antariksa! Sekarang juga kau keluar!"