Oceane

Oceane
Chapter 9 - Belanja



Abi mengajak Sean mall seperti mengajak anak kecil. Baru memasuki pintu mall Sean sudah bertanya banyak hal kepadanya. Mulai dari tadi yang pertama adalah pintu otomatis, kemudian Sean bertanya kenapa bisa ada air terjun di dalam gedung? Bagaimana caranya balon terbang, mengapung di langit-langit mall? Dan banyak lagi yang Sean tanyakan.


"Kamu nggak pernah lihat semua ini?" tanya Abi.


Sean menggelengkan kepalanya. "Enggak, ini pertama kalinya aku lihat semua ini." jawab Sean. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri melihat benda yang tidak pernah dilihatnya di dalam laut. "Ternyata di dunia manusia menggunakan banyak sihir." gumam Sean.


Mendengar apa yang di ucapkan Sean, Abi sontak tertawa. "Sihir apa sih? Dari tadi kamu bilang sihir terus?" tanya Abi sambil tertawa kecil.


"Itu semua karena sihir kan?" tanya Sean balik.


Abi menghela napasnya. "Kamu ini dari zaman apa sih sebenarnya? Itu semua bukan karena sihir. Aku tadi kan udah jelasin. Pintu otomatis itu menggunakan sistem sensor. Kalau air terjun di dalam gedung, itu dirancang oleh arsitek, sedangkan balon yang bisa terbang di langit-langit mall itu karena massa jenis gas di dalamnya lebih ringan dibandingkan dengan massa jenis udara di bumi. Jadi bukan karena sihir." jelas Abi lagi.


Sean manggut-manggut mengerti walaupun tidak terlalu paham dengan apa yang Abi katakan. Menurutnya ini cukup menyenangkan, dia bisa belajar banyak hal baru di dunia manusia yang tidak ada di dasar laut sana.


"Baiklah, sudah cukup kan lihat-lihat di lantai ini? Sekarang kita naik ya? Cari baju buat kamu." ajak Abi sambil menggandeng Sean.


Abi menggandeng Sean mendekati sebuah tangga berjalan atau biasa disebut dengan eskalator. Ketika hendak naik ke salah satu anak tangga, Sean tiba-tiba mundur dan menjauh. Tentu itu membuat Abi kebingungan? Terlebih ekspresi gadis itu terlihat ketakutan.


"Ada apa?" tanya Abi dengan ekspresi wajah sedikit panik.


Sean hanya diam tidak menjawab pertanyaan Abi, tapi gadis itu terus melihat tangga berjalan di depan mereka. Abi diam sebentar mencoba memahami apa yang dirasakan Sean saat ini. Di ikutinya kemana arah pandangan Sean, dan akhirnya Abi mengerti Sean merasa takut dengan eskalator.


"Kamu takut?" tanya Abi lagi yang langsung di angguki oleh Sean.


"Tangganya gerak sendiri." ucap Sean dengan nada yang sangat pelan.


Abi menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tangga yang biasa tapi tangga itu sudah sangat penuh, cowok itu beralih melihat ke arah lift dan sama saja lift juga penuh dengan pengunjung mall. Abi tidak ingin Sean merasa sesak karena berdesak-desakan dengan para pengunjung mall yang lainnya.


"Maaf ya.." kata Abi, kemudian cowok itu langsung menggendong Sean dan naik menggunakan eskalator.


Tentunya adegan romantis itu mengundang perhatian para pengunjung mall, tapi Abi tidak peduli dengan hal itu. Karena Abi merupakan tipikal cowok cuek terhadap pandangan orang lain terhadap dirinya. Setelah sampai di lantai yang dituju, Abi baru menurunkan Sean. Cowok itu ganti menggandeng tangan Sean agar gadis itu tidak hilang.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Sean.


"Ke toko baju." jawab Abi dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya.


Abi memilihkan beberapa gaun santai untuk Sean. Karena menurutnya Sean lebih cocok menggunakan gaun daripada tank top dan hotpants milik Rania kemarin. Ini adalah beberapa gaun yang Abi pilihkan untukku Sean.




Abi dibuat terpaku setiap kali Sean keluar dari ruang ganti untuk mencoba pakaian yang dia pilihkan. Sean terlihat anggun dan manis memakai gaun-gaun itu. Orang tidak akan menyangka jika Sean adalah siren yang beringas ketika melihat penampilan Sean saat ini yang sangat cantik.


"Abi, apa masih lama? Aku capek." tanya Sean dengan wajah cemberutnya.


Abi tertawa kecil melihat ekspresi lucu Sean. "Iya sudah." jawab Abi sambil mengacak pelan rambut Sean. Cowok itu menoleh ke pelayan di toko tersebut. "Mbak, bungkus semua yang gadis ini pakai tadi ya." kata Abi kepada pelayan toko.


"Baik mas!" jawab pelayan toko dengan raut wajah gembira.


Setelah dari toko pakaian, Abi mengajak Sean ke toko sepatu yang ada di sebelahnya. Cowok itu dibuat pusing memilih sepatu untuk Sean karena hampir semua sepatu disana adalah high heels. Mengingat Sean yang berjalan saja masih belum terlalu bisa, bisa-bisa Sean terjatuh jika memakai high heels. Giliran sudah menemukan yang bukan high heels, itu malah terlalu besar di kaki Sean. Hingga akhirnya Abi menemukan sepatu yang pas untuk Sean.



"Suka." jawab Sean sambil mengangguk dan tersenyum.


"Kamu coba pakai jalan, nyaman atau nggak. Kalau nggak nyaman nanti aku pilihin lagi yang lainnya." kata Abi sambil menarik lembut Sean agar berdiri.


Sean mencoba berjalan menggunakan sepatu itu. Setelah beberapa langkah dia berhenti dan berbalik berjalan ke arah Abi.


"Gimana? Ada yang nggak nyaman?" tanya Abi.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Nyaman kok. Ini aja." jawab Sean.


"Mbak saya ambil yang ini." kata Abi sambil memberikan kartu atm-nya kepada pelayan toko untuk membayar sepatu itu.


"Baik mas, tunggu sebentar ya."


Abi tidak menghiraukan pelayan toko tersebut. Cowok itu fokus menatap Sean yang berjalan kesana kemari sambil melihat sepatu barunya. Sesekali sudut bibirnya tiba-tiba terangkat karena melihat tingkah Sean yang menurutnya menggemaskan. Setelah pelayan toko mengembalikan kartu atm-nya, Abi berjalan menghampiri Sean.


"Ayo." ajak Abi sambil menggandeng tangan Sean.


"Pulang sekarang?" tanya Sean dengan ekspresi wajah sedikit kecewa.


Abi tersenyum kecil lalu menjawab. "Tidak, kita ke kantor polisi untuk minta tolong mereka menemukan keluarga kamu. Terus kita pergi ke rumah temanku." jawab Abi sambil mencubit pelan hidung Sean.


"Baik!" Ekspresi wajah sean seketika menjadi gembira.


Abi mengajak Sean turun melalui tangga biasa karena kebetulan sekarang tangga sudah tidak sepadat tadi. Tapi tetap saja, cowok itu tidak melepaskan pegangan tangan mereka. Entah mengapa Abi mempunyai keinginan kuat untuk melindungi Sean. Dia tidak ingin melihat gadis itu terluka walau hanya tergores sedikit.


Ketika hendak keluar dari mall tiba-tiba seorang gadis memanggil Abi.


"Abi!!"


Sean dan Abi menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


"Dia siapa Bi?" tanya gadis itu dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.


"Bukan urusan lo." jawab Abi ketus. "Ayo, kita pergi." ajak Abi sambil langsung menarik Sean keluar dari mall.


Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja. Dia mengejar Abi hingga ke luar mall. "Jawab aku Bi, dia siapa?!" tanya gadis itu lagi.


"Pacar gue!" jawab Abi dengan nada yang sedikit meninggi.


"Nggak! Nggak boleh! Yang boleh jadi pacar kamu itu cuma aku!" teriak gadis itu.


Abi memutar bola matanya malas. "Stop ganggu gue Celyn!" ucap Abi dengan nada yang dingin dan dengan sorot mata yang tajam. "Ayo, kita pergi." Abi segera menarik Sean pergi dari sana.


...***...


......Bersambung ......