
Setelah sarapan Abi masuk ke kamarnya dan merapikan beberapa buku yang masih ada di mejanya. Semalam dia memang belum selesai merapikan buku-bukunya tersebut karena dia merasa kasihan jika membiarkan Sean menunggu terlalu lama.
Ketika sedang merapikan buku-bukunya tiba-tiba Abi teringat dengan Sean yang belum memiliki pakaian sama sekali. Cowok itu melihat handphonenya untuk melihat saldo tabungannya. Dia berniat membelikan beberapa pakaian dan alas kaki untuk Sean setelah selesai merapikan buku-bukunya.
*
Disisi lain, Sean sedang bersama Novan di halaman belakang rumah. Novan memberinya tour keliling rumah karena rumah keluarga Rajakshaa memang cukup besar. Gadis itu terlihat takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.
"Novan, kenapa ada laut disini?" tanya Sean dengan wajah polosnya.
"Hah? Laut?" Novan mengikuti arah pandangan Sean yang menatap ke arah kolam renang. Setelah itu dia langsung tertawa terpingkal-pingkal. "Laut apanya? Ini kolam renang." jawab Novan sambil tertawa.
Sean mendekati kolam dan melihat ke dalam kolam. Sesekali alisnya mengerut kebingungan. Gadis itu tampak mencari sesuatu di dalam kolam renang tersebut.
Melihat Sean yang kebingungan Novan segera menghampiri gadis itu dan menanyakan apa yang sedang dicarinya. "Cari apaan?" tanya Novan.
"Kok nggak ada hiu?"
Dan lagi-lagi Novan dibuat tertawa dengan pertanyaan konyol Sean. "Mana ada hiu di kolam njirr, ada-ada aja lo anjr." jawab Novan tidak habis pikir dengan pertanyaan Sean yang tidak masuk akal. Cowok humoris itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
"Mau berenang nggak?" tanya Novan sambil menunjuk pelampung yang ada di sudut kolam renang.
Sean hanya diam, sungguh gadis itu sangat ingin menerima ajakan Novan. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan jati dirinya sebagai Siren di depan manusia. Di lautan mungkin Sean adalah pembunuh paling ditakuti, tapi sekarang berbeda kondisinya. Dia ada di daratan dimana kekuatannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
"Aku nggak bisa berenang." jawab Sean sambil tersenyum kikuk.
"Gue ajari, gapapa ayo!" ajak Novan.
"Kalau nggak mau nggak usah dipaksa." sahut Farhan yang baru saja datang.
"Darimana lo? Jam segini baru balik?" tanya Novan.
"Perpustakaan." jawab Farhan singkat. Cowok dingin itu berjalan mendekati Sean kemudian menarik lembut tangan gadis itu diajaknya masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di ruang tengah Farhan melepaskan tangannya dan meninggalkannya begitu saja.
Sean menatap tajam punggung Farhan yang mulai menjauhinya. Mata hijau emerald gadis itu seolah menyala, sisik berwarna hijau gelap kehitaman mulai muncul di lengannya, begitu juga kuku jarinya yang mulai memanjang. Menyadari hal itu Sean segera memalingkan wajahnya dari Farhan. Gadis itu melihat kuku-kuku jarinya yang menyusut kembali, sisik-sisik di lengannya juga mulai menghilang.
"Apa-apaan itu tadi?" batin Sean.
Tiba-tiba...
"Sean? Ngapain?"
Mendengar suara yang familiar di telinganya, Sean segera berbalik. Dan benar, Abi yang memanggil dirinya. Sean menelan ludahnya susah payah, gadis itu berharap Abi tidak melihat kuku-kukunya yang memanjang dan juga sisik-sisik di lengannya tadi.
"Kamu... sejak kapan disitu?" tanya Sean balik.
"Baru saja, ngapain kamu berdiri sendirian disitu?" tanya Abi lagi.
"Nggak ngapa-ngapain." jawab Sean sambil tersenyum.
Abi mengangguk mengerti. Cowok itu tidak menaruh rasa curiga sedikitpun kepada gadis di depannya ini. "Ayo ikut aku ke mall. Kita beli pakaian dan sepatu buat kamu." ajak Abi.
"Mall?"
Abi mengangguk lalu tersenyum, tanpa ragu dia meraih pergelangan tangan Sean dan menggandeng gadis itu berjalan menuju garasi.
Sedangkan Novan yang melihatnya dari dapur menggelengkan kepalanya sambil mencibir tingkah adiknya tersebut. "Dasar buaya, dikira mau nyeberang gitu pakai gandengan segala?" gerutu Novan.
"Lo makin lama makin nyebelin ya!" ujar Novan sambil menoyor kepala Farhan.
"Baru tahu?" tanya Farhan dengan wajah super datarnya.
"Terserah dah anjr."
Farhan tersenyum kecil setelah merasa puas menjahili kakaknya itu.
"Bang, lo percaya mermaid itu ada?" tanya Farhan tiba-tiba.
"Sudah ratusan kali lo tanya itu, dan jawaban gue tetap sama. Nggak!! Yang namanya makhluk kayak gitu itu cuma mitos! Nggak nyata." jawab Novan.
"Laut luas bang."
"Yaudah lo cari sana sampai ke dasar laut kalau memang mermaid itu ada." cetus Novan dengan nada yang sedikit kesal karena sering mendapatkan pertanyaan tidak masuk akal itu dari Farhan. Setelah mengatakan itu Novan segera meninggalkan Farhan.
Farhan menghela napasnya, tidak ada yang pernah menganggapnya serius ketika dia bertanya mengenai hal itu. Tapi dia tidak heran, karena memang hal yang dia anggap menarik itu aneh di dalam pandangan khalayak ramai.
*
Kita ke Abi dan Sean. Mereka sudah sampai di Mall. Sean terheran-heran melihat gedung tinggi besar itu di hadapannya. Semalam dia hanya melihat gedung-gedung itu dari dalam mobil, sekarang gedung besar itu ada di depannya.
"Ini bahkan jauh lebih megah dari istana laut." batin Sean.
Abi dari kejauhan memperhatikan Sean. Gadis itu tidak lepas dari pandangannya, dia tidak akan membiarkan Sean kabur lagi.
"Hm, nanti gue ajak dia kesana setelah dari kantor polisi." kata Abi.
"Yaudah, pokoknya lo sama Sean harus datang! Kalau perlu ajak juga tuh abang-abang lo biar makin ramai!" ucap Rania di balik telepon.
"Bawel!" Abi memutuskan teleponnya. Kemudian segera menghampiri Sean.
"Udah teleponnya?" tanya Sean.
"Iya udah, ayo kita masuk kedalam." ajak Abi.
Abi menggandeng Sean menuju pintu masuk Mall. Begitu Abi dan Sean mendekat, pintu secara otomatis terbuka. Bagi Abi biasa saja, tapi bagi Sean itu luar biasa. Gadis itu langsung berhenti ketika pintu terbuka dengan sendirinya.
"Ada apa?" tanya Abi yang bingung karena Sean tiba-tiba berhenti.
"Pintunya... kenapa bisa terbuka sendiri?" tanya Sean dengan ekspresi wajah terheran-heran.
Abi menoleh melihat pintu otomatis di depannya. Cowok itu tersenyum kecil lalu menoleh kearah Sean lagi. Dengan pelan dia menjelaskan apa yang dilihat oleh Sean. "Itu menggunakan sistem sensor. Kalau ada objek yang mendekat pintunya otomatis terbuka, kalau objek menjauh pintunya secara otomatis akan menutup." jelas Abi panjang lebar.
"Sistem sensor? Apa itu semacam sihir?" tanya Sean lagi dengan ekspresi wajah yang benar-benar terlihat tidak mengerti.
Abi menggelengkan kepalanya. "Bukan, nggak usah dipikirin. Nggak penting. Ayo masuk, kita beli pakaian buat kamu." ajak Abi sambil menggandeng tangan Sean den menariknya dengan lembut masuk ke dalam mall.
Sesekali Sean menoleh kebelakang melihat pintu yang terbuka tiba-tiba ketika ada orang lewat dan menutup ketika orang menjauh. Gadis itu masih terlihat penasaran, tapi dia tidak akan menanyakannya lagi karena kata Abi itu tidak penting.
...***...
...Bersambung...