Oceane

Oceane
Chapter 11 - Mermaid dan Siren



Mereka pulang dari rumah Rania sudah sore. Sean yang terlalu banyak bermain akhirnya kelelahan dan sekarang tidur di pangkuan Abi di kursi belakang mobil. Sedangkan Farhan yang menyetir mobil hanya bisa mendengus kesal melihat pemandangan romantis di belakangnya melalui spion mobil.


"Bang, besok lo sibuk nggak?" tanya Abi.


"Kenapa?"


"Temani gue nyari keluarganya Sean." jawab Abi.


"Gue sibuk, ajak Bang Novan." sahut Farhan cuek.


Farhan memang selalu dingin seperti itu. Tapi dibalik sikap dinginnya tersebut, dia sangat menyayangi keluarganya. Dia siap menjadi tameng ketika ada bahaya yang mengancam orang-orang kesayangannya.


Setelah mendapat jawaban cuek dari kakaknya Abi tidak bertanya lagi. Cowok itu beralih menatap Sean yang tertidur pulas di pangkuannya. Tangannya tidak berhenti mengelus lembut kepala gadis di pangkuannya itu.


Tiba-tiba matanya teralihkan dengan sebuah tumpukan buku di sudut kursi belakang. Abi membaca judul buku yang paling atas kemudian menoleh dan bertanya kepada Farhan.


"Lo masih mempelajari makhluk-makhluk itu?" tanya Abi.


"Hm. Gue masih penasaran dengan keberadaan mereka." jawab Farhan dengan jujur.


Abi menggelengkan kepalanya menanggapi kakaknya itu. Dulu Farhan terobsesi dengan hewan-hewan mitologi seperti Griffin, Naga, Cerberus, Phoenix dan sebagainya. Sekarang Farhan beralih ke makhluk-makhluk mitologi yang berasal dari lautan seperti Mermaid dan Siren.


Di tengah keheningan tiba-tiba Farhan bertanya kepada adiknya. "Lo percaya mereka ada?" tanya Farhan.


Abi diam sebentar. Cowok itu terlihat bimbang dengan jawaban yang akan dia utarakan. "Entahlah. Gue bingung. Awalnya gue memang nggak percaya dengan keberadaan mereka. Tapi rumor yang beredar di masyarakat pesisir pantai gue mungkin sedikit percaya mereka memang ada." jawab Abi.


Farhan manggut-manggut mengerti. Sepertinya cowok itu sedikit puas dengan jawaban yang diberikan adiknya. Selama ini baik Novan atau Abi tidak ada yang satu pemikiran dengannya mengenai makhluk-makhluk mitologi itu. Akhirnya kini Abi mulai percaya dengan keberadaan makhluk mitologi tersebut.


"Misalkan mereka memang ada menurut Lo mereka berbahaya nggak?" tanya Abi.


"Dari buku-buku yang gue baca, mermaid nggak berbahaya. Tapi Siren..." Farhan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Makhluk itu berbahaya?" tanya Abi.


"Hm." jawab Farhan singkat.


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya.


Abi menundukkan kepalanya mengamati wajah cantik Sean. "Menurutmu apa mermaid dan siren itu nyata?" tanya Abi dengan nada yang sangat pelan. Abi mengira Sean, tertidur dan tidak mendengar percakapan mereka.


Nyata tidak. Sean sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Gadis itu diam dan berpura-pura tidur. Dia mendengar semua percakapan antara Abi dan Farhan mengenai Siren dan juga mermaid. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa sedih dengan fakta bahwa Siren itu adalah makhluk jahat yang berbahaya. Lagi-lagi setetes air mata terjatuh dari sudut mata gadis itu. Dan berubah menjadi mutiara berwarna hitam pekat


*


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah. Abi menggendong Sean masuk ke dalam rumah karena berpikir gadis itu masih tertidur.


"Loh? Sean kenapa?" tanya Shafira dengan wajah khawatir.


"Nggak apa-apa, Bun. Cuma ketiduran." jawab Abi.


"Yaudah, kamu bawa ke kamar Bunda sana."


"Iya, Bun."


Abi segera naik dan membawa Sean ke kamar bundanya. Sedangkan Farhan baru saja masuk sambil membawa setumpuk buku.


"Abang kamu mana, Han?" tanya Shafira.


"Kumpul sama teman-temannya, Bun." jawab Farhan jujur.


"Oh iya, Farhan besok kamu sibuk nggak?" tanya Shafira.


"Enggak, Bun."


"Syukurlah kalau begitu. Nanti kamu bilang ke abang sama adikmu ya. Besok bantuin Bunda siapin kamar buat Sean." ucap Shafira.


"Iya, Bun." jawab Farhan kemudian cowok itu segera naik dan masuk ke kamarnya untuk meletakkan buku-bukunya. Lalu kembali keluar kamar untuk memberitahu Abi pesan yang dari bundanya tadi.


Kebetulan sekali ketika Farhan keluar kamar, Abi juga baru keluar dari kamar bundanya.


"Bi." panggil Farhan.


"Kenapa, Bang?"


"Besok kata Bunda siapin kamar buat Sean." ucap Farhan.


"Ah, oke.. Kalau gitu nggak jadi cari keluarganya Sean.." sahut Abi.


"Btw, beresin tuh belanjaan kalian!" perintah Farhan sambil menyodorkan kunci mobilnya.


"Iya-iya aelah."


Abi mengambil kunci mobil di tangan kakaknya kemudian langsung turun ke garasi untuk mengambil barang-barang belanjaan Sean tadi. Ketika sibuk mengambil barang belanjaan matanya teralihkan dengan mutiara hitam di kursi penumpang. Abi segera mengambil mutiara tersebut.


"Lagi?" gumam cowok itu.


Tangan Abi merogoh saku jaketnya dan mengambil mutiara yang tadi dia temukan di bawah kursi mobilnya. Di bandingkannya kedua mutiara tersebut. Keduanya sama persis, hanya berbeda ukuran.


"Kenapa bisa ada mutiara di mobil?" batin Abi.


"Woi! Ngapain lo matung disitu?" tanya Novan yang baru saja sampai.


Abi buru-buru memasukkan kedua mutiara tersebut ke saku jaketnya kemudian mengambil belanjaan di dalam mobil. "Nih, ngambil belanjaan Sean." jawab Abi sambil menunjukkan beberapa paper bag.


"Darimana lo?" tanya Abi.


"Biasa, kumpul sama anak-anak." jawab Novan.


Abi manggut-manggut mengerti. "Nih, bantu gue bawa ini ke kamar gue." ucap Abi sambil memberikan beberapa paper bag kepada Novan.


"Gue bukan babu lo ya njerr!"


"Bacot, bantuin gue."


Dan akhirnya Novan membantu Abi membawa belanjaan ke kamar Abi. Kenapa nggak di taruh di kamar bundanya padahal Sean ada disana? Karena nggak mungkin Abi menaruh barang-barang sebanyak itu di kamar bundanya. Dia takut bundanya tidak nyaman jika kamarnya berantakan.


Setelah membantu adiknya membawa barang belanjaan, Abi segera menyuruh Novan keluar dari kamarnya. Setelah kakaknya keluar dari kamarnya, Abi langsung menutup pintu dan menguncinya. Cowok itu duduk di tepi kasurnya. Di keluarkannya lagi dua mutiara berwarna hitam pekat dari saku jaketnya.


"Darimana mutiara ini berasal?" gumam Abi sambil mengamati mutiara yang dia temukan itu.


Setelah sekitar satu menit mengamati dua mutiara tersebut, Abi mengeluarkan handphonenya dan mencari bagaimana ciri-ciri mutiara yang asli. Dia curiga bahwa benda mirip mutiara yang dia temukan hanyalah manik-manik biasa. Tapi dia salah, setelah mencari tahu dan memperhatikan kedua mutiara itu lagi. Abi bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa keduanya adalah mutiara asli. Bukan manik-manik biasa. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana bisa mutiara muncul di mobilnya dan mobil kakaknya? Sementara mutiara itu berasal dari kerang tiram. Sedangkan tidak mungkin bisa tiba-tiba ada kerang tiram di mobilnya dan kakaknya.


"Gue harus cari tahu tentang hal ini." ucap Abi dengan wajah serius.


...***...


...Bersambung...