Oceane

Oceane
Chapter 10 - Ulang Tahun Rania



Sepanjang perjalanan dari mall sampai ke kantor polisi, Abi hanya diam. Cowok itu tidak seperti biasanya. Sean bisa merasakan perbedaan tersebut. Sesekali gadis itu melirik Abi yang fokus menyetir mobil. Sebenarnya Sean sangat penasaran dengan gadis yang mereka temui tadi, tapi dia tidak berani bertanya kepada Abi.


Merasa Sean yang terus-menerus melihat ke arahnya Abi menghela napasnya dan berusaha mengontrol emosinya. Kemudian cowok itu menoleh sebentar ke arah Sean dan bertanya. "Ada apa? Kamu ingin sesuatu?" tanya Abi dengan suara yang lembut. Setelah bertanya Abi kembali fokus menyetir sambil menunggu jawaban Sean.


Sean terdiam, diperhatikannya raut wajah Abi. Sepertinya Abi sudah kembali seperti sebelumnya. "Tadi kamu marah?" tanya Sean.


Abi tersenyum kecil. "Hmm, sedikit." jawab Abi sambil tersenyum melirik Sean.


"Apa aku perlu memberinya pelajaran?" tanya Sean dengan ekspresi wajah yang serius.


Abi sontak tertawa mendengar hal itu. "Iya, nanti kalau dia kelewatan kamu beri pelajaran dia. Marahi dia okay?" kata Abi sambil tertawa. Abi menganggap pertanyaan Sean tadi sebagai candaan semata. Abi tidak tahu, bahwa Sean serius dengan perkataannya.


Sean melihat kuku-kuku jarinya yang mulai memanjang. Sisik di lengannya juga mulai muncul. Setiap Sean merasa marah, atau dalam situasi tertentu kuku jarinya akan memanjang dan runcing. Serta sisik-sisik akan muncul di lengannya. Sesekali gadis itu melirik Abi, memastikan Abi tidak melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.


Setelah beberapa saat kukunya kembali normal, sisik-sisik di tangannya juga mulai menghilang. Salah satu sudut bibir gadis itu terangkat membentuk seringaian kecil.


"Baiklah, aku akan menghukumnya kalau dia berbuat seperti itu lagi." ucap Sean.


Abi tertawa kecil sambil mengacak gemas rambut Sean.


*


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di kantor polisi. Abi membuat laporan mengenai Sean, dan meminta tolong kepada petugas polisi untuk menemukan keluarga gadis itu. Tapi sangat disayangkan, karena identitas Sean tidak jelas dan gadis itu tidak mengingat apapun polisi mengatakan untuk menemukan keluarganya sedikit sulit.


"Aku nggak apa-apa kok." ucap Sean tiba-tiba.


"Nggak apa-apa gimana?" tanya Abi kebingungan.


"Aku nggak apa-apa, kalau keluarga aku nggak ketemu. Aku bisa cari mereka nanti." jawab Sean dengan senyum manis di bibirnya.


"Iya, sekarang kita ke rumah teman aku ya?" ajak Abi.


"Rumah teman kamu yang nolongin aku waktu di pantai?" tanya Sean sambil mengingat-ingat.


"Iya, kamu mau kan?"


"Mau dong." jawab Sean sambil tersenyum menunjukan deretan giginya.


*


Sebelum pergi ke rumah Rania, Abi berhenti sebentar di toko kue langganan Rania. Cowok itu dipesan untuk membeli kue ulang tahun. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Rania. Makanya mereka semua harus datang ke rumah Rania untuk merayakannya bersama.


"Itu apa?" tanya Sean.


"Namanya kue tart. Kamu mau? Pilih aja yang kamu suka." jawab Abi sambil menunjukkan beberapa desain kue tart.


"Aku mau yang ini." ucap Sean sambil menunjuk kue tart dengan desain bertemakan laut.


"Baiklah, mbak saya pesan yang ini satu. Nanti sore saya ambil." kata Abi.


"Baik, terimakasih atas pesanannya." jawab pelayan toko tersebut.


Setelah dari toko kue, mereka bergegas pergi ke rumah Rania. Tanpa kehadiran mereka pesta ulang tahun tidak akan dimulai, karet Abi yang membawa kue ulang tahun. Pesta ulang tahun tidak bisa dimulai tanpa adanya kue ulang tahun bukan?


*


Sesampainya di rumah Rania, beberapa motor sudah berjajar rapi di halaman rumah gadis yang merupakan sahabat Abi tersebut. Abi menyuruh Sean untuk masuk terlebih dahulu membawa kue ulang tahun karena Abi harus memeriksa mobil.


"Kamu bisa bantu aku bawa kuenya masuk?" tanya Abi.


"Kamu mau ngapain?" Sean malah bertanya balik.


"Aku harus memeriksa mobil sebentar, sepertinya ada yang tidak beres. Bisa kan bantu aku?"


"Bisa." jawab Sean sambil mengambil kue di tangan Abi. "Aku masuk duluan ya." ucap Sean sebelum berjalan masuk ke dalam rumah Rania.


"Iya."


"Ini akan berbahaya..." gumam Abi.


Cowok itu melihat ke mobil yang terparkir di sebelahnya. Ia tahu itu adalah mobil Farhan. Dengan segera dia memindahkan barang belanjaan mereka tadi ke mobil kakaknya itu. Dia tidak ingin mengambil risiko yang membahayakan Sean serta dirinya sendiri dengan naik mobil yang mesinnya bermasalah.


Ketika memindahkan barang cowok itu dibuat gagal fokus dengan sesuatu yang mengkilap mirip kelereng di bawah kursi mobil.


"Apa itu?" gumam Abi bertanya-tanya.


Cowok itu berusaha mengambil benda itu. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya dia berhasil mengambil benda bulat hitam mengkilap mirip kelereng tersebut. Di amatinya benda tersebut.


"Tunggu... bukankah ini mutiara? Bagaimana bisa ada mutiara disini?" tanya Abi kebingungan.


Ditengah-tengah kebingungannya tiba-tiba Rania berteriak dari depan pintu rumah memanggil namanya. "WOI BI! BURUAN NJIRR!!" teriak gadis itu.


"IYAA!!"


Abi tidak mau ambil pusing. Dimasukkannya mutiara hitam itu ke dalam saku jaketnya. Kemudian segera berlari masuk ke dalam rumah Rania untuk merayakan ulang tahun sahabatnya itu.


Mereka merayakan ulang tahun Rania dengan ceria, sekalipun hanya ada Abi, Sean, Iqbal, Radit, Citra, Novan, dan Farhan tapi pesta ulang tahun cukup meriah.


Abi tersenyum kecil melihat Sean yang menikmati pesta kecil tersebut. Gadis itu terlihat sangat antusias dengan semua kegiatan yang dilakukan. Mulai dari menyanyikan lagu selamat ulang tahun, meniup lilin lalu memotong kue.


"Sean, karena lo teman baru kita jadi lo yang makan suapan pertama." ucap Rania sambil menyodorkan kue.


Sean menoleh ke arah Abi, setelah Abi mengangguk barulah Sean membuka mulutnya menerima suapan dari Rania.


"Enak nggak?" tanya Citra.


"Enak." jawab Sean dengan senyuman manisnya.


Entah bagaimana ceritanya, dalam waktu yang singkat Sean bisa akrab dengan Rania dan Citra. Ketiga gadis itu sekarang asik bermain di ruang tengah. Sedangkan para cowok melihat mereka dari ruang tamu.


"Lo tadi kenapa di luar lama bener?" tanya Iqbal.


"Meriksa mobil, kayaknya perlu di servis." jawab Abi sambil meminum minuman kaleng. "Bang, nanti pulang gue bareng lo." ucap Abi sambil menatap Farhan.


"Hm. Terus mobil lo?" tanya Farhan.


"Biar di ambil tukang bengkel."


"Lo kenapa?" Radit tiba-tiba bertanya.


Abi dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Radit. Tentu saja bingung. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba bertanya kenapa?


"Kenapa apanya?" tanya Abi balik.


"Kayaknya mood lo nggak bagus." jawab Radit.


"Bener juga, dari tadi auranya surem. Nggak secerah masa depan gue sama neng Citra." sahut Iqbal.


"Lo ada masalah?" tanya Novan.


"Cewek freak itu ganggu gue lagi tadi di mall." jawab Abi.


"Njirr, nggak ada kapok-kapoknya tuh cewek. Terus? Gimana? Dia lihat lo sama Sean?" tanya Iqbal.


"Sewotlah, pake nanya." jawab Radit mewakili Abi.


"Mau gue kasih dia pelajaran?" tanya Novan.


"Nggak usah, nanti juga capek sendiri ngejar layang-layang putus." jawab Abi disusul senyuman miringnya.


...***...


...Bersambung ...