
Setelah makan siang bersama, mereka melanjutkan merenovasi kamar untuk Sean. Pekerjaan berjalan dengan cepat karena mereka bertiga saling membantu. Ditambah Bunda Shafira dan Sean yang turut membantu mendekorasi kamar, sehingga semuanya cepat selesai.
Sekarang sudah menunjukkan pukul lima sore, semuanya sudah selesai. Ya, walaupun ruangan masih bau cat tapi semua sudah tertata rapi. Saat ini semuanya berkumpul di ruang tengah, duduk melingkar di karpet bulu sambil memakan camilan dan menonton televisi.
"Malam ini Sean tidur di kamar baru?" tanya Sean.
"Nanti dulu. Kamarnya masih bau cat, nggak baik buat pernapasan." jawab Abi sambil mencubit pelan hidung Sean.
Sean manggut-manggut mengerti. Kemudian gadis itu menatap Abi, Farhan, Novan, dan Bunda bergantian. "Makasih ya Abi, Farhan, Novan, sama Bunda udah bikinin kamar buat Sean." ucap Sean dengan tulus.
Novan langsung tertawa kecil sambil mengacak pelan rambut Sean. "Apa sih yang nggak buat adik cewek gue satu-satunya ini?" sahut Novan.
Abi dengan sigap langsung menepis tangan kakaknya, dan menatap kakaknya tersebut dengan tatapan sinis. "Nanti rambutnya berantakan." cetus Abi dengan nada sedikit ketus.
Novan langsung memukul pelan lengan Abi. "Biasanya lo juga ngacak rambutnya anjr, masa gue ngacak pelan aja nggak boleh?" tanya Novan protes.
"Beda. Gue owner-nya." jawab Abi sambil menarik Sean agar lebih dekat kepadanya.
"Lo yang ngelahirin dia?" tanya Farhan dengan wajah datarnya.
"Ya bukan sih.."
"Yaudah, berarti lo bukan owner-nya." ucap Farhan sambil memasukkan camilan ke mulutnya.
Shafira hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat candaan putra-putranya. "Sean, sini sayang sama Bunda." kata Shafira sambil menepuk karpet di sampingnya.
"Iya, Bun" Sean melepaskan pegangan tangan Abi dan segera pindah ke samping Bunda Shafira.
Abi menatap Sean yang merangkak ke bundanya dengan tatapan tidak rela. Tapi dia tidak mungkin melarang Sean mendekat ke Shafira. Bisa-bisa dia kena omelan lagi.
Novan yang melihatnya ekspresi tidak rela Abi, langsung menertawakan adik bungsunya itu. "Mampus, Bunda noh owner yang sebenarnya." celetuk Novan sambil tertawa.
"Owner gadungan." sahut Farhan sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
Ketika semuanya asik bercanda, tiba-tiba televisi menayangkan berita mengenai sepuluh orang nelayan yang menghilang di pantai tempat Abi liburan tempo hari.
"Bi, itu pantai tempat lo liburan kemarin kan?" tanya Novan yang di angguki oleh Abi.
Mendadak semuanya diam memperhatikan berita tersebut. Di liputan berita tersebut menyatakan bahwa jasad enam dari sepuluh orang nelayan yang hilang telah ditemukan Tim SAR dalam keadaan yang mengenaskan. Penuh cakaran di sekujur tubuhnya. Ada yang tangannya hilang, ada yang kakinya hampir terpotong, dan yang paling parah perutnya berlubang seperti bekas di gigit binatang buas.
Sean menelan ludahnya susah payah melihat berita tersebut. Wajahnya juga pucat pasi. Dia takut Abi tahu bahwa itu adalah perbuatannya dan saudara-saudaranya.
"Sean? Kamu sakit?" tanya Shafira tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Shafira itu, tiga bersaudara langsung menoleh ke arah Sean menatap gadis itu dengan tatapan khawatir. Terutama Abi.
Sean menatap Shafira lalu menggelengkan kepalanya.
"Tapi wajah kamu pucat banget loh." ucap Shafira sambil menyentuh kening Sean untuk memastikan gadis itu demam atau tidak.
"Sean nggak apa-apa kok." jawab Sean sambil tersenyum kecil.
"Ayo aku antar kamu ke kamar Bunda, kayaknya kamu kecapekan." ajak Abi.
"Iya sana, kamu istirahat aja. Biar di antar Abi." sahut Shafira.
Sean mengangguk. Abi langsung membantu gadis itu berdiri dan menggandeng Sean naik ke lantai dua menuju kamar bundanya. Novan dan Shafira menatap Sean dengan tatapan khawatir. Sedangkan Farhan menatap Sean dengan tatapan khawatir bercampur tatapan tanda tanya.
Di lantai atas, Abi menyuruh Sean untuk berbaring di ranjang dan menyelimutinya. "Kalau ada apa-apa panggil aku aja." ucap Abi sebelum pergi dari kamar bundanya.
Tapi sesaat sebelum Abi pergi, Sean memanggil cowok itu. "Abi.." panggil Sean dengan nada lembut.
Abi menghentikan langkahnya. Setiap Sean menyebut namanya dengan suara yang lembut jantungnya berdebar-debar. Tubuhnya mematung sebentar, seolah terbius dengan suara Sean. Abi juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
"Ada apa?" tanya Abi.
"Menurut kamu siapa yang melakukan semua pembunuhan di laut tadi?" tanya Sean ragu-ragu.
Abi diam sebentar. Jujur cowok itu bingung akan memberikan jawaban apa, karena ada dua versi jawaban yang berbeda. "Entahlah, polisi menyimpulkan itu bukan pembunuhan melainkan karena badai yang terjadi di tengah laut. Sedangkan luka-luka di tubuh korban dikarenakan hewan laut. Tapi..." Abi menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Sean penasaran.
"Tapi, jika berdasarkan keterangan dan rumor yang beredar di kalangan masyarakat pesisir pantai. Semua pembunuhan dan hilangnya para nelayan di sebabkan oleh Siren." ucap Abi melanjutkan kalimatnya.
Jantung Sean langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya semakin pucat. Gadis itu tidak menyangka bahwa Abi terpikirkan sampai sana.
"Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu semakin pucat?" tanya Abi dengan raut wajah sangat khawatir.
Sean menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa. Aku cuma capek. Aku mau istirahat." ucap Sean, lalu segera masuk ke dalam selimut.
Abi terdiam melihat sikap Sean yang agak aneh. Tapi cowok itu tidak berpikir macam-macam. "Yaudah, selamat malam." ucap Abi lalu segera keluar dari kamar bundanya dan pergi ke kamarnya sendiri.
Ceklek.
Ketika masuk kamar, cowok itu terkejut Farhan ada di dalam kamarnya sambil memegang dua butir mutiara hitam yang Abi letakkan di meja belajarnya.
"Ngapain lo di kamar gue?" tanya Abi.
Bukannya menjawab pertanyaan Abi, Farhan malah bertanya balik. "Darimana lo dapat mutiara hitam ini?" tanya Farhan.
Abi menatap benda yang dipegang kakaknya. "Di mobil gue dan di mobil lo." jawabnya. Abi memutuskan untuk berkata jujur, karena menurutnya tidak ada untungnya dia berbohong.
"Lo tahu ini apa?" tanya Farhan.
Abi mengangguk kemudian mengambil satu mutiara dari tangan Farhan. "Hm, gue tahu. Ini mutiara." jawab Abi sambil mengamati benda di tangannya tersebut. "Yang gue nggak tahu, kenapa benda ini bisa ada di mobil gue dan mobil lo." ucapnya lagi.
Farhan menghela napasnya. Cowok itu menarik adiknya agar duduk di sofa yang ada di dekatnya. "Ini bukan sembarang mutiara." ucap Farhan sambil menunjukkan sebuah buku online di handphonenya.
"Mutiara yang mengkilap dan terlihat seperti bersinar, adalah salah satu ciri-ciri air mata mermaid dan siren." kata Farhan menjelaskan isi buku yang dia tunjukkan.
"Jadi? Lo mau bilang ini air mata duyung gitu?" tanya Abi dengan tatapan terheran-heran.
"Hm. Dan ini berwarna hitam pekat. Berarti ini air mata Siren." ucap Farhan lagi.
Abi memutar bola matanya malas. Terkadang dia juga agak kesal ketika Farhan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini. "Nggak jelas lo anjr." sahur Abi sambil mengambil satu mutiara lagi di tangan Farhan lalu menyimpannya di laci meja belajarnya. "Buruan, lo tadi mau ngapain ke kamar gue?" tanya Abi.
"Pinjam power bank." jawab Farhan sambil mengambil power bank di meja belajar Abi lalu segera keluar dari kamar adiknya.
"Makin ngelantur tuh orang kalau diladenin." ucap Abi sambil membereskan meja belajarnya yang sedikit berantakan. "Yang benar saja? Air mata siren?" gumam Abi lalu cowok itu tertawa geli.
...***...
...Bersambung......