Oceane

Oceane
Chapter 7 - Berbeda



Keesokan harinya, suasana di bukit yang benar-benar tenang membuat Abi tidur nyenyak walaupun tidur di mobil. Cowok itu baru terbangun setelah Sean memukuli kaca jendela mobilnya berulang kali.


"Eh eh eh! Jangan di pukul!"


Abi segera membuka pintu mobil dan menyuruh Sean masuk ke dalam mobil. Cowok itu meraih tangan Sean yang memukuli kaca jendela mobilnya tadi. Terlihat tangan gadis itu yang memerah, melihat itu Abi memaki dirinya sendiri di dalam hati. Dia sedikit lega karena tangan Sean hanya memerah, kalau sampai lecet bisa-bisa dia diamuk bundanya lagi.


"Kenapa nyari aku?" tanya Abi.


"Aku kira kamu pergi." jawab Sean dengan wajah polosnya.


Abi tertegun melihat ekspresi wajah Sean yang seperti anak kecil ketika takut ditinggalkan di tempat asing. Cowok itu tidak kuasa menahan tawanya. Abi mengacak pelan rambut Sean karena gemas.


Sedangkan Sean masih menatap Abi dengan tatapan tanda tanya. Gadis itu bingung kenapa Abi tertawa. Menurutnya tidak ada hal yang lucu sampai harus ditertawakan.


"Kamu kenapa?" tanya Sean kebingungan.


"Haha, enggak. Aku nggak apa-apa." jawab Abi sambil tersenyum gemas menatap Sean. "Masih mau disini atau pulang?" tanya Abi tiba-tiba.


"Pulang, aku lapar." jawab Sean.


"Yaudah, kita pulang dulu sarapan. Habis itu aku ajak kamu ke mall beli baju sama sepatu." kata Abi. Kemudian cowok itu segera menjalankan mobilnya pergi meninggalkan daerah itu.


Berbeda dengan ketika berangkat ke bukit ini tadi malam. Saat pulang, Abi mengajak Sean lewat jalan raya yang ada di pinggir laut. Gadis itu tidak hentinya menatap ke arah laut, berharap melihat saudara-saudaranya. Tapi tidak mungkin, para Siren tidak akan keluar di siang hari. Apalagi menampakkan diri di daratan, mendekati pantai. Kalaupun naik ke daratan pasti di tempat yang terpencil yang tidak pernah terjamah manusia.


Raut wajah Sean tiba-tiba berubah menjadi murung. Melihat hal itu Abi yang memang cowok super peka langsung mengusap lembut kepala Sean.


"Ada apa? Kok tiba-tiba kayak sedih gitu?" tanya Abi.


"Aku kangen kakak dan adikku." jawab Sean sambil menatap laut.


"Kamu ingat dengan keluargamu? Kau sudah ingat dimana rumahmu?" tanya Abi ketika mendapatkan jawaban itu dari Sean.


Sean beralih menatap Abi dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu menunjuk laut tanpa berkata-kata. Tidak terasa setetes air mata jatuh dari mata Sean.


"Eh? Kok nangis?"


"Mereka disana." ucap Sean dengan tangan yang masih menunjuk laut.


Abi menoleh menatap ke arah laut. Cowok itu terdiam sebentar. Abi kembali teringat bagaimana dia bertemu dengan Sean yang ada di tepi pantai. Entah bagaimana otaknya menyimpulkan bahwa keluarga Sean sudah meninggal tenggelam di laut.


"Yaudah, nggak apa-apa. Sekarang pulang dulu, kita sarapan dirumah." ajak Abi mengalihkan pembicaraan supaya Sean tidak sedih.


Sean hanya mengangguk, sekalipun dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Abi bersikap seperti itu. Gadis itu menatap ke arah laut lagi, sorot matanya menjadi tajam ketika melihat seseorang yang ada di balik batu karang melihat ke arahnya. Itu adalah makhluk yang sejenis dengannya, ralat. Itu bukan Siren, tetapi mermaid.


"Makhluk bodoh..." batin Sean melihat mermaid yang berenang kembali ke lautan.


*


"Aduhh bun, sakit bun!"


"Duduk sini kamu!"


Abi duduk di sofa ruang tamu di kelilingi oleh bundanya dan juga Novan. Sedangkan Farhan, entah ada dimana cowok dingin itu sekarang. Sejak tadi pagi Farhan tidak ada di rumah, biasanya kalau tidak ke perpustakaan pasti ke museum itu adalah dua tempat favorit Farhan.


Abi tidak menghiraukan bundanya yang mengomeli dirinya habis-habisan karena tidak pulang semalaman terlebih bersama seorang gadis. Mata cowok itu tidak lepas dari Sean yang berdiri di dekat aquarium. Dia masih trauma kejadian semalam dimana Sean tiba-tiba menghilang ketika ditinggal pergi sebentar.


"Abi! Kamu dengar bunda nggak sih?!" tanya Shafira kesal.


"Iya bun dengar.. Maaf, Abi nggak apa-apain dia kok." jawab Abi.


"Nggak percaya gue." sahut Novan.


"Nggak usah ngompor-ngomporin lo njir!" semprot Abi yang dibalas gelakan tawa oleh Novan.


Shafira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anaknya yang tidak pernah akur walau hanya sebentar. Selalu saja ada hal yang bisa diributkan.


"Yaudah, Abi, Novan kalian ajak Sean sarapan. Bunda mau ke perusahaan, jangan buat onar!" pesan Shafira.


"Siap bun!" jawab Abi dan Novan serempak. Setelah itu mereka berdua langsung menghampiri Sean dan mengajaknya ke ruang makan untuk sarapan bersama.


*


Disisi lain, Farhan duduk di salah satu meja perpustakaan besar yang ada di kota. Di depan cowok itu terdapat buku-buku tentang makhluk-makhluk mitologi, dia masih penasaran dengan Sean yang wajahnya terlihat sangat tidak nyata. Tepatnya terlalu cantik, dan juga misterius.


Disaat dia sedang fokus, tiba-tiba datang seorang cowok dengan wajah yang sangat tampan. Cowok itu memiliki rambut berwarna hitam pekat, dan bola mata yang berwarna biru tua kehitaman. Kulitnya putih cerah, seolah tidak pernah terpapar sinar matahari.


"Kamu tertarik dengan hal semacam ini?" tanya cowok itu sambil membaca salah satu judul buku yang ada di depan Farhan.


Farhan tidak menjawab, dia menatap cowok didepannya itu dengan tatapan tajam dan dingin.


Mendapatkan tatapan demikian, cowok itu tertawa kecil lalu duduk di sebelah Farhan. "Tenang, aku nggak sedang mengolok-olok. Aku cuma heran, ada yang tertarik dengan hal semacam ini." ucap cowok itu menjelaskan.


Lagi-lagi Farhan hanya diam dan tidak menjawab. Cowok dingin itu sedikit heran dengan cowok yang ada di sampingnya ini. "Apaan? Aku-kamu?" batin Farhan sedikit geli.


"Lo salah satu dari mereka?" tanya Farhan tiba-tiba sambil menunjuk buku tentang mermaid dan siren.


Cowok asing itu diam sebentar. Kemudian menjawab "Tidak baik mencaritahu terlalu banyak. Lebih baik kamu cari tahu dulu asal-usulmu." kata cowok itu. Kemudian segera pergi dari sana.


Farhan mengepalkan tangannya erat-erat. Dia paling tidak suka ada orang yang mengungkit asal-usulnya. Dia benci itu, karena hanya dia yang berbeda dari saudara-saudaranya. Abi dan Novan memiliki warna mata biru cerah sama seperti bundanya. Hanya dia yang memiliki warna mata hijau cerah. Dia sering di katai anak pungut oleh teman-temannya karena warna matanya yang berbeda. Tapi, bundanya selalu bilang bahwa mata berwarna hijau cerah kebiruan miliknya itu adalah keturunan dari ayahnya. Tetap saja, dia tidak bisa percaya karena dia belum pernah melihat wajah ayahnya walau hanya sekali.


...***...


...Bersambung...