Oceane

Oceane
Chapter 15 - Mermaid Palsu



Keesokan harinya, Farhan masih belum sadarkan diri karena memang seseorang yang pingsan terkena sihir Siren tidak akan bangun jika tidak ada yang membangunkannya. Hingga akhirnya Abi melihat kakaknya itu ketika hendak mengambil air.


"Bang Farhan?!"


Cowok itu segera menghampiri kakaknya, dan menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya itu. Di letakkannya telapak tangannya ke dahi Farhan untuk memeriksa suhu badan kakaknya apakah demam atau tidak.


"Nggak demam." gumam Abi setelah memeriksa suhu badan kakaknya.


Abi kembali menggoyang-goyangkan tubuh Farhan setelah memastikan kakaknya hanya tertidur.


Tidak lama kemudian Novan yang melihat hal itu segera menghampiri kedua adiknya. "Kenapa tuh bocah?" tanya Novan.


"Gatau, tidur apa pingsan." jawab Abi sambil berusaha membangunkan Farhan


Setelah beberapa kali Abi dan Nova mencoba membangunkannya, akhirnya Farhan membuka matanya. Saat membuka mata pandangannya matanya yang sedikit kabur khas seperti orang bangun tidur samar-samar melihat kolam renang. Cowok dingin itu mengerutkan keningnya ketika menyadari dia ada di teras belakang.


"Kenapa gue ada disini?" tanya Farhan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri..


Novan langsung menoyor kepala adiknya yang masih setengah sadar dari tidurnya itu. "Harusnya kita yang tanya kenapa! Ngapain lo tidur di teras?" tanya Novan.


Farhan terdiam melihat ke sekelilingnya. Cowok itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal karena merasa bingung. Dia merasa melupakan sesuatu yang sangat penting, tapi dia sama sekali tidak bisa mengingat hal itu.


Abi melihat wajah kakaknya yang terlihat linglung kebingungan bertanya kepada kakaknya tersebut. "Lo nggak ingat kenapa bisa tidur disini?" tanya Abi.


Farhan menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu, seingat gue semalam gue baru kelar ngerjain tugas terus lihat hujan. Habis itu gue lupa gue ngapain aja." jawab Farhan sambil terus berusaha mengingat bagaimana bisa dia semalaman tidur di teras belakang rumah.


Dari dapur, Sean memperhatikan percakapan tiga bersaudara tersebut. Gadis itu tersenyum miring menyadari bahwa Farhan tidak bisa mengingat apa-apa mengenai kejadian semalam. Sean menatap telapak tangannya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya. Gadis itu mengarahkan tangannya ke sebuah sendok. Secara perlahan sendok tersebut terangkat, dan melayang di udara.


"Rupanya kekuatanku masih berfungsi di daratan, walaupun tidak sepenuhnya." gumam Sean menatap sebuah sendok yang melayang di udara karena kekuatannya.


Tiba-tiba.


"Sean, kamu sudah bangun?"


Sean langsung berbalik melihat ke arah Shafira yang memanggilnya. Secara otomatis sendok yang melayang langsung terjatuh karena Sean tidak mengeluarkan kekuatannya.


Klangg... Suara sendok yang terjatuh berbenturan dengan lantai keramik terdengar sangat nyaring karena menggema di ruangan rumah yang besar. Hal itu membuat tiga bersaudara langsung menoleh melihat ke arah dapur.


Bukannya menjawab pertanyaan Shafira, Sean malah bertanya balik. "Bunda ngapain?" tanya Sean sambil tersenyum gugup.


"Enggak, bunda cuma mau ambil minum." jawab Shafira sambil mengambil sendok yang terjatuh. "Kamu tadi ngapain?" tanya Shafira.


Sean diam sebentar memikirkan alasan kenapa dia kemari. Kemudian dia melirik ke arah Abi yang melihatnya. "Itu Sean nyari Abi." jawab Sean.


Mendengar namanya di sebut Abi segera menghampiri Sean disusul Farhan dan juga Novan.


"Kenapa nyari aku?" tanya Abi.


"Emm, bosan. Pengen main." jawab Sean sambil mengerucutkan bibirnya.


Abi tersenyum gemas melihat ekspresi wajah Sean.


"Yaudah, sana kalian berempat jalan-jalan sekalian cari sarapan. Bunda kayaknya nggak bisa masak pagi ini, soalnya ada rapat dengan klien penting dari luar negeri." ucap Shafira. Kemudian Shafira segera pergi berangkat ke perusahaan karena di kejar waktu.


"Nahh, sekarang Sean mandi dulu ya? Habis itu kita jalan-jalan bareng." kata Abi.


"Okee." Sean segera berlari kecil menaiki tangga dan masuk ke kamar bundanya.


Abi tersenyum kecil melihat Sean yang berlari-lari kecil.


Melihat tingkah Abi yang tidak biasa itu, Farhan dan Novan berpandangan lalu secara bergantian berbisik di telinga adiknya. "Naksir ya?" bisik Farhan di telinga kanan Abi. "Mulai gila, senyum-senyum sendiri." bisik Novan di telinga kiri Abi.


"Bangshat!" Abi langsung mengusap-usap kedua telinganya, lalu segera pergi ke kamarnya.


Farhan dan Novan tertawa kecil melihat adiknya yang kesal karena ulah mereka. Begitulah Farhan, terkadang bisa sangat cuek dan dingin. Tapi di saat-saat tertentu cowok dingin itu akan menunjukkan sifat tengilnya yang suka menjahili saudaranya.


*


Setelah siap-siap mereka semua pergi ke restoran kepunyaan bunda mereka. Mereka sarapan disana. Setelah ke restoran mereka memutuskan untuk pergi ke gedung akuarium terbesar yang ada di kota itu.


Sean senang bukan main ketika baru memasuki tempat tersebut. Melihat ikan-ikan berenang di samping dan atasnya. Dia merasa ada di habitatnya, yaitu di laut. Yap, sekalipun Sean termasuk pembunuh di laut tapi dia tetap sayang dengan laut.


Berbeda dengan Sean yang tampak senang. Ikan-ikan di dalam akuarium mendadak menjauh ketika Sean berjalan di dekat mereka. Karena insting ikan yang kuat sebagai sesama penghuni laut, dapat dengan mudah mengetahui bahwa Sean adalah Siren.


"Kenapa ikan-ikannya malah berenang menjauh ya?" tanya Novan terheran-heran melihat para ikan yang berenang menjauhi mereka.


Disaat melihat ke akuarium, tiba-tiba seseorang masuk ke akuarium menggunakan kostum putri duyung. Semua langsung mendekat ke arahnya, termasuk Sean, Abi, Farhan, dan Novan. Mereka melihat putri duyung yang berenang meliuk-liuk di dalam akuarium bersama hewan laut lainnya.


Sean mengerutkan keningnya melihat pertunjukan di depannya itu. Gadis itu berusaha mengidentifikasi identitas putri duyung yang berenang di dalam akuarium tersebut, tapi dia malah mendapatkan jawaban bahwa yang berenang di dalam akuarium itu adalah manusia.


"Abi." panggil Sean.


"Ya? Kenapa?"


"Itu mermaid palsu?" tanya Sean sambil menunjuk seorang gadis yang berenang di dalam akuarium sambil memakai kostum mermaid.


Novan dan Abi langsung tertawa mendengar pertanyaan Sean.


"Tentu saja itu palsu." jawab mereka berdua bersamaan.


"Kalau dia manusia, kenapa bisa bernapas di dalam air?" tanya Sean lagi.


Abi mensejajarkan tingginya dengan tinggi Sean dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sean. "Dia bukan bernapas di dalam air, melainkan menahan napasnya. Dia bisa menahan napasnya selama itu setelah latihan bertahun-tahun." jelas Abi.


Sean manggut-manggut mengerti, gadis itu memperhatikan mermaid palsu yang berenang di dalam akuarium tersebut. "Pantas saja tidak kabur, ternyata palsu." batin Sean sambil tersenyum miring. Karena setiap mermaid yang bertemu Siren pasti akan menjauh karena takut.


"Hm.. dunia manusia benar-benar tidak terduga.." batinnya lagi.


...***...


...Bersambung.......