
Karena tidak tahu mau kemana. Sedangkan Sean juga tidak memberitahu ingin pergi kemana. Akhirnya Abi mengajak Sean pergi ke sebuah bukit. Tempatnya bersantai ketika lelah, tempatnya menyendiri ketika ada masalah.
Bukit ini tempatnya agak jauh dari pusat kota, jadi udaranya masih bersih dan segar. Suasananya rindang karena banyak pepohonan di sekitarnya. Dari bukit ini Abi biasanya menatap ke arah kota yang terlihat sibuk, hanya disini dia bisa tenang walaupun hanya sebentar.
Belum ada yang pernah Abi ajak ke tempat ini, teman-temannya, kakak-kakaknya, atau bahkan bundanya sendiri belum pernah Abi ajak ke tempat ini. Tempatnya tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang tempat ini kecuali dirinya sendiri. Tapi entah kenapa dia ingin mengajak Sean ke tempat kesukaannya ini.
"Abi, ini dimana?" tanya Sean.
"Ini di bukit." jawab Abi.
"Itu rumah siapa? Kenapa ada di atas pohon?" tanya Sean sambil menunjuk sebuah rumah pohon.
"Aa, itu rumahku. Ayo naik." ajak Abi.
Abi mengajak Sean naik ke rumah pohon. Setelah lampu dinyalakan, terlihatlah perabotan rumah yang cantik. Semua terbuat dari kayu. Mulai dari kursi, meja, lemari, ranjang, rak.
"Sebentar aku beresin ruangan dulu. Duduk aja disana." kata Abi sambil menunjuk kursi yang ada di luar. Sedangkan Sean hanya menuruti apa yang dikatakan Abi.
Abi mulai membersihkan ruangan, memasang matras di atas ranjang agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman. Karpet yang tadinya digulung, sekarang Abi sudah memasangnya.
"Baiklah, selesai. Sean! Ayo masuk."
Bukannya masuk kedalam, gadis itu malah terpaku dengan pemandangan kota yang gemerlapan karena banyaknya lampu. Mulai dari lampu gedung-gedung, rumah, lampu jalan, dan juga lampu kendaraan.
"Ada apa?" tanya Abi.
"Cantik." jawab Sean sambil menunjuk ke arah kota.
Abi tersenyum mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu. Dia sudah menduga, Sean pasti akan suka jika diajak kesini. Dan dugaannya tidak meleset, gadis itu benar-benar terlihat sangat menyukai tempat ini.
"Hm, memang cantik." jawab Abi sambil menatap wajah Sean.
Setelah beberapa saat melihat kota, Sean mengajak Abi masuk kedalam karena merasa kedinginan. Abi segera menutup pintu dan jendela, diambilkannya selimut untuk Sean agar gadis itu tidak merasa kedinginan.
"Masih dingin?" tanya Abi.
"Enggak." jawab Sean sambil tersenyum menunjukan deretan giginya.
Abi tersenyum lega mendengarnya. Cowok itu berpindah dan duduk di kursi kayu. Dia merasa tidak seharusnya duduk berdekatan seperti itu dengan seorang gadis, apalagi hanya berdua. Kalau ada setan yang lewat di otak Abi kan bisa gawat.
"Mau pulang atau tidur di sini?" tanya Abi.
"Tidur disini aja!" sahut Sean dengan cepat.
"Yaudah." Abi merebahkan tubuhnya di kursi panjang itu. Cowok itu menatap langit-langit ruangan yang juga terbuat dari kayu. Sesekali dia melirik ke arah Sean, gadis itu masih belum menutup matanya.
"Sean, aku boleh tanya?"
"Boleh."
"Kenapa kamu bisa ada di pinggir pantai? Dengan... keadaan telanjang begitu?" tanya Abi dengan hati-hati.
Sean diam sebentar. Dia bingung harus menjawab jujur atau tidak. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi dia masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan Abi yang baru saja dia kenal. Bisa saja Abi memanfaatkan dirinya. Dia memang siren yang ditakuti oleh para penghuni laut, tapi di daratan kelasnya sama saja dengan mermaid. Kekuatannya tidak terlalu berfungsi di daratan.
"Nggak tahu, nggak ingat." jawab Sean berbohong.
Sean terdiam. Mana mungkin dia menjawab bahwa umurnya sudah ratusan tahun. Abi pasti tidak akan percaya jika dia bilang umurnya sudah ratusan tahun. Ya, Sean adalah siren dengan kekuatan yang melampaui siren-siren yang lainnya. Karena, gadis itu merupakan ratu pemimpin para siren yang sudah berumur ratusan tahun. Maka dari itu dia hanya pingsan ketika terkena petir Dewi Laut.
"Hei, kenapa diam?"
"Ah, umurku delapan belas tahun." jawab Sean berbohong lagi.
"Wahh, kalau begitu kita seumuran." sahut Abi antusias.
Sean hanya tersenyum menanggapi hal itu. Mereka bercerita dan bercakap-cakap banyak sekali hingga mengantuk. Sampai-sampai Abi lupa, bahwa mereka tadi keluar tidak berpamitan dengan bunda ataupun kakak-kakaknya.
Drrrtt.. drrtt... handphone Abi bergetar. Cowok itu membuka matanya dan melihat Sean yang sudah tertidur. Karena tidak ingin mengganggu tidurnya Sean, Abi membawa handphonenya itu keluar rumah dan baru mengangkatnya.
"Kenapa?"
"Kenapa mata lo picek! Lo dimana njerr?! Udah jam berapa ini?! Kenapa belum pulang?!" semprot Novan dibalik telepon.
Abi melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Artinya dia sudah tertidur selama tiga jam sejak jam sepuluh tadi.
"Aa, gue nginep di rumah Iqbal bang." jawab Abi berbohong.
"Bohong! Sean juga nggak ada." timpal Novan.
"Iya ini Sean gue ajak, yakali gue tinggal sendirian di rumah." jawab Abi sambil menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal.
"Awas lo berani macam-macam sama anak orang, gue patahin leher lo!" ancam Novan.
"Iya-iya elah, kayak nggak kenal sifat gue aja lo." sahut Abi.
"Karena gue tahu sifat lo yang rada-rada makanya gue khawatir tolol!" semprot Novan dengan nada emosi, lalu langsung mematikan telepon secara sepihak.
Abi menggelengkan kepalanya kemudian turun ke bawah, dan masuk ke mobil. Abi memilih tidur di mobil daripada tidur di kursi kayu, bisa-bisa badannya sakit semua.
*
Disisi lain. Farhan ada di kamarnya fokus dengan laptopnya. Cowok itu mencaritahu mengenai makhluk mitologi Siren yang di rumorkan sering menyerang para pelaut. Dan, Farhan menemukan sebuah berita dimana 10 orang pelaut menghilang kemarin pagi.
"Ini pantai tempat Abi liburan kan?" gumam Farhan.
Cowok dingin itu melihat kembali beberapa berita yang lain, dan memang benar itu ada di pantai yang dikunjungi oleh Abi. Farhan menggelengkan kepala, dia tidak ingin berburuk sangka kepada gadis malang itu.
"Nggak, gue nggak boleh ambil kesimpulan terlalu cepat." batin Farhan.
Farhan berjalan mendekati rak bukunya. Diambilnya buku mengenai makhluk-makhluk mitologi. Buku itu menjelaskan tentang beberapa makhluk mitologi, seperti fairy, griffin, cerberus, gorgon, dragon, unicorn, pegasus, alicorn, mermaid, dan tentunya juga siren. Jangan salah ya, sekalipun Farhan tipe-tipe cowok dingin. Dia tertarik dengan hal-hal seperti itu. Bahkan koleksi buku-bukunya tentang makhluk mitologi cukup banyak.
Di buku itu tertulis beberapa ciri-ciri siren ketika dalam wujud manusia. Tapi ciri-ciri itu tidak ada pada Sean. Satu yang belum Farhan pastikan, yaitu tanda tengkorak di belakang telinga. Setiap siren pasti memiliki tanda itu dibelakang telinganya.
"Gue harus periksa ini besok." gumam Farhan.
...***...
...Bersambung......