Oceane

Oceane
Chapter 14 - Farhan dan Sean



Tidak disangka-sangka, malam itu hujan mengguyur kota dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar. Bahkan ramalan cuaca tidak mengatakan akan terjadi badai malam ini.


Di tengah malam hujan deras ini, Sean terbangun dari tidurnya. Gadis itu menoleh ke sampingnya melihat Shafira yang tertidur pulas. Dengan perlahan Sean beranjak dari ranjang mendekati jendela.


Auranya bukan Sean yang ceria seperti yang biasa dia tunjukkan di depan Abi dan keluarganya. Aura Sean saat ini kembali ke jati dirinya yang sebenarnya, yakni seorang siren yang kejam dipenuhi aura kegelapan. Matanya seolah menyala dalam gelap, kuku-kuku jari tangannya memanjang dan runcing. Sisik-sisik mulai muncul di lengan dan kakinya.


"Kenapa perasaanku gelisah seperti ini?" batin Sean bertanya-tanya sambil melihat petir yang menyambar-nyambar di langit.


Gadis itu menoleh ke arah Shafira yang tertidur pulas. Terbesit di pikirannya untuk melukai wanita paruh baya itu. Tapi segera dia tepis pikiran buruknya tersebut. Sean buru-buru berlari keluar kamar menjauh dari Shafira, dia tidak ingin melukai ibu dari orang yang perlahan mengisi hatinya.


"Nggak boleh. Aku nggak boleh melukai Bunda." gumam Sean sambil terus berjalan cepat menuju halaman belakang dimana terdapat kolam renang.


Setelah memastikan tidak ada yang melihat dirinya, Sean langsung melompat ke dalan kolam renang. Kakinya secara perlahan berubah menjadi ekor yang besar dan panjang. Warnanya masih sama, hijau gelap kehitaman yang berkilauan. Sirip di ekornya masih setajam pisau, gigi taringnya pun mulai muncul. Gadis itu berenang kesana kemari berusaha mengendalikan dirinya agar tidak melukai orang-orang di sekitarnya.


Tanpa dia sadari, dari jendela lantai dua Farhan yang tidak bisa tidur melihat semua perubahan yang terjadi pada diri Sean. Cowok itu mematung tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.


"Gila..." desis Farhan melihat semua itu.


Setelah lima belas menit melihat Sean yang berenang kesana kemari, Farhan memutuskan keluar untuk menghampiri gadis itu. Entah apapun risiko yang akan dia alami, dia tidak peduli. Dia hanya ingin menemui gadis itu sekarang.


"Sean.." panggil Farhan.


Sean yang tadinya berenang di bawah kolam renang langsung diam tidak bergerak. Gadis itu menyembulkan setengah kepalanya dari air. Menatap seorang cowok yang wajahnya tertutup payung.


Farhan perlahan menaikkan payungnya sehingga wajahnya terlihat.


Mereka berdua saling diam bertatapan selama beberapa menit. Farhan masih tidak bisa percaya bahwa sekarang dihadapannya ada seekor makhluk mitologi yang selama ini dia pelajari. Sedangkan Sean, jantung gadis itu berdegup kencang takut karena sekarang Farhan mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.


Cowok itu perlahan mendekati kolam renang. Setelah sampai di tepi kolam renang Farhan jongkok dan menatap Sean kembali. Cowok itu cukup berhati-hati karena dia tahu Sean adalah seorang Siren dari warna ekornya yang cenderung gelap.


"Lo nggak akan melukai keluarga gue?" tanya Farhan.


Sean masih tetap di posisi awalnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya yang setengah masih berada di dalam air.


"Gue bisa percaya lo?"


Sean menganggukkan kepalanya. Sekalipun saat ini dia mati-matian berusaha menahan diri agar tidak menyerang Farhan. Dia jujur, dia tidak ingin melukai keluarga Abi. Gadis itu mulai menaikkan kepalanya dari dalam air secara keseluruhan. Sekarang hanya bagian dada sampai ekor yang berada di bawah air.


"Farhan.. tolong menjauh dari kolam." pinta Sean.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin melukaimu." jawab Sean jujur.


Farhan diam sebentar. Lalu cowok itu berdiri dan mundur beberapa langkah menjauhi kolam renang.


"Apa kamu akan menyebarkan identitasku?" tanya Sean.


"Tergantung. Kalau lo melukai keluarga gue, gue bakal sebar identitas lo sekalipun gue di anggap gila." jawab Farhan.


Farhan mengerutkan keningnya karena tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Sean. Cowok itu mengambil langkah ke belakang kembali karena merasa terancam ketika Sean berenang mendekat ke tepi kolam.


Hingga akhirnya Sean sampai di tepi kolam dan duduk di tepi kolam renang. Gadis itu kembali menatap Farhan. "Tanyakan saja jika ada yang ingin kamu tanyakan." ucap Sean.


Farhan diam sebentar. Walaupun ragu, sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan. "Lo siren atau mermaid?" tanya Farhan memastikan kembali.


"Aku siren." jawab Sean.


"Mutiara hitam itu air mata lo?" tanya Farhan lagi.


"Iya, aku menangis dua kali di mobil Abi dan di mobilmu." jawab Sean.


"Apa tujuan lo mendekati Abi?"


Sean menoleh ke arah Farhan, gadis itu tersenyum miring. "Aku tidak mendekatinya. Dia menemukanku di pinggir pantai dan menolongku. Aku menyukainya." jawab Sean.


Melihat senyuman Sean, Farhan kembali mundur beberapa langkah.


"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Sean melihat Farhan yang mundur ketakutan.


Farhan menggeleng kepalanya.


"Baiklah, kamu tahu sendiri manusia tidak ada yang bisa dipercaya. Termasuk kamu." ucap Sean sambil menatap mata Farhan.


Ketika mata mereka bertemu, Farhan seolah terbius. Cowok itu sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya ketika bertatapan dengan mata hijau Sean.


Sean mulai menyanyikan senandung. Suara merdu Sean menembus telinga Farhan, membuat cowok itu semakin terbius. Akan tetapi senandung yang dinyanyikan Sean kali ini berbeda dengan senandung yang biasa dia nyanyikan ketika hendak membunuh mangsanya. Senandung dia nyanyikan kali ini hanya berfungsi untuk menghilangkan ingatan seseorang.


"Hmmm~ hmmm~ hmmm~"


Mata Sean semakin bersinar ketika menyanyikan senandung tersebut. Setelah mendengarkan nyanyian Sean, Farhan akan sepenuhnya melupakan semua yang dia lihat malam ini.


Bruk.


Ketika Sean selesai menyanyi, Farhan langsung terjatuh tidak sadarkan diri. Matanya yang tadinya bersinar sekarang juga sudah tidak bersinar lagi.


Melihat Farhan yang sudah jatuh pingsan. Sean segera naik ke permukaan. Secara perlahan ekornya berubah kembali menjadi kaki. Gigi taringnya menghilang. Kuku-kuku jari tangannya kembali normal. Sisik-sisik di lengan dan kakinya juga menghilang. Sekarang wujud Sean sudah seperti manusia biasa. Segera dipakainya kembali pakaiannya yang tadi terlepas ketika berubah menjadi siren. Setelah memakai pakaiannya kembali gadis itu segera mendekati Farhan yang tidak sadarkan diri.


Ditatapnya cowok itu sebentar, lalu diletakkannya telapak tangannya berjarak kira-kira 10cm di atas dahi Farhan lalu bergerak turun sampai ke kaki dan kembali naik sampai ke dahi. Begitu berulang-ulang sampai beberapa kali. Uap panas yang keluar dari tangan Sean berfungsi untuk mengeringkan baju Farhan. Setelah beberapa menit, baju Farhan yang basah terkena air hujan seketika menjadi kering. Gadis itu melakukan hal yang sama kepada dirinya sendiri agar bajunya juga kering. Setelah itu dia beranjak meninggalkan Farham begitu saja di teras belakang rumah.


"Maaf, aku ingin membawamu masuk. Tapi kekuatanku hanya berfungsi sepenuhnya ketika ada di air." ucap Sean sebelum meninggalkan Farhan.


...***...


...Bersambung...