Oceane

Oceane
Chapter 17 - Gerhana Bulan



Malam harinya tiga bersaudara sudah siap dengan setelan jas untuk pergi ke pesta ulang tahun perusahaan orang tua Celyn yang merupakan klien bunda mereka.


"Sean mana, Bi? Katanya mau ikut?" tanya Novan.


"Nggak jadi ikut katanya, nggak enak badan mau istirahat." jawab Abi sambil menatap pintu kamar bundanya yang tertutup.


"Tumben mau ninggalin?" tanya Farhan.


Sejujurnya Abi tidak tega meninggalkan Sean sendirian di rumah. Tapi dia harus datang karena jika sampai Celyn bilang yang tidak-tidak, bundanya bisa kehilangan klien penting. Mau tidak mau Abi harus pergi. Dia berniat pergi hanya sebentar saja memberi selamat kepada orang tua Celyn, setelah itu langsung pulang lagi. Dia juga tidak betah berada di ruangan yang sama dengan gadis yang terobsesi dengannya selama dua setengah tahun.


"Sebenernya gue nggak tega ninggalin Sean sendirian di rumah, tapi lo tahu sendiri kan Bang gimana Celyn? Gue takut itu mempengaruhi kerjasama Bunda sama orang tua tuh cewek." jawab Abi yang disetujui oleh Novan.


"Hm, kita kesana absen doang. Habis itu langsung cabut." sahut Novan.


"Yaudah. Ayo berangkat." ajak Farhan.


Bruumm. Mereka berangkat menggunakan mobilnya masing-masing. Karena nanti saat pulang mereka memiliki tujuan yang berbeda. Setelah dari acara, Abi ingin langsung pulang menemani Sean. Farhan ingin pergi ke toko buku. Sedangkan Novan, seperti biasa dia ingin pergi nongkrong dengan anak-anak anggota geng motor yang dia pimpin.


*


Sean di balkon kamar Bunda Shafira melihat Abi, Farhan, dan Novan yang sudah keluar dari gerbang rumah. Sekarang tidak ada siapa-siapa di rumah. Gadis itu mendongak melihat ke langit. Langit malam ini cerah, bintang bertaburan seperti akan tumpah, dan yang menarik perhatian Sean adalah gerhana bulan yang berwarna kuning bersemu oranye. Ini juga yang menyebabkan Sean tidak jadi ikut Abi pergi ke pesta.


Setelah melihat ketiga bersaudara itu sudah pergi, Sean langsung berlari ke kolam renang yang ada di belakang rumah. Dan langsung melompat ke dalam air.


"Panas... sakit.." desis Sean sambil memegangi lengannya.


Gadis itu kembali berenang hingga ke dasar kolam renang. Dia berenang bolak-balik di dasar kolam berharap rasa sakit dan panasnya tidak terlalu terasa.


Setiap gerhana bulan, para siren dan mermaid akan mengalami hal serupa. Jika mereka di daratan maka, sisik-sisik mereka akan muncul dengan tiba-tiba. Kuku jari mereka memanjang dan meruncing. Mata mereka bersinar. Dan bagian tubuh mereka yang ditumbuhi sisik akan merasa sakit dan panas yang menjadi-jadi. Mereka harus segera masuk ke air untuk mengurangi efek tersebut.


Sedangkan jika siren atau mermaid yang ada di laut. Mereka akan mengalami keanehan di tubuh mereka. Ini berbanding terbalik dengan para siren dan mermaid yang sedang ada di daratan. Jika mereka di dalam air, ekor mereka tiba-tiba menjadi kaki sekalipun mereka masih di dalam air, mereka berubah menjadi wujud manusia di dalam air, dan mereka tidak bisa mengendalikan kekuatan mereka.


Khusus untuk para siren, biasanya nafsu membunuh mereka akan meningkatkan selama gerhana bulan.


Setelah beberapa menit Sean kembali naik ke permukaan. Gadis itu mendongak melihat gerhana bulan. Gadis itu memejamkan matanya berharap bisa melakukan telepati dengan para siren yang ada di laut. Tapi sayang tidak bisa, karena posisi mereka saling berjauhan.


"Sialan... padahal aku butuh bantuan mereka." gumam Sean.


Yap, para siren bisa meringankan efek rasa sakit dan panas yang mereka rasakan dengan membaca sebuah mantra secara bersamaan. Sean ingin melakukan itu, tapi posisinya terlalu jauh dari laut sehingga telepatinya tidak sampai ke para siren yang ada di laut.


"Kenapa sih yang ada di sekitar sini hanya mermaid?" gerutu Sean kesal.


Dipikir-pikir baru dirinya siren yang pertama kali naik ke daratan. Yang lainnya adalah mermaid atau merman yang dengan bodohnya naik ke daratan demi mengejar cinta manusia yang belum tentu menyukainya.


Sean mendongakkan kepalanya lagi lalu terkekeh. "Dan sepertinya aku tertular kebodohan mereka." ucap Sean. "Awalnya aku naik ke daratan kabur dari kemarahan Dewi Laut, tapi sekarang aku malah terjebak perasaan kepada manusia itu." imbuhnya lagi.


"Apa ini? Bagaimana bisa?"


*


Kita ke pesta. Di sebuah rumah megah, dipenuhi oleh orang-orang yang duduk-duduk di kursi yang disediakan sambil menikmati beberapa pertunjukan seperti menyanyi, penampilan seni musik dan lainya.


Abi dan kedua kakaknya duduk di salah satu meja yang dipenuhi makanan. Tapi mereka bertiga sama sekali tidak berselera makan. Mereka bertiga juga tidak fokus melihat pertunjukan yang di tampilkan. Masing-masing dari mereka celingak-celinguk mencari keberadaan orang tua Celyn.


"Ini yang punya acara kenapa pakai ngumpet segala sih??!" gerutu Novan kesal.


"Coba telepon Bunda, dia pasti sedang bersama orang tua Celyn." kata Abi memberikan usul.


Novan langsung mengambil handphonenya dan menelepon Bundanya. Baru saja memanggil, Shafira langsung mengangkat telepon dari putranya itu.


"Kalian bertiga sudah sampai?" tanya Shafira di balik telepon.


"Udah, Bun." jawab Novan.


"Bunda dimana? Dan klien Bunda itu dimana? Kita harus segera mengucapkan selamat." tanya Abi.


"Datang saja ke meja VIP, kita semua ada disini." jawab Shafira.


"Baik, makasih Bunda." ucap Abi sebelum menutup teleponnya.


"Ayo, malas gue lama-lama disini." ajak Farhan.


Mereka segera bergegas pergi ke meja VIP yang di maksud bunda mereka. Dan benar saja orang tua Celyn ada di meja itu, termasuk Celyn pun juga duduk di meja VIP tersebut. Mereka bertiga segera mengucapkan selamat kepada orang tua Celyn lalu langsung pergi dari sana. Tapi memang hari sialnya Abi. Celyn mengejarnya sampai ke halaman rumah.


"Ada apa?" tanya Abi dengan wajah datarnya.


"Kamu sudah mau pulang?"


"Iya."


"Tidak bisakah tinggal sebentar lagi?" tanya Celyn sambil memeluk manja lengan Abi.


"Tidak!" jawab Abi dengan ketus. Lalu segera masuk mobil dan pergi dari rumah Celyn. Cowok itu bergegas pulang ke rumah karena sangat khawatir dengan Sean yang sendirian di rumah. Dia takut Sean akan menghilang lagi seperti beberapa hari yang lalu. Terlebih lagi Sean mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan, karena itu juga tingkat kekhawatirannya benar-benar hampir melewati batas. Sekarang tujuan utama hanyalah pulang, dan menemani Sean.


...***...


...Bersambung...