Oceane

Oceane
Chapter 12 - Kotak-kotak



Keesokan harinya, Abi dan kedua kakaknya sudah disibukkan dengan tugas dari ibunda mereka. Shafira menyuruh ketiga putranya untuk membersihkan ruangan kosong di samping kamarnya yang dahulu ruangan itu digunakan sebagai gudang. Dan sekarang rencananya akan digunakan untuk kamar Sean.


Farhan dan Novan mengeluarkan benda-benda di ruangan itu dan memindahkannya ke gudang yang baru di belakang rumah. Sedangkan Abi membersihkan ruangan tersebut. Yang pertama kali Abi lakukan adalah membuka tirai jendela dan sekalian melepaskannya.


"Uhuk! Uhuk!" Abi terbatuk-batuk setelah membuka tirai jendela ruangan tersebut.


"Gila, debunya banyak banget." gumam cowok itu. Dengan segera Abi memakai maskernya. Dia masih sayang dengan sistem pernapasannya, dia tidak ingin sakit hanya karena menghirup terlalu banyak debu.


Setelah melepas tirai dan membuka jendela, Abi mengambil sapu lalu mulai membersihkan langit-langit dan sudut ruangan dari sarang laba-laba. Membersihkan sarang laba-laba di ruangan berukuran 5×5 meter persegi tersebut memakan waktu sekitar 20 menit.


Tepat setelah Abi selesai membersihkan sarang laba-laba. Novan dan Farhan kembali membawa dua timba cat dinding. Dan juga beberapa lembar koran untuk melapisi lantai agar tidak terkena cat. Mereka bertiga bergotong royong merenovasi ruangan tersebut untuk dijadikan sebuah kamar yang nyaman ditempati.


*


Waktu terus berjalan. Sekitar pukul sebelas siang, mereka selesai mengecat ulang ruangan tersebut dengan warna putih dipadukan dengan warna biru laut sesuai permintaan Sean.


"Ayo istirahat dulu! Bunda sama Sean bikin makanan enak buat kalian." ucap Shafira menyuruh anak-anaknya istirahat.


"Ayo makan bareng." ajak Sean dengan senyum manis di bibirnya.


Abi dan kedua kakaknya melihat kedua tangannya masing-masing kemudian saling pandang lalu tertawa kecil. "Sebentar Bunda, Sean, kita mandi dulu. Kena cat semua." ucap Novan sambil menunjukkan kedua tangannya yang terkena cat.


"Yaudah buruan, keburu makanannya dingin nanti." perintah Shafira.


Novan dan Farhan segera meninggalkan ruangan untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Abi menghampiri Sean terlebih dahulu. Cowok itu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Sean.


"Kamu bisa masak?" tanya Abi.


Sean mengangguk. "Tadi di ajari Bunda." jawab Sean sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.


Sungguh, rasanya saat ini Abi sangat ingin mengacak rambut Sean saking gemasnya dengan gadis di hadapannya ini. Tapi sayangnya tangannya kotor terkena cat. "Aku mandi dulu, nanti kita makan bareng." ucap Abi yang kemudian di angguki oleh Sean. Setelah itu Abi segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan Sean, gadis itu melongok kan kepalanya melihat ke dalam ruangan yang akan digunakan sebagai kamarnya itu. Bibirnya membentuk senyuman kecil melihat kamar yang sudah di cat dengan warna yang sesuai permintaannya. Setelah itu Sean pergi ke kamar Abi untuk mengambil pakaiannya. Dia berniat mandi, karena badannya berkeringat setelah memasak bersama Bunda tadi.


Tapi ketika sampai di kamar Abi, perhatian gadis itu teralihkan dengan handphone Abi yang tergeletak di ranjang. Sean teringat ketika Abi menunjukkan kamera kepadanya saat makan malam waktu itu. Abi bilang akan menunjukkannya lagi di rumah, tapi sampai sekarang Abi belum menunjukkannya.


Sean menoleh ke kamar mandi, dan melihat bayang-bayang di pintu Abi yang sedang mandi. Matanya kembali menatap handphone Abi di ranjang. Di ambilnya handphone tersebut. Gadis itu membolak-balikkan handphone tersebut, mencoba menghidupkannya.


"Gimana caranya?" gumam Sean.


Diketuk-ketuknya layar handphone Abi dengan harapan bisa menyala. Dan berhasil, akhirnya handphone Abi menyala karena handphone itu akan menyala ketika di ketuk dua kali dengan cepat di layar. Sekarang handphone sudah menyala, tapi Sean tidak tahu bagaimana cara membuka kamera karena handphone Abi dalam kondisi terkunci.


Ceklek.


Disaat Sean sibuk mengutak-atik handphone Abi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Abi keluar dari sana menggunakan handuk sepinggang.


"Kamu ngapain?" tanya Abi.


Sean menoleh ke arah Abi dan bengong melihat lekuk tubuh Abi. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali melihat Abi yang telanjang dada.


"Perut kamu kok kotak-kotak?" tanya Sean sambil menunjuk perut Abi.


Abi menundukkan kepalanya melihat perutnya sendiri, lalu langsung tertawa. "Aku rajin olahraga, makanya perutku kotak-kotak." jawab Abi sambil berjalan mendekati Sean.


"Kamu ngapain disini?" tanya Abi seraya duduk di samping Sean.


"Orang?" Abi mengerutkan keningnya kebingungan.


"Kita ada di dalam sini, tapi kamu bilang yang di dalam sini palsu." ucap Sean lagi.


"Aa, kamera. Sini aku bukain." kata Abi sambil membukakan layar handphonenya yang terkunci. Lalu membuka kamera.


Raut wajah Sean terlihat senang sekali, melihat hal tersebut. Gadis itu asik bermain dengan kamera handphone Abi. Menggunakannya untuk selfie dan sebagainya.


"Kamu main disini dulu, aku mau pakai baju." ujar Abi sambil mengacak pelan rambut Sean. Kemudian cowok itu beranjak dan masuk ke ruang ganti.


Setelah beberapa menit Abi masuk ke ruang ganti, Sean yang tadinya tertawa kecil karena senang bermain dengan kamera di handphone Abi sekarang sudah tidak ada suaranya. Abi di dalam ruang ganti mengerutkan keningnya. "Kok nggak ada suaranya lagi? Udah pergi kah?" batin Abi. Cowok itu bergegas memakai kaosnya dan segera keluar dari ruang ganti.


Betapa kagetnya dia ketika melihat Sean yang sudah berdiri di depan ruang ganti.


"Ka-kamu ngapain?" tanya Abi terbata-bata.


"Abi lama, aku bosan." jawab Sean sambil mengerucutkan bibirnya.


Abi menghela napasnya, lalu tersenyum. Cowok itu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sean. "Sekarang aku sudah selesai pakai baju. Ayo aku temani kamu main handphone." ajak Abi.


Tapi Sean menggelengkan kepalanya. "Aku mau mandi." ucap Sean.


"Mandi?"


Sean menganggukkan kepalanya. "Bajuku kemarin kamu taruh dimana? Tadi pagi masih ada di situ. Sekarang kok nggak ada?" tanya Sean sambil menunjuk sofa di kamar Abi.


"Ah, sebentar aku ambilkan baju kamu." Abi segera masuk ke ruang ganti dan mengambil salah satu baju Sean. "Nih baju kamu, tadi aku pindahin ke lemari biar nggak berantakan di situ." ucap Abi sambil memberikan sebuah gaun ke Sean.


"Makasih, ini handphone kamu." Sean menyodorkan handphone Abi.


Setelah Abi mengambil handphone dari tangannya, Sean segera berlari keluar dari kamar Abi. Melihat hal itu Abi menggelengkan kepalanya, menurutnya sikap Sean barusan benar-benar seperti anak kecil. Tapi belum ada satu menit Sean keluar kamar, gadis itu kembali lagi.


"Ada apa?" tanya Abi penasaran.


"Kamu olahraga apa kok bisa perut kamu kotak-kotak?" tanya Sean balik.


Abi terdiam sebentar. Dia tidak menyangka gadis itu akan kembali lagi hanya untuk menanyakan hal ini. "Banyak. Push up, sit up, angkat beban, berenang, dan banyak lagi." jawab Abi apa adanya.


"Berenang itu juga olahraga?" tanya Sean yang diangguki oleh Abi.


"Aku sering berenang, tapi kenapa perutku nggak kotak-kotak?" tanya Sean lagi.


Abi hampir saja tertawa. Tapi beruntung bisa dia tahan. "Nggak apa-apa. Kalau cewek perutnya kotak-kotak malah aneh." jawab Abi sambil tersenyum. "Udah sana, katanya mau mandi. Nanti kita makan bareng." ucap Abi.


Sean manggut-manggut sebentar, kemudian segera pergi dari kamar Abi.


"Ada-ada aja." gumam Abi sambil tertawa kecil.


...***...


...Bersambung...