
Mereka masih asyik melihat mermaid yang berenang di dalam akuarium tersebut. Hingga tiba-tiba seorang laki-laki menarik tangan Sean menjauh dari kerumunan.
"Abi!!" teriak Sean.
Abi, Farhan, dan Novan langsung menoleh mendengar teriakkan Sean. Tiga bersaudara itu segera menghampiri Sean dan melepaskan cengkraman tangan laki-laki asing itu dari tangan Sean. Abi dan Novan sudah hampir memukuli laki-laki asing itu, beruntung Farhan segera menahan kedua saudaranya. Kalau tidak pasti akan terjadi keributan yang tentunya akan merusak suasana.
"Tolong jaga batasan anda." ucap Farhan sambil menatap laki-laki di depannya itu.
laki-laki di depannya itu hanya diam sambil menatap Sean yang bersembunyi di belakang tiga bersaudara.
Farhan menatap laki-laki asing itu dari atas sampai bawah. Kemudian tatapan berakhir di mata laki-laki itu. "Apa ini? Apa warna mata biru dan hijau sekarang sudah tidak langka lagi?" batin Farhan.
Ya, laki-laki asing yang menarik tangan Sean tadi memiliki perawakan tegap dan paras yang nyaris sempurna. Rambutnya hitam pekat dan berkilau nampak sehat. Bola matanya berwarna biru safir. Bulu matanya panjang dan juga lentik. Visualnya sangat tidak nyata.
Sean dari belakang Abi mengintip laki-laki yang menarik tangannya lagi. Tatapan mereka bertemu.
"Aku sama sepertimu." ucap laki-laki itu melalui telepati yang hanya bisa di dengar Sean.
Sean diam sebentar. Kemudian gadis itu secara perlahan keluar dari balik tubuh Abi dan mendekat ke arah laki-laki itu. Sean menatap mata laki-laki itu dengan tajam. "Kau dan aku berbeda, kau bukan dari kelompok siren!" sahut Sean melalui telepati.
"Aku memang bukan kelompok Siren, tapi secara perlahan kau mulai menjadi bagian kami." kata laki-laki itu lagi masih melalui telepati.
Sean mengerutkan keningnya. Gadis itu tidak paham apa maksud perkataan laki-laki yang merupakan merman tersebut.
Tiba-tiba laki-laki itu memegang tangan Sean dan menatap mata gadis itu sambil mengatakan "Kau melawan takdir putri Selena" katanya, lalu laki-laki itu mengalihkan tatapannya kepada tiga bersaudara dan mengatakan "Dan tempat kalian bukan disini." setelah itu dia langsung pergi.
Sean terdiam memikirkan perkataan laki-laki tadi. Dia bisa merasakan bahwa laki-laki yang mengajaknya bicara tadi adalah seekor merman pengawal kerajaan mermaid. Yang menjadi tanda tanya di kepalanya, kenapa laki-laki tadi tidak menjauh darinya? Padahal mermaid atau merman selalu menjauh dari siren.
Sedangkan tiga bersaudara dibuat bingung dengan perkataan laki-laki tadi. Banyak pertanyaan yang berputar di otak mereka. Tapi mereka sendiri tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Abi melirik Sean yang terlihat berpikir serius. "Sean? Kamu kenal cowok tadi?" tanya Abi dengan nada lembut.
Sean menoleh menatap Abi, Farhan, dan Novan bergantian. Padahal Abi yang bertanya, tapi Farhan dan Novan ikut menatap Sean dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tidak, aku tidak kenal dia." jawab Sean berbohong.
"Tapi kenapa dia manggil lo Selena? Itu nama lo?" tanya Novan.
Sean menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu." jawab Sean.
Farhan terdiam sebentar, cowok itu mencoba menghubungkan kejadian yang membuatnya pingsan dan tidur semalaman di teras belakang dengan kejadian yang baru saja terjadi. Entah darimana dan bagaimana, cowok dingin itu merasa bahwa keduanya saling berhubungan dengan Sean.
"Yaudah lebih baik pulang saja." saran Farhan.
"He'em, takutnya ketemu orang aneh lagi." sahut Abi setuju dengan saran Farhan.
Akhirnya mereka berempat setuju memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah mulai siang. Ketika sampai rumah, Abi dikejutkan dengan kedatangan gadis yang mengganggunya sejak dia masuk SMA.
"Abii." sapa Celyn sambil cipika-cipiki kepada Abi. Tapi Abi sama sekali tidak merespon gadis itu.
Novan dan Farhan yang melihat itu refleks mencebikkan bibirnya karena jijik dengan tingkah Celyn. Gadis itu sudah mengejar Abi sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah tepatnya ketika Abi baru masuk ke SMA itu. Celyn sampai sekarang tidak menyerah mendekati adik mereka sekalipun sudah ditolak ratusan kali.
Sungguh jika sekarang posisi mereka semua ada di atas kapal yang terombang-ambing di laut, Sean akan langsung membalikkan kapal dan mencabik-cabik tubuh Celyn.
Karena menyadari dia dimana, Sean menghela napasnya berusaha mengontrol emosinya agar tidak kelepasan menyerang manusia di daratan. Mungkin Dewi Laut akan memaafkan kesalahannya kemarin setelah membantai sepuluh nelayan. Tapi Dewi Laut tidak akan mengampuninya jika sampai menyerang manusia di daratan.
"Kamu lama banget sih pulangnya? Aku udah nungguin lohh." tanya Celyn dengan nada manja yang membuat siapapun yang masih waras ingin muntah mendengarnya.
"To the points!" ucap Abi dengan nada tegas dan sama sekali tidak bersahabat.
"Hishh.. nih. Datang ya, ajak teman-teman kamu juga. Sekalian kakak-kakak yang ganteng itu juga ajak ya." kata Celyn sambil memberikan sebuah undangan.
Abi mengambil undangan di tangan Celyn dan membacanya.
"Hari ulang tahun perusahaan yang ke 25?" tanya Abi.
"Iya, datang ya.."
"Hm." jawab Abi singkat. Cowok itu menoleh ke belakang dan mengajak Sean dan kedua kakaknya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Celyn menatap Sean dengan tatapan yang sangat sinis. "Sial, gue yang sudah menyukainya selama bertahun-tahun belum pernah masuk rumahnya. Dan lo orang baru udah seenaknya masuk rumah orang?" gerutu Celyn yang merasa iri kepada Sean. Setelah itu dia segera pergi dari rumah Abi.
Di dalam rumah mereka langsung mengistirahatkan dirinya di ruang tamu. Abi yang langsung merebahkan badan di sofa. Novan yang rebahan di karpet. Sedangkan Farhan dan Sean duduk manis di sofa melihat tingkah kedua orang itu.
"Lo serius mau datang?" tanya Novan yang di angguki oleh Abi.
"Njirlah, lo serius?? Gila gue mah mending rebahan di rumah anjer." celetuk Novan.
"Gue nggak punya pilihan lain geblek." timpal Abi seraya memejamkan matanya.
"Hm, mau nggak mau kita memang harus datang. Karena makanya tuh cewek salah satu klien bunda." sahut Farhan.
Sean tiba-tiba mendekat ke arah Abi dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Abi. Membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham, termasuk Novan dan Farhan.
Merasa ditatap begitu lama, Abi membuka matanya dan ketika membuka mata. Matanya langsung bertemu dengan mata Sean.
"Ka-kamu ngapain?" tanya Abi terbata-bata.
"Aku mau ikut ke pesta boleh?" tanya Sean sambil mengedip-ngedipkan matanya bertingkah imut.
"Apa menanyakan itu harus di depan wajahku?" tanya Abi sambil tersenyum kaku.
"Biasanya kamu juga ngomong di depan wajahku." jawab Sean dengan polosnya..
Novan auto tertawa mendengar jawaban Sean. "Jadi boomerang anjr." celetuk Novan yang masih berusaha untuk berhenti tertawa.
...***...
...Bersambung....