
Chapter 6 [Lompatan yang menentukan hidup]
--- The key is code ---
Angga tersedot ke balakang bersama robot, dan tangan yang panjang mengulur tangan angga, itu adalah paman led, dia menggunakan lekukan besi pada belakang kereta untuk menahan dirinya tersedot, tapi itu sepertinya tak ada gunanya dia tidak bisa menahan dua orang apalagi robot.
lalu tiba-tiba saja tali panjang dan besi tajam pada ujungnya melewati mataku, dan menusuk robot di belakangku, robot itu melemah dan tersedok oleh angin, tapi tali itu berasal dari 2 robot yang sudah di tembak dan dua robot itu juga ikut tersedok oleh angin.
--- The key is code ---
Setelah itu angga pun langsung diangkat oleh led dan orang-orang lainnya, terlihat di wajah neisya yang begitu khawatir kepadaku, Angga terus menjadi perhatian orang-orang.
"Untunglah kita punya laser jadi kita bisa memotong atas kereta dan membuat para robot jatuh"ucap salah satu tim Angga.
Orang-orang merubah pandangan kepadaku, dan untunglah wanita yang di sandera tidak apa-apa, dan kami juga turut sedih atas kematian 2 anggota kami.
Setelah melewati aksi yang begitu menegangkan kami akhirnya sampai di distrik 6 stasiun bawah kereta.
Kami semua menyiapkan senjata yang diperlukan, dan waspada terhadap robot yang akan datang, kami naik ke permukaan dan melihat matahari terik
Yang baru saja muncul, lalu semua orang bergegas ke tempat penelitian.
Seperti biasa yang terlihat di mana-mana hanya ada sesuatu yang berwarna merah dan busuk, semua orang menahan muntah dan berusaha untuk tidak melihat cairan merah kental itu.
Tempat penelitian tak jauh dari stasiun kereta bawah tanah jadi mungkin sebentar lagi Angga dan yang lainnya pasti akan segera sampai ke tempat penelitian ayah dan ibu Angga.
Sepi tidak ada robot yang berkeliaran, mungkin mereka sudah selesai ditugaskan di sini, atau karena tempat ini sudah tidak ada lagi manusia yang bernyawa.
Pemimpin tim dan tim lainnya sepertinya sudah melihat tempat penelitiannya, setelah ini kami akhirnya dapat segera menyelesaikan misi ini.
--- The key is code ---
Setelah beberapa menit kami akhirnya sampai di tempat penelitian, dan terlihat di mana-mana hanya ada kaca pecah, kabel putus dan beberapa tempat berdebu dan kotor, air pun juga mengalir dari tempat penelitian ini yang datang entah dari mana, hewan-hewan kecil seperti tikus dan kucing berkeliaran di tengah-tengah penelitian, jika kita tidak menghentikan bencana ini mungkin hewan-hewan akan mengalami evolusi yang mengganggu bagi manusia.
Sudah beberapa Minggu setelah kejadian yang menimpa dunia ini, kini akan ku hentikan bencana ini, untuk menebus dosa orangtuaku.
Semua orang berpencar menjadi 8 tim yang isinya 3 orang, di jalur yang berbeda, angga sepertinya bersama led dan satu orang lagi, Angga tidak pernah memegang pistol tapi kalau senjata robot dia pernah dan sepertinya ini tidak jauh berbeda dari game yang sering angga mainkan.
"Teman-teman lihat ini"ucap orang yang menjadi tim Angga, sambil terlihat senang memanggil kami berdua.
Sepertinya dia mendapatkan beberapa dokumen, lalu menaruhnya di tas, setelah mendapat beberapa dokumen kami akhirnya berlanjut ke bagian selanjutnya, setelah kami lanjut ke bagian ke dua.
Di depan kami ini sepertinya tempat yang sangat dijaga, kami melihat pintu besar yang hanya bisa dibuka oleh pin, tapi kami tak mengetahui apa pinnya.
Setelah di tembak beberapa kali pun itu hanya menggores sedikit saja, pintu ini sepertinya sangat tebal.
Kami berdua segera mundur dan bersembunyi untuk ledakan yang besar, dan ini pasti akan mengejutkan orang-orang di jalur lain.
"Bom!!" Suara bom, asap terus menebal seperti perkiraan ku orang-orang terus berkomunikasi lewat alat di telinga kami, menanyakan suara apa itu, kami menjelaskannya secara rinci lalu setelah asap itu pergi kami melihat pintu tersebut sedikit berlubang namun muat untuk manusia, setelah menerima ledakan besar itu hanya membuat lubang seperti ini, pintu ini memang kuat.
Kami memasukinya, dan memeriksa keadaan sekitar, di mana-mana hanya debu dan beberapa kertas, dan di tengah ruangan itu ada sebuah mesin seperti tempat jenajah tapi bedanya ini memiliki kaca di atasnya, sepertinya ini tempat uji coba.
Dan di dindingnya ada kertas yang sangat banyak, lalu di tengahnya tertulis projeck Angga, Angga terkejut dan mengambil kertas itu, dan segera memeriksa sekitar.
Kenapa ada namaku di kertas ini, ucap Angga dalam pikirannya. Setelah memeriksa cukup dalam Angga melihat sebuah bentuk tubuh di kertas, yang tertutupi kertas lainnya, Angga segera mengambilnya, Angga terkejut, ini adalah bentuk tubuh manusia dan tangan kanannya seperti bentuk robot.
Apa ayahku berusaha menciptakan manusia setengah robot, apa ivis setengah manusia, apa-apaan ini, ucap Angga dalam pikirannya.
"Apa yang kau temukan?" Tanya led.
"Ini, ini adalah kertas yang bergambar manusia setengah robot"ucap Angga.
Led terkejut dan memutar kepalanya ke arah lain dan berkata "itu mungkin cuma gambar biasa".
Angga berekspresi biasa setelah mendengar paman led, dia merasa itu benar ini cuma gambar tak mungkin ivis adalah setengah robot.
Angga lalu memasukkan seluruh kertas di dinding termasuk gambar manusia setengah robot, di dalam tasnya untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang berharga.
Tiba-tiba saja ada sebuah ledakan besar di luar, kami bertiga terkejut, dan bertanya kepada seluruh tim tapi mereka semua tidak mengetahuinya, sepertinya ini sudah dimulai.
Kami berniat untuk keluar dari ruangan, tapi secara tidak langsung sebuah bom kecil memasuki ruangan tempat kami meneliti, dan "bom!!!".
Ledakan besar mengenai tempat kami bertiga, ruangan ini sama sekali tidak hancur, dan untunglah ada sebuah pintu lain di tempat kami meneliti, kami bertiga selamat berkat jalan lain yang kami bertiga lewati.
Kami lari sekuat tenaga, tepat sesuai yang kami pikirkan itu adalah robot pembunuh, mereka mengejar kami dan berusaha menembak, kami berlarian di koridor penelitian, dan sepertinya robot pembunuh itu ada 4.
Mereka terus menembak, tapi kami berusaha lari dan menghindar, lalu kami melihat sebuah jalan buntu, jalan di depan kami terhalangi akibat runtuhnya ruang penelitian, kami bisa saja melompat dan sampai ke seberang, tapi terlalu beresiko karena itu jauh dan pasti menyebabkan kami terjatuh ke bawah, tapi tak ada jalan lain lagi.
Dengan sigap dan mengumpulkan keberanian, kami berusaha untuk melompat, dan satu lompatan panjang yang menentukan hidup kami.
Kami bertiga hampir sampai ke seberang, led sepertinya akan berhasil dan yang satunya juga, tapi Angga hampir.
Kami bertiga akhirnya berhasil melompatinya, tapi robot tak pernah berhenti menembak, dan satu tembakan robot membuat dadaku kena dan membuat aku terjatuh.
Aku hampir terjatuh dan berusaha untuk naik, mereka berdua menolongku, sepertinya para robot mengisi amunisi dengan cepat, satu kesempatan emas tapi gagal olehku, Mereka berusaha menarik ku sekuat tenaga.
--- The key is code ---
[Bersambung..........]