
Chapter 4 [Misi kematian]
--- The key is code ---
"Apa?, tidak, aku tidak ada hubungannya dengan bencana ini aku hanya korban dari bencana ini"ucap angga sambil terlihat gelisah dan khawatir, lalu dina terus menatap angga dengan serius.
Lalu dina menjawah "Begitu Rupanya baiklah, untuk sekarang itu saja pertanyaanku untukmu, dan besok malam kau harus datang ke sini lagi, ada sesuatu yang harus ku bicarakan denganmu" Ucap dina dengan tersenyum.
Angga terlihat tenang dan lega untuk sementara, angga berfikir dia punya firasat buruk untuk besok, lalu angga berbalik dan pergi dari tirai putih.
"Terus awasi dia" Ucap dina dengan berbisik pada bawahannya.
Setelah kejadian yang membuat angga gelisah dan sedikit takut itu pun berakhir untuk sementara, angga berjalan perlahan menuju rena.
"Sepertinya kakiku sudah sembuh" ucap angga.
Dari kejauhan dan hampir sampai ke rena, di telinga angga terdengar suara rena sedang tertawa, angga berfikir salah satu keluarganya berhasil selamat, angga berlari dan sampai pada tujuannya dia melihat rena sedang bersama laki-laki, angga terlihat terkejut dan merasakan difinisi sakit tak berdarah, lalu angga memberi salam pada rena.
"angga ya kau sudah kembali, oh ya kenalkan ini teman sekolahku namanya David, David kenalkan ini angga" Ucap rena.
Aku langsung memberi salam pada orang bernama David dan memberinya jabat tangan, kami berjabat tangan, tapi serasa tangannya ingin menghancurkan tanganku, aku rasa laki-laki ini marah padaku karena mendekati rena, aku langsung merasa sedikit kesakitan tapi aku membalasnya, dia membalas juga, aku membalas lagi, dan dia membalas lagi.
Jabat tangan kami sangat lama, terlihat di mata kami, kami saling membenci, lalu rena menghentikan kami.
Melihat hal seperti ini memang bukan hal bagus, ucap angga dalam pikirannya, lalu angga izin pergi untuk memperbaiki hatinya yang sedang rusak saat ini.
--- The key is code ---
Lautan, lautan begitu luas, dengan angin yang berhembus melewati tubuhku, rasanya begitu menyegarkan, ucap angga dalam pikirannya.
Angga saat ini sedang berada di tebing dekat pantai di distrik 4, untuk menenangkan pikirannya, setelah mendengar bahwa orangtuanyalah yang menyebabkan kematian di dunia ini, dia merasa semakin depresi dan hati yang tidak bisa di jelaskan namanya, angga tak mengerti dengan hatinya saat ini, antara marah dan sedih.
"Kupikir-pikir siapa yang di panggil kak dina, itu ternyata kau ya angga" Ucap suara wanita yang sangat familiar bagi angga.
Suara ini, ini adalah suara yang selalu membuatku marah, angga menoleh ke belakang dan berkata "maaf kau siapa ya" Ucap angga.
"Sakit sekali rasanya, ini aku, kau tidak ingat, neisya" Ucap wanita bernama neisya sambil berjalan duduk di samping angga. Neisya nama ini, oh dia ternyata, Neisya teman masa kecilku dulu, dia berambut putih dan kulitnya juga sama, ayah dan ibunya adalah temannya orangtuaku sehingga kami sering bertemu, wanita ini, tak kusangka akan bertemu dengannya di sini, ucap angga dalam pikirannya.
"Setelah orang tuaku pindah kota membuat aku kesepian tanpamu lo angga" Ucap neisya. Lalu angga menjawab "dulu kau itu selalu membuatku marah dan sekarang kau sudah besar dan menambah kemarahanku" Ucap angga.
Dulu dia sering sekali membuat aku marah, walaupun cantik tapi cerewet, dan dia juga dulu suka sekali menggodaku, sepertinya dia tidak berubah sedikitpun, tapi aku sudah berjanji tak akan berhubungan dengan wanita, karena ujung-ujungnya pasti akan selalu dapat masalah dengan laki-laki yang menyukainya, sekarang abaikan saja dia, ucap angga dalam pikirannya.
"Lautan yang luas penuh dengan air, itu mengingatkanku pada saat kita mandi bersama di halaman depan rumahku, saat masih kecil" Ucap neisya.
Angga langsung memasang wajah marah, "jangan lo ingetin masa-masa itu" Ucap angga.
"Kalau laki-laki biasa pasti akan memasang wajah merah, dan sepertinya angga belum bisa menggunakan bahasa kotor" Ucap neisya sambil tersenyum lebar dan mata tertutup.
Senyum itu, kau memang tidak berubah ya neisya, ucap angga dalam pikirannya.
--- The key is code ---
Setelah pertemuan tak terduga antara angga dan neisya, itu membuat angga sedikit melupakan amarah yang meluap-luap dalam dirinya.
Dengan suara berisik di luar dan ketakutan orang-orang yang masih ada dalam tubuh mereka, mereka pasti akan sulit sekali untuk tidur, tapi angga berbeda, bagi angga tidurnya yang saat ini cuma masalah waktu.
--- The key is code ---
Dengan cepat angga berlari tergesa-gesa di kerumunan orang-orang hanya untuk ke tirai putih milik dina.
"Hah hah maaf aku terlambat" Ucap angga sambil menahan lelah.
"Akhirnya kau datang juga cepat berbaris ke sini, kau akan ikut mereka ke distrik 6, itu adalah tempat dimana orangtuamu meneliti" Ucap dina.
Distrik 6, tempat orang tuaku menciptakan IVIS, mereka pasti menyuruhku ikut karena aku adalah anak dari orang yang menyebabkan bencana ini, mereka pasti akan memanfaatkanku untuk umpan saja, hah aku tak peduli lagi, dunia ini memang sudah hancur dari dulu, ucap angga dalam pikirannya, aku berjalan ke barisan depan di mana ada neisya di samping angga.
Kak dina langsung melanjutkan ceramahnya tentang misi ini, lalu satu suara yang familiar muncul "hei angga tugasku di sini untuk meneliti lo, oh ya dan kenalin ni teman-teman aku" Ucap neisya.
Neisya bilang temannya ada 3 tapi di sini ada banyak kelompok penelitian, dan kurasa semua angkatan cowok di sini menyukai neisya, Teman-teman neisya 1 cewek dan 2 cowok, wanita itu terlihat tersenyum padaku, dan cowoknya gendut dan terlihat baik padaku, dan satu cowok lagi terlihat biasa saja tampang biasa tidak sepertiku, dan kurasa dia membenciku tapi aku sudah tau penyebabnya, terlihat neisya senyum senyum sendiri melihatku, tidak ku sangka aku cuma menarik rambutku ke belakang dan sudah terlihat ganteng seperti ini hehe, ucap angga dalam pikirannya.
"Baiklah apa kalian sudah dengar akan ku'ulangi misi kalian hari ini adalah menemukan dokumen milik ilmuan dandi dan nina, setelah kalian menemukannya kalian harus secepatnya kembali, terserah dokumen apa saja yang penting itu berhubungan dengan robot pembunuh yang saat ini menyerang dunia ini, apa kalian dengar!!" Ucap nina.
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!"
"Ya!!
"Ya!
"Ya
"Y
"
Suara sorakan orang-orang yang begitu keras berdenging di telingaku, kini aku akan mencari kebenaran tentang dosa apa yang telah kalian lakukan ayah ibu.
Ucap angga dalam pikirannya.
--- The key is code ---
[Bersambung...... ]