Mythica

Mythica
Lukisan



Ini adalah kilas balik. Sebuah cerita dibalik lukisan yang baru saja kulihat tadi?!


Satu tebakan muncul di benaknya. Akan tetapi Evans tidak tahu mengapa, dan malah menambah pertanyaan: apakah ini normalitas, yang terjadi secara tidak sengaja ketika telinganya menangkap nada, sehingga ia membayangkan sebuah ingatan ke bentuk imajinasi? Atau justru ini anomali lainnya yang disebabkan wanita itu?


Tidak ada satu pun jawaban yang memungkinkan untuk membuatnya berpuas diri. Lagi pula, sebelum ia merasakan hal itu, imajinasinya sudah mulai mengambil alih.


Bermandikan cahaya kekuningan, Gadis itu berpaling dengan sepasang mata darah yang berpadukan kebiru-biruan. Sungguh, sepasang mata gradasi yang indah.


Ia mendengar bunyi. Dan karena bunyi itu pun ia menyipitkan matanya sebelum rileks kembali.


Terpantulkan cahaya mentari, pipi gadis itu memerah, bibirnya pun menyanjung senyuman lembut sebagai rasa hormatnya terhadap ‘dia’. Lalu ia pun berkata:


“...”


Tak terdengar sepatah kalimat pun darinya. Seperti dia menyaksikan secara langsung pertunjukkan drama tanpa suara, yaitu naskah cerita seorang ‘nyonya dan pelayan-nya’.


Pelayan itu hanya terdiam seolah membeku, bahkan tak pernah sekali pun ia menunjukkan kebingungan di wajahnya. Sebaliknya, senyum hangat terbentang di wajah pelayan itu.


Seperti layaknya film bisu yang ditonton secara ‘realtime’, mengandalkan indra pendengar saja tidak akan berlaku. Untuk dapat mengerti isi dari gambaran di benaknya ini, ia perlu berspekulasi melalui pengamatan atas gerakan tubuh kedua orang tersebut. Sayangnya, Evans menyerah untuk yang satu ini juga.


Ia hanya dapat melihat dan menyaksikan pelayan dan tuannya itu berinteraksi tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.


Berbicara tentang interaksi tanpa bersuara, ini sungguh lelucon konyol. Jika ini adalah sebuah acara komedi, mungkin ‘dia’ akan menjadi terkenal karena mengajukan kekonyolan ide tersebut.


Pada saat ini, angin tiba-tiba bertiup kencang, melambaikan rambut kedua wanita tersebut layaknya gelombang ombak di tengah badai. Keduanya masih tersenyum dan juga masih tanpa suara meski saling bicara.


Waktu berjalan dengan sangat cepat, perspektif saat ini pun berganti dan berfokus pada mulut ‘Nyonya’ ketika ia menaik-turunkan bibir kemerahannya yang terpantulkan cahaya. Seperti berbicara tentang sepatah kata-kata kunci.


Langit menjadi cerah, matahari tersenyum indah, memandikan kedua wanita itu dengan cahaya kesuciannya.


Di kota yang ramai, tampak seperti kota yang mereka tinggali tetapi dari sudut pandang orang biasa. Kedua wanita itu menyamarkan identitas asli mereka. Adapun pakaian mereka, memakai gaun biasa tanpa kesan elegan layaknya bangsawan dan pelayan sudah cukup untuk menutup-nutupi peran ‘Nyonya, dan pelayannya’.


Selain kebiasaan pelayan, etika mereka juga sering terpakai di tempat umum, membuat orang-orang setempat bertanya-tanya hingga sampai ada yang penasaran. Ini hanya masalah waktu, sungguh.


Suasana ceria selalu menempati kedua wanita itu. Seolah-olah Tuhan memanjakan mereka dengan kebahagian.


Lalu, nada piano tiba-tiba berubah menyedihkan. Berpadukan suasana suram, langit-langit keorenan menangis dengan jatuhnya hujan seolah sedang menyesuaikan irama -- kedua wanita itu pun berpisah.


Ini adalah sebuah potongan-potongan dari cerita lengkap. Tak memiliki epilog yang jelas, dan hanya menyisakan kesedihan di akhir cerita. Berpisahnya mereka pun tak dijelaskan, mengapa? Mengapa mereka berpisah.


Pada saat ini, irama alat musik berubah lagi. Penuh emosi. Amarah, seolah menggambarkan perasaan sang Nyonya saat ini.


Menghadapi sosok wanita cantik dengan topi runcing yang berpadukan seringai di wajahnya. Sang Nyonya itu menyatukan telapak tangan kanannya dengan telapak tangan milik wanita cantik bertopi runcing itu.


Seolah langit memarahi sang ‘Nyonya’, langit menjadi gelap gulita dengan kilat bermunculan di berbagai tempat. Bulan pun berpamitan, hanya meninggalkan jejak keindahan di balik terbentangnya awan gelap di langit.


Begitu pula nasib Nyonya itu yang menghilang kemudian. Adapun nasib pelayan yang tak jelas entah kemana.


Cerita yang tak menentu, absurd adalah kata yang tepat untuk mengartikannya.


Juga, cerita seakan-akan terlihat berakhir di sana. Tetapi nyatanya cerita itu masih terus berlanjut, setidaknya -– masih ada bagian yang tersisa.


Persepsi tiba-tiba berubah ke sudut pandang ketiga. Masih di suasana yang mencekam. Dan gambaran itu berhenti tepat di batu nisan tanpa nama, tanggal, dan bahkan tempat.


Ini semakin menjelaskan ada banyak maksud tersirat dalam cerita tersebut. Tidak, ini lebih mengarah ke ‘jebakan pertanyaan’ di balik keseluruhan cerita. Sungguh, lukisan abstrak pasti juga memiliki cerita yang sama abstrak-nya.


Cerita mencapai ‘ending’ di saat permainan piano juga berhenti, yang sekian menit mewarnai dan menggarisbawahi apa itu ‘mahakarya’ di hidupnya.


Setelah pikirannya kembali sadar dan terjaga. Hembusan angin utara menyapu lembut wajah Evans, diikuti oleh aroma harum, penglihatannya tiba-tiba bergetar seperti ilusi.


Yang menyamakan imajinasi dengan realita adalah seorang gadis, ia adalah gadis yang sama, Alicia, duduk dengan mata terpejam. Kedua jarinya membeku di antara note piano seolah berharap untuk dimainkan.


Ada pula gambaran samar-samar di atas piano, lilin transparan yang menyala, bergoyang-goyang mengikuti ritme jantungnya. Adapun fenomena lainnya, jika Evans mengfokuskan penglihatannya, di dalam api tersebut seperti tergambarkan kedua pasangan sedang berdansa di atas panggung drama.


Pada saat ini angin yang entah dari mana kembali berhembus, sedikit lebih kuat, seakan-akan menelan cahaya kecil ke dalam kegelapan pekat.


“Selamat malam, Evans.” Suara sopan dan lembut terdengar, selembut ibu menceritakan dongeng sebelum tidur -- dan lilin, kembali menyala.


Seorang wanita cantik layaknya ‘bulan purnama’ mengangkat ujung rok gaun putihnya dan membungkuk sopan.


Evans membelalak terkejut. Bukan karena perilaku sopan wanita itu, tetapi karena sosok tersebut tiba-tiba tepat di depannya!


Sepatah kata pun tak terlontar. Bukan tak ingin, tetapi ia tak bisa, seolah-olah tangan transparan menutupi mulutnya.


Ini terlalu mengejutkan bagi siapa pun. Terjebak di depan sosok suci tanpa mengetahui maksud di balik tindakan dan perilaku sopannya! Akankah dia berbohong untuk tidak terpana oleh akting wanita di depannya ini?!


Kemudian jentikan jari bergema keras bersama hilangnya sosok wanita itu!


“Lihat wajahmu itu. Memimpikan sayap tumbuh dari punggung, dan terbentangkan seolah ingin bebas.” Suara lembut menggelitikkan telinga kanannya.


Bagi Evans, ini tidak lebih dan tidak kurang seperti permainan kecil bagi wanita itu. Dan apa yang wanita ini lakukan setelah dia bosan adalah hal yang paling menakutkan bagi batin dan tubuhnya.


Apa yang bisa aku tukarkan untuk ‘kebebasan’?


Selain nyawa, aku tidak punya apa-apa!


Pada saat ini, ia benar-benar putus asa sebelum akhirnya menyadari bahwa ia punya hal lain yang menarik perhatian. Itu adalah kartu mata yang hidup! Tapi bagaimana caranya ia menukar hal tersebut, ia bahkan tak bisa bicara!


“Tidak perlu begitu putus asa. Selama kamu di ‘domain’-ku, aku bisa mendengar apa yang kamu pikirkan. Tapi kartu ... seberapa menariknya itu?”


Jari tangan yang ramping, putih kepucat-pucatan hampir menyentuh saku Evans, sebelum akhirnya berhenti juga.


Ia menarik kembali telapak tangannya, dan bekata. “Ilusi ... sedikit lebih kuat dariku.”


“Aku tidak tertarik,” Alicia berhenti sejenak, untuk memeriksa raut wajah tawanan-nya yang kini semakin putus asa. Lalu ia pun kembali melanjutkan. “Tapi aku bisa memulai skenario-ku dari sini.”


Seringai lembut terpantulkan di mata Evans. Ia baru saja mendapatkan secercah harapan!


Kemudian, entah mengapa api biru muncul di ujung telunjuk Alicia, dan di waktu yang bersamaan juga terciptakan api merah di telapak tangannya. Itu tidak panas. Sebaliknya, memancarkan aura dingin yang hampir ke titik nol derajat!


Itu fenomena yang aneh, tetapi tidak lagi mengejutkan bagi Evans, bagaimanapun dia sudah mengalami banyak hal aneh selama tiba di tempat ini.


Kedua api tersebut menyatu ketika Alicia menekuk jari telunjuknya, seolah memaksakan ‘api biru’ masuk ke dalam ‘api merah’. Secara mengejutkan, setelah itu semua, ‘api biru’ itu memang berpusar di dalam ‘api merah’ seolah memiliki kehidupan tersendiri.


Kelima jari Alicia pun menjadi tajam. Di saat yang bersamaan juga, ini membuat Evans tidak nyaman secara psikologi!


Ada yang janggal di sini!


Tak sempat ia berpikir. Alicia membagi lima bagian api tersebut ke ujung jarinya. Saat itu, ia berpaling, tersenyum lembut sambil menatap Evans, dan berkata. “Kamu benar. Ada yang janggal di sini.”


Evans berteriak secara psikologi. Seolah turun hujan di hari yang tenang, air matanya berjatuhan karena ngeri. Sungguh, melalui kata-kata saja sudah membuat anak ini berantakan.


Pada saat ini, penglihatannya menjadi kabur. Dia tidak lagi ingat apa yang terjadi, hanya menyisakan jejak samar-samar di benaknya ... adapun perasaan jantung seolah diremas oleh telapak tangan yang dingin. Dan yang terakhir, sepatah kalimat dengan senyuman lembut:


“Apa yang terjadi selanjutnya akan di luar batas normal. Pemilik kartu ini mungkin tidak akan menyadarinya sebelum ia bertemu lagi denganmu. Aku hanya berharap dia orang yang bodoh. Ini adalah sebuah ramalan, juga keinginanku.”