Mythica

Mythica
Malam Hari Yang Sunyi



Di Kerajaan Frose, pada malam hari yang sunyi.


Di dalam rumah yang sederhana ada seorang pria muda sedang bersandar dikursi. Pria muda itu bertampang biasa dengan rambut hitam tanpa gaya. Dia memakai pakaian kasual berwarna hitam dan celana pendek yang panjangnya tidak mencapai lutut kaki. Yang membuatnya cukup kedinginan saat berpakaian seperti itu di tengah malam. Kedua kakinya menyilang dan dia bersandar dengan lelah sambil menatap buku yang dipegangnya dan membolak-baliknya.


Buku yang dia baca adalah buku novel yang berjudul The Princess. Buku itu ditulis seorang novelis yang bernama Ramera. Seorang novelis yang cukup terkenal baru-baru ini di Kerajaan Frose. Dan juga salah satu penulis favoritnya. Faktor utama yang membuatnya menjadi salah satu favoritnya adalah karena gaya penulisannya yang baik dan mudah dimengerti, itu yang pertama. Yang ke dua adalah karena novel tersebut mengangkat topik tentang bangsawan, saint, dan juga para dewa.


Ketika dia sedang asyik membaca. Pria muda itu terkejut sejenak. Dia membuka mulutnya dan menutupnya lagi. Membuat suara hembusan napas yang tenang seolah-olah beberapa kata diucapkan dengan bisikan.


“Aku benar-benar tidak menyangka akan ada plot twist setelah semua kejadian antara putri Sophia dengan Allyn. Dia benar-benar seperti aktor profesional yang memerankan perannya dengan baik,” ucapnya dengan sedikit menekan suaranya.


Dia sama sekali tidak ingin dimarahi tetangganya. Itulah sebabnya dia tidak ingin berbicara terlalu keras saat di tengah malam. Karena jika dia meningkatkan suaranya sedikit saja sampai mengganggu tetangganya. Esok harinya dia akan disambut oleh tetangganya yang dalam suasana hati yang buruk. Membayangkan tetangganya datang ke rumahnya dengan muka cemberut dan mulai mengoceh tepat di depan mukanya sekaligus menjelek-jelekannya. Dia merasa tubuhnya gemetar. Maka dari itu dia tidak akan mengambil resiko yang meningkatkan kemungkinan tetangganya marah.


Setelah apa yang terjadi kemarin, siapa yang ingin meningkatkan amarah iblis itu untuk ke dua kalinya coba?


Gumam pria itu dengan sudut mulutnya yang sedikit berkedut. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke jendela dan menatap langit malam yang berawan. Dia tidak melihat bintang yang biasa dia lihat di malam hari. Begitu juga bulan yang biasanya bersinar paling terang kini menghilang tanpa jejak seolah berada di dunia lain yang terasingkan.


Saat Dia menatap langit dalam diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menghela napas dengan lembut. Ketika dia menghembuskan napas dari mulutnya, itu menghasilkan asap putih yang menandakan dinginnya suhu saat itu.


“Dingin!” ucapnya dengan gemetar.


Pria itu menggigil dengan hebat. Tubuhnya gemetar sehingga dia ingin segera menutup jendela yang sejak tadi terbuka. Di saat yang sama, dia juga sangat ingin menyelimuti dirinya dengan selimut dan sebuah penghangat tubuh. Sayangnya dia hanya punya satu selimut dengan satu lilin.


Beberapa detik kemudian, saat dia dalam bentuk kepompong dengan selimut yang memeluknya. Dia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki dari luar kamarnya. Sebuah suara langkah yang tak terdengar jelas, atau katakanlah hampir tak terdengar olehnya. Tetapi perlahan-lahan suara itu semakin jelas seolah mendekatinya.


Siapa itu? Mungkinkah itu paman, atau bibi?


Beberapa saat kemudian, suara langkah itu menghilang seolah berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Merasakan perasaan sunyi yang singkat. Kepompong itu tetap diam tanpa ada niat berbicara sedikitpun.


“Kamu sudah tidur, Viky?” ucap seseorang dari balik pintu.


Pria muda itu, atau katakanlah, Viky, menganggukkan kepalanya dengan lembut. Dia merasa lega karena mengenali suara dibalik pintu kamarnya. Setelah beberapa saat mengumpulkan niat. Dia melepaskan selimutnya bersamaan dengan bukunya dan menaruh di atas ranjang dengan rapi dan kemudian pergi membuka pintu dengan lembut.


Di balik pintu, seorang pria berumur empat puluhan muncul di sudut matanya. Nama pria itu adalah Alan. Pada saat ini, Viky yang sedang melihatnya merasa terkejut dan merasakan perasaan yang aneh dan tak bisa dijelaskan. Kesan yang pertama kali dibenaknya terhadap sosok pamannya adalah seorang pria tampan berpakaian rapi. Tetapi setelah melihat sosoknya yang kini tengah berdiri di depannya. Image yang dia gambarkan telah hancur menjadi partikel kecil dan kemudian menghilang ke kehampaan.


Itu adalah perumpamaan yang dia dapatkan. Sebagaimana penampilan yang bertolak belakang dengan image adalah ‘sangat mengerikan’.


Alan berdiri dengan lemas dan lelah. Dia memakai brazer dengan dasi yang kusuh. Rambut hitamnya acak-acakan seperti sampah yang siap dibuang. Terlebih lagi dia memiliki kerutan diwajahnya yang pucat, seperti mayat hidup yang membutuhkan darah segar sesegera mungkin. Di tambah mata pandanya yang menonjol Itu membuatnya tampak sangat horror!


“Bagaimana penampilanku, mengerikan bukan?” ucapnya dengan nada berat. Pada saat yang sama, seringai muncul di wajah Alan. Tetapi matanya tidak.


Mulut Viky sedikit berkedut tetapi dia berhasil membentuk seringai, meskipun terlihat pahit.


Viky bingung bagaimana dia harus bereaksi. Haruskah dia tertawa dan mengucapkan, “Haha, wajah paman seperti mayat yang keluar dari kuburnya,” dengan sedikit candaan.


Tetapi Viky segera merasakan firasat buruk akan menimpanya jika dia berkata seperti itu. Oleh karena itu, Viky hanya mengangkat sudut mulutnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Haruskah aku menyiapkan air untuk mandi?” ucap Viky masih dengan seringai.


Alan menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, aku akan pergi tidur saja. Aku sudah lelah atas semua hal yang aku alami hari ini.”


Sejenak, suasana menjadi canggung. Tidak ada satupun suara yang keluar diantara mereka berdua. Dan hanya hembusan napas saja yang terdengar jelas. Viky juga merasa bingung dengan pamannya yang tidak lekas pergi dari kamarnya.


“Kau membaca surat kabar pagi tadi?” ucap Alan dengan lemas.


Viky masih merasakan suasana canggung. Tetapi dia merasa sedikit lega melihat pamannya telah berinisiatif berbicara terlebih dahulu.


Karena itu Viky mengangguk dan berkata, “Aku hanya melihat sebagian. Apakah itu berita tentang bunuh diri massal di tempat yang berbeda-beda?"


Raut wajah Alan sedikit berubah. Kemudian dia memegang kepalanya dengan tangan kanannya dan berkata dengan sedih, “Hmm, salahku karena tidak membaca koran pagi tadi.”


Apa maksudnya itu...


Dan mengapa paman bertanya soal berita tadi pagi?


Viky bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan pamannya. Tetapi dia masih tetap tidak mengerti dan hanya memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya, “Maksud paman?”


Alan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, aku hanya berbicara sendiri.”


Kemudian setelah beberapa detik, Alan menguap dan menutupi mulutnya dengan tangannya dan berkata, “Aku akan pergi tidur, tolong matikan lilin yang di ruang makan nanti. Dan kamu, Viky, Jangan begadang. Sungguh, lihatlah diriku ini, tidakkah kau merasa mual melihat wajahku yang tidak tampak baik? ini perlu diingat, meskipun kamu tidak bekerja, tetapi begadang juga mempengaruhi kesehatanmu. Jadi pergilah tidur.” Dia tidak mencoba menyembunyikan fakta bahwa dirinya tidak merasa sehat.


“Ngomong-ngomong aku membeli roti dan aku belum memakannya. Karena murah, teksturnya mungkin agak sedikit kasar tapi setidaknya masih bisa dimakan. Kalau kamu mau, nanti tinggal ambil saja di meja makan.” Alan menghela napas sejenak kemudian meninggalkan Viky dan menghilang dari sudut matanya.


Setelah Alan meninggalkan Viky sendirian. Viky merasa bingung atas pertanyaan pamannya. Meskipun pertanyaannya tidak memiliki maksud yang jelas. Tetapi saat ini pikirannya berada pada bunuh diri massal yang dirangsang oleh ucapan pamannya.


Pada awalnya dia hanya membaca sekilas berita tadi pagi kemudian dia membuang surat kabar itu seolah tidak tertarik untuk melanjutkan. Tetapi setelah pikiran itu terus menganggunya dia merasa ingin mencoba membacanya lagi. Mungkin saja ada maksud tersembunyi dari pertanyaan pamannya!


Setelah berpikir sejenak. Viky mengangguk dan berkata dengan seringai, “Selamat malam, paman, semoga tidur nyenyak.”


Ketika Viky memberi ucapan selamat malam, dia tidak lagi mendengar suara pamannya seolah menghilang bersamaan kehadirannya.


Kemudian Viky tiba-tiba membeku seolah pikirannya dirangsang lagi. Tetapi kali ini dengan topik yang berbeda. Yaitu bahwasannya dia lupa menanyakan beberapa pertanyaan kepada pamannya!


Mengapa aku sering lupa bertanya tentang sesuatu yang terus kusimpan dibenakku. Apakah ini takdir, atau Tuhan berkehendak untuk aku melupakannya...


Hanya untuk sesaat, Viky segera menggelengkan kepalanya untuk menolak pemikirannya. Dia merasa dirinya begitu bodoh karena terlalu banyak berpikir. Apalagi pemikiran itu terkait sosok Tuhan. Karena itu, tubuhnya segera gemetar seketika karena ketakutan, memikirkan bagaimana nasibnya yang akan berakhir menyedihkan akibat terkena hukuman ilahi.


Setelah beberapa menit kemudian, Viky menyadari tidak terjadi apa-apa terhadap tubuhnya. Viky segera menghela napas dengan lega. Akan tetapi, sepertinya tanda-tanda ketakutan dan gemetar masih menyelimutinya.


Viky mencoba tenang dalam waktu lima menit sehingga membuatnya merasa sedikit lapar.


Mengingat roti yang dibicarakan pamannya. Dia meninggalkan ruangan dengan tanda-tanda bahwa dia sedikit lapar.


Saat dia tiba di ruang tengah, Viky menemukan roti yang disebutkan pamannya. Merasa lapar, Viky mengambil roti itu dan duduk dengan canggung. Secara perlahan, dia memakannya sampai habis. Tetapi, raut wajahnya menunjukkan bahwa rasa roti itu jauh dari kata enak.


“Rasanya benar-benar hambar,” ucap Viky dengan kerutan dikeningnya.


Seperti yang disebutkan oleh pamannya. Roti yang dia makan memiliki teksturnya yang benar-benar kasar seolah-olah dia sedang memakan batu. Tetapi, seandainya dia memakannya bersamaan dengan sup, mungkin rasanya akan menjadi lebih lembut atau itu mungkin menjadi kombinasi yang sempurna.


Setelah itu, dia meniup lilin di ruang makan dan pergi mengambil minum. Kemudian dia kembali ke kamarnya dengan perut yang terisi. Tetapi sayangnya Viky masih tidak kenyang sama sekali. Tetapi dia merasa itu sudah cukup untuk mengisi perutnya.


Saat tiba di kamarnya, Viky menyadari bahwa lilin di mejanya masih menyala. Dia terdiam sejenak kemudian meniup lilin tersebut, dan setelah memastikan lilin telah mati. Dia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan menutup matanya.