
Karena saat ini dia juga tidak memiliki uang lebih, dan hanya menyisakan uang bekas belanjaannya. Dia hanya melihat-lihat lalu pergi tanpa membeli apapun.
Viky menjatuhkan bahunya dan menghela napas panjang, dan dia terus mengulang-ulanginya tanpa jeda. Kebiasaan itu terjadi sewaktu dia meninggalkan toko tersebut, seolah dunia indah yang dia tinggali telah jauh meninggalkannya dengan bekas yang tidak bisa hilang.
Jikalau aku tetap tidak mendapatkan pekerjaan, haruskah aku berhutang ke temanku... Ini solusi putus asa, tapi bukan hal yang buruk.
Gumam Viky sambil memegang dagunya..
Kemudian dia mengangguk seolah telah memutuskan tujuan hidupnya untuk hari esok.
Saat dia merasa puas atas munculnya tujuan hidupnya, dan dia sudah berniat pergi. Tiba-tiba sudut matanya bertemu, melihat sekelompok anak laki-laki yang saling kejar-mengejar.
Di sana ada empat anak laki-laki, berseragam sekolah dasar dan berteriak-teriak dengan tatapan penuh semangat. Namun, jelas di antara mereka ada salah satu yang menunjukkan ekspresi tidak senangnya.
Keempat anak itu bernama Theo, Jhon, Harry, dan Evans. Theo adalah anak yang agak eksentrik dan memiliki temperamen seorang pemimpin, tetapi ketika bercanda dia biasanya tak memiliki batasan. Theo sendiri saat ini sedang memimpin, tertawa terbahak-bahak sembari melempar-lempar barang milik Evans, yang membuatnya merasa gelisah, dan takut jika terjadi apa-apa pada barang tersebut. Jhon juga anak yang agak usil, tetapi dia tidak berlebihan seperti Theo. Sedangkan Harry, dia anak yang serius. Seorang kutu buku yang terlalu terobsesi dengan dunianya sendiri. Dan yang terakhir, Evans. Dia yang paling menunjukkan sifat gelisah saat ini. Menunjukkan betapa khawatirnya dia dengan barang tersebut, yakni sebuah arloji pemberian kakak perempuannya.
Sementara Theo sedang bercanda, Jhon juga ikut andil dalam candaan tersebut.
"Lempar ke sini, Theo!" seru Jhon sambil melangkah mundur dengan mengangkat tangannya, dan melambai seolah siap menangkap arloji tersebut seperti seorang penangkap handal.
Theo balas menatap dan mengangguk setelahnya. Kemudian dia mengangkat tangannya dan melempar arloji itu dengan mantap.
Arloji itu melayang di langit dan terhuyung-huyung seolah sedang menari.
Menyipitkan matanya, Jhon mengikuti arah jatuh barang tersebut dengan sungguh-sungguh. Dan kakinya bergerak cepat seolah mengikuti naluri. Dia tidak bermaksud untuk melepaskan barang itu. Bagaimanapun di benaknya dipenuhi oleh keinginan untuk menangkapnya!
Kemudian dia melompat tinggi dan barang itu jatuh tepat sasaran di kedua tangan Jhon.
"Tangkapan yang bagus, Jhon!" seru Theo.
Di sisi lain, Harry yang baru saja selesai membaca, telah menutup bukunya.
Dia terusik oleh tingkah laku mereka dan berkata kesal, "Mengapa kalian tidak bisa diam? Aku tidak ikut-ikutan lho, jikalau terjadi apa-apa sama barang itu."
Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Evans yang raut wajahnya berubah menjadi sangat gelisah dan gelap.
"Barang ini tidak akan jatuh begitu saja dari tanganku!" Teriak Jhon dengan percaya diri, dan semakin mundur langkah demi langkah, lalu melempar balik ke Theo.
Theo juga balas menangkapnya dengan sempurna, dan terus mengulangi hal serupa, lagi dan lagi.
Dua, tiga, lima, hingga tujuh kali lemparan. Akhirnya mereka berhenti dengan wajah pucat seolah nyawa mereka telah diterpa pergi oleh angin.
Kegagalan untuk pertama kalinya telah terjadi di depan mata mereka!
Barang itu gagal ditangkap John dan kini terjatuh dengan sangat keras!
Mereka menjadi sangat panik. Perubahan raut wajah mereka adalah salah satu bukti tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menganga dalam suasana sunyi dan hening.
Membungkuk dan mengambil arloji di tanah. Jhon menyerahkannya kepada Evans setelah membersihkan bagian-bagian kotornya sambil berharap di benaknya, berharap dia akan dimaafkan.
Theo juga mengikuti di samping kanan Jhon dan membungkuk, menutup mata lalu meminta maaf dengan tulus, "Maafkan aku, sungguh! Meskipun aku tidak tahu apakah arlojimu masih tetap berfungsi atau tidak. Tetapi aku akan tetap menyesali perbuatanku."
Jhon melirik ke Theo dengan linglung, tetapi tetap mengikutinya. Menunduk dengan penyesalan yang tulus. "Maafkan aku juga!"
"Tidak perlu," menyaksikan kedua anak itu meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Evans hanya mengangkat sudut mulutnya sembari mengambil arloji tersebut.
Memeriksa keadaan arloji. Raut wajah Evans semakin gelap sedemikian rupa. Dia menjatuhkan bahunya, menghela napas panjang dan berkata, "Sepertinya barang ini rusak."
“Kalian pergi duluan, aku akan mengembalikan ini ke rumahku," lanjut Evans dengan sedih.
Ketiganya tahu kalau barang tersebut adalah pemberian kakak perempuannya, dan ikut merasakan tekanan berat. Bagaimanapun mereka diberitahu sewaktu di perjalanan kemari. Berkata bahwa barang tersebut adalah barang berharga.
Mereka juga menerima fakta tersebut. Namun, mereka tetap bercanda, melempar-lempar arloji seolah tahu tidak akan rusak!
Theo dan Jhon saling bertukar pandang secara bersamaan, menatap Evans dan bertanya dengan takut. “Apa yang terjadi padamu ketika kamu mengembalikan barang ini pada kakakmu, kamu tidak akan kenapa-napa, ‘kan?”
Evans tetap menyembunyikan perasaan aslinya dan hanya tersenyum, “Mungkin, tapi kurasa aku akan dipukuli sejenak.”
Mendengar itu, raut wajah keduanya langsung memucat. Mereka tidak menyangka kakak perempuannya yang baik hati, cantik, dan lugas akan menunjukkan sifat kasarnya ketika barang pemberiannya rusak!
“Oh sial, padahal kamilah yang salah, tapi mengapa kamu yang kena dampaknya. Mari kita pergi ke rumahmu, mengaku bahwa kamilah yang salah dan bersujud meminta kakakmu untuk memaafkan kami!” ucap Theo dengan panik.
Harry mengangkat bahunya, menghela napas singkat dan berkata, "Bukankah sudah kubilang." Dia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan, "Pokoknya kali ini aku tidak ikut-ikutan."
Mendengar kata-katanya. Keduanya mengalihkan pandangannya ke arah Harry, dan menyipitkan matanya.
Di sisi lain, Harry merasakan tatapan mereka dan hanya menghela napas, "Baiklah aku akan ikut."
Dia menyerah dengan begitu mudah!
Merasakan tekanan diantara mereka bertiga. Evans melengkung sudut mulutnya dan berkata, “Oh ayolah, aku hanya bercanda, tidak mungkin aku akan dipukuli, serius, lupakan saja masalah ini. Namun, jika aku harus mengatakannya, aku hanya merasa terpukul, ini merupakan barang berharga yang ingin selalu kujaga. Jadi aku mohon, berikan aku waktu sejenak untuk sendirian.”
"Tapi..." Jhon merasa tidak puas, dan menyela.
Akan tetapi, Harry menghentikannya. Dia menggelengkan kepalanya dan menepuk bahu Jhon. "Sudahlah, biarkan dia sendiri."
Kemudian Harry mengalihkan pandangannya dan mengangguk kepada Evans, lalu berkata, “Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu, sampai jumpa di sekolah.”
Evans balas mengangguk, "Sampai jumpa lagi, Harry .”
Tangan kirinya dimasukkan dalam saku, dan tangan kanannya memegang buku dengan erat. Harry berbalik, meninggalkan mereka bertiga di belakang tanpa melirik sekali pun. Hanya menyisakan jejak dari kehadirannya yang perlahan-lahan semakin jauh.
Setelah beberapa menit kemudian, Theo yang baru saja menyaksikan Harry pergi. Dia berbalik dan menunduk, “Aku sungguh minta maaf, Evans.”
“Tidak masalah, Theo," kata Evans sembari mengalihkan pandangannya ke arah Jhon dan berkata, "Kau juga Jhon, tak perlu merasa bersalah."
Jhon diam sejenak, lalu dia menghela napas panjang seolah menyerah, "Baiklah, jikalau kamu merasa begitu."
Theo mendengarkan mereka berdua. Kemudian dia membuka mulutnya setelah mengetahui suasana menjadi semakin hidup, "Kalau begitu kami duluan. Sampai jumpa di sekolah."
"Oke." Evans mengangguk, memperhatikan mereka dari belakang. Menatap punggung yang semakin menjauh dan jauh.
Beberapa saat yang lalu, dia berhasil menanggapi mereka dengan sikap biasa. Namun, sekarang hanya tersisa jejak topengnya yang terlepas setelah ketiga anak itu meninggalkannya sendiri. Andai kata dia memainkan peran seorang yang ceria, dan sedikit biasa, tetapi menyembunyikan perasaan terdalam mereka. Maka dia sudah memainkan perannya dengan sangat baik.
Dia seperti seorang aktor tanpa sorotan.
Di sisi lain, Viky sedang mengamati mereka dalam diam, dan bergumam.
Anak kecil memang relatif jujur membicarakan apa yang dia rasakan pada sahabatnya, terlebih lagi hubungan mereka cukup baik. Aku yang melihatnya saja sudah merasa mood-ku telah membaik, sekaligus aku juga merasa nostalgia akan masa-masa itu.
Dia melirik sisi kanan-kirinya, dan memperhatikan tidak ada satupun orang yang menatapnya. Tiba-tiba, dia melengkungkan bibirnya!
Dia mulai berjalan ke arah anak itu sembari menutupi wajahnya dengan tangan kanannya, seolah dia sedang menyembunyikan senyuman yang menempel pada wajahnya itu!
Setelah dua, tiga langkah diambil. Dalam waktu yang singkat itu, visual dari wajahnya tiba-tiba bergetar dan perlahan-lahan semakin parah.
Kemudian tiba-tiba getaran tersebut berhenti tanpa sedikitpun pemberitahuan! seolah tidak memiliki waktu yang telah ditentukan. Namun, justru setelah itu wajahnya tidak lagi sama, melainkan telah berubah menyerupai orang asing!
Evans, di sisi lain terdiam, memperhatikan seseorang mendekatinya. Tidak hanya mengerutkan keningnya, dia juga curiga.
Dia pernah diberitahu oleh kakak perempuannya untuk selalu waspada terhadap orang asing, yang tidak pernah dia temui, apalagi tidak mengenalinya. Sehingga pada saat ini, dia sudah mengambil satu langkah mundur, dan mempersiapkan diri untuk lari jika perlu.
Viky juga merasakan perasaan curiga dari Evans, sehingga mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata, “Aku tidak memiliki keluhan jika kamu menganggapku mencurigakan, tapi aku datang tanpa maksud tertentu, oke? bagaimanapun aku melihat kalian berempat sedang dalam kondisi yang tidak begitu nyaman, ‘kan?”
Evans masih tetap dalam keadaan waspada. Matanya menatap tubuh orang itu, dari atas ke bawah. “Apa maksudmu, dan mengapa anak sekolah menengah sepertimu membolos.”
Mendengar itu, Viky hanya tersenyum kecut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tidak menyangka dia dapat menebak bahwa aku anak sekolah menengah, meskipun aku sudah keluar. Namun tetap saja, dia memiliki ketajaman penilaian yang luar biasa.
Evans menunggu selama beberapa menit, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Dan dia menjadi semakin kesal. “Kau tau, orang sepertimu itu selalu mencolok di mataku, terutama ketika kamu dan temanmu berjalan di lalu lintas saat ingin pergi ke sekolah, aku selalu melihatmu berbicara sok asik dengan temanmu seperti seorang badut. Dan aku heran, mengapa kamu sekarang sendirian, apakah kamu telah dicampakkan?”
Evans berbicara dengan sangat yakin seolah mengungkapkan sebuah fakta, bahwa dirinya mengenalinya. Akan tetapi, kebenarannya justru kebalikannya. Yaitu, dia hanya berbicara omong kosong!
Lagi pula mana mungkin anak yang baru saja bertemu dengan orang asing, tiba-tiba si anak tersebut mengaku sering mengamati orang asing itu.
Mengangkat bahunya dengan santai, Viky terkekeh dan menyeringai. “Oke itu cukup lucu, sebagai seorang komedian, tidak! Sebagai seorang ‘stalker’ lebih baik kamu jangan berbicara terus terang pada target yang kamu intai. Ingat, ini adalah saran baik dari seorang target pengintaian, jika suatu saat nanti kamu menjadi stalker berpengalaman.”
Dia mencoba untuk mengikuti omong kosong, tidak. Dia mencoba untuk mengikuti permainan Evans dalam kata-kata dan tindakannya! Dan saat ini, dia sedang memainkan peran sebagai seorang yang diamati Evans.
“Huh, pembicaraan ini sangat konyol, seolah aku berbicara dengan badut. Jadi ada apa, apa yang kau inginkan?” geram Evans sembari memposisikan dirinya bersantai. Jelas, tindakannya itu menunjukkan semakin dia tenang dalam berhadapan dengan Viky.
Menghadapi Tatapan pedas, Viky hanya mengangkat bahu dan berkata, “Entahlah.”
“Huh, bukannya kau ingin sesuatu dariku?” tanya Evans dengan bingung tetapi tegas.
“Bukankah sudah kubilang, aku tidak memiliki maksud tertentu,” ucap Viky dengan tenang dan sedikit melambat.
Mengapa anak ini begitu keras kepala, padahal aku hanya ingin tau bagaimana tanggapan kamu setelah semua kejadian itu.
Gumam Viky sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Buktikan!" bentak Evans.
"Huh!?" sahut Viky dengan bingung.
"Buktikan! Buktikan bahwa kamu tidak memiliki maksud tertentu!" Evans masih merasa kesal, terlebih lagi karena ketidakpuasannya dengan jawaban singkat Viky.
Jelas Viky juga menyadari penyebab peningkatan emosi Evans dalam jumlah besar adalah karenanya.
Akan tetapi, karena dia juga tidak terbiasa menenangkan perasaan seseorang. Dia hanya tersenyum dan berkata santai seperti orang yang tidak berdosa. “Ngomong-ngomong apa yang akan kau lakukan setelah ini, tidak. Aku tak perlu bertanya, 'kan? Lagipula kamu sudah pasti akan membolos.”
“Jangan mengalihkan topik! Dan jangan sok tahu! Justru setelah ini aku akan pergi ke rumah dan berbicara dengan kakakku bahwa kau lah yang merusaknya. Kemudian, aku akan pergi ke sekolah dengan perasaan puas setelahnya!” teriak Evans dengan keras, perlahan tapi pasti semakin pelan nada suaranya.
Benarkah itu, bukankah kau merasa marah pada mereka sehingga kamu memutuskan untuk sendirian supaya kamu dapat mencegah amarahmu mengambil alih?
Gumamnya santai, tetapi raut wajahnya berubah sedikit pucat setelah mendengarkan ucapan Evans bahwa; dia akan memberitahu kakak perempuannya.
Akan tetapi, Viky mencoba tenang dan membuka mulutnya dengan percaya diri. “Kau tau, aku sebenarnya memiliki sebuah trik sulap, kau ingin melihatnya?”
Pada saat ini, Evans menjadi lebih tenang setelah menghela napas panjang, dan memutuskan untuk tidak mengambil kata-kata Viky ke dalam kepalanya, supaya tak terlalu memikirkannya.
“Trik sulap? omong kosong apa lagi yang kau bicarakan.” Evans menatapnya dengan aneh, tetapi sedikit penasaran dengan ucapannya. “Coba perlihatkan.”
“Dengan senang hati,” balas Viky sambil tersenyum, meletakkan tangan kanannya di dada, menekannya, dan membungkuk sopan.
Setelah membungkuk, dia mengangkat tubuhnya lagi dan mulai merogoh saku di samping kanannya. Lalu dia menarik sebuah kartu hitam dengan motif garis melengkung di setiap ujungnya, seolah membentuk sebuah bingkai. Yang dengan kata lain berbeda dengan kartu yang baru saja dia ambil, yang di mana kartu itu hanya berwarna hitam pekat tanpa sedikitpun variasi!
Kemudian, tangannya bergerak lagi, memutar kartu itu ke sisi sebaliknya, dan memperlihatkan gambar sebuah mata yang tertutup rapat.
Evans merasa bingung dengan apa yang dilakukan Viky, tetapi rasa penasaran terus mengikutinya, sehingga membuatnya terdiam dan memperhatikan gerakan-gerakan tersebut.
Sudut mulut Viky melengkung saat melihat reaksi bingung Evans. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata, dia memutar tangannya lagi, mengembalikan kartu itu ke posisi awalnya. Setelah itu, dia melakukan hal serupa, memutarnya lagi dan lagi.
Tiba-tiba sesuatu mengejutkan telah terjadi, dan itu adalah sebuah keajaiban!
Gambar sebuah mata tertutup kini terbuka, menunjukkan garis pupilnya dan melirik-lirik sekeliling seolah-olah mata itu hidup!
Evans menganga seolah melihat suatu fenomena mistis dengan mata kepalanya sendiri!
“Ga-gambar itu bergerak! Tapi ba-bagaimana bisa, itu hanyalah gambar mata yang tertutup sebelumnya!” Dia tidak beralih ke arah lain. Tetapi sebaliknya, dia menatap wajah Viky dan bertanya bingung, “Apa yang kau lakukan!?”
Mendengar itu, Viky hanya terdiam cukup lama seolah tidak berniat menjawabnya.
Pada saat ini, karena dia merasa Viky tidak berinisiatif menjawab pertanyaannya. Evans mulai merasa tidak sabar, sehingga berbisik dengan penuh tanya, “A-Apa kamu seorang pengguna kemampu-,”
Evans mencoba melanjutkan, tetapi di saat yang bersamaan, Viky sudah meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, seolah memberitahunya untuk berhenti berspekulasi.
Kemudian Viky tersenyum dan berkata, “Kau bisa menganggapnya begitu."
Jawaban itu kurang lebih dapat dipahami Evans, meskipun abu-abu dan masih mencurigakan. Akan tetapi, dia sudah mendapatkan inti dari jawaban tersebut. Itu berarti jawabannya adalah benar! Orang yang di depannya adalah si pengguna kemampuan!
“Kamu telah diberkati Tuhan!” Evans merasa bersemangat. Kepribadiannya yang dingin dan kasar yang baru saja dia tampilkan telah menghilang, seolah semua itu hanyalah kebohongan semata.
Sebutan 'Diberkati Tuhan' sendiri adalah pemberian Evans terhadap orang itu, yang muncul secara alami ke dalam kepalanya.
Tetapi, setelah beberapa saat kemudian. Dia tiba-tiba merenung. "Andai saja aku juga memilikinya."
Aku akan mengembalikan barang ini ke bentuk semula.
Gumamnya lesu sembari menatap sedih arloji itu, di mana sebelum arloji tersebut rusak.
Mendapati suasana hatinya semakin buruk, Viky mengerutkan keningnya, dan bibirnya sedikit berkedut seolah membentuk senyum yang dipaksakan. “Jangan terlalu bersedih, Tuhan selalu memberkati manusia. Aku, kamu, serta orang-orang di kerajaan ini. Di mata-Nya, semua itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah keseluruhan yang diberkati-Nya.”
Kalimat ini... jelas terlalu berlebih-lebihan. Aku berharap Tuhan tidak akan menurunkan hukuman ilahi-Nya kepadaku nanti.
Gumam Viky dengan takut. Di saat yang sama, dia juga bergetar hebat meskipun tak nampak oleh mata.
Di sisi lain, Evans juga memiliki pemikiran tertentu setelah mendengar penjelasan tersebut.
Kalimat itu... apakah itu berlaku untukku? Apakah dia memberitahuku bahwa suatu saat nanti aku akan memiliki kemampuan juga?
Gumam Evans. Kemudian dia terdiam sejenak, merasa kalimat itu telah menghangatkan hatinya.
Bertepuk tangan, alih-alih membuat suasana semakin suram. Viky berkata, “Nah, lihatlah isi saku bajumu itu.”
Pada saat ini, Evans bingung. Namun, dia tetap menurutinya. Dia melihat saku bajunya dan menunjukkan ekspresi heran yang tidak biasa. Bagaimanapun itu hanya kosong, dia tak melihat apapun dalam sakunya tersebut!
Evans mengalihkan pandangannya ke arah Viky dan bertanya, “Aku tidak melihat apapun, itu kosong.”
Viky hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata setelah mendengar itu. Kemudian, tiba-tiba dia menekuk jarinya, yang memegang kartu tersebut. Oleh karena itu, kartu tersebut juga terhuyung-huyung, dan jatuh ke telapak tangannya dengan pelan dan jatuh telentang. Beberapa detik kemudian, tangannya mengepal erat, mengepal kartu tersebut seperti kafas yang mudah di kepal.
Tiba-tiba dia mendengarkan suara, suara jentikan jari dari tangan kirinya. Berdengung dalam telinga. Sementara itu, di saat yang bersamaan, Viky membuka telapak tangannya sehingga terbuka lebar.
Di sana, Evans terkejut atas hilangnya kartu tersebut di telapak tangan Viky. Dan selain tidak menemukan kartu itu yang seolah-olah telah menghilang keberadaannya. Di saat yang bersamaan, Evans juga merasakan sesuatu di saku bajunya!
Viky tiba-tiba menyeringai, “Itu untukmu. Aku memberimu kartu itu, anggap itu oleh-oleh dariku. Dan jika berkenan, tolong bawa kartu itu terus kemanapun kamu pergi."
Dia berhenti sejenak dan mengalihkan pandangannya ke arah arloji Evans yang rusak. "Nah, bisakah kamu pinjamkan aku benda yang rusak itu, sebentar saja.”
Evans merasa linglung untuk sesaat, sehingga tidak mendengar apapun yang diucapkan Viky saat itu. Sebaliknya perasaan terkejut terus menyelimutinya seperti pelukan sang ibu.
Setelah beberapa menit kemudian, dia menggelengkan kepalanya. Dia telah sadar belum lama ini, dan mengingat apa yang dikatakan Viky.
Untuk sesaat dia sedikit ragu-ragu untuk menyerahkan barang tersebut. Akan tetapi dia tetap memberikannya. Lagi pula menurutnya juga itu sudah tidak berguna.
“Terima kasih,” ucap Viky sembari mengambil benda itu dan menaruh di telapak tangan kanannya.
Setelah itu, Viky langsung menutupnya, menggengamnya dengan tangan kiri.
Tidak lebih dari tiga detik, Viky sudah membuka tangannya lagi dan berkata, “Ini sudah selesai,”
Viky menyerahkan benda itu pada Evans, membungkuk sopan dan berbalik.
Semoga kita tidak bertemu lagi, S T A L K E R.
Gumamnya lembut bersamaan dengan perubahan wajahnya yang tengah hilang. Bergetar dalam bayangan ilusi, dia telah kembali ke wajah bertampang biasanya yang sedikit menyebalkan.