
*Note : Nah, aku pikir setelah menyelesaikan Bab-3 kalian semua pasti memiliki perasaan, “Ini mah pemborosan kata!” baik, kenapa begitu? Karena aku juga merasakan hal yang sama.
Aku terus bertanya-tanya, “Mengapa kalimat yang ku tulis ini begitu jelek dan menjengkelkan!?”
Oleh karena itu, aku sedikit merubahnya di Bab-4 ini!
Aku sendiri tidak tahu seberapa jelek dan bagusnya kalimat yang ku tulis, jadi tentunya aku perlu pendapat subjektif dari seorang pembaca. Karena itu, aku ingin kalian berkomentar apapun tentang kalimat dan tata bahasa yang ku pakai ini.
***
Setelah berpikir dalam-dalam, Viky telah mendapatkan jawaban atas pertanyaan di benaknya. Dia menyadari pertanyaan tersebut tidak memiliki maksud tersembunyi dan sejenisnya. Dengan kata lain itu hanya kesalahpahaman.
Dia merasa malu karena terlalu cepat menyimpulkan pertanyaan pamannya sebagai salah satu pertanyaan yang memiliki maksud tersembunyi!
Ini konyol, ternyata semua itu hanya kesalahpahaman yang aku buat sendiri.
Viky beralih pandang ke arah cermin lalu menemukan wajahnya telah memerah cerah.
Dia langsung merasa bahwa wajahnya cenderung terlihat bodoh dan konyol, seperti yang kini dia lihat di pantulan cermin; kerutan wajah yang relatif jelas, sudut mulut yang melengkung pahit, dan alis yang selalu berkedut setiap detiknya.
Hanya dengan melihat itu, Viky langsung memiliki halusinasi bahwa wajahnya menyerupai sosok badut yang pernah dia lihat di sirkus.
Bukankah aku sendiri adalah definisi dari badut itu sendiri? Ini konyol, tetapi mengapa aku merasa bangga. Oke baiklah, mungkin saja tanpa aku sadari aku telah melekat pada persona badut.
Dia menghela napas singkat lalu mempermainkan raut wajahnya sedikit.
Setelah merasa penampilannya sudah tampak membaik, Viky meninggalkan kamarnya.
Tidak butuh waktu lama setelah dia berjalan dan tiba di ruang tamu. Ketika dia melihat sofa, dia bertemu dengan Ellyn yang sedang duduk dan membaca sebuah buku, sebuah buku resep makanan.
Menyadari dan melihat Viky dari sudut matanya, Ellyn segera menutup buku tersebut dan mengangguk sopan.
Viky membungkuk sopan setelahnya, kemudian dia meninggalkan rumah.
Di luar rumah, angin sepoi-sepoi menerpa singkat seolah - olah sedang menyapa dan sudah lama menanti kedatangannya.
Viky langsung merasa dingin, sehingga dia dengan cepat memeluk erat tubuhnya.
Ini lebih dingin dari yang kukira... Apa lebih baik aku pakai jaket saja?
Dia merasa ragu-ragu setelah menyadari suhu cuaca lebih rendah dari yang dia bayangkan. Akan tetapi, karena dia malas memutar balik, pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap memakai pakaian berlengan pendek.
Menghembuskan napas dan merasakan uap putih keabu-abuan keluar dari mulutnya. Viky memutuskan untuk segera pergi, lalu dengan cepat pulang dan menghangatkan diri di dalam kamarnya.
Setidaknya, itulah tujuannya
Akan tetapi, setelah dia mengingat pertanyaan Fiani yang terus membuatnya penasaran. Dia telah memutuskan untuk singgah ke rumah Nifza setelah pulang berbelanja.
***
Di pasar, penduduk di sekitar sini hampir tidak ada perubahan dari sikap dan penampilan biasa mereka. Mereka saling berbicara satu sama lain tanpa jeda sehinga suasana di sekitar selalu terlihat ramai. Pembicaraan mereka terbatas pada rumor di sekitar tempat itu.
Karena suasana nyaman yang relatif biasa, Viky juga merasa santai dan rileks sehingga dia menghela napas lega.
Tetapi karena berita yang dia baca selama beberapa menit yang lalu, Viky memutuskan untuk jauh lebih berhati-hati dalam memperhatikan sekelilingnya. Dia takut jika sesuatu terjadi, tetapi dia belum bersiap untuk melarikan diri!
Lagipula tanpa merasa sedikit pun rileks, biasanya juga dia lebih sensitif dari yang dia bayangkan. Seperti secara refleks selalu memperhatikan sekelilingnya sehingga tanpa sadar dia telah memperhatikan ada suatu hal yang aneh.
Menghela napas sejenak, dia mulai berjalan-jalan sambil merogoh saku sebelah kirinya, kemudian secara perlahan mengeluarkan barang di dalamnya.
Barang itu berupa kertas yang penuh tulisan tangan cantik dalam Bahasa Frose yang relatif mudah dibaca. Dan itu adalah daftar catatan yang ditulis Ellyn sebelum Viky mandi lalu bersiap di kamar.
Beralih pandang ke arah kertas yang di pegang tangan kirinya. Setelah itu dia membaca sejenak dan menghafal isi daftar catatan dalam waktu kurang lebih sepuluh menit.
Setelah menghafal isi dari daftar catatan, dia mengangguk puas dan bergumam.
Kentang, wortel, tomat, lalu berbagai sayuran, dan roti...
Saat mengulang kata roti di benaknya, Viky tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening.
Ini lagi... aku sudah muak dengan roti!
Dia sudah kesal dengan kata roti untuk ke tiga, tidak, ini sudah kehitung sepuluh kali lebih jika pengulangan saat menghafal juga termasuk.
Setelah itu, dia menghembuskan napas singkat dan pergi menuju ke kedai langganannya. Tetapi, karena letak kedai tersebut berada jauh dari sini. Viky memutuskan untuk berjalan-jalan santai sambil membiasakan diri dengan lingkungan sekitar setelah sekian lama berdiam diri di kamar.
Setelah beberapa menit berjalan, dia bertemu seseorang dengan wajah yang terlihat familiar!
Itu adalah seorang pria biasa dengan rambut hitam pendek. Tatapannya kosong dan tampak tajam seolah memiliki pesona sulit didekati. Dan orang itu ialah orang yang ingin dia temui!
Nifza, apa yang dia lakukan di sini... Ini sedikit tidak biasa dia berjalan-jalan di pasar. Lagipula bukannya dia biasanya pergi ke sekolah tepat pada pukul enam. Jika tebakanku benar, aku berjalan selama kurang lebih tiga puluh menit. Sedangkan aku pergi dari rumah itu pukul setengah tujuh. Lalu mengapa dia belum berangkat? Aku bertanya-tanya, mungkinkah dia membolos?
Viky memiliki keinginan untuk langsung menyapa dan menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya.
Tetapi tiba-tiba dia berhenti setelah memperhatikan orang itu berjalan ke sudut dan menghilang!
Keinginan untuk menyapa temannya seketika hancur seolah-olah telah kehilangan minatnya.
Tidak ada rasa penasaran, dan lupakan semua apa yang dilihat. Hanya itu yang ada di benaknya.
Setelah lima menit berjalan, Viky akhirnya tiba di kedai langganannya.
Kedai itu entah bagaimana sepi sekali. Hanya beberapa orang saja yang lewat dan membeli. Tidak seperti kedai-kedai yang dia lewati, yang di mana selalu ramai dengan orang-orang. Tetapi bagi Viky, kedai langganannya hanya sama persis seperti suasana biasa yang terakhir kali dia lihat. Dengan kata lain, tidak ada perubahan sedikit pun.
Melihat sosok pria tampan berumur dua puluhan, yang tergolong muda sedang berdiri sebagai produsen di depannya. Viky mendekat perlahan kemudian mengangguk sopan dan berkata, “Tuan Richard, senang melihatmu begitu bersemangat.”
“Apakah aku terlihat seperti itu?” tanya Richard sambil memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya.
“Ya, setidaknya di mataku, Anda terlihat begitu.” Viky mengangguk bersemangat.
“Kalau begitu, senang mendengarnya.” Richard juga tersenyum setelah mendengar kalimat itu.
Setelah memperhatikan reaksi Richard yang cukup baik, Viky mengangguk puas.
Kemudian dia menyerahkan daftar catatan itu kepada Richard dan berkata, “Aku ingin membeli semua bahan-bahan yang tercatat di sini. Dan juga di catatan itu tertulis seberapa banyak barang yang ingin dibeli.”
Setelah Viky menyerahkan catatan itu, dia melanjutkan dengan merogoh sakunya untuk mengambil uang.
Tiba-tiba, dia mengerutkan keningnya dan bergumam.
Sejujurnya adakah kegunaan aku menghafal daftar isi catatan tersebut jika catatan itu berakhir di tangan Tuan Richard?
Ini adalah kedua, tidak, ini adalah ketiga kalinya dia melakukan suatu hal yang bodoh tanpa dia sadari!
Menyadari hafalannya sama sekali tak berguna. Viky menghela napas singkat dan dia mencoba menerima fakta tersebut secara perlahan. Akan tetapi, pikirannya seolah terkunci dalam lingkaran s*tan.
Benar, dia masih tidak menyangka hal itu akan terjadi!
Setelah tiga menit berlalu, dia akhirnya pasrah dan menerima fakta dengan setengah hati bahwa dia telah membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna, yaitu dengan menghafal semua isi catatan.
Karena suasana hatinya saat ini sedang tidak baik, Viky memutuskan untuk mulai menghitung uang saku sebagai pengalihan suasananya.
Setelah mengkonfirmasi uang yang dibawanya berjumlah tiga puluh dua uang saku. Viky menyerahkan dua puluh untuk membayar lalu menerima barang-barang tersebut dengan tangan kanannya.
Saat Viky hendak pergi, dia tiba-tiba diberhentikan oleh suara tetangga di sebelahnya.
Menengok ke samping kanannya, dia menemukan dua wanita dewasa yang saling bertukar kata dengan penuh emosi.
"Hey, kau dengar berita hari ini? Kulihat di surat kabar sepertinya kemarin malam juga ada yang mengalami nasib seperti orang-orang itu," ucap seorang wanita relatif biasa dengan lekukan tubuh yang bagus.
Wanita itu adalah Elena.
Wanita di sisi lain menggelengkan kepalanya dengan lembut dan berkata, "Aku baru saja mendengarnya darimu. Jujur saja, sebenarnya sampai kapan kasus ini terus berlanjut."
Dan wanita itu adalah Deshia.
"Lupakan, ngomong-ngomong bagaimana menurutmu, apakah menurutmu kematian itu disengaja?" Deshia bertanya keras, yang menunjukkan sifat dasar dari kepribadiannya.
Menggelengkan kepalanya, Elena berkata lembut, "Aku tidak yakin. Tetapi untuk sementara ini, aku menyimpulkan bahwa kematian itu tidak disengaja, dengan kata lain ada sesuatu yang mempengaruhinya."
"Sesuatu... Semacam?" Deshia jelas semakin bingung dengan perkataan Elena yang abu-abu.
"Sudah kubilang, bukan? Aku tidak tahu." Elena menatap kosong ke wajah temannya.
Karena kesal, Elena tiba-tiba mengingat sesuatu dan mengganti topik, "Ah, ngomong-ngomong, kamu tahu tidak? Kemarin malam aku mengalami kejadian aneh! Dan aku yakin aku tidak berhalusinasi"
Dia berhenti sejenak dan melanjutkan, "Itu terjadi saat aku ingin pulang ke rumah. Ya, aku ingat dengan jelas bagaimana aku pulang ke rumah, tetapi tiba-tiba suasana menjadi hening dan sepi seolah aku berada di dimensi lain!"
Tapi memang benar! Aku merasa berada di dunia yang berbeda. Dari latar tempat dan waktu juga sudah terlihat sangat jelas berbeda.
"Saat itu aku benar-benar takut, panik, dan gelisah. Aku takut bagaimana nasibku yang terjebak di jalanan sepi, tidak ada satupun orang yang lewat, bahkan aku tidak melihat satupun rumah di sana! yang aku lihat hanya mansion besar dan luas tetapi sepintas bersuasana gelap seolah-olah berhantu. Karena aku juga takut, tentunya aku mana berani masuk ke dalam. Tetapi aku ingat jelas hanya perasaan menyeramkan yang tersisa di benakku saat melihat itu dari kejauhan.... Selain itu aku tidak benar-benar mengingat detail kecilnya." Elena menghela napas singkat dan melanjutkan lagi.
"Dan yang paling mengejutkan adalah itu bukan bagian utama!"
"Di saat aku mengalihkan pandanganku ke mansion. Untuk sesaat saja, aku seperti melihat sosok gadis berjalan lembut seolah sedang menari, mencari pasangannya, dan ia memakai gaun putih bersih seperti bersinar di bawah cahaya bulan!"
"Aku percaya dengan instuisi-ku bahwa gadis itu cantik, meskipun hanya punggungnya saja yang terlihat di mataku." Elena memang berkata jujur, lagipula mana bisa dia berbohong setelah mengalami hal itu sendiri.
Hanya saja perasaan saat aku melihatnya berjalan santai di mansion bukanlah rasa kagum terhadap kecantikannya. Melainkan rasa takut yang membuat sekujur tubuhku menggigil.
Deshia terkejut mendengar penjelasan Elena yang cukup panjang, sehingga dia seketika bertanya tanpa pikir panjang, "Elena, Kau barusan berkata wanita cantik itu memakai gaun putih bersih, 'kan? Aku juga pernah melihat wanita yang di sekujur tubuhnya putih mulus dan terawat seolah wanita itu adalah seorang Saint!"
"Hah? Kau juga melihatnya? Itu keren!" Elena jelas bereaksi secara berlebihan.
Tetapi bagi Viky yang relatif sensitif, cukup mudah memperhatikan ekspresi Elena yang mudah ditebak sebagai salah satu kebohongan semata.
Meskipun aku sangat yakin wanita yang kulihat itu bukanlah Saint.
Gumam Elena sambil melirik ke sampingnya, di mana saat Viky sedang memperhatikannya.
*Note: Aku menarik kata-kataku untuk memulai konflik di chapter ini. Mungkin next ch adalah awalannya.