Mythica

Mythica
Rumor yang Menjadi Kenyataan



Pada saat ini, Viky kembali ke tempat toko buku untuk mengambil keranjang yang berisi bahan-bahan yang sudah dibelinya. Setelah itu, dia pergi tanpa memikirkan apapun selain ketakutannya terhadap hukuman ilahi, sebuah hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya.


Dia terus mengulang dan mengulanginya lagi, seolah pemikiran negatif itu sudah melekat erat pada otaknya.


Dia takut, cemas, dan segala emosi negatif menyelimutinya secara berlebihan, sehingga tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar dalam kegilaan.


“Aku sudah keterlaluan, mengucapkan kebohongan seperti itu...” bibirnya sedikit melengkung, tidak dengan manis, tetapi sebaliknya.


Padahal aku bukanlah seorang nabi, tetapi aku mengatakan seolah aku tahu itu akan terjadi di masa depan... aku bahkan tidak tahu apakah dia suatu saat nanti akan mendapatkan berkah dari Tuhan. Ini sedikit berlebihan, jelas.


Dia bergumam dengan gemetar karena rasa takut yang berlebihan.


Saat dia meninggalkan tempat itu, dia mengalihkan pandangannya ke sisi kirinya. Tiba-tiba dia berhenti, seolah sesuatu telah menghentikan niatnya.


Dia terdiam dan menatap sebuah kaca di sisi kirinya. Di sana, dia melihat sesosok bayangan seorang remaja di pantulan kaca yang samar-samar. Bayangan tersebut sangat mirip dengan dirinya. Tetapi, dia merasa ada sesuatu yang aneh.


Dan itu memang benar.


Dia menemukan sesuatu yang berbeda antara ‘dirinya’ dengan ‘dirinya’ di pantulan kaca!


Yakni bayangan ‘dirinya’ yang berada di pantulan kaca tidak memiliki wajah!


Sebelum dia berkedip untuk memeriksa apakah dia terkena halusinasi. Tiba-tiba visual dari bayangan tersebut bergetar, dan sebuah coretan kuas muncul di wajahnya!


Coretan kuas tersebut juga sama bergetar, tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi seolah itu sebuah bentuk pertunjukkan untuk memperindah suasana. Akan tetapi, dia tidak merasa terhibur sedikit pun.


Bagaimanapun, kini wajahnya hanya menunjukkan warna hitam yang bergetar-getar tanpa sedikit pun jeda yang di tampilkan.


Melihat bagaimana posisi dan munculnya coretan tersebut, Viky juga samar-samar menebak, bahwa itu ditujukan untuk menggantikan wajahnya yang tidak tampak.


Dan di sana, dia berdiri dalam diam.


Di benaknya, dia sangat ingin lari, menutup mata dan berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak melihat apapun.


Tetapi sebelum itu, bayangan tersebut mulai bergetar lagi. Menunjukkan perubahan pada coretan hitam, yang di mana coretan kuas berwarna putih muncul dari sebuah titik kecil dan dengan sekilas membentuk lengkungan, menyerupai wajah seseorang yang sedang tersenyum.


*


Evans masih merasa linglung akibat keterkejutan atas keajaiban tersebut, sehingga dia hanya bisa membuka-tutup mulutnya, tetapi tidak ada satupun kata yang dilontarkan.


Beberapa saat kemudian, dia tidak bisa menahan diri sehingga berbicara dengan terbata-bata. “Aku mendapatkan hadiah dari orang itu, yaitu sebuah kartu yang menggambarkan sosok mata, yang mungkin... memiliki kesadaran.” Evans tiba-tiba terdiam, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arloji saku miliknya. “Juga, aku mendapatkan arloji-ku kembali.”


Mengecek kondisi arloji tersebut dalam diam. Tiba-tiba, dia membuka matanya dengan lebar, seolah mendapati dirinya berada di alam mimpi, di mana keajaiban mungkin saja terjadi. Bagaimanapun pada saat ini, raut wajahnya telah berubah secara signifikan!


Lagi pula arloji tersebut tiba-tiba bergerak, berfungsi tanpa sepengetahuannya! Bagaimana dia tidak terkejut, ini sudah yang ke tiga kalinya dia mendapati keajaiban di depan mata kepalanya!


Mengapa, dan bagaimana bisa? Dia mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri dengan penuh tanda tanya.


Tetapi tidak butuh waktu lama semenjak dia berpikir, dia segera menemukan jawaban atas pertanyaannya!


Semua ini karena si pengguna kemampuan itu!


Selain memberinya sebuah kartu, dia juga memperbaiki arloji miliknya!


Dia merasa senang sekaligus takut, tetapi rasa senang lebih condong di dalam dirinya.


“Aku harus pulang dan mengembalikan ini ke rumah.” Evans mengingat niatnya, “Lebih baik aku menyerahkannya ke Kak Aulia, dan jujur kepadanya bahwa arloji ini rusak karena kecerobohanku. Ini sedikit lebih baik dari pada aku berbohong dan menyesal setelahnya.”


Haruskah aku memberitahu juga bahwa arloji ini diperbaiki oleh orang asing yang baru saja lewat, tapi apakah kakak akan percaya perkataanku... aku akan merasa sakit hati jika dia menganggapku mengatakan omong kosong.


Kepribadiannya dengan mudah berubah-ubah seolah dia sedang bermain dan mempermainkannya!


Evans kemudian mengangguk, menyetujui untuk berbicara jujur kepada kakaknya atas semua kejadian yang dia alami.


Setelah beberapa menit kemudian, dia tiba di depan perumahan umum yang biasa dilewatinya. Akan tetapi, dia merasa tempat itu sepi sekali. Yang biasanya ramai dan penuh orang di pagi hari, tetapi kini hanya ada dirinya yang bertepi sendirian dengan penuh heran.


Kemana kerumunan yang biasanya berisik itu.


Dia bertanya-tanya sembari mengalihkan pandangannya ke sisi kanan dan kirinya dengan heran, tetapi tidak menemukan apapun. Seolah kerumunan tadi pagi sebatas ilusi.


Berjalan dan meninggalkan jejak kakinya selangkah demi selangkah dengan perlahan, dia mulai memperhatikan ada sesuatu yang aneh terjadi di tempat ini.


Pada saat itu dia berhenti.


Burung-burung di langit juga aku tidak melihatnya... ini terlalu sunyi dan hening untuk sebuah anomali.


*Wushh, tiba-tiba angin menerpa dirinya dengan sangat kuat sehingga rambutnya terbawa ke belakang. Evans menutup wajahnya dengan tangan kanannya yang memegang arloji, matanya juga ikut tertutup saat itu. Setelah beberapa saat, dia menemukan tubuhnya mengigil dalam kedinginan. Seolah dirinya berada dalam suhu rendah, dia memeluk tubuhnya erat-erat dalam keadaan mata tertutup rapat.


Sesaat setelah itu, dia membuka matanya. Dia menganga tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hanya menyisakan keterkejutannya dari raut wajah yang ditampilkannya. Lagi pula, dia terkejut sampai-sampai tak bisa berkata-kata. Bagaimana tidak!? Di depan matanya, perubahan latar tempat dan waktu telah terjadi tanpa tanda-tanda pemberitahuan!


Langit menjadi berwarna sangat gelap, menandakan bahwa itu adalah malam hari. Tempat itu langsung menjadi tempat asing baginya. Perumahan yang dia lihat sekilas, jembatan kokoh yang dia lihat dari kejauhan, papan kafe dan semacamnya telah menghilang, digantikan sebuah ladang kosong tanpa satu pun penghuninya.


“I-ini...” Evans langsung panik sehingga dia mundur selangkah demi selangkah.


Akan tetapi, meskipun dia melangkah mundur terus menerus, dia tidak merasa semakin jauh dari tempat itu. Sekilas apa yang dia lihat seolah terulang kembali di pikirannya.


Dia semakin panik sehingga memutar balik kepalanya.


Tiba-tiba dia berhenti dalam diam. Alih-alih gemetar karena ketakutan, Evans terdiam membeku, menatap sebuah bangunan tinggi yang menyeramkan dan mengintimidasi dirinya,


Dia melihat sebuah mansion!


Dalam suasana menyeramkan, gerbang mansion terbuka dan angin kuat tiba-tiba menyerang tubuhnya. Evans segera menutup wajahnya lagi, tetapi tidak kuat menahan lebih lama sehingga tubuhnya mundur dan terjatuh dengan sangat menyedihkan.


Jika dia berada dalam keadaan biasa, dia harusnya malu. Namun, di waktu dan tempat yang aneh ini, urat malunya seolah-olah terputus.


Evans memaksakan dirinya untuk bangun meskipun kakinya bergetar.


“Seseorang menyuruhku untuk masuk ke mansion?” menemukan anomali itu, dia bertanya-tanya sembari berjalan dengan kakinya yang gemetar.


*Kepak, kepakan sayap burung bergema di telinganya setelah dia melewati batas antara sisi lain gerbang. Dia mengalihkan pandangannya ke suara kepakan itu, tetapi tidak menemukan satu pun burung yang terlihat di matanya.


Dia langsung merasa takut, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah!


Pada saat ini, setelah dia mengambil langkah. Tatapannya teralihkan dengan begitu mudah, menatap sebuah jendela mansion yang kosong seolah ditarik oleh perasaan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Tiba-tiba sosok gadis cantik berjalan sekilas, dia memakai gaun berwarna putih dan tampak lembut meski tak menyentuhnya. Dia berjalan dengan sangat anggun dan lembut, tetapi terasa menyedihkan. Seolah dia menunggu seseorang untuk mengakhiri hidupnya.


“Siapa dia...” Evans bertanya, tidak sekalipun mengharapkan jawaban.


Akan tetapi, sebelum dia menyatakan itu.


Tiba-tiba, dia merasa menggigil. Di saat yang bersamaan hembusan napas terdengar sangat dekat seolah bibir seseorang gadis berada di samping telinga kanannya. ‘Dia’ berkata lembut dengan sedikit menekannya. “Alicia.”