Mythica

Mythica
Alicia



Tanpa ragu, Evans segera menoleh ke sisi kanannya.


Di luar gerbang, raut wajahnya menunjukkan betapa dia bingung dan heran atas anomali tersebut. Bagaimana tidak?! dia baru saja mendapati dirinya mendengar sepatah kata dari seorang gadis, yakni menyebutkan “Alicia”. Tetapi sekali dia menoleh untuk mengkonfirmasi sosok tersebut, dia malah tidak menemukan apa pun!


Melalui anomali tersebut. Jangankan bingung, dia bahkan ragu apakah dirinya mengidap penyakit Skizofrenia!


“Alicia...” tanpa pikir panjang, Evans sudah merasakan bibirnya telah sedikit berkedut.


Setelah itu tatapannya tiba-tiba menjadi kosong. Adapun mulutnya, itu bergetar dan berulang kali mengucapkan. “Alicia, Alicia, Alicia.”


Dia seperti sedang dikendalikan sesuatu, dan membentuk pribadi baru yang terobsesi dengan nama tersebut!


Dengan bibirnya yang bergerak naik-turun. Tiba-tiba getaran tersebut berhenti dengan sendirinya!


Alhasil kesadarannya telah kembali dan dia merasa linglung untuk beberapa saat. Apa yang baru saja terjadi? Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan itu.


Setelah kesadarannya berangsur-angsur pulih. Dia menoleh sisi kanan dan kirinya dengan mata kuning kecoklatannya yang mengecil seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang.


Mulutnya gemetar dan bergumam.


Sensasi apa itu barusan?! Aku seperti dikendalikan seseorang dari luar.


Di saat dia bergumam, ia secara bersamaan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


Dia mencoba mengkonfirmasi keberadaan gadis tersebut. Akan tetapi, tampaknya jendela itu hanya menampilkan dinding putih dari dalam, dan dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Dia juga tidak menemukan gadis itu secara sekilas berjalan lagi.


Untuk sesaat, dia berspekulasi bahwa sosok gadis itu hanyalah halusinasi semata. Tetapi dia segera menolak hal tersebut.


Meskipun dia tidak punya bukti untuk mendukung kemungkinan bahwa gadis yang baru saja dia lihat dari balik jendela bukanlah halusinasi. Setidaknya dia percaya itu juga bukan kenyataan. Meskipun, sebagian terasa begitu nyata.


Setelah mengambil waktu untuk memikirkan kemungkinan. Dia menelan ludah lalu mulai berjalan dengan perlahan-lahan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Dia meninggalkan gerbang itu, perlahan dan semakin dekat dengan pintu mansion yang seolah-olah menatapnya dengan perasaan merendahkan dari kejauhan.


Saat dia semakin dekat dengan pintu tersebut, dia mulai merasakan suhu udara perlahan turun seolah-olah tubuhnya berada di suhu nol mutlak, dan sekilas dia memperhatikan tubuhnya memucat dan membeku.


Tetapi setelah menggelengkan kepalanya sejenak, dia menyadari itu hanya halusinasi singkat.


Pada saat ini, Evans berhenti tepat di depan pintu itu. Dia menelan ludah dan menunggu diam selama beberapa detik sebelum menghela napas panjang dengan penuh tekad. Di saat yang bersamaan, dia bergumam:


Aku harus mengambil tindakan. Dari pada menunggu hasil yang tidak pasti, lebih baik aku bertindak segera dan meninggalkan tempat ini!


Yang aku perlukan saat ini adalah keberanian untuk mengambil langkah maju. Lagi pula, sepertinya hanya ini satu-satunya cara meninggalkan tempat ini.


Sebenarnya dia juga tidak percaya diri bahwa keadaannya akan membaik untuk kedepannya. Jadi, dia merasa hanya ini satu-satunya cara untuk meninggalkan tempat ini. Sebaliknya, dari pada menunggu seseorang menyelamatkannya, dia bahkan tidak mempercayai orang-orang akan peduli dengan nasib dia sendiri, terkecuali kakaknya. Dia percaya kakaknya pasti akan mencarinya; seandainya ia menyadari Evans tidak pernah pulang selama 24 jam. Oleh sebab itu, tidak aneh jika pikirannya terganggu dan hanya menyisakan sikap pesimis.


Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan bersiap mengetuk pintu.


Pada saat ia akan mengetuknya. Pintu tersebut tiba-tiba terbuka dengan sendirinya seolah-olah dia sudah menanti kedatangan Evans.


“Ini terlalu horor,” merasa bulu kuduknya berdiri. Dia segera memasuki mansion sembari melihat-lihat sekeliling dengan rasa heran dan penasaran.


Menyadari ruangan itu begitu luas, dan sedikit gelap, tetapi juga tidak begitu terang, ia secara tidak sadar menjatuhkan bahunya dan menghela napas lega setelah memperhatikan tidak ada seorang pun yang menunggu dan menyapa di dalam mansion tersebut.


Setelah tenang. Dia melanjutkan melihat sekelilingnya lagi.


Dinding-dinding di kedua sisi penuh dengan hiasan seperti lukisan eksentrik, sebuah karya seni yang tak bisa ia pahami, tetapi sepertinya itu menggambarkan seorang gadis bangsawan berambut putih keabu-abuan sedang menatap ke langit dari jendela kamarnya dengan cara yang abstrak.


Mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Dia menemukan pot bunga dengan rangkaian bunga mawar yang penuh dengan cahaya merah kerlap-kerlip di atasnya. Itu memberikan kesan keindahan tertentu di benaknya tetapi juga aneh di matanya.


Akhirnya pada saat ia selesai memperhatikan sekelilingnya, ia mulai menyadari anomali. Dan anomali tersebut, yakni; dalam kegelapan itu, dia bisa melihatnya secara jelas!


Dia menemukan pintu tiba-tiba tertutup seketika ia menoleh ke belakang.


M-Mengapa pintu tiba-tiba tertutup setelah itu semua?!


“I-ini...” bibirnya berkedut lagi, tetapi kali ini tidak ada senyuman di wajahnya.


Tubuhnya menegang. Dia juga melangkah mundur selangkah demi selangkah sembari memeluk dirinya dengan erat seperti seorang yang sangat menyedihkan.


Aku terjebak? Dengan kata lain aku secara sukarela masuk ke dalam jebakan gadis itu!?


Dia dengan setengah hati menerima kalau penyebab ini semua adalah Alicia!


Tetapi dia mulai menyadari... mengapa pintu itu tertutup ketika dia selesai memperhatikan sekelilingnya? Sebaliknya, mengapa tidak pada saat ia masuk ke dalam mansion?


Dia berpikir dalam benaknya tetapi tidak ada satupun jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut.


Tatkala ia berpikir sambil melangkah mundur, ia sekilas merasakan hembusan napas di samping telinga kanannya lagi setelah itu semua!


Itu persis perasaan yang baru saja dia alami di gerbang!


Dia segera menoleh lagi ke sisi kanannya tetapi secara mengejutkan dia malah terkejut dalam diam karena menemukan lorong kosong yang gelap. Padahal sebelumnya lorong itu tidak ada! lalu mengapa tiba-tiba muncul seolah-olah setiap langkah yang dia ambil akan memindah ruangan setempat?!


Dia bingung sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun!


Melihat ke bawah. Dia memperhatikan karpet merah menjulur ke depan dengan lilin-lilin yang menyala di sampingnya, membawa cahaya kecil berkilauan.


Sekilas, dia ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, tetapi dia juga tidak bisa mundur. Lagi pula, itu sudah terlambat semenjak dia menginjakkan kakinya di dalam mansion.


Itu sebabnya, setelah meneguk ludah ia mulai berjalan dengan ritme yang tepat. Selangkah demi selangkah yang dia ambil dengan kakinya yang gemetar memberikan getaran khusus pada tubuhnya.


Di lorong yang sunyi dan gelap itu, ia seperti terisolasi dari dunia dan dipindahkan ke tempat asing di mana hanya ada kegelapan pekat yang menantinya.


Pada saat ia melangkah untuk ketiga puluh kalinya. Hentakan terakhir memberikan suara yang sangat keras.


Lorong tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap. Cahaya lilin yang menemaninya dalam perjalanan juga menghilang dalam kegelapan seolah ditelan ke dalam perut seseorang.


Kegelapan


Hanya kegelapan yang menyelimuti penglihatannya.


Kesendirian


Kesendirian lah yang memeluk erat pikirannya.


Segera setelah itu, cahaya kecil kembali menyelimutinya.


Visinya juga kembali. Bahkan, lorong gelap tersebut berangsur-angsur digantikan lorong biasa dengan cahaya lilin yang tergantung di dinding.


Pada saat itu, melodi merdu tiba-tiba bergema di telinganya.


Untuk sesaat, dia terdiam. Ia telah menghentikan langkah kakinya setelah mendengarkan permainan alat musik yang sangat baik sehingga memancarkan suasana yang tenang dan hangat seperti pelukan seorang ibu.


Saat ia mendengarkan melodi. Tiba-tiba, Evans mengingat apa yang baru saja ia lihat di aula setelah memasuki mansion. Dan sebuah lukisan gadis bangsawan berambut putih keabu-abuan muncul di benaknya.


Lukisan tersebut bercampur dengan imajinasinya dan saling bertumpang tindih!


Bersamaan dengan melodi hangat dan nyaman. Visual seorang gadis muncul di benaknya. Ia sedang menghadap ke luar dari jendela sembari menikmati angin sejuk yang membuat rambut panjangnya tertiup ke belakang. Dia tampak sangat cantik. Ditambah lagi ketika ia melengkungkan bibirnya, senyumnya bagai angin pagi yang amat sejuk, memberikan keindahan tertentu ketika memandangnya.