
...Ch. 011...
Selasa, di pagi hari, juga di dalam kamar yang disinari cahaya mentari, seorang anak laki-laki itu menguap. Air mata yang terkulai di bawah sepasang mata kemerah coklatan berkedip-kedip, memancarkan kilau dari pantulan. Seperti air mata sungai yang terpantulkan ratapan matahari.
Itu adalah Evans yang baru-baru ini meletakkan kaki di lantai dan mendekati gorden sambil membuka-tutup–bermain-main dan berhenti tatkala dia puas.
Entah bagaimana suasana hati yang gelap dan suram tempo hari sedikit berbeda di hari ini, yang tampak bersemangat dan ceria.
Sayangnya itu hanya pemandangan sesaat, bahkan tak sampai 10 detik sampai Evans kembali mengerutkan kening.
Mungkin karena kesadarannya baru saja bangun dari istirahat panjang, hingga dia mulai mengingat-ingat kejadian tempo hari.
Bukannya dia mau, tetapi karena itu terjadi secara alami, dia cuma bisa menghela napas panjang dan terima nasib.
Setelah beberapa saat, dia mengutuk sambil berjalan ke kamar tengah–sepi, kosong, dan tidak ada sesosok kehadiran pun di sana.
Evans tidak menunggu lama, dia pergi ke kamar yang berada di pojokan lalu berhenti ketika pintu itu tepat di depan mata.
Evans mengetuk pintu sebelum gagang pintu itu berputar perlahan.
Aulia bereaksi, sehingga dia secara tidak sadar menoleh dan berkata, “Pagi, Evans, apa kamu sudah baikan?”
Evans tersenyum kecut, “Pagi juga, kak. Aku rasa jauh lebih sehat daripada kemarin.”
Masih sakit, sedikit, tetapi tidak diragukan lagi napas yang keluar dari mulut itu terdengar berat dan kasar.
“Kalau begitu kamu harus pergi ke sekolah hari ini, satu kali absen saja sudah bikin rugi karena tidak dapat ilmu kala itu.” Suara Aulia sangat menggelikan telinga meskipun dia tegas saat mengatakan itu.
Alasan Aulia mengatakan itu karena dia tidak ingin Evans mengalami hal serupa seperti yang dialaminya di masa lalu. Itu juga seperti penyesalan.
Setelah mengucapkan itu, ia menoleh ke jam yang tergantung di dinding.
“Maaf,” ucap Evans–tampak sedih.
“Tidak, tidak apa-apa,” Aulia berhenti di sana sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku juga minta maaf karena berkata hal seperti ini, padahal mungkin saja kamu masih rimas atas kejadian yang menimpamu tempo hari. Aku juga tidak akan kaget kalau kamu sungkan mendengarkan kata-kataku kali ini.”
“Tapi aku senang kamu baik-baik saja, Evans.”
Di akhir kalimat, ia tersenyum manis.
Mendengar itu, Evans menggigit bibirnya dengan tampang menyesal. “Maaf.”
Sungguh tidak biasa Evans mengatakan maaf, entah ini sudah berapa kali, tetapi mungkin kurang dari 5 kata maaf dari masa ia dimanjakan Aulia hingga sampai sekarang.
“Sudahlah, tidak perlu minta maaf, oke?”
“Baiklah," supaya tidak canggung, Evans berhenti seolah-olah sedang cari topik percakapan. “Oh iya, kak, bagaimana dengan novel-mu? Sudahkah kakak menyelesaikannya.”
Semalam juga Evans mengingat-ingat cerita novel yang dibacakan sama Aulia, seperti bentuk dongeng tatkala dia mengalami insomnia karena terjebak oleh kata-kata Alicia yang layaknya kutukan.
Karena itu, dia sedikit merindukan masa di mana ia mengimajinasikan dunia fantasi.
“Belum," jujur, Aulia tidak mengharapkan Evans akan mengatakan itu.
Setelah bertanya-tanya pada diri sendiri, dia pun melanjutkan. “Aku kekurangan referensi. Mungkin aku akan pergi keluar untuk refreshing sebentar, kalau untung, selain bikin pikiran lancar, aku juga bisa mendapatkan inspirasi.”
Di kala ia mengakhiri kalimat itu dengan suara yang lembut dan menggelitik. Dia juga tersenyum–menghiasi dengan senyuman yang secantik bunga matahari.
Evans terpana oleh paras cantik kakaknya. Tetapi ia segera geleng-geleng kepala. “Aku harap kakak dapat menyelesaikan karya itu.”
Di kala ia berkata pun, itu gagu dan kaku. Apalagi dikarenakan wajah kecil dan imutnya itu memerah seperti tomat, dia hanya bisa menoleh ke arah lain dan berharap supaya wajah yang bertampang memalukan ini belum pernah dilihat.
Aulia menghela napas–dia rasa, ia paham kenapa Evans berpaling. “Tolong jangan terlalu berharap juga, aku takut kamu kecewa nanti.”
“Mengesampingkan hal itu, terima kasih atas doamu. Aku akan berjuang keras agar karyaku tidak membuatmu kecewa kalau begitu.”
Sebelum ia berpaling dan lanjut menulis, sudut mulut Aulia sedikit terangkat–menunjukkan senyuman.
“Tentu.”
Dan sekali lagi, Evans terpana melihat paras cantik kakaknya.
Begitu kali wajahnya memerah, ia segera memalingkan muka dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Evans kembali memasuki kamar yang gelap, karena gorden itu tertutup menghalangi cahaya matahari. Tetapi karena dia memang bermaksud begitu dan dia pribadi juga suka suasana gelap, dia merasa nyaman entah bagaimana–meski agak gemetar begitu ia mengingat nama Alicia.
Setelah menutup pintu dengan sangat keras, dia menghela napas singkat dan mendekati meja–pulpen, buku, maupun arloji tergeletak rapi di sana.
Di saat tangan kanannya memegang arloji yang sama tempo hari, dia pun berkata. “Hmmm, aku jadi ragu buat bawa arloji ke sekolah. Tapi didiamkan di sini juga jadi kayak gimana gitu… kayak barang buangan, mungkin?”
“Mendingan aku bawa saja. Lagi pula kejadian tempo hari juga tidak mungkin terjadi kali ini.” Saat mengatakan itu, ia memasukkan arloji ke saku.
“Sungguh menyebalkan, meskipun peristiwa itu sudah terlupakan sebagian, tetapi aku masih tetap merasa sedikit kesal hanya dengan mengingat bagian kecilnya.” Evans masih berdiri tanpa selangkah pun dari sana.
“Dan kartu ini… Alicia mengatakan sesuatu tentang kartu ini yang katanya punya kemampuan ilusi – aku tidak ingin membawanya kalau bisa. Tapi si pengguna kemampuan yang kutemui kemarin berkata untuk selalu bawa kartu ini kemanapun aku pergi. Ini membuatku bingung, haruskah aku mengikuti kata hatiku atau perkataan dia?” Pada saat ia mengatakan itu, ia sedikit meraba-raba saku–memegang arloji pemberian Aulia.
“Untuk berjaga-jaga kan kubawa saja kartu ini, aku tak tahu itu akan berguna suatu saat nanti.” Dia berhenti sejenak, seolah-olah sedang memutuskan pilihan.
Kemudian sesudah menghela napas, dia pun melanjutkan. “Aku berharap itu memberiku kegunaan untuk menjauh-jauhkan aku dari bahaya yang menghampiriku. Aku tidak ingin anomali serupa seperti peristiwa Alicia terjadi lagi. Jujur aku sudah muak.”
Gumam Evans. Beberapa saat kemudian, dia angkat kaki dari sana dan masuk ke kamar Aulia.
“Kak Aulia, aku pergi ke sekolah dulu ya.”
Dia melihat sekeliling sejenak dan berkata. “Dia pergi?”
...*...
Pada akhirnya Evans memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Tetapi kali ini dia datang lebih awal yang bikin sekolah tampak sepi, hanya diisi anak-anak rajin yang piket hari ini–menyapu dan mengepel kelas mereka sendiri.
“Oh! Hey, Evans!” Seorang anak melambaikan tangan ke arah Evans–dia berteriak semangat.
Evans menoleh ke belakang dan menemukan bahwa itu adalah Theo yang menggendong ransel kecil dan berwarna biru.
“Hey.” Evans pun menjawab dengan senyuman yang terpampang di wajahnya.
Dia masih punya sedikit perasaan dendam, tapi hanya dengan mengingat anomali yang disebabkan Alicia, dia hanya bisa menghela napas dan melupakan itu semua.
“Bagaimana, apa kamu benar-benar dipukul sama kakak kamu?” Theo memiringkan kepalanya, tampak penasaran.
Mendengar itu, Evans pun menyeringai. “Heh, tentu tidak. Jadi kamu serius berpikir aku mengatakan yang sebenarnya di kala itu?”
Theo membeku dan terbelalak–reaksi itu tidak seperti yang Evans bayangkan. “Tentu saja lah dasar pembohong! Rasanya sia-sia aku bersimpati padamu!”
Evans tidak menyesal. Malahan dia sedikit puas hingga terkekeh. “Haha, itu salahmu, oke? Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau aku bercanda, mengapa kau tidak percaya sama aku?”
“Itu karena kamu pembohong!”
Evans mengangkat bahunya, “Yah, terserah kamu saja lah.”
Sebelum dia lanjut berkata, dia menemukan suasana hati Theo tampak sedikit tidak biasa, bisa dibilang itu seperti bunga yang mekar.
“Omong-omong kelihatannya kamu lagi bahagia, apa kamu habis jumpa sama kabar baik?”
“Tidak juga. Hehe, aku hanya sedang dalam mood yang baik kali ini.” Sambil geleng-geleng kepala, dia tersenyum puas.
Evans pun menghela napas tatkala mendengar itu, “Yah tidak masalah jika kamu tidak ingin kasih tahu ke aku.”
“Kamu tidak tertarik kenapa aku bisa dalam mood baik begini?” Ujar Theo, ia sedikit meningkatkan suaranya.
Dia berhenti dan kemudian berpaling, “Senyum kamu muncul tuh, kalau begitu jawabannya sudah jelas.”
Evans terus melangkah tatkala Theo diam di sana.
Theo yang melihat punggung Evans, hendak menghela napas dan pergi seraya sedikit mengangkat ranselnya.
Tetapi setelah selangkah berjalan, dia tiba-tiba berhenti dan melototkan mata.
Aura gelap yang menyeramkan merayap di tubuh Evans!
Itu melilit dan bertahap mengambil bentuk dari yang cuma aura seram tiba-tiba menjadi cacing yang memiliki seribu mata di setiap tubuhnya!
Dan bahkan semakin dia melihat, menunggu, dan diam mengamati–perlahan cacing itu menyelimuti Evans hingga mulai mengubah bentuk lagi menjadi mata yang berkedip-kedip seraya menoleh dengan seribu mata yang terpadu di dalam mata besar itu!
Di sana, mata itu meneteskan darah yang jatuh di kepala Evans.
Evans menoleh ke belakang dan memiringkan kepala–bertanya-tanya kenapa Theo membeku di sana. “Hey, kenapa berhenti, kau tidak ingin masuk ke kelas?”
Reaksi Evans menunjukkan bahwa dia tidak merasakan apapun!
Mendengar itu, raut wajah Theo sedikit kaku. “Tidak, aku kayaknya mulai sakit.” Dia berhenti di sana sambil menyeringai seolah mengejek. “Kamu masuk dulu saja.”
Alis Evans berkedut–ia rasa Theo saat ini bertindak aneh!
“Hah!? Serius kamu sakit di depan kelas? Jadi gimana, kamu mau pergi ke UKS atau mau pulang?
Karena semakin kesal, dia berteriak setelah menggigit bibirnya. “Diam! Bukankah sudah kubilang kau masuk saja!!!”
Evans melihat sekeliling dan menyadari mata anak-anak kelas lain menoleh karena teriakan itu. Tetapi tidak seperti Theo yang aneh, mereka tidak bereaksi berlebihan.
“Seram. Baik! Baik! Aku masuk, oke?”
Begitu Evans masuk ke kelas dengan langkah berat, dia mengerutkan kening seraya bergumam:
Wajahnya memucat! Jangan-jangan dia benar-benar sakit, tapi bagaimana bisa? Padahal dia sehat-sehat saja sebelumnya!
Di sisi lain, punggung Theo berkeringat dingin. Kemudian dia berpaling dan melarikan diri.
“Tadi itu apa sialan!?”
“Kenapa ada ‘itu’ di tubuh Evans!”
...*...
#Note: oh ya kawan, chapter ini pun jg sm, aku tidak ada mood untuk melanjutkan series ini... tapi penyesalan pada akhirnya akan datang jg kalau aku drop. Oh sial, bisakah mood menulis datang dg sendirinya kemari!