Mythica

Mythica
Kebingungan



#Note: Sebenarnya ini cukup memalukan, tapi aku hampir lupa cerita yang kubuat ini, haha. Maksudku lupa secara garis besar alurnya, bukan tentang novel ini secara khusus kulupakan sampai-sampai tidak lagi lanjut.


Kamu bisa anggap aku terlalu asik membaca novel lain sehingga melupakan alur novel yang kutulis. Ini merupakan salahku juga karena tidak mencatat terlebih dahulu draftnya. Jadi setidaknya sekarang akan aku lanjutkan sebisa mungkin, tentu saja aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk re-read dari ch. 1 untuk mengingat kembali bagian-bagian yang kulupakan.


*


Kicauan burung menyapa dengan berisik seperti sudah lama menanti perayaan seseorang. Itu bersuara dengan sangat kacau karena menyatu dengan suara keramaian. Anak kecil, remaja, orang dewasa, laki-laki, maupun perempuan – semua suara itu berpadu membentuk kalimat penuh pertanyaan.


“Hey, kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat lho?” seorang paman bertanya. Dia sedikit membungkuk.


Evans berkedip. “Ah…”


Sepasang mata coklat kemerahan itu melirik-lirik lalu berhenti ketika menghadap taman yang bermandikan cahaya mentari.


Awalnya ia bingung dengan situasi yang tiba-tiba ini – keberadaan Alicia yang baru saja berada di depan mata baru saja menghilang!


Setelah itu segala sesuatu yang berkaitan dengan ingatan-ingatan selama beberapa detik yang lalu tiba-tiba masuk ke pikirannya.


Dia sedikit bingung. Setelah mengalami kejadian sebelumnya, dia merasakan rasa takut di alam bawah sadar seolah menjalar keluar. Itu sebabnya, saat ini ia gemetaran.


Reaksi itu adalah suatu hal yang normal. Rasa takut akan kematian baru saja menyapa lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Bagaimana dia bisa menenangkan diri? Dengan cara memeriksa bagian mana yang tertusuk?


Saat Evans menghela napas, ia menatap paman yang ada di seberangnya. “Aku tidak apa-apa, hanya melamun. Terima kasih.”


Kalimat itu terdengar lembut meski beriringan dengan suara-suara kerumunan.


“Kau yakin?” Paman itu masih tak percaya, kemudian ia melanjutkan sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kurasa kamu benar-benar tidak baik-baik saja. Mending kamu pulang dan beristirahatlah.”


Dia tidak percaya anak kecil yang baru saja melamun dengan wajah pucat, juga mengeluarkan banyak keringat dingin – mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja!


Evans tersenyum, sebelum berkata. “Aku sehat, percayalah. Tapi kuucapkan terima kasih sekali lagi untuk saran Anda, paman… aku akan pulang setelah ini. Lagi pula aku memang merasa sedikit pusing.”


Evans tidak menolak gagasan bahwa ia merasa pusing. Sebaliknya, ia merasa jauh lebih baik berterus terang daripada berbohong.


Setelah menunggu beberapa saat, ia pun melanjutkan. “Kalau begitu sampai jumpa, paman.”


Meski bingung atas perilaku Evans yang tidak biasa, paman itu tetap melambaikan tangannya. “Sampai jumpa. Minumlah obat penghilang pusing, lalu tidur setelahnya. Itu akan meringankan lelah.”


Evans tidak membalas dengan kata. Sebaliknya, dia mengangguk.


Semakin ia menjaga jarak, raut wajahnya berubah lagi. “Ah, kuingin menutup telingaku dengan sangat rapat.” Dia menekan suaranya, terdengar sangat menyakitkan. “Tatkala suara ‘Alicia’ pergi, kan bukakan telingaku dengan penuh suka cita.”


Dia menegaskan kalimat itu, yang terakhir terdengar samar seolah berpadu dengan kicauan orang-orang di sana.


*


Waktu terus berjalan, tetapi tak butuh waktu lama untuk sampai di depan pintu rumah yang familiar.


Setelah menunggu beberapa saat, Evans menghela napas sebelum memutar gagang pintunya. “Aku pulang.”


Di dalam rumah, seorang gadis tiba-tiba membeku tatkala ia mendengarkan suara itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Lalu ia pun bertanya. “Evans? Kamu sudah pulang? Cepat sekali… tapi tunggu! Bukankah tadi kamu berangkat bersama teman kamu… terus mengapa kamu kembali, apa ada barang yang ketinggalan?”


Tak kunjung gadis itu berdiri dari tempat duduk. Sebaliknya, ia terus memegang pena sambil bertanya-tanya dengan suara lembut yang bikin orang-orang nyaman tatkala mendengarnya.


Evans menunduk. Raut wajahnya tak terlihat, tetapi bibirnya yang berdarah menandakan dia telah menggigitnya.


“Hey, Evans.” Suara lembut gadis itu terus bergema, namun ia tetap tidak bergeming. “Aneh, apa ada sesuatu yang terjadi padanya.”


Gadis itu berhenti menulis. Tetapi ia terus memegang pena yang berputar di atas jari seolah-olah senang dimainkan. Di waktu yang bersamaan ia mendengarkan suara pintu kamar tertutup!


Dia mengunci pintu kamarnya… serius, apa yang sudah terjadi padanya di waktu yang singkat itu.


Gadis itu mulai berhenti memainkan pena.


Aku penasaran tapi naskahku bahkan belum selesai.


Kemudian dia mengetuk-ngetuk meja yang membawa gema di ruangan. Tampak bosan tetapi seolah menggumamkan sesuatu.


Aku kekurangan ide atau begitulah ucap mulutku. Padahal pikiranku sendiri menerapkan banyak ide dan inspirasi. Tapi sayangnya aku tak bisa menulisnya, karena kurangnya bukti konkret dan referensi yang kudapatkan terbatas, aku hanya bisa menampilkan sedikit logika yang mengaitkan antara konsep di dalam ideku lalu merancangnya dengan logika tambahan dari dunia yang kubuat nanti.


Gadis itu sedang memikirkan sesuatu yang menghilangkan cacat logika di dalam cerita yang ia buat. Sayangnya, tak diragukan lagi dia sedang pada fase di mana ia tidak mendapatkan petunjuk untuk menguraikannya.


Dan karena masalah Evans, pikirannya menjadi semakin terganggu dan malah memikirkan hal lain. Bukan suatu hal yang mengejutkan jika pertanyaan tentang ‘apakah dia harus bicara’ terbesit di kepalanya.


Lupakan. Sebaiknya aku berinisiatif bertanya daripada menunggu dia yang memulainya.


Selama ia mengatakan itu di dalam hati, ia berjalan dan mulai mengetuk pintu.


“Evans, apa kamu sedang tidak enak badan? Haruskah aku memberitahu gurumu dengan memberikannya surat izin sakit?” Gadis itu mengajukan pertanyaan, suaranya lembut dan penuh perhatian, membuat nyaman bagi siapapun yang mendengarnya.


Evans yang menutup wajahnya di bantal, menekankan: “Tidak. Tidak perlu, hari ini… aku hanya membolos.” Kemudian dengan suara yang sangat rendah, ia pun melanjutkan. “Aku takut, ketika memikirkan hal serupa akan terjadi lagi di masa mendatang.”


Itu masih belum selesai, tetapi sebelum melanjutkan ada jeda sejenak – dia menghela napas. “Alicia. Bekas luka yang ia berikan… masih terasa sakit di benakku.”


Mata gadis itu terbelalak.


Alicia… nama perempuan!


Dia secara mengejutkan terkejut saat mendengar berita itu!


Astaga, ternyata dia habis ditolak! Itulah mengapa suasana hati dia memburuk.


Tapi aku benar-benar tak menyangka dia menyukai seorang gadis, dia tak pernah membicarakan soal itu kepadaku sebelumnya, apakah karena aku tidak dapat dipercaya? Tidak, alasan yang tepat mungkin cenderung ke sisi privasi.


Setelah memikirkan dengan matang, dia hanya mengangkat bahunya. "Baiklah, kalau minta sesuatu bilang ya, nanti aku belikan.”


Kurasa lebih baik membiarkannya sendiri dulu, itu harus meringankan beban pikirannya.


Sebelum gadis itu pergi, ia mendengar suara yang lembut dari balik pintu. “Terima kasih, kak Aulia.”


Aulia hanya tersenyum, dia tak mengatakan apapun dan hanya pergi ke kamarnya sendiri.


Di sisi lain, Evans menutup telinga dengan bantal di kedua sisinya. Begitu ia tenggelam dalam kesunyian, ia termenung:


Luka yang membekas tetapi tak menampakkan diri di permukaan. Bukan ilusi, tetapi terasa begitu nyata.


Lagi pula, apa benar itu bukan ilusi? Gambaran yang kulihat saat membayangkan lukisan, juga penampilan Alicia, hanya tampak nyata di mataku. Itu sangat mirip dengan kenyataan yang menyerupai dunia fiksi…


*


Bayangan di balik pantulan kaca itu perlahan melebur, seperti lukisan yang disiram air di bawah ratapan matahari, juga seperti takut akan dibakar jika terus berlama-lama – menandakan begitu cepat bayangan itu pergi.


”Dia lagi… wujudnya selalu menyeramkan, itu selalu membuatku merinding setiap kali ia menatapku!” Ujung bibir Viky sedikit berkedut saat bayangan dari pantulan kaca sedikit demi sedikit melebur.


Meski bayangan itu tak memiliki mata, tetapi perasaan ditatap dari balik coretan memiliki aura yang membuat bulu kuduk berdiri!


Dia terus menatap kaca yang menembus ke sisi sebelah. Begitu bayangan itu menghilang sepenuhnya, ia pun berkata. ”Terus terang, mengapa dia begitu cepat menghilang. Ingin menyapa? Kalau gitu bicaralah… ini malah kabur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sialan!”


Huh, lagi pula mengapa aku terlihat marah? Dia bukan siapa-siapa, kemunculannya juga adalah dampak dari kemampuanku sendiri: membawa ilusi dan membuatku mengalaminya, sehingga aku berakhir melihat ‘dia’.


Viky menyeringai sebagai hinaan untuk diri sendiri. “Jujur saja, barusan aku mengira-ngira itu adalah hukuman ilahi yang menimpaku! Haha itu lucu, tetapi tidak juga.”


Yang pertama berbisik di sebelah temannya. Dia berkata, dengan suara yang sedikit keras. “Gila?”


“Ehem, dia hanya bicara sendiri.” Nona itu tersenyum, tampak kecut. Tetapi seberapa kecutnya senyum nona itu, tetap kalah dengan penampilan nona itu yang sangat cantik.


Mendengar percakapan mereka, Viky menoleh kemudian balas tersenyum. “Hehe, maaf nona.”


Kedua nona itu balas tersenyum juga, tetapi mereka segera pergi tanpa mengucapkan apapun. Seolah-olah ucapan maaf itu hanya debu di mata mereka.


Tampaknya, lingkungan yang baru saja diisi oleh percakapan beberapa orang saja tiba-tiba diambil alih oleh kerumunan. Terdengar berisik. Juga tampak seperti semut yang saling berebutan gula.


Tanpa aku sadari tempat ini sudah ramai.


Ingat dengan apa yang dibawanya saat ini, dia memikirkan beberapa pertanyaan selama kakinya terus melangkah – mengarah ke jalur pulang.


“Kuantar barang-barang ini ke bibi atau langsung ke rumah Nifza ya…” Dia bingung, sedikit.


Hingga akhirnya dia berhenti tatkala ia bertemu dan saling bertukar tatap dengan seorang kenalan!


“Nif, hey!” Ucap Viky, tidak. Dia berteriak.


Nifza membeku, tetapi mulutnya tidak. “Viky, mengapa kamu di sini.” Saat dia bertanya, matanya melirik ke arah keranjang yang dipegang Viky. “Habis berbelanja?”


Kebanggaan terhadap pengamatan Nifza membuatnya tersenyum. “Kau menebak dengan tepat, nah, keranjang dan isinya sudah memberi clue, ‘kan? Itu memberikan kamu ide sehingga dapat berspekulasi.


Tetapi dia segera mengubah topik tatkala ia ingat apa yang Nifza lakukan kemarin. “Lupakan, baru saja aku melihatmu masuk ke gang, apa yang kau lakukan di sana?”


Kalimat itu berpadu dengan suara angin, membawa suasana serius.


Nifza menggelengkan kepala. “Kamu tak perlu tahu. Ini masalah pribadi.”


Mata Viky sedikit melebar, kemudian muncul senyum di wajahnya. “Hee, menarik tuh kayaknya. Bolehkah aku menebak?”


Nifza menutup matanya, seolah-olah mempersilahkan Viky untuk menebak. Itu juga bukti bahwa ia sedikit menganggap remeh apa yang akan diungkapkan Viky.


“Bunuh diri massal,” ada sedikit jeda sebelum ia melanjutkan, ”bukan?”


Angin beringin bersuara. Tetapi tak kunjung ia menutup-nutupi kalimat yang baru saja Viky ungkap.


Nifza membuka mata dengan terkejut, ia menatap Viky sekilas dengan penuh ketidakpercayaan. Kemudian ia berdehem sebelum berkata. “Sekali lagi, kamu tak perlu tahu. Pergilah.”


Masih menyeringai. Viky menggeleng-gelengkan kepala sebelum akhirnya berkata. “Baiklah, lagi pula urusanku sudah selesai. Nah, ini hanya pertanyaan biasa, apa kamu tahu pekerjaan mudah yang gajinya lumayan?”


Mengingat tujuan dia adalah membeli buku novel dari karya penulis favorit. Itu bukan suatu hal yang langka untuk ditanyakan kepada teman sebangku, sekolah, juga teman dekat.


Nifza sedikit menyipitkan matanya. “Pekerjaan mudah kau bilang? Maaf, kerja tidak ada yang mudah, tapi kalau pertanyaan kayak begini aku bisa memberimu jawaban sedikit – seperti pengantar surat kabar misalnya? Sekarang, apa kau puas… nah kau tahu alasannya sendiri dengan mengamati mereka setiap pagi dan sore. Kau akan paham mengapa aku merekomendasikan pekerjaan ini untukmu.”


Dikatakan pengantar surat kabar bekerja setiap hari senin - minggu di pagi dan sore hari. Mereka akan berkeliling di setiap rumah untuk membagikan surat kabar terkini kepada para penduduk Kerajaan Frose.


Viky menganga. “Kau tahu aku sedang mencari pekerjaan?”


Bangga dengan dirinya, ia pun menyatakan. “Aku tahu, itu malah tampak jelas oleh pertanyaanmu.”


“Hmmm… miris sekali, mungkin lain kali aku akan bertanya dengan samar-samar supaya tipe orang sepertimu tidak bisa menebaknya.” Viky kesal dengan kesombongan Nifza, sehingga ia mengutuk dalam hati.


“Semoga berhasil. Sekarang apa lagi yang kamu butuhkan?” Nifza menegaskan kembali.


Viky merogoh saku celananya, kemudian ia menyerahkan kartu yang ia ambil baru-baru ini. “Ambil ini, Nif.”


Kartu yang ia berikan kali ini tampaknya berbeda dengan saat kartu yang ia berikan kepada Evans. Kali ini adalah kartu yang ia ambil ketika di jalan.


Nifza sedikit ragu-ragu awalnya, namun ia tetap mengambil kartu itu dan melakukan pemeriksaan singkat. Begitu ia sadar itu adalah kartu, ia pun bertanya. “Kartu... untuk apa?”


Viky geleng-geleng kepala. Di saat yang bersamaan ia angkat bahu juga. “Aku tidak tahu, aku menemukannya di jalan. Ambil, atau kembalikan itu sekarang juga.”


Begitu kalimat itu terucap, kartu itu sudah masuk ke dalam saku celana. “Kau sudah memberinya, maka itu sudah menjadi milikku.”


Senyum kecut muncul di wajah Viky, tampak kesal dengan situasi saat ini. “Sialan nih orang kalau klaim seenaknya saja!”


Nifza terkekeh sebelum berkata.“Pft, itu salahmu.”


“Ketawa juga kau akhirnya!” Viky menghembuskan napas panjang, tampak lega. Sebelumnya, ia sedikit panik – apakah Nifza menjadi orang yang tak ia kenal.


Sebenarnya perilaku Nifza saat ini tampak sedikit aneh. Tetapi karena dia telah menunjukkan sedikit tawa, Viky menganggap itu seolah-olah dia sedang dalam mood buruk saja.


“Yah, sampai jumpa. Aku tahu kamu tidak mau bicara, tapi kalau setidaknya ada apa-apa bilang saja ke aku. Juga, terima kasih atas rekomendasinya, aku akan meneliti terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melamar.” Viky melambaikan tangannya dan pergi.


Selama ia mengatakan itu, awan putih yang terbentang di langit terbelah – itu memberikan pemandangan yang indah dan mempesona. Saat ia terbelalak – ia bergumam juga:


Pertanyaannya adalah apakah pihak lain menerima seorang remaja atau tidak.


*


“Bibi, aku pulang,” ucap Viky tatkala ia memasuki ruangan. “Aku taruh bahan-bahannya di meja ya.”


Ellyn mengangguk, “Oke. Apa kamu ingin pergi keluar lagi? Kudengar akhir-akhir ini banyak kematian yang terjadi di wilayah setempat, sebaiknya kamu hati-hati ketika di luar sana.”


Begitu Ellyn mengangguk, keranjang itu sudah ditaruh di meja.


Viky memikirkan pertanyaan, dan juga pernyataan itu dalam-dalam. Kemudian ia pun menjawab. “Sedikit, aku punya urusan di luar. Aku akan pulang pukul lima sore nanti.”


Dia pertama kali memutuskan apakah harus berkata jujur di sini. Tetapi setelah berpikir lama-lama ia lebih baik diam.


Kenapa mengambil banyak waktu selama itu dibilang ‘sedikit’? Anak muda jaman sekarang menurutku agak aneh.


Kalau dipikir-pikir dia juga sudah lama tidak pergi keluar. Itu membuatku sedikit terkejut karena dia selalu menutup diri di kamar sambil baca buku. Jadi… bisa dibilang ini adalah hal yang positif? Ya, tentu saja! Hanya masalah waktu sampai dia terbiasa!


Buku resep tiba-tiba diletakkan di meja. Karena penasaran, ia mengajukan pertanyaan lagi. “Bolehkah bibi tahu apa yang kamu lakukan di luar sana?”


Viky merenungkan. “Hmmm… yah, tidak masalah. Lagi pula itu bukan suatu hal yang harus disembunyikan juga.” Dia tersenyum lembut, “Aku ingin ke alun-alun untuk melihat-lihat.”


Sebagian yang dikatakan memang benar, tetapi sebagian juga salah. Itu hanya membuat pertanyaan semakin gantung daripada dijawab tetap dan jelas.


Masih tetap bingung, Ellyn terus memberi pertanyaan tatkala ruangan masih diwarnai cahaya kekuningan. "Mungkinkah kamu ingin melihat pertunjukkan teater yang diadakan di sana?”


Waktu terus bergerak, tetapi Viky hanya menghela napas singkat sebelum menjawab. “Hmmm… tidak salah, tapi tidak benar juga.”


“Sendirian?” Tanya Ellyn, matanya berbinar seolah-olah menantikan jawaban fantastis.


Viky mengangguk. Tidak tahu apa yang membuat Ellyn begitu berharap. “Aku pergi sendirian.”


“Sayang sekali, andai saja Fiani ada di sini, dia akan menemanimu pergi.” Ellyn tampak kecewa.


“Hehe, sebenarnya tidak perlu sampai segitunya, lagi pula dia sudah punya pacar… tak pantas jika dia datang bersamaku nanti. Setidaknya bibi tak perlu mengkhawatirkanku, aku di sana hanya melihat-lihat, bukan menonton pertunjukkan." Begitu ia mengatakan itu, ia mengangkat bahunya sambil geleng-geleng kepala – senyumnya tampak mengejek.


“Tapi setidaknya bawa teman lah!” Tegas Ellyn, dia tak tahu mengapa Viky tiba-tiba menyeringai. “Meski hanya melihat-lihat kalau sendirian sama sekali tak seru, tak punya sense. Jadi cari teman, oke?”


Viky tersenyum. Kemudian berkata, “Kalau ada yang mau.”