Mythica

Mythica
Surat Kabar



Setelah bertukar kata, Viky telah tiba di depan kamar paman dan bibinya. Di depannya Dia melihat sebuah pintu, sebuah pintu kayu yang kokoh dengan berbagai motif unik, sebuah seni yang sulit dimengerti. Selain itu, pintu itu juga sedikit lebih tinggi dari tinggi badannya seolah-olah terlihat sedang memandang rendah dirinya.


Raut wajah Viky berubah secara signifikan, seolah menegang, merasa sedikit gugup tanpa dia sadari. Tetapi entah bagaimana, dia berhasil tenang setelah beberapa helaan napas lembut.


Setelah itu dia mengangkat tangannya tepat di tengah pintu dan mengetuknya.


Satu, dua, tiga kali ketukan berlangsung tetapi tidak ada tanggapan.


Viky merasa bingung, haruskah Dia mencoba mengetuknya sambil berbicara? Untuk sesaat pikiran semacam itu muncul dibenaknya, akan tetapi dia memutuskan untuk tidak melakukan itu.


Mungkinkah mereka masih belum bangun... tidak, aku memang bisa membayangkan paman yang kini tertidur lelap. Akan tetapi, bibi adalah suatu hal yang lain. Jika instuisi-ku benar, dia pasti saat ini sudah terbangun, lalu mengapa dia tidak segera keluar dan menjawab?!


Viky bertanya-tanya, tetapi tidak menemukan satu pun jawaban. Setelah beberapa menit kemudian, dia memutuskan untuk mengangkat tangannya dan mengetuk pintu lagi.


Akan tetapi hasilnya tetap sama, dia tetap tidak menerima tanggapan satu pun dari dalam kamar.


Pada saat ini, di dalam kamar, Ellyn terbangun dengan visinya yang sedikit kabur. Ada sebuah suara saat dia bangun, sebuah suara yang di buat olehnya secara tidak sadar, berupa hembusan napas lembut yang merangsang. Kemudian dia mencoba meninggalkan ranjang nya yang seolah-olah memeluk erat tubuhnya.


Di sisi lainnya, Viky masih dalam keadaan bingung, dan ragu apakah dia perlu mengambil tindakan membuka pintu secara paksa atau mengetuknya lagi sambil mengucapkan sepatah kata. Tentu saja, dia berharap tak perlu melakukan kedua hal itu, jika bisa.


Alasan dia tidak lagi ingin mengucapkan sepatah kata saat membangunkan paman dan bibi, antara lain karena takut akan suaranya mengganggu mereka.


Karena sebelum itu, dia pernah mengalami skenario serupa di masa lalu. Dan faktor tetangganya yang marah setelah dia berbicara keras di tengah malam. Meskipun konteksnya secara garis besar berbeda. Akan tetapi keduanya disebabkan oleh hal serupa.


Itu sebabnya, ini merupakan trauma masa lalu yang melekat erat pada psikologi Nya.


Seketika suasana langsung menjadi sangat sunyi, sehingga membuat suara apa pun akan sangat mungkin di tangkap telinga.


Persis seperti saat ini, suasana sunyi seolah-olah telah berkuasa. Seperti dirinya telah diasingkan ke tempat yang jauh dan terisolasi.


Pada saat ini, indra pendengarannya seakan-akan telah meningkat secara signifikan, sehingga dia merasa dapat mendengarkan suara sekecil apapun dengan jelas. Itu sebabnya, dia mengerutkan keningnya setelah mendengar suara lembut dari dalam kamar.


Suara napas yang seolah menggelitik dan suara sprei yang bergerak dengan lembut.


Viky hampir membayangkan sebuah adegan dewasa melalui skenario dari sebuah plot novel dewasa. Oleh karena itu, sudut mulutnya berkedut seolah membentuk seringai.


Viky merasa dirinya terjebak oleh suara itu, bagaimanapun suara itu seperti seorang bidadari sedang berbisik tepat di samping telinganya.


Itu sebabnya, pada saat ini, bayangan bibinya yang cantik dengan proporsi tubuhnya yang ideal muncul di benaknya.


Akan tetapi Viky segera memikirkan tujuan dia datang ke sini, yaitu untuk membangunkan paman dan bibinya. Segera setelah itu, dia menarik sekecil ingatan itu sehingga dia merasa visinya telah kembali.


Dengan terburu-buru dia langsung menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa untuk suatu tujuan yaitu menghapus semua pikiran negatifnya. Dia tidak ingin pikirannya di kendalikan atau di ambil alih oleh nafsunya sendiri!


Oke, itu cukup berbahaya. Tidak! barusan itu sangat berbahaya... aku hampir saja kehilangan kendali saat itu juga. Jika saja aku tidak segera memikirkan tujuanku kemari, aku hanya bisa membayangkan skenario terburuk akan menimpaku dan Tuhan pasti tidak akan pernah memaafkanku untuk itu. Sungguh itu benar-benar menakutkan!


Saat Viky bergumam, pintu tiba-tiba terbuka dengan perlahan-lahan.


Dan sosok yang tampak lesu namun cantik muncul di sudut matanya. Itu adalah bibinya yang tampak lelah, Ellyn, yang memakai piyama putih bersih yang tampak lembut dan membuatnya tampak sangat cantik hanya dengan memandanginya.


Viky merasa terpesona, tetapi dia tetap diam dan hanya bergumam bahwa mengapa bibinya begitu cantik dan menggoda. Bahkan, menurutnya lebih cantik dari Fiani, padahal mereka memiliki gen yang sama. Tentu saja, itu merupakan opini pribadinya dari sudut pandang subjektif.


Sosok wanita berumur tiga puluhan dengan rambut hitamnya yang tergerai halus dan lembut, sangat memikat dan cantik meskipun tanpa riasan. Itu merupakan deskripsi singkat tentang Ellyn.


Meskipun kini rambutnya sedikit lebih kusut karena dia baru saja bangun dari tidurnya, Ellyn tetaplah cantik sebagai wanita berumur tiga puluhan.


Kemunculan Ellyn tentu saja membuat Viky merasa lega, seolah keberadaannya telah menyinarinya dengan mentari pagi. Itu sebabnya, dia menghela napas sejenak lalu berkata, “Selamat pagi bibi.”


"Pagi," balas Ellyn dengan senyuman, kemudian mereka berdua bertukar pandang dalam diam.


Segera setelah itu, Ellyn entah mengapa menyadari raut wajah Viky sedikit berbeda dari biasanya.


"Apa yang terjadi?" rasa penasaran Ellyn tak terbendung, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Viky sedikit terkejut dan bingung, merasa bahwa bibinya mungkin saja curiga dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya, sehingga beberapa pertanyaan muncul dibenaknya.


Mungkinkah bibi tau apa yang sedang aku pikirkan tadi?! Jelas tidak mungkin, ‘kan?


Merasa tidak nyaman bahwa pikiran yang seharusnya dia hilangkan mungkin saja bocor tanpa sepengetahuannya. Sudut mulut Viky sedikit berkedut, dan dia hanya membalas dengan canggung, "Tidak ada yang terjadi, sungguh, aku berani bersumpah."


Ellyn tidak membalas, dia sedikit bingung dengan apa yang dimaksud Viky. Oleh karena itu, senyuman hangat yang menempel di wajahnya saat ini merupakan jawaban terbaik yang dia pikirkan.


"Baiklah jika Viky tidak ingin membicarakannya, bibi tidak akan memaksamu. Jadi tenanglah."


Mengikuti kata-kata, Viky sedikit lebih tenang.


Setelah itu Ellyn memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya, "Ngomong-ngomong, apa yang Viky lakukan di sini. Ingin membangunkan Alan?"


Viky hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Begitu, tapi bisakah Viky membatalkannya?" tanya Ellyn sambil menyipitkan matanya.


"Untuk saat ini saja, tolong biarkan Alan tidur nyenyak. Kau tau, kemarin dia baru saja pulang di tengah malam. Dia melembur, dan pasti itu sangat-sangat melelahkan. Jadi aku mohon, biarkan dia istirahat sejenak,” ucap Ellyn dengan nada memohon.


Tunggu sebentar, mengapa itu terdengar seperti aku akan memaksa paman untuk bangun...


Bukankah dari ucapannya barusan, bibi melihatku seperti seorang pemaksa. Ingatlah di sini aku hanyalah penumpang yang tinggal di rumah kalian, tentu saja aku tak akan melewati batas itu. Yah, sejak awal aku juga tidak berniat membangunkan paman. Jadi itu sama sekali bukan masalah bagiku.


“Aku tidak tahu apa yang bibi maksud dengan membatalkannya. Tapi setidaknya aku mengerti kalau bibi menyuruhku untuk tidak menggangu paman," sudut mulut Viky sedikit berkedut.


Memang, dari awal aku hanya berniat membangunkan bibi, bukan paman.


“Kalau begitu, permisi," ucap Viky sambil berbalik.


Dia telah memutuskan untuk meninggalkan Ellyn sendirian, karena dia merasa tidak nyaman dekat-dekat dengan Ellyn, seolah-olah membuatnya seperti terkena racun tanpa tahu asalnya. Dan adapun salah satu faktor, yaitu pikirannya yang masih saja tidak lekas tenang setelah semua itu.


Setelah beberapa detik kemudian, dia kembali ke dapur dalam suasana hati yang baik atas selesainya tujuan.


Di sisi lain, saat Viky meninggalkannya, Ellyn hanya menatap punggungnya dalam diam. Kemudian dia berbalik, menatap ranjang di mana Alan sedang tertidur pulas.


Ellyn menghela napas pendek. Setelah itu dia memasuki kamarnya dan mengambil kedua handuknya, lalu pergi ke kamar mandi.


***


Di dapur, Viky saat ini terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di depan matanya, dia melihat cangkir yang beruap putih keabu-abuan ke udara, dan itu berupa sebuah cangkir yang diisi kopi hangat.


Untuk sesaat dia bertanya-tanya siapa yang membuatnya. Akan tetapi, dengan sosok Fiani di sampingnya, Viky segera menyadari siapa yang membuat kopi itu.


“Kamu memanaskan air untuk membuat kopi, bukan?” tanya Fiani, kemudian melanjutkan, "Aku sudah membuatkannya untuk mu."


Viky merasa heran dan senang, dia tak menyangka seseorang akan menyajikan kopi untuknya. Dan itu membuat Viky tanpa sadar tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Fiani.”


Setelah melihat Fiani berjalan menuju kamarnya, Viky mengambil kopi itu dan berjalan ke ruang tamu dengan suasana hati yang baik tetapi raut wajahnya sedikit berubah ketika melihat warna kopi yang hampir hitam pekat.


Ini kopi, ‘kan? Entah kenapa dari penampilannya saja sudah terlihat sangat pahit.


Tidak butuh waktu lama, setelah berjalan dari dapur ke ruang tamu. Dia saat ini tengah melihat-lihat sekitar dan menemukan barang yang dia cari. Sebuah surat kabar yang tergeletak di atas meja.


Pada saat ini, Viky memutuskan untuk duduk dan membaca dengan tenang. Dia menaruh kopi itu tepat di samping koran, dan mulai bersandar lelah di sofa.


Aku akan menunggu kopi ini sedikit lebih enak untuk di minum. Meskipun, aku masih curiga dengan rasanya, yang mungkin saja berbeda dari yang biasa.


Setelah bergumam, dia mengambil surat kabar itu dan mulai membacanya.


“Kasus bunuh diri massal di Kerajaan Frose yang menghabisi genap tiga puluh jiwa dalam waktu yang tidak menentu.”


“Polisi telah menyelidiki kasus ini, dan meyakini kasus ini tidak biasa, yang memungkinkan akan mengambil korban jiwa lebih jika tidak segera ditangani.”


“Terkait kasus ini, Polisi masih tidak menemukan titik terang, dan hendak memutuskan mengambil tindakan lebih lanjut.”


“Dalam penyelidikan sejauh ini, telah ditemukan korban jiwa meninggal secara bergantian di tempat dan tanggal yang tidak menentu.”


Raut wajah Viky sedikit berubah saat membaca tiap paragraf, sehingga tanpa sadar dia bertanya-tanya.


Dari sini aku bertanya-tanya, mengapa pihak polisi menganggap kasus ini tidak biasa, seolah kasus bunuh diri itu disebabkan oleh seseorang... mungkinkah pihak polisi sudah menemukan bukti bahwa “seseorang” sedang mempermainkan kehidupan ketiga puluh orang dan menelan mereka ke dalam jurang kematian dengan cara menghilangkan keinginan hidup mereka?


Viky merasa linglung untuk sesaat, kemudian dia menghela napas panjang. Di saat yang bersamaan, kaki kanan Viky diangkat tepat di atas kaki kirinya, dan dia melakukan itu secara bergantian.


Tubuh Viky tiba-tiba tegak, dan tangan kanannya bergerak mengambil kopi lalu menempelkan cangkir itu di ujung mulut dan meminumnya.


Setelah menyesap kopi yang masih hangat, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening dan bergumam.


S*alan ini pahit, Fiani, apakah aku salah mengartikan kopi ini sebagai kebaikannya untukku, melainkan salah satu balas dendam-Nya dengan membuatku menyesap kopi pahit ini.


Itu trik yang cukup lucu untuk membalas dendam. Huh, aku tidak ingin memaksakan diri untuk meminumnya. Tetapi aku juga tak bisa membuang minuman ini. Sungguh, Ini pilihan yang sulit.


Haruskah aku pergi ke dapur dan mengambil gulanya terlebih dahulu... Tidak, kurasa jika dia bermaksud membalas dendam, dia pasti akan menyembunyikannya.


Sungguh, aku sendiri heran mengapa aku di perlakukan seperti ini, atau mungkinkah... tanpa sepengetahuanku, sebenarnya aku telah di benci oleh keluarga paman. Jika melihat perlakuan mereka sebagian, maka kemungkinan itu relatif tinggi.


Tentu saja semua itu hanya sekedar spekulasi dan dia tidak benar-benar serius memikirkan hal itu. Sehingga dia memutuskan untuk mengakhirinya dengan helaan napas panjang.


Butuh waktu cukup lama supaya kembali tenang. Kemudian dia menaruh kopi itu di atas meja dan melanjutkan membaca koran dalam diam. Dia memutuskan berhenti berspekulasi dan tidak lagi menerima kopi yang dibuat Fiani.


Sedangkan nasib kopi itu sendiri, dia akan membiarkannya mendingin sampai ada orang yang berniat meminumnya. Di sisi lain, dia melanjutkan bacaannya.


“Telah dikonfirmasi kematian para korban ... satu diantara mereka tinggal di perbatasan bagian barat daya Kerajaan Frose.”


Viky seketika membeku setelah membaca teks tersebut. Tubuhnya langsung gemetar hebat dan mulutnya menganga dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia terkejut, bahwa salah satu dari korban tersebut adalah warga setempat.


Di saat yang sama, dia juga telah mencerna informasi itu ke dalam pikirannya dan mulai berspekulasi tentang siapa korban setempat yang telah meninggal karena bunuh diri.


Apakah itu tetangganya? Temannya? Kenalannya? atau justru hanya orang asing belaka. Dia perlu mengkonfirmasi hal itu!


Bagaimanapun juga, dia memiliki hubungan yang dalam dengan beberapa warga setempat, sehingga mereka tampak cukup akrab untuk disebut teman bicara, dan itu sebabnya dia merasa khawatir apa yang mungkin saja menimpa orang terdekatnya.


Akan tetapi, dia langsung kecewa setelah tahu isi dari surat kabar tidak menjelaskan secara rinci tentang identitas korban jiwa.


Viky hanya bisa menahan perasaan kesal. Dan di saat yang bersamaan, dia juga berpikir.


Mungkinkah ini yang dimaksud dari maksud tersembunyi yang diucapkan paman malam tadi? Tapi mengapa ini begitu biasa... dan juga informasi ini begitu abu-abu. Bahkan aku tidak melihat sedikit pun titik terang dari sini.


Kemudian suasana tegang tiba-tiba mencekam dan menyelimuti ruang tamu. Tetapi entah bagaimana itu dengan mudahnya dipecah oleh kedatangan Fiani yang memakai seragam sekolahnya dari balik pintu.


Viky melirik, dan terpesona oleh kencantikannya. Seragam sekolah yang dia kenakan tampak sangat cocok dan pas untuknya, meskipun dia sudah terlalu sering melihatnya setiap pagi. Akan tetapi Viky merasa mood-nya setiap kali meningkat seiring dia menatapnya, sampai-sampai dia melupakan semua dendam yang dia punya.


Gen bawaan memang luar biasa...


Viky bergumam dan tanpa sadar menghela napas panjang.


Kemudian Viky mengangkat sudut mulutnya dan berkata, “Kamu sudah mau berangkat pagi-pagi begini. Apakah sebaiknya aku menemanimu sampai tiba di depan gerbang?"


Fiani menggelengkan kepalanya dengan lembut dan berkata, “Tidak perlu, pacarku sudah menunggu di luar.”


Pura-pura terkejut, Viky menganga seolah-olah menerima kabar mengejutkan. Tetapi sayangnya, sebenarnya dia sudah tahu Fiani memiliki seorang pacar sejak dua bulan yang lalu. Lagipula menurut Viky, sungguh aneh jika dia belum mendapatkannya apabila penampilannya saja secantik dan semenarik itu.


Setelah menunjukkan reaksi "bohongan" Nya, VIky berkata dengan penasaran, “Sena, apakah dia sedang di luar? betapa rajinnya orang itu. Padahal dulunya dia sangat pemalas, tetapi kini sungguh berbanding terbalik setelah dia memiliki kamu sebagai pacarnya. Mungkinkah itu termasuk pengaruhmu yang masuk ke dalam kehidupannya, atau kamu yang memaksa dia untuk rajin. Hmm, tentu saja yang ke dua, ‘kan? Kamu ‘kan murid tela-.”


Tiba-tiba Fiani mengangkat sudut mulutnya membentuk senyuman manis, tetapi di mata Viky, kesan seperti itu tidak terlihat di sudut matanya.


“Tolong jangan membenciku, oke? aku hanya bercanda, dan lagipula aku juga belum sempat menyelesaikan kalimatku,” ucap Viky dengan kaku.


Fiani menyipitkan matanya, mengabaikan ucapan Viky dan meninggalkannya dengan raut wajahnya yang dingin. Tetapi dia tiba-tiba berhenti dan berbalik.


“Oh, aku lupa menanyai satu hal, Nifza, temanmu itu, apa kau melihatnya berjalan-jalan di sekitar sini?”


“Tidak, apa menurutmu aku yang hanya diam di rumah ini sungguh melihatnya dari jendela kamarku?” Viky menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan. “Aku tidak bermaksud bercanda. Tapi aku benar-benar tidak tau dia sedang di mana. Kita bahkan sudah jarang bertemu satu sama lain. Dua, tiga, atau tidak... lima hari yang lalu adalah hari terakhir kita saling bertukar kata.”


Pada saat ini, Fiani mengangguk dan rambut hitamnya tergerai dengan lembut, “Begitu. Yah, terima kasih sudah memberitahu ku.“ Fiani berbalik dan melambaikan tangannya, “Sampai jumpa lagi.”


Viky menghela napas dalam-dalam dan berkata, “Sampai jumpa.”


Saat pintu tertutup rapat, dan hanya menyisakan sedikit tanda-tanda bahwa Fiani telah meninggalkan rumah. Raut wajah Viky sedikit berubah dan dia menekan kepalanya dengan kedua tangannya.


Masih dalam kebingungan yang intens, Viky merasa dirinya di tengah malam nanti tidak akan pernah bisa tertidur lelap, karena banyaknya sejumlah informasi yang belum menemukan poin pentingnya.


Ditambah beban pikiran atas pertanyaan Fiani yang belum jelas tujuannya. Dia merasa kepalanya akan segera meledak dalam waktu dekat.


Setelah beberapa menit kemudian, setelah Fiani pergi. Viky menghela napas singkat dan melanjutkan bacaannya. Tetapi kali ini dia tidak melanjutkan dengan cara memasukkan semua informasi ke dalam kepalanya, melainkan dengan sepotong-potong karena merasa kepalanya tidak akan sanggup menampung sejumlah informasi lagi, atau jika tidak, dia akan menjadi bodoh sepenuhnya.


Viky sendiri belum menerima hasil yang maksimal dari pemikirannya. Maka salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya hasil adalah kurangnya informasi, sehingga dia tidak memiliki bukti yang cukup signifikan untuk mencari tahu apa yang dia ingin ketahui.


Tentu saja Viky tidak mencoba mencari tahu tentang siapa pelaku dari kasus tersebut. Bagaimanapun dia bukanlah seorang detektif, melainkan dia hanyalah orang biasa yang memerankan perannya. Tindakannya hanya meniru karakter dari sebuah novel detektif melalui imajinasi dan perumpamaan. Itu sebabnya dia tidak memiliki motif untuk mencari tahu siapa itu si pelaku dan apa motifnya.


Meskipun ada, itu hanya samar-samar. Tidak akan lebih dari keingintahuan Nya atas identitas korban yang tinggal setempat tinggalnya.


Viky menggelengkan kepalanya, lalu tangannya tanpa sadar telah menggapai kopi dan menyesapnya. Dia telah meminum dan mengakhirinya dengan kerutan di kening untuk kedua kali nya


Setelah itu bibinya datang dan menyuruhnya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan.


Karena dia tidak memiliki kerjaan saat ini, Viky memutuskan untuk menerimanya dan pergi bersiap di kamarnya.