
Di pagi yang cerah, sinar matahari menembus jendela dan menyinari ruangan dengan cahaya pagi seolah memandangi dengan senyuman hangat.
Viky mendapati dirinya terbangun dengan kedua matanya yang terbuka sedikit demi sedikit. Dengan kelelahan yang insten, dia merasakan perasaan yang aneh, yang membuatnya ingin tetap berbaring.
Setelah beberapa menit, tangan kanan Viky merogoh saku untuk mengambil arloji. Menyipitkan matanya, dia menguap sejenak dan air mata keluar dari matanya. Dia kemudian mengusapnya dengan lembut, dan kembali melihat arlojinya.
Pukul lima pagi, sepertinya aku tidur selama empat jam... pantas saja aku masih merasa lelah.
Viky merasa kepalanya sedikit pusing. Tetapi dia merasa itu akan segera sembuh dalam beberapa waktu dekat, jadi dia hanya bisa menghela napas dan berdoa supaya kepalanya dapat segera sembuh.
Kemudian Viky terbangun dengan memaksakan dirinya. Dia merasa lelah, tetapi dia berhasil duduk dan menatap kosong ke jendela kamarnya dalam diam, seolah kesadarannya telah menghilang, tidak dapat ia rasakan, atau mati rasa untuk beberapa saat kemudian.
Setelah beberapa detik dalam keadaan linglung, kesadarannya telah kembali, sepenuhnya dalam kendali. Menghela napas, Viky terbangun dan meninggalkan kamarnya dengan lelah. Pagi ini, dia perlu menyiapkan makanan untuk keluarga pamannya!
Hari ini aku harus memasak apa? Mengingat kemarin bukan aku yang memasak, aku tidak tahu apakah masih ada bahan yang tersisa. Jika tidak, aku harus ke pasar pagi-pagi ini... Huh, aku hanya bisa berdoa itu tidak terjadi, karena itu benar-benar melelahkan untuk berpergian.
Saat tiba diruang tengah, matanya melihat ke meja makan dan terdiam membeku. Di sudut matanya, dia melihat makanan berupa telur dadar yang seperti baru-baru ini dimasak, ada juga sup yang tampak hangat dan juga roti. Seperti seseorang telah menyiapkan sarapan pagi menggantikannya.
Saat matanya tertuju pada roti. Viky segera mengingat apa yang dia makan semalam, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan keningnya dan tersenyum pahit.
Mengesampingkan hal itu, siapa yang menyiapkan itu semua?
Sebenarnya Viky memiliki beberapa pemikiran tentang siapa yang menyiapkan makanan itu. Akan tetapi itu tetap tidak menghilangkan rasa penasarannya, sehingga dia mengalihkan pandangannya ke arah dapur dan melihat gadis cantik dengan rambut hitamnya yang lembut dan diikat dengan gaya ponytail.
Gadis itu tampak sangat cantik. Dia memakai celemek merah muda bermotif bunga yang tampak sangat cocok untuknya, sehingga sangat menarik dipandang oleh mata. Namanya Fiani, yaitu anak paman dan bibinya.
Dia tampak sangat muda, wajar saja, umurnya tidak jauh berbeda dengan Viky, hanya saja dia sedikit lebih tua.
Saat Viky menatapnya dalam diam. Dia merasakan perasaan yang tidak nyaman. Tetapi dia segera menggelengkan kepalanya dan mendekat tepat di samping kanannya dan berkata, “Ada yang bisa ku bantu?”
Merasakan kehadiran Viky tepat disampingnya. Fiani menoleh dan rambut hitamnya tergerai dengan lembut, “Kamu sudah bangun rupanya.”
Fiani sedikit terkejut atas kedatangan Viky yang tiba-tiba. Tetapi setelah menyadari pertanyaan Viky, dia berkata “Kamu tampak sangat lelah, jadi kamu tidak perlu membantuku.”
Setelah itu, Fiani mengalihkan pandanganya. Dia memutuskan mengabaikan Viky dan melanjutkan memotong sayuran menjadi beberapa potongan kecil.
Viky merasa linglung sejenak dan tidak tahu bagaimana harus merespon. Tetapi pada akhirnya dia hanya mengangguk dan berkata, “Kalau begitu aku akan membangunkan paman dan bibi.”
Ketika Viky diberitahu untuk ‘jangan membantu’ Viky seharusnya memiliki alasan untuk menolaknya. Itu karena dia merasa tidak nyaman untuk tinggal bersama paman dan bibinya tanpa melakukan suatu pekerjaan. Bagaimana pun dia tinggal bersama mereka bertiga karena dia diijinkan oleh paman dan bibinya.
Meskipun seandainya saja matanya terasa berat dan tubuhnya terasa kaku. Dia merasa bahwa menyajikan sarapan pagi untuk paman dan bibinya adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Karena itu seperti syarat untuk tinggal bersama mereka, jadi dia tidak bisa mengeluh tentang hal itu.
Jika bukan karena alasan itu, dia tidak akan berpikir repot-repot untuk menyiapkan makanan. Apalagi memasak yang bukan keahliannya. Dia merasa membaca novel jauh lebih baik dari pada melakukan hal itu!
Itu sebabnya ketika Fiani menyuruhnya untuk jangan membantu. Viky tetap menerimanya tetapi dengan alasan lain yang membuatnya tetap bekerja, seperti; dia akan membangunkan paman dan bibinya.
Sebelum pergi, Viky sempat berhenti dan berbalik, “Oh iya, aku lupa bertanya. Kemarin, apakah kamu melihat surat kabar yang tergeletak di lantai?” Viky menggaris bawahi kalau koran itu terjatuh di lantai tepat setelah dia membuangnya.
Fiani berhenti sejenak dan menoleh ke samping, “Surat kabar? Aku melihatnya kemarin tepat di bawah sofa dan menaruhnya di atas meja tamu.”
“Tapi aku tidak tahu apakah itu masih tetap ada di tempat yang sama atau sudah dibuang tanpa sepengetahuanku.” Dia melanjutkan dengan berbagai pemikiran mengapa Viky tertarik dengan surat kabar itu.
Dia masih tidak tahu-menahu niat Viky yang sebenarnya. Lagipula saat Viky membuang surat kabar waktu itu, Fiani juga berada di tempat yang sama dan melihatnya dengan kedua matanya sendiri bagaimana Viky membuang surat kabar itu seolah-olah tidak menaruh minat pada topik yang dibahas.
Itulah sebabnya perubahan sikapnya yang sekarang membuat Fiani sedikit terkejut. “Apakah ada sesuatu yang menarik minatmu dengan surat kabar itu, setelah apa yang kamu lakukan kemarin dengan membuangnya seperti barang buangan. Bolehkah aku tahu alasannya mengapa?”
Viky terdiam sejenak dalam pikirannya dan kemudian mengangguk dengan canggung, “Aku tidak menyangka kamu mengingatnya.”
“Seperti yang ku duga, murid teladan memiliki daya ingat yang bagus.” Viky bertepuk tangan singkat dan tulus memujinya.
Fiani menyipitkan matanya dan berkata, “Tidak ada yang seperti itu!” dia terdiam sejenak dan melanjutkan, “Itu wajar saja jika aku mengingatnya, lagipula itu terjadi kemarin dan kamu melakukan sesuatu yang mencolok, yang membuatku terus memperhatikannya.”
Apakah melempar surat kabar perlu diperhatikan sampai sejauh itu, lagipula itu bukan suatu hal yang menarik sehingga cukup untuk diperhatikan.
Viky bergumam dengan penuh tanda tanya seolah mendengar suatu hal yang konyol.
“Memang benar aku tidak tertarik pada awalnya, tetapi sekarang berbeda. Alasannya adalah apa yang terjadi kemarin malam. Kamu mungkin tidak mengetahuinya karena kamu tidur nyenyak saat itu. Tetapi ayahmu pulang di tengah malam dan dia berhenti di depan kamarku sejenak,” ucap Viky.
Ayah bekerja sampai tengah malam, pantas saja penampilan ayah pada saat itu... Tidak, lupakan saja. Memikirkan bagaimana penampilannya terakhir kali saja sudah membuatku merinding!
Fiani bergumam dan tersenyum pahit. Dia mengingat apa yang terakhir kali dia lihat di tengah malam oleh bunyi derit dan penampilan ayahnya yang menyeramkan.
“Kamu penasaran? Tapi jujur saja, tidak ada hal khusus yang terjadi di antara kami.” Viky berhenti sejenak dan melanjutkan, “Kita berdua, tidak, ayahmu hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting, seperti keluhannya, dan disisi lain aku hanya mendengarkannya.”
Fiani mengerutkan kening, dia sama sekali tidak merasakan kebohongan semata dalam kata-katanya. Hanya saja, dia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Setelah beberapa detik kemudian, Fiani merasa tenang, “Lalu ada apa dengan perubahan sikapmu yang tiba-tiba berubah?”
Viky tahu kalau Fiani masih merasa tidak puas dengan alasannya. Oleh karena itu, “Ada satu hal, itu adalah pertanyaan ayahmu lah yang membuatku tertarik dengan surat kabar.”
Itu benar, oke? aku mulai tertarik dengan surat kabar itu karena mungkin saja ada maksud tersembunyi dari pertanyaan paman!
Sebelum dia melanjutkan, Viky menatap tajam ke arah Fiani, “Apakah kamu mengingat topik yang dibahas dalam koran tadi pagi?”
Fiani terdiam membeku, dan alisnya sedikit berkedut. Namun kemudian dia tiba-tiba tersenyum manis. Sungguh, untuk sesaat saja, perubahan ekspresinya membuat Viky merasa ragu apakah dia sudah membaca surat kabar kemarin atau belum.
Fiani mengangguk dan rambut hitamnya tergerai dengan lembut, “Jangan mengira aku tidak membacanya, oke? Itu tentang bunuh diri massal, bukan?”
Barulah setelah konfirmasi di depan mata, Viky merasa sedikit lega. Dia merasa puas karena tidak perlu menjelaskan lebih lanjut tentang topik itu dari awal.
“Benar, ayahmu tiba-tiba menanyakan hal yang sama kepadaku malam itu, tentu saja, dalam penampilan menyeramkan Nya.” Di akhir, Viky sengaja memperjelas dan dia menyeringai pahit.
Fiani menganga, merasa terkejut atas perkataan Viky, sehingga dia terdiam cukup lama seolah dia membeku dalam es.
Tetapi dia segera menggelengkan kepalanya dan menyipitkan matanya, “Kalau begitu, apakah berita itu berhubungan dengan,“ akan tetapi Fiani berhenti bicara, dan dia nya menghela napas dan berkata, “Lupakan.”
Merasa heran dengan perilaku Fiani yang mencurigakan, Viky tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Disisi lain, Fiani merasa heran dan terus bertanya-tanya dibenaknya. Dan sebuah pertanyaan segera muncul di kepalanya.
Apakah itu terkait kemampuan seseorang yang mengendalikan keinginan seseorang dan jatuh ke dalam jurang kematian, yaitu bunuh diri itu sendiri? Misalnya yang merangsang orang-orang itu untuk bunuh diri adalah para penyihir atau pengguna kemampuan... Tapi untuk apa, dan motif apa yang mereka sembunyikan?
Pada awalnya Fiani sama seperti Viky, dia hanya membaca surat kabar sekilas, tidak lebih dan tidak kurang, bahkan sedikit kurang dari apa yang dibaca Viky saat itu. Akan tetapi, Fiani sedikit lebih unggul karena dia telah menyampaikan Ide pokok dan menyimpulkan beberapa kejadian itu mungkin saling berkaitan. Dan itu adalah mistisisme!
Disaat yang bersamaan, dia terus bertanya kepada dirinya sendiri tanpa ragu, seolah-olah dia tidak mencoba menyembunyikannya dan justru memperjelas bahwa dirinya memiliki hubungan dengan mistisisme. Setelah semua itu, dia juga seolah-olah menjelaskan dirinya sudah terlalu masuk ke dalam dunia itu, sehingga dia sendiri ragu apakah dia dapat kembali lagi ke kehidupan normalnya.
Lagipula, mistisisme itu sendiri disembunyikan dari kehidupan masyarakat, dan hanya sebagian orang yang tahu, terutama orang biasa, kebanyakan dari mereka tidak benar-benar mempercayai bahwa itu ada. Tetapi ada juga yang mempercayai bahwa mistisisme itu benar-benar ada, meskipun kebanyakan dari mereka mempercayai itu hanyalah suatu hal yang pasti berkaitan dengan kemampuan supernatural.
Itulah sebabnya saat pertama kali dia membaca koran tersebut. Dia memiliki gagasan bahwa itu pasti terkait dengan mistisisme karena ketidakwajaran yang terkandung dalam topik yang dibahas koran tersebut!
Meskipun Fiani terkesan cukup berpengalaman, sebenarnya dirinya hanyalah orang biasa, tidak seperti sebagian orang yang tahu akan mistisisme. Tetapi itu tidak masalah baginya.
Fiani cukup sadar bahwa mengetahui sesuatu yang disembunyikan dalam bayang-bayang bukanlah sesuatu yang baik. Akan tetapi, dia percaya selama tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki hubungan dengan mistisisme, nyawanya pasti tidak akan terancam. Begitulah pikirnya, karena selama ini dia telah menjalani kehidupan normalnya tanpa merasakan ancaman dari dalam maupun luar.
Jika bunuh diri massal bukanlah suatu kejadian yang aneh dan misterius, lalu apa itu?
Andai kata bunuh diri hanya disebabkan oleh mental seseorang yang lemah, lalu apakah itu wajar bunuh diri dilakukan secara bergantian dalam waktu dekat. Terlebih lagi, itu terjadi baru-baru ini...
Fiani merasa linglung untuk sesaat dan kemudian menggelengkan kepalanya, memutuskan untuk berhenti memikirkan itu semua.
“Ngomong-ngomong, Viky, mengapa kamu dengan mudahnya memberitahuku alasannya.” Fiani bertanya-tanya, “Bukankah orang normal akan menyembunyikan alasan mereka, tetapi kamu malah memberitahuku semuanya.”
Sebenarnya Viky sendiri tidak tahu mengapa dia berkata terus terang, tetapi dia memutuskan untuk menjadikannya candaan. “Meskipun kamu bilang begitu, bukankah percuma berbohong kepada orang jenius? Kamu pasti akan menyadarinya! murid teladan gitu loh!”
Fiani mengerutkan kening, dan alisnya sedikit berkedut, “Ayo katakan, panggil aku si murid teladan lagi, maka aku akan memanggilmu si penjilat ludah sendiri!”
Fiani menciptakan sebuah panggilan nama untuk Viky. Tentu saja itu sesuai dengan apa yang terjadi saat ini. Yaitu memakan omongannya sendiri bahwa ia sebelumnya tidak tertarik dengan surat kabar itu, tetapi kini malah sebaliknya, seolah dia menerima dengan senang hati apa yang dahulu dia tolak.
Viky tersenyum pahit dan berkata dengan menyesal, “Maaf.”
Mendengar permintaan maaf nya, Fiani tersenyum puas.
“Sepertinya aku akan terlambat menyiapkan makanan jika terlalu lama bicara, mari kita hentikan pembicaraan kita disini.” Fiani melanjutkan pekerjaannya dalam suasana hati yang baik.
“Kalau begitu aku juga akan membangunkan paman dan bibi dulu. Oh, dan tolong hangatkan air panas untukku,” ucap Viky sambil berbalik meninggalkan Fiani sendirian.
Fiani tanpa sadar mengangkat sudut mulutnya. Dia tahu apa yang akan Viky lakukan dengan air panas tersebut!
Bukankah kamu terlalu menyukai kopi...