Mythica

Mythica
Tujuan Awal



Elena mengalihkan pandangannya dan berkerut kening. Tatapannya memiliki rasa intimidasi dari mata merah kecoklatannya yang berubah sangat tajam.


Tubuh Viky menegang canggung. Kakinya bergetar cukup kuat telah mundur selangkah. Ditambah lagi jantungnya juga berdetak kencang dengan suara keras seperti senapan mesin kecil yang cukup kuat untuk membuat telinga berdengung. Jelas, situasi tersebut menjelaskan betapa Viky telah tertekan oleh rasa intimidasi.


Sadar tindakannya sedikit berlebihan. Elena sedikit rileks setelah menyesuaikan pernapasannya dan berkata, "Menguping itu tidak baik lho, adik kecil.


Keningnya mengerut ketika dia dipanggil dengan sebutan adik kecil, tetapi dia berhasil mempertahankan raut wajah biasanya.


"Maafkan aku nona," menyesali perbuatannya tidak dapat diterima, Viky merasa perlu meminta maaf.


Dia menutup matanya dengan penuh penyesalan.


Di sisi lain, Elena tidak peduli dan hanya mengangguk, "Tentu, tapi bolehkah aku bertanya mengapa kamu menguping?"


Matanya terbuka lebar. Dia tidak menyangka permintaan maafnya akan diterima secepat itu!


Viky merasa lega, menghela napas singkat dan berkata, "Tidak ada alasan khusus, sungguh. Aku hanya tertarik mendengarkan percakapan Anda dan nona di sebelah Anda."


Deshia menerobos dan bertanya balik, "Topik, yang mana? berita hari ini, atau topik setelahnya, tentang wanita itu..."


"Kupikir keduanya," ucap Viky, dan melanjutkan, "Jelas topik yang pertama sepertinya sering dibahas akhir-akhir ini. Tapi yang kedua... Ini baru pertama kali aku mendengar itu masuk ke telingaku."


Elena menghela napas panjang, menunjukkan betapa kecewanya dia, dan berkata "Hmm, jawaban yang biasa. Aku hampir tidak melihat ada makna tersembunyi di dalamnya, dan sepertinya kamu juga tidak berbohong."


Viky mengangkat sudut mulutnya dan berkata pahit, "Bukankah aneh menganggap jawabanku memiliki makna, aku hanya mengungkapkan apa yang kupikirkan."


Lagi pula percuma saja berbohong kalau lawan bicaraku seorang perempuan, yang memiliki temperamen peka terhadap sedikit perubahan.


Tidak. Itu hanyalah alasan, aku pikir tidak mungkin semua perempuan memiliki kepekaan yang tinggi. Pasti ada saja beberapa dari mereka yang sebaliknya, atau yang berlawanan.


"Jadi apa kamu ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku?" tanya Elena dengan lugas.


Pertanyaan... seperti siapa si pelaku kasus bunuh diri, atau di mana kamu bertemu dengan gadis bergaun putih itu?


Tangan kanan Viky berpegang pada dagunya selama beberapa saat, lalu dia menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak, aku sudah menemukan apa yang aku ingin ketahui."


Itu bohong, tentu saja.


Tapi setidaknya aku mendapatkan informasi tentang gadis bergaun putih itu, bahwa dirinya mencurigakan. Aku hanya perlu menjaga jarak dan bersiap-siap jikalau kami bertemu dan saling bertatap muka.


"Begitu, baiklah jika kamu tidak ingin bertanya. Meskipun menurutku, kamu belum mendapatkan titik cerah?" ucap Elena sambil memiringkan kepalanya.


Oh ayolah, tentu saja aku belum. Aku hanya canggung bertanya padamu, oke?


"Apakah perempuan semuanya begitu? Nona sepertinya jauh lebih peka dari yang kupikirkan." Viky mengangguk beberapa kali sambil memuji-muji dengan pujian.


"Oh, dari jawabanmu... apakah itu berarti aku menjawab benar. Padahal aku hanya berkata canda." Elena terkikik pelan.


Sebuah candaan!?


Gumam Viky dengan terkejut dan sedikit kesal.


Sampai saat ini, Viky baru menyesali perbuatannya karena telah memujinya.


Pada saat ini, tuan Richard yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dalam diam, membuka mulutnya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu, nona?" tanya Richard sambil mencondongkan badannya ke depan.


Dia menutup matanya, menghela napas singkat dan melanjutkan, "Sebelum itu, aku juga ingin meminta maaf karena menguping pembicaraan kalian."


Elena dan Deshia saling bertukar pandang dengan bingung. Dia tidak menyangka topik yang mereka bicarakan cukup menarik untuk didengar tuan yang tampan itu.


Setelah itu, Deshia terkikik dan menyeringai setelahnya, "Tidak masalah tuan, tuan bisa mengabaikan masalah itu."


"Jadi, apa yang ingin tuan tanyakan?" lanjut Deshia.


Richard mengangguk dan berkata, "Sebenarnya aku cukup bingung, bukankah topik yang kalian bicarakan itu terdengar omong kosong."


Richard berhenti sejenak, menghela napas dan melanjutkan, "Maaf jika kata-kataku menyakitkan, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri mendengar setiap kalimat yang kalian ucapkan itu akan cukup nyata untuk diterima akal dan logika. Bukankah itu seperti dongeng, atau katakanlah cerita untuk menakut-nakuti anak kecil."


Elena mengerutkan keningnya, "Tapi tuan, aku tidak berbohong!"


Richard menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menyangkal pernyataan itu, apakah kamu berbohong atau tidak. Tapi, tidakkah kamu mengesampingkan kemungkinan presepsi-mu lah yang terganggu, yang membuatmu mendengar, melihat, merasakan sesuatu yang tidak benar-benar ada, atau katakanlah halusinasi. Tentu saja dengan premis kamu mengalami penyakit halusinasi yang berlebihan."


Pada saat ini, Elena memegang dagunya dan berpikir dalam diam.


Halusinasi... aku juga pernah menganggapnya begitu. Tapi berakhir menarik kembali kesimpulan itu.


Elena menghela napas singkat setelah bergumam, dan berkata “Yah, sebenarnya aku pun percaya itu hanya omong kosong.”


Dia memutuskan untuk mengibarkan bendera putih dari pada terus melanjutkan perlawanan tanpa ujung.


"Aku setuju dengan pendapat tuan, bukankah itu seperti bualan," sela Deshia sambil melirik ke Elena dengan perlahan.


Padahal sebelumnya dia mengakui telah bertemu dengan wanita bergaun putih itu, tetapi sekarang... Dasar pengkhianat.


Gumam Elena dengan kesal sebelum sudut mulutnya berkedut, dan berkata, "Mungkin, mungkin saja yang kulihat hanyalah halusinasi. Jujur, aku tidak dapat mengatakannya dengan pasti karena aku sendiri tidak dapat membedakan antara kenyataan dan halusinasi."


"Aku sarankan kamu segera berobat," raut wajah Deshia langsung berubah, menatap temannya dengan tatapan penuh kasihan.


Elena menggelengkan kepalanya sejenak, lalu menatap Viky seolah sedang meminta pertolongan.


Tidak, jangan minta bantuan ku, oke?


Gumam Viky diikuti oleh lengkungan di bibirnya.


Setelah tiga menit kemudian, Viky berpamitan dengan tuan Richard setelah membalas singkat pada kedua wanita itu.


Meletakkan tangan kanannya di dada, dia membungkuk sopan dan meninggalkan tempat itu.


*


Pada saat ini, Viky kembali ke jalan raya sembari mengalihkan pandangannya ke atas. Melihat langit biru, sebiru lautan yang tenang dan indah dalam pelukan gumpalan awan putih yang melankolis.


Setelah menatap langit dalam diam, dia menunduk.


Tiba-tiba dia menemukan sebuah benda tengah diinjak oleh kaki kanannya. Sebuah benda yang berbentuk persegi panjang berwarna hitam pekat. Itu adalah sebuah kartu. Dalam arti tertentu, benda itu seperti kertas polos tanpa hiasan. Akan tetapi dari ukurannya, kertas itu seukuran kartu remi sehingga dia menganggapnya begitu.


Sebuah kartu?


Gumamnya singkat tetapi penuh tanda tanya.


Setelah beberapa saat kemudian, dia memutuskan untuk mengambilnya.


Mundur selangkah, lalu membungkuk dan mengambilnya dengan hati-hati. Untuk sesaat dia panik, tetapi dia merasa lega setelah mengkonfirmasi tidak ada yang terjadi pada dirinya.


Tidak ada yang terjadi... Berarti ini semacam kartu biasa.


Aku pikir setelah aku menyentuhnya, aku akan mengalami sakit parah, atau sesuatu semacamnya, yang mengancam nyawa misalnya... Tapi sepertinya aku terlalu banyak berpikir negatif.


Ini semua gara-gara berita hari ini.


Setelah bergumam, dia menghela napas lega dan memasukkan kartu itu ke dalam saku tanpa melihat-lihat kartu tersebut terlebih dahulu. Hanya menunjukkan tanda-tanda bahwa dia telah mengkonfirmasinya sebagai kartu biasa yang jatuh dengan tidak sengaja.


Tindakannya sendiri tidak dapat dimengerti. Mengapa dia mengambil kartu itu, sedangkan dirinya baru saja menganggap kartu itu semacam kutukan yang menyebabkan kematian.


Tentu saja, dia melakukannya bukan tanpa alasan, hanya saja dia tidak bisa menjelaskannya. Tidak untuk saat ini.


Setelah itu, dia melanjutkan berjalan ke rumah, tetapi sedikit melambat-lambatkan dengan mengambil arah memutar.


Sebelumnya, dia telah memutuskan untuk singgah ke rumah Nifza setelah pulang berbelanja. Tetapi setelah mengetahui Nifza sedang berada di luar dan tidak tahu kemana. Dia menarik kembali niatnya.


Beberapa langkah dilewati dan dia bertemu banyak pekerja yang berangkat ke tempat kerja, dia menyapa singkat mereka dengan mengangguk sopan.


Saat dia berjalan cukup lama, memutar jalan sehingga melewati alun-alun yang penuh dengan orang-orang. Viky berjalan sejenak lagi sembari melihat ke kanan-kirinya dengan bosan.


Melihat toko buku di samping kirinya, Viky berhenti berjalan, dan menatap toko itu dalam diam.


Sudah lama aku tidak berkunjung ke toko ini. Haruskah aku mampir dan melihat-lihat, barangkali aku menemukan buku karya Ramera.


Gumam Viky, dan untuk sesaat, keinginan berkunjung ke tempat itu telah meningkat secara signifikan. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk masuk.


Sewaktu masuk ke dalam, Viky langsung mencium aroma khas yang hanya ada di tempat itu. Dilanjuti dengan suasana di dalam persis sama seperti dulu, yang membuatnya merasa nyaman dan ingin menetap dalam waktu yang lama.


Meskipun di dalam ada banyak sekali orang yang berkunjung, tetapi tidak ada satupun suara, tidak seperti pasar yang selalu ramai dan berisik.


Setelah disapa singkat oleh karyawan, Viky mulai berjalan-jalan sambil melihat ke kanan-kirinya


Dia berjalan dan menemukan papan rekomendasi.


Tiba-tiba raut wajahnya berubah secara signifikan dan berkedip-kedip seperti orang kerasukan. Dia terkejut, karena di sana ternyata ada buku novel dari penulis favoritnya!


Dan itu terpajang di depan sebagai salah satu karya rekomendasi!


Saat mendekat, Viky melihat harga buku itu dan tiba-tiba mengerutkan keningnya.


Di sana tertulis 500 Rin.


Harganya mahal sekali... Uang tabunganku mana cukup membelinya. Butuh berapa hari sampai aku mencapai harga tersebut, ini satu Minggu! tentu saja dengan premis aku tidak memakainya untuk makan dan minum.


Sebagai mata uang kerajaan Frose, 500 Rin sebenarnya cukup mahal!


Mungkin ini sudah saatnya aku melamar pekerjaan lagi. Tapi jujur saja, entah mengapa aku sudah menebak endingnya. Lagipula ini sudah yang ke tiga puluh kalinya aku ditolak, aku tidak akan pernah percaya jikalau lamaran pekerjaanku akan diterima sehari setelah aku mengirimnya. Ditambah lagi dengan aku yang masih dibawah umur, maka persentase ditolak sudah pasti akan meningkat lebih tinggi lagi.


Aku hanya bisa berdoa dan menunggu Tuhan memberiku kesempatan.