
...Ch. 012...
“Ini bayarannya,” ucap Viky sambil menjulurkan tangan, memegang uang yang kemudian diserahkan kepada pihak lain–pria tampan bermata coklat.
Semenjak pihak lain mengambil uang itu dan memeriksa dengan mata terbelalak, tangan Viky sudah terulur mengambil koran yang kemudian menumpuk menutupi tangan, tampak berat tetapi sebenarnya cukup ringan.
Viky kemudian terdiam sejenak seolah-olah sedang memikirkan ucapan yang tepat.
Lalu dia pun mengangguk dan berkata, “Terima kasih, tuan.”
Pihak lain tampak tak ingin membuka mulut. Namun setelah memeriksa uang yang diberikan Viky cukup untuk membuatnya tersenyum, ia memikirkan bagaimana harus mengubah raut wajahnya supaya membuat pihak lain senang.
Setelah memikirkan selama beberapa detik kemudian, ia pun membalas dengan hanya menganggukkan kepala.
Ujung bibir Viky sedikit berkedut seakan-akan membentuk seringai, tetapi sebelum itu terjadi, Viky segera meninggalkan kantor penerbit.
“Paman itu...” Viky berkata saat ia berjalan turun sambil menghembuskan napas berat. “Dia tampan sih… hanya minus pelit bicara saja.”
Sangat jarang menemukan pria tampan yang tidak pandai bicara, paling tidak sekumpulan pria tampan di kerajaan Frose memiliki temperamen asik, menggoda dan terbuka hingga dapat membuat topik percakapan yang cocok dengan para gadis cantik di wilayah setempat. Itu membuat mereka tampak seperti pasangan populer di kerajaan ketika sedang berkencan di kafe ataupun tempat-tempat yang cocok untuk orang-orang semacam itu.
Adapun bagaimana Viky tahu meskipun dia seorang penyendiri yang sibuk membusuk di kamar, tidak lain karena ia tidak pernah ketinggalan gosip. Setiap kali paman dan bibi pulang dari pekerjaan mereka, mereka selalu membicarakan topik hangat dan Viky selalu memiliki kesempatan untuk memasang kuping lebar-lebar.
Biarpun kesempatan itu hanya sekali seminggu, itu cukup untuk Viky mendapatkan kabar beredar dari mulut ke mulut tetangga.
Begitu kaki itu menginjak tanah, ia pun menoleh ke langit cerah dan berkata, “Aku cukup penasaran sama anak itu, semoga kali kita bertemu, mereka sudah berbaikan .”
Viky memikirkan anak laki-laki yang mengambil kartu miliknya, tidak, secara harfiah Viky lah yang memberikannya.
“Siapa yang kamu maksud itu?” tanya pria yang duduk di tangga.
Itu pria yang sama tempo hari ketika ia mendaftarkan diri untuk bekerja menjadi pengantar surat kabar. Untuk beberapa alasan mereka akrab sehingga cepat berbaur dan berkenalan.
Sayangnya hubungan mereka tidak seerat teman sahabat untuk saling bertukar nama.
“Siapa tahu, aku juga tidak begitu mengenal anak yang kumaksud itu.” Viky membalas tersenyum, kemudian duduk di samping setumpuk koran.
Pria itu menunjukkan wajah seolah-olah tidak mengerti apa yang dikatakan Viky. Setelah menghela napas, dia pun berdiri dan mengambil setumpuk koran di sampingnya.
“Kalau bicara yang jelas dong, aku tidak begitu paham apa yang kamu maksud itu.”
Mendengar itu, Viky hanya mengangkat bahu sebelum membalas, "Aku mengerti kenapa kamu kesal mendengar jawabanku.”
“Itu karena aku sengaja mengerjaimu!” lanjut Viky sembari terkekeh usil.
Pria itu mengerutkan kening mendengarnya, tampak kesal, sebelum menghela napas berat tanpa berkata separuh kata pun.
Tanpa menunggu pihak lain bicara, Viky berinisiatif membuka topik lain.
“Apapun itu, aku sudah dapat surat kabar untuk hari ini, aku perlu memilah-milahnya dahulu sebelum berkeliling desa,” kata Viky, kali ini tersenyum penuh semangat seakan baru saja menemukan secercah harapan. “Kalau begitu aku akan pergi ke Principal Street untuk menjual koranku. Aku harap warga di sana punya selera untuk melirik koran ini!”
“50 lembar, bisakah itu terjual habis untuk seorang pemula sepertimu?” tanya pria itu, nadanya pun penuh cercaan dan ada pula ketidakpercayaan. “Mungkin dua hari, tidak, tiga hari paling mungkin koran itu akan terjual habis.”
Pria itu tersenyum seraya menutup mata dan terkikik-kikik kemudian. Perilakunya lah yang sangat menyerupai provokator!
Bahkan Viky sendiri tidak menyangka akan diprovokasi di depan muka.
Sayang sekali reaksi Viky sangat berbeda dengan apa yang diumpamakan pihak lain, yakni biasa saja, tidak begitu berlebihan dan justru malah mengangkat bahu:
“Seperti layaknya makanan sehari-hari, mau itu ejekan, atau provokasi sekali pun terasa hampa dan biasa-biasa saja.”
Dia berhenti sejenak untuk menghela napas panjang sambil menikmati reaksi pihak lain yang tampak mengerutkan kening.
Lalu ia pun berkata, “Bahkan relatif membosankan.”
***
Viky terbelalak terkejut, mulutnya terbuka sedikit ketika seruannya hampir terdengar keras:
“Nona? Sepertinya takdir mempertemukan kita!”
Saat ini Viky berdiri di pinggiran jalan raya, memegang setumpuk koran seraya bertanya-tanya kepada para pejalan kaki. Tetapi entah bagaimana takdir bisa berkata, bahwa ia tiba-tiba bertemu dengan sosok yang tampak tak asing dan bahkan sedikit familiar karena kecantikan dan kedewasaan wanita itu.
Itu adalah Elena yang memakai pakaian modis, itu tidak hanya cantik tetapi bahkan relatif menarik minat mata untuk memandang!
“Oh, kamu orang yang kemarin! Bisakah ini disebut kebetulan, sepertinya takdir memang sedang memperhatikan kita berdua!” ucap Elena, sungguh tampak antusias dengan topik takdir yang disebutkan.
Elena kemudian menutupi bibir dengan tangan kanannya, terkekeh lucu hingga hampir menghilangkan aura kewanitaan yang tersebar bagaikan bunyi dedaunan.
Dia cantik… kapan ya aku punya pacar secantik ini… Gumam Viky sambil berpaling ke sisi lain.
Wajahnya penuh merah sampai ke ujung telinga bagai tomat matang yang siap dipanen.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik-lirik Elena sejak tawa miliknya terpadu dengan kicauan burung.
Sementara Viky mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu dengan cara menggeleng-gelengkan kepala, Elena di lain sisi mengamati koran yang tertumpuk di sana.
Menatap matanya, Elena memiringkan kepala dan bertanya, “Kamu menjual surat kabar di sini, adik kecil?”
“Aku kira kamu masih pelajar…” lanjut Elena.
Seorang pelajar yang bekerja juga tidak jarang di kerajaan Frose. Bahkan cenderung banyak karena bertujuan menambah uang saku. Hanya saja kebanyakan dari mereka akan bekerja di siang hari sampai sore hari yang memungkinkan mereka menyisakan waktu untuk belajar di pagi hari.
Viky mendekapkan surat kabar itu ke dadanya seraya menganggukkan kepala. “Ya, tapi aku baru mulai bekerja hari ini, untuk suatu keperluan.”
Viky berhenti sejenak seolah-olah sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk percakapan ini. Karena ia merasa topik ini pasti akan menuju akhir cerita di mana ia diwajibkan untuk mengakui alasan mengapa ia perlu bekerja.
“Apakah itu untuk pendidikan, atau hobi?” Elena bertanya. Dia masih penasaran dengan alasan apa yang dimilikinya.
Para pelajar tak diragukan lagi memiliki alasan untuk bekerja. Mereka tidak akan sukarela bekerja demi menabung untuk masa depan mereka nanti, bahkan pikiran itu tidak sekalipun terbersit di kepala mereka. Jadi jawabannya hanya ada dua atau tiga: untuk keperluan pendidikan; digunakan untuk bersenang-senang; membantu orang tua mereka.
Karena Viky sudah memikirkan jawaban untuk pertanyaan ini sebelumnya, ia mendapati dirinya penuh percaya diri dalam menjawab, “Keduanya.”
Selain untuk membeli novel, uang yang ia kumpulkan nanti akan disimpan untuk keperluan pendidikan dan melanjutkan sekolah.
“Oh iya,” seru Viky, hendak menawarkan setengah dari setumpuk koran ke wanita itu. “Apakah nona berminat?”
Begitu, jadi dia memang pelajar… gumam Elena.
“Sayang sekali aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk membaca surat kabar sejak hari itu. Hanya saja koran ini akan tetap aku beli, mungkin Deshia mau.” Elena kemudian mengambil selembar surat kabar dan menyerahkan uang sebelum tersenyum kembali.
Viky sedikit mengubah raut wajahnya menjadi seseorang yang tampak terkejut sebelum bertanya, “Oh, mungkinkah nona Deshia itu adalah nona yang di sebelah Anda tempo hari?”
“Aku tidak menyangka kamu mengingatnya,” kata Elena.
“Sebenarnya tidak begitu sulit untuk menebaknya jika mengingat keakraban Anda dengan nona…” Viky menjawab tersenyum tetapi terdiam sesaat sebelum berdehem dan melanjutkan, “Deshia.”
Elena terkejut mendengarkan pernyataan itu, ia tidak menyangka hubungan pertemanan mereka akan tampak jelas di mata seorang remaja yang baru bertatap muka sekali di kala belanja.
“Kamu benar.” Elena menjawab, mengangguk-anggukan kepalanya.
Meskipun si pengkhianat itu tetap menyebalkan… gumam Elena, masih benci dengan pengkhianatan temannya.
Elena kemudian tersenyum dan berpamitan. “Kalau begitu sampai jumpa, aku harap takdir suatu kali mengizinkan kita bertemu.”
***
Theo berbalik melarikan diri, bahkan hendak mempercepat langkah kakinya seraya sekali-kali menoleh ke belakang.
Tubuhnya bergetar hebat ketika ia mengamati mata raksasa yang terus meneteskan cairan kemerahan ke tubuh Evans.
Theo yang memperhatikan itu segera berpaling ketakutan.
Ia bertekad untuk meneriakkan bahwa ada monster di sekolah, memberitahu para pejalan kaki untuk segera menyelamatkan siswa-siswa yang ada di sana. Akan tetapi ia memilih menarik diri ketika memikirkan orang-orang sekitar akan menganggapnya gila.
Mentalnya merasa tak akan mampu menerima kata-kata menyakitkan yang dikeluarkan dari mulut mereka, meskipun semata-mata hanya orang asing belaka..
"Mengapa aku, begitu pengecut," ucap Evans, tampak resah dan begitu menyedihkan.
Di tengah pelarian, angin-angin berkali-kali berhembus, menghambur-hamburkan keringat dingin yang menempel di tubuhnya.
Dia berhenti berlari, menopangkan tubuh ke dinding rumah, membiarkan tubuh letih dan basah jatuh tergeletak di sana.
Theo menarik-hembuskan napas kuat-kuat. "Evans, mengapa… mengapa kamu membawa makhluk itu ke sekolah?”
"Mungkinkah kamu berniat membalaskan dendam dengan membawa makhluk itu ke sekolah? Apa perasaanmu seburuk itu karena barang pemberian kakakmu rusak?”
Theo kemudian terdiam penuh penyesalan, mendongak menatap langit dan berkata, “Maka itu semua salahku."
Mata kecil itu memandang, menatap gumpalan keputihan berganti warna menjadi jauh lebih gelap kali ini, bahkan hampir menutupi matahari yang tengah bersinar terang–menyinari dunia dengan cahaya keemasan.
“Aku harus menghubungi Jhon dan Harry sebelum terlambat… tapi, tubuhku tidak mau bergerak. Ini terlalu… menakutkan.” Theo berkata seraya menggigit bibir hingga mengeluarkan cairan kemerahan.
Kerumunan di sana-sini tidak ada henti-hentinya berkata. Menutupi kesedihan seorang anak dengan pertukaran kata yang dikeluarkan dari mulut mereka–tanpa hati dan rasa kepedulian. Tetapi kemudian, detik demi detik, suara pun tak lagi terdengar menyebalkan, menyenangkan, bahkan tak lagi menggelikan. Seolah segala sesuatu di dunia ini tengah membisu. Sebagaimana ia merasa benar-benar terasingkan dan pergi ke ketiadaan.
Bahkan angin pun hanya berbisik menggelitik.
Theo mengalihkan pandangan ke kiri, menatap gang sempit dengan cahaya redup di kejauhan.
Kemudian ia tiba-tiba terdiam membeku, bahkan bicara pun tak diizinkan oleh ‘dia’ yang menatapnya. Seperti seseorang menarik benang di kepalanya dan membisikkan sepatah kata dengan suara gemericik, berkata:
Masuklah.
*
#Note: Hey, kita bertemu lagi mwhehehe~ berharap masih ada yg menunggu lanjutan wkwk. Oh ya! hari ini tidak ada kalimat keluhan dariku! Sampai jumpa lagi!