
Kulihat langit bewarna biru dan kulihat kehidupan ini begitu rancu~
Pagi~
Pagi telah tiba namun kecanggungan masih terasa,, Meja makan yang biasanya dipenuhi obrolan ringan pun hanya di penuhi rasa kekhawatiran dan kebingungan..
''Bu Vara berangkat ya''Vara membuka pembicaraan pagi itu, sekaligus menyudahi keheningan di meja makan itu.. ''Ayok dek berangkat,udah siang..''ajak Vara kepada Riri.
''Hmn... Ya,,, ibu,,, Riri berangkat,yah Riri berangkat.. Asalamualaikum'' Riri berpamitan dengan orang tuannya dengan suasana hati yang gusar karna kejadian tadi malam.
''Kak ayo berangakt juga,, nanti telat..''ajak Uli ke Dina sembari bersaliman dengan ibu dan ayah.
''iya,, duluan aja Li nanti kakak nyusul'' balas Dina.
Uli mengangguk dan berjalan bersama dengan Vara dan Riri..
''Ibu.. Ada masalahkah? Jika Ibu ngak mau ngasih tau ke kami juga nga papa,, kami tau,, kami masih kecil dan mungkin itu masalah yang tidak patut kami ikut campuri.. Jadi Ibu juga tidak perlu memikirkan kami,, Dina bakal nasehatin adek-adek kok bu.. Jadi Ibu bisa tenang~.. Dina berangkat ya bu,, Asalamualaikum♡''Ujar Dina pada ibunya tanpa ingin mendengar jawaban dari ibu..
Masa-masa pertama masuk Sekolah adalah hal yang indah karna kita akan lebih banyak mendapatkan teman di saat pengenalan l8ngkungan kepada anak-anak kelas Vll di SMP.
''Ra?..Vara?,, lagi ngelamunin apa sih?kok dari tadi nga ngedip-ngedip?'' Tanya Kiki pada Vara.
''Ha? Oh Kiki aku pikir siapa'' Vara kaget karna baru terbuyar dari lamunannya. ''kenapa Ki?''tanya Vara dengan mutadosnya.
''astogeh dari tadi juga di panggil-panggil,, baru nanya kenapanya sekarang?''cerutu Kiki.
''Udah ah Ki kan Vara juga manusia pasti bisa ada masalah..''ujar Tania sembari menyelip diantara dua sabahatnya itu. ''Vara sayang,, lagi ada masalah?,, kalau ada masalah boleh cerita loh ke kami,, tapi kalau terlalu pribadi juga buat kamu nga nyaman juga nga papa nga cerita''ujar Tania sambil merangkul Vara..
''Gimana ya,, aku bingung.. Soalnya baru kali ini aja itu terjadi..''jelas Vara.
''oohh masalah cowok yaaa?!,, cieee Varaaa,, kalau masalah itu mah nga usah di pikirin terlalu berat sayang! Jalanin ajaaa..''nasehat Kiki tanpa memandang situasi..
Vara hanya terdiam dan tersenyum kepada teman-temannya itu, 'mungkin nga pantes aku curhat tentang ini ke mereka'kata Vara dalam hati..
'Haa Ibu kok nga mau jawab?padalan nga pernah kayak gini,,huuh.. Hmmnn keselll..'cerutu Riri.. Ntah apa yang merasukinya lah cuma mau nge ekspresiin wajahnya sama orang rumah saja, namun menggunakan wajah dingin untuk menyapa para teman,adik dan kakak seniornya di sekolah..
Sepulang sekolah~
Dirumah~
.
.
.
.
''Asalamualai--..kum'' tertatih Riri mengucapkan salam karna rumah sedang ada tamu yang kelihatannya orangnya kaya raya semuaa. Riri pun mengangguk-anggukan kepalanya dan membungkuk melewati tamu dirumahnya yang jumlah tamunya adalah 7 orang termasuk bayi yang di gendong oleh salah seorang wanita dewasa dengan baju yang muslimahnya..
"Apa yang salah? Apa itu paman dan tante? Ah nga mungkin'' ucap Riri dalam kamar.
Sejam kemudian_
...
''Hah serius aja kali! Mau becanda kok kelewatan! Yah apaan sih?! Kok gini? Kak? Kakak bakal percaya? He? Ra? Kamu nga percayakan? Masa iya tiba-tiba jadi gini? Ngaco ah! Riri gimana? Mana Ayahnya? Ibunya? Ha? Ada yang lain?''Suara Uli memenuhi seisi rumah dan membangunkan Riri dari tidur.
Riri berjinjit keluar agar Tidak menarik perhatian.. Suasana di ruang keluarga nampak mencekam, Vara menangis,Dina terduduk diam di bawah sofa dan Uli tegak pinggang dengan amarah yang mebuncah..
''Bu..''Riri memanggil ibunya yang sedang terisak-isak..
''Riri masuk dulu dalam kamar ya.''suruh ayah.
''kenapa Riri nga boleh tau?AYAH?''ucap Uli dengan menekan kata ayah.
''Kakak itu kan nga sopan.''ujar Riri ''Kak? Kenapa nangis?''tanya Riri pada Vara.
Vara memeluk Riri dengan erat dan menagis sejadi-jadinya.
''kenapa kak?''tanya Riri kembali.
''Kalau udah di buang ngapain mau di ambil lagi?''tany Uli dengan nada sedikit merendah.
Uli kecewa, Dina syok, Vara tersentak, dan Riri? Kebingungan..._
Azan magribpun berkumandang dan para tamu tadi berpamitan pulang,,
.
.
.
Hingga sekarang suasana rumah masih dungin tak ada yang bersuara, Dina berpamitan pergi ke masjid dekat rumah dan Uli mengunci diri di kamar. Sedangkan Vara masuk kekamar Riri dan meminjam tubuh Riri sebagai tempat berpeluk..
Riri belum berani bertanya kembali kepada kakak-kakaknya, dan ia memilih untuk diam sejenak sampai ada yang memberi tahu apa yang terjadi..
Terima kasih kakak yang udah pada baca novel Fatmaaa.. Mohon di bantu ya kak fatmanya dengan like dan pencet'♡'
Komen jugaa dong kak biar ramee #hehe( ̄3 ̄)
Kiskisss(´ε` )♡
jangan bosen ya kak baca novel fatmaaa,, pasti nga nyesel♡