My Sister, I Love You

My Sister, I Love You
Rasa cinta



Happy Reading 😊


Stevani menatap bunga yang ditangkapnya itu, entah kenapa bunga itu seakan datang sendiri padanya.


Kepercayaan orang-orang adalah kalau kita bisa mendapatkan bunga dari pengantin yang melemparkan nya, maka orang yang mendapatkan bunga itu yang akan menikah selanjutnya.


"Wah, selamat ya Stevani" ucap Ara tersenyum kepada wanita itu.


"Nona, tolong ambil saja bunga ini" ucap Stevani menyerahkan bunga itu pada Ara.


"Tidak, bunga itu ditakdirkan menjadi milikmu, jadi kamu harus menyimpan nya" jawab Ara.


Alven yang berada di samping calon istrinya itu menoleh ke arah pemuda yang berdiri berbaris bersama beberapa pengawal.


Anton, pria yang di lihat Alven sedari tadi tidak berkedip menatap Stevani. Kemudian pria itu memanggilnya.


"Anton, kemarilah!" Seru Alven.


Stela dan Stevani menatap pria yang berjalan ke arah mereka itu dengan tatapan bingung.


"Ada perlu apa tuan muda memanggil saya?" tanya Anton membungkuk.


"Temani Stevani ya, aku dan Ara akan pergi menemui kedua pengantin nya" jawab Alven.


Kemudian pria itu merangkul Ara dan mengajaknya pergi menemui Stela dan David yang saat ini Masih bercengkerama dengan para tamu.


Stevani menatap Anton sekilas kemudian menunduk. "Apa bunga itu membuat mu sedih?" tanya Anton.


Stevani mengangguk.


"Tidak usah terlalu percaya terhadap mitos, apa kamu takut akan menikah setelah ini?" tanya Anton.


"Entahlah, kata pernikahan menurut ku sesuatu yang sakral. Tapi apa masih pantas wanita seperti ku ini bisa mendapatkan pernikahan yang selalu di idam-idamkan setiap wanita?" jawab Stevani menatap lurus ke depan.


Dia melihat putri majikannya yang sedang melangsungkan acara pernikahannya itu.


"Apanya yang tidak pantas? gadis secantik kamu pasti banyak yang suka" ucap Anton.


Stevani menatap Anton ketika mendengar ucapan pemuda itu.


"Memang banyak yang suka tapi mereka hanya ingin memanfaatkan saja, sedangkan aku ingin cinta yang tulus dari dalam hati tanpa melihat fisik" jawab Stevani.


Anton menyentuh tangan Stevani dan menggenggamnya.


"Apakah kamu pernah jatuh cinta?" tanya Anton.


Stevani menatap tangannya yang di genggam lembut oleh pria itu.


"Apa itu cinta? dari kecil aku merasa jauh dari cinta, tidak ada yang mencintaiku" jawab Stevani.


"Kamu salah, sebelumnya sudah sejak lama aku menaruh hati padamu, aku jatuh cinta padamu Stevani, maukah kamu menjadi kekasih ku?" ucap Anton mengutarakan isi hati nya.


Stevani begitu terkejut mendengar nya, matanya menatap ke dalam mata Anton, mencari sebuah kebohongan di dalam sana.


Tapi yang ada hanyalah sebuah tatapan keteduhan, mata itu memancarkan setitik cinta yang lama terpendam.


"Aku tidak tahu Anton, aku bukan wanita yang baik untukmu, tubuhku sudah penuh dengan noda" jawab Stevani sendu.


Mendengar jawaban dari Stevani pria itu tiba-tiba memeluknya, mendekap erat tubuh langsing itu.


Stevani yang tidak siap itu melotot kan matanya, sesaat kemudian dia merasa kan sebuah sentuhan tangan pada rambutnya. Anton mengelus kepala Stevani lembut.


Perlahan Stevani merasakan perasaan nya yang menghangat. Hatinya yang tertutup aura dingin sedikit merasakan kehangatan di sana.


"Ssttt, jangan pernah berucap seperti itu lagi, semua orang pasti punya masa lalu yang buruk, begitupun dengan ku" Ucap Anton.


"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintai ku, tapi aku akan membuat mu jatuh cinta padaku dengan seluruh usaha yang akan ku lakukan, Stevani ku mohon bukalah pintu hatimu itu agar ada cinta yang mengalir di dalam sana" ucapnya kembali.


Stevani hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba wajah Anton mendekat, hembusan nafanya sampai terada di pipinya.


Perlahan Stevani merasakan bibirnya di kecup oleh Anton, menempelkan bibirnya sedikit lama sampai pria itu kemudian memangut lembut bibir gadis itu.


Dada Stevani tiba-tiba berdebar kencang, sama seperti yang Anton rasakan, ciuman itu berbeda dengan ciuman nafsu para pria yang sudah pernah Stevani layani.


Rasanya begitu lembut penuh perasaan, bukan karena nafsu sesaat seperti sebelum-sebelumnya.


Ada rasa bahagia disudut hatinya. Antin melepaskan tautan mereka, ada sedikit rasa tidak rela yang Stevani rasakan.


"Aku akan menunggumu Stevani" ucap pria itu.


Stevani tersenyum, ada binar-binar kebahagiaan yang terpancar.


"Baiklah Anton, akan ku coba" jawab gadis itu.


Sedangkan disisi lain.


Di sebuah sudut di taman tempat acara berlangsung nya pernikahan David dan Stela.


Ara dan Alven duduk saling berhadapan, tangan Alven menyentuh lembut tangan Ara.


Rasa cinta yang besar di antara mereka sudah tidak bisa dibantah.


"Apakah kamu menjodohkan mereka sayang?" Tanya Ara pada Alven.


Membahas tentang Stevani dan Anton.


"Aku hanya membantu mereka, sudah lama aku tahu kalau Anton mempunyai perasaan terhadap Stevani" jawab Alven.


"Benarkah? Apa kamu mempunyai kemampuan indera ke enam?" Tanya Ara.


"Tidak, kalau aku mempunyai kekuatan itu tentunya aku sudah bisa menebak perasaan mu sedari dulu" jawab Alven terkekeh.


"Aku sangat bahagia, hari ini melihat saudari kita menikah melepaskan masa lajangnya, ada sedikit rasa tidak rela, tapi kita tetap harus menerima nya bukan?" Tanya Ara.


"Tentu saja, aku percaya bahwa David adalah pria yang cocok untuk Stela" jawab Alven.


"Wah, wah, setelah Mom mencari keberadaan kalian berdua ternyata hanya disini!" Seru Mommy Alea.


"Ada apa Mom?" Tanya Alven.


"Kalian di cari Opa Richard sama Omaoma Rebeca, sebaiknya cepat temui mereka" jawab Mommy Alea.


"Ayo sayang kita temui mereka, pasti akan ada wejangan yang keluar dari kedua orang tua tersebut" ucap Alven.


Ara tersenyum, kemudian dia mengikuti langkah Alven disampingnya, dengan saling bergandengan tangan mereka berdua menuju ke arah Grandpa Richard dan Grandma Rebeca yang sudah menunggu mereka di dalam Mansion.


"Cucu-cucu ku sayang, Opa hanya ingin memberikan ini padamu Alven" ucap Opa Richard memberikan sebuah Map coklat.


"Apa ini Opa?" Tanya Alven penasaran.


"Itu adalah surat kepemilikan saham perusahaan RA Goub yang berada di London, semuanya sudah aku alihkan kepada mu Alven" jawab Opa Richard tersenyum.


"Terima kasih Opa, Oma. Alven akan mengurus perusahaan dengan baik" ucap pria itu sambil memeluk sang Opa.


Ara dan Oma Rebeca tersenyum mendengar nya, ya karena memang Alven seharusnya mendapatkan saham di London karena selama ini dia telah mengelola nya dengan baik.


Bersambung ....


Maaf slow update ya 🙏