My Sister, I Love You

My Sister, I Love You
Dan Ternyata ...



Happy Reading 😊


Ara masih memeluk batu nisan milik orang tua kandung nya. Dengan masih tersedu dia memikirkan bagaimana nasibnya itu.


Entah kenapa dengan melihat Alven dipeluk oleh Stevani membuat dirinya merasa sakit hati, apalagi dengan ucapan Stevani yang ingin dinikahi oleh Alven.


Dan hal yang tidak habis dipikirkan adalah kenapa Alven mau saja dipeluk seperti itu, bahkan dia mendengar sendiri kalau Alven akan bertanggung jawab dan membuat Stevani tidak akan menikah dengan Max, pria yang telah menghamili wanita itu dan telah dijodohkan oleh Papa nya.


Dia tidak menyangka bahwa Alven tega menghianatinya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Alven, apa kamu beneran akan menikahi Stevani karena alasan bertanggung jawab, lalu bagaimana dengan ku" seru Ara tersedu.


Langit tiba tiba berubah menjadi gelap, angin sepoi berhembus kencang, seakan cuaca mengerti kesedihan hati Ara.


Sopir pribadi yang ditunjuk Ara untuk mengantarkan nya kerumah sakit itu berjalan mendekat.


"Nona muda, sebaiknya kita segera pulang, sepertinya hujan akan segera turun" ucap sopir pribadi Daddy Steven yang terlihat masih muda itu.


"Siapa namamu?" tanya Ara menatap sang sopir yang berdiri tidak jauh dibelakang nya.


Pria itu langsung menunduk tidak berani menatap nona mudanya.


Dia tidak menjawab pertanyaan Ara melainkan berbicara hal lain. "Kita harus segera pulang nona, nanti tuan besar dan nyonya besar akan mencari anda" jawab sopir tersebut.


"Aku bertanya apa padamu!" seru Ara.


Sopir itu mengangkat wajahnya dan menatap Ara. Dia sungguh tidak tega melihat wajah cantik nona mudanya yang sudah berlinang air mata itu.


Bahkan masih terlihat disudut matanya genangan air yang seperti akan jatuh.


"Nama saya Anton Nona, mari segera pulang" jawab Anton singkat.


"Anton, di mana rumah mu?" tanya Ara lagi.


"Nona, jangan bertindak seperti ini, nanti saya akan dipecat" jawab Anton.


"Haha OK aku hanya bertanya dimana rumahmu, apa istri mu sedang menunggu mu dirumah?" tanya Ara.


"Saya belum menikah nona" jawab Anton menunduk.


"Berarti kalau aku ke rumahmu tidak akan ada yang marah?" tanya Ara.


Anton menghela napas, dia harus bersabar menghadapi nona mudanya yang sedang mengandung ini.


"Baiklah nona, apa yang anda inginkan?" tanya Anton.


"Aku tidak ingin kembali ke mansion, bawa aku pulang ke rumah mu saja"


Jederrr!!!


Suara petir menggelegar, Anton merasa khawatir dengan kondisi putri majikan nya itu.


Langit pun semakin terlihat menggelap.


"Baiklah nona, kalau itu keinginan anda mari saya antar kan ke rumah saya" jawab Anton.


Saat ini dia hanya bisa menuruti keinginan wanita yang sedang hamil dengan kondisi yang tidak baik baik saja.


Ara tersenyum mendengar jawaban dari Anton, saat ini dirinya sungguh tidak ingin bertemu dengan Alven.


Ara segera bangun berdiri dan berjalan keluar dari area pemakaman.


Anton mengikuti nya dari belakang, dia mengambil ponsel disakunya dan mengirim pesan kepada seseorang.


Sedangkan di mansion Alven tidak menemukan Ara disana. Dengan wajah frustasi dia masih berusaha menghubungi nomer ponsel Ara.


Meskipun dia tahu bahwa Ara telah mematikan ponselnya, entah kenapa pikiran nya menjadi buntu.


Padahal bisa saja dia menyuruh para pengawal Daddy nya untuk mencari dan melacak keberadaan Ara.


Stela dan David berusaha menenangkan Alven yang sudah uring uringan itu.


"Hai kakak ku yang paling tampan, sebaiknya tenangkan dirimu dulu, aku yakin Ara akan baik-baik saja" ucap Stela.


David melotot ke arah Stela tidak terima karena memuji ketampanan Alven.


"Kakak ipar, beberapa hari lagi kita akan menikah, kamu harus segera menyelesaikan masalah mu itu" ucap David yang membuat Stela menyenggol lengan calon suami nya itu.


Dasar David benar-benar tidak tahu situasi dan kondisi, bukannya menyemangati calon kakak ipar nya itu tapi malah semakin membuatnya gelisah, yah karena memang rencana pernikahan David dan Stela dipercepat dari jadwal.


Alven menjambak rambutnya dan mengumpat berkali-kali.


"Apa Daddy sudah tahu masalah ini?" tanya Stela.


"Daddy belum tahu tapi aku yakin dia sudah mengetahui segala nya meskipun aku tidak bercerita " jawab Alven.


"Maaf tuan, nona, saya baru saja mendapat kan pesan dari salah satu sopir pribadi tuan besar" ucap Tina, seorang kepala pembantu yang sudah tidak muda lagi usianya.


Wanita paruh baya itu sudah bekerja cukup lama di keluarga Steven.


Dia memberikan ponsel nya kepada Alven. "Jadi Ara sekarang bersama sopir ini?" tanya Alven.


"Iya tuan muda, Anton membawa nona Ara pulang ke rumahnya karena permintaan nona sendiri" jawab Tina.


Alven langsung segera berdiri dan menyambar jas dan kunci mobilnya.


"Apa Ara sudah ketemu?" teriak Stela.


"Dia sedang bersama salah satu sopir dan sedang berada di rumahnya, aku akan segera menjemput nya" jawab Alven.


"Alven, tunggu dulu, sebaiknya kamu tidak memaksa Ara, ingat dia sedang hamil" ucap Stela.


"Tenang saja adik ku yang bawel, aku tahu akan berbuat apa nanti, sebaiknya aku segera pergi dan menjelaskan kesalah pahaman ini" jawab Alven kemudian pergi keluar mansion.


Dia segera melajukan mobilnya menuju alamat rumah dari Anton.


"Ara, tunggu aku menjelaskan semuanya, kamu telah salah paham" gumam Alven berada di dalam mobil.


Perasaan nya sedari tadi tidak tenang, tiba-tiba perutnya merasa mual. Seperti di aduk-aduk dan berasa ingin muntah.


Alven menepikan mobilnya di tepi jalan, dia keluar dari mobil dan memegang perutnya yang tiba-tiba bergejolak ingin mengeluarkan isinya.


Apakah Alven mengalami ngidam?


Bersambung ...


jangan lupa like, vote dan komen ya akak reader tercinta,😘😘😍😍😍