
Happy Reading 😊
Alven dan Ara saat ini telah menikmati makanannya dengan suasana romantis, Alven pun tidak segan untuk menyuapi kekasihnya itu.
"Apa kita akan pulang ke USA untuk menghadiri acara pertunangan Stela dan David?" tanya Ara.
Alven terdiam sebentar, sudah sangat lama dia tidak menginjakan kaki ditanah kelahirannya itu.
"Baiklah, akan ku usahakan, lagipula aku juga ingin mengenal seperti apa calon adik iparku itu" jawab Alven.
"Mom dan Dad sangat merindukanmu, begitu juga dengan Lala, dia sekarang menjadi gadis yang mandiri dan pekerja keras dan juga sangat cantik" ucap Ara tersenyum mengingat saudarinya itu.
Ya, Alven memang mempunyai dua adik perempuan, Stela adalah adik kandung Alven dan Ara adalah adik angkat anak dari sahabat orang tuanya yang telah meninggal.
Pria itu awalnya mengira kalau Ara adalah anak dari Daddy Steven dengan perempuan lain, sempat pernah berfikir kenapa dulu Daddynya sampai menebarkan benih di rahim wanita lain, tapi tidak ada hak untuk mereka sebagai anak untuk bertanya.
"Aku tahu, Stela memang gadis yang hebat dan cantik, seperti dirimu juga, cantik sekali" ucap Alven membuat pipi Ara merona karena malu telah dipuji seperti itu.
"Alven, apa tidak ada wanita sebelumnya?" tanya Stela tiba-tiba.
Alven tersenyum mendengarnya.
"Kamulah gadis pertama dan terakhir untuk ku" jawab Alven memegang tangan Ara lembut.
Dia mengecup punggung tangan Ara berkali-kali, suasana berubah menjadi semakin romantis ketika ada seorang pemain biola memainkan biolanya di dekat mereka.
Dengan lantunan nada melodi yang sungguh romantis membuat Ara terharu dan hampir meneteskan air matanya.
"Lagu ini mewakili perasaan ku padamu sayang" ucap Alven mengecup tangan Ara.
Akhirnya mereka larut dalam suasana kencan yang sudah dipersiapkan oleh Alven sebelumnya itu.
Malam harinya.
Alven mendapatkan telepon dari Daddy-nya.
"Halo Dad?"
"Halo jagoan Daddy, dimana Ara?"
"Ara sedang berada dikamarnya, ada apa Dad?"
"Hei Boy, Dad dan Mom sudah sangat merindukanmu, minggu depan adikmu Stela akan melangsukan pertunangannya, Daddy harap kamu dan Ara pulang ke USA"
Alven terdiam, tiba-tiba Ara keluar dari kamarnya hanya menggunakan piyama selutut tanpa lengan.
"Baiklah Dad, aku dan Ara akan pulang ke USA"
"Bagus Boy, baiklah sekarang kalian istirahat dulu, selamat malam"
Tut ....
"Daddy meneleponmu?" tanya Ara duduk disamping Alven.
"Hem, Dad ingin kita pulang" jawab Alven.
"Kalau begitu kita harus bersiap-siap untuk pulang ke USA?" ucap Ara berbinar.
Dia sangat semangat sekali, jujur tinggal di London beberapa bulan ini dia begitu merindukan suasana mansion dan juga dengan Mom dan Stela.
Alven merangkul bahu Ara sedikit merapatkan duduknya dengan Ara membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Jujur semenjak malam itu Alven menjadi sedikit agresif dengan kekasihnya itu.
Maklum, tinggal dengan wanita yang dicintainya apalagi sudah pernah merasakan tidur bersama membuat Alven hampir selalu lepas kendali.
"Sayang, kita akan pulang ke USA, aku juga akan mengatakan yang sebenarnya pada Dad tentang hubungan kita" ucap Alven.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?" tanya Ara.
"Sangat yakin, aku ingin segera menikahimu dan kita bisa tinggal bersama dengan tenang, tidak seperti ini, aku harus selalu menahan hasrat tak tersalurkan ini" jawab Alven yang mendapatkan cubitan di perutnya.
"Dasar mesum"
"Gimana gak mesum kalau kamu selalu memakai pakaian terbuka seperti ini didepanku, tapi tidak apa-apa, asalkan kamu harus tertutup kalau sedang keluar, boleh terbuka tapi hanya digadapanku saja" ucap Alven menyentuh pipi Ara.
Gadis itu semakin salah tingkah ketika Alven semakin mendekatkan wajahnya.
Alven sungguh tidak tahan melihat bibir pink milik Ara, dia langsung mencium bibir itu lembut, memangutnya sambil memasukan lidahnya kedalam mulut Ara, mengabsen setiap deretan gigi dan menautkan lidahnya.
Ara pun membalas ciuman itu, mereka saling mencurahkan perasaannya lewat sentuhan bibir masing-masing.
Sudah hampir seminggu Alven dan Ara tinggal di apartemen yang baru. Apartemen Alven sementara tidak ditempati, karena pria itu tidak ingin Ara tinggal sendirian.
Ara sedang memasak di dapur untuk sarapan, mereka memang tinggal serumah tapi beda kamar tentunya.
Sementara didapur, Ara memasak makanan berat untuk sarapannya, yang biasanya sarapan cuma pake roti selai atau sandwich kali ini dia memasak spageti daging dan juga udang goreng plus bawang bombay.
Entah kenapa tiba-tiba dia ingin makanan seperti itu, Ara hanya mengikuti kemauannya saja.
"Aduh, perutku sudah lapar, tidak tahan untuk mencicipinya" seru Ara.
Gadis itu segera menaruh Spageti di dua piring, tentu saja piring satunya untuk Alven.
Beberapa saat kemudian Alven keluar dari kamar dengan memakai kemeja dan sebuah dasi ditangannya.
"Sepertinya kamu masak makanan tang tidak seperti biasanya?" tanya Alven.
"Iya, tiba-tiba aku ingin masak saja" jawab Ara mendekati Alven.
Dia mengambil dasi dari tangan pria itu dan langsung memasangnya dikerah kemeja Alven.
"Aku sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kita ke USA" ucap Alven memandang wajah cantik itu.
"Kapan kita akan berangkat?" tanya Ara yang sedang fokus menyimpulkan dasi itu.
"Besok kita berangkat" jawab Alven.
Ara yang sudah selesai memansangkan dasi itu mendongak menatap wajah tampan Alven.
"Benarkah besok?" tanya Ara senang.
"Hemmm" jawab Alven menganggukan kepalanya.
"Aaaaa ... Aku senang sekali, terima kasih sayang!!" seru Ara langsung memeluk Alven.
Alven membalas pelukan itu erat, dia juga merasa senang apabila melihat sang pujaan hati begitu gembira.
Diapun sudah bertekad akan membicarakan serius hubungan mereka kepada Daddy-nya.
"Baiklah, sekarang kita sarapan dulu" ucap Ara melepaskan pelukannya.
Akhirnya mereka makan bersama dengan lahap, setelah itu Alven berangkat ke kantornya.
"Tunggu aku pulang ya, hari ini kamu masuk kampus jam berapa?" tanya Alven.
"Nanti siang jam 10, aku akan berangkat naik taksi" jawab Ara.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Jangan lupa untuk bersiap-siap" ucap Alven mencium dahi Ara.
Sesudah itu dia berangkat ke kantor sambil diantar Ara sampai depan pintu.
Rasanya sudah seperti suami istri saja, batin Ara tersenyum
****
Hari ini Ara dan Alven bersiap untuk masuk ke dalam pesawat, mereka menggunakan pesawat komersil karena pesawat pribadi milik Daddy Stevan sedang disewa Uncle nya yang berasal dari Bali.
Tentu saja seluruh keluarga besar akan berkumpul untuk menghadiri acara pertunangan putri kedua Steven itu.
Pesawatpun mengudara sampai berjam-jam, dan saat ketika langit sudah berganti malan, Alven dan Ara sampai di USA.
Mereka disambut oleh supir pribadi Daddy Steven dan juga Asisten Sam dan Reno di bandara.
Setelah itu mereka langsung melajukan mobilnya diiringi dua mobil dibelakangnya menuju mansion.
Ara sudah merasa sangat lelah, dia sedikit pusing dan mual.
"Nanti sampai mansion langsung aku panggilkan dokter pribadi ya? Kamu kelihatan kelelahan sekali" ucap Alven.
"Hemm" jawab Ara.
Setelah menempuh perjalan 45 menit mereka sampai di mansion.
Disambut begitu antusias oleh keluarga besar, Stela langsung berlari memeluk Ara.
"Aku sangat merindukanmu Ara!!" seru Stela dalam pekukannya.
Ara yang merasa masih pusing tiba-tiba pandangannya menggelap dan tidak sadarkan diri.
"Araaa, ada apa dengan mu!" seru Stela yang merasakan tubuh Ara yang tiba-tiba merosot.
Alven yang melihat itu langsung berlari dan menggendong Ara masuk kedalam mansion.
Bersambung ....
Hai akak reader? gmn masih pada setia sama cerita Alven dan Ara gak ya? maaf slow up🙏🏻