
Happy Reading 😊
Alven berlari ke pinggir jalan, dia mengeluarkan semua isi perutnya.
"Hoek... Hoek...!!!"
Dia sampai berjongkok karena merasa tubuhnya sangat lemas.
Wajahnya terlihat sangat pucat, Alven mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Reno asisten pribadi sang Daddy.
"Halo Reno, bisa jemput aku di jalan xx"
"Baik tuan muda" jawab Reno disebrang telepon.
Kemudian dia menutup panggilan nya dan memasukkan kembali ponselnya di saku.
Alven berusaha berdiri dan berjalan ke arah mobilnya. Dia membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam.
Tiba-tiba ingatannya kembali tertuju pada kekasihnya Ara yang kabarnya berada di rumah salah satu sopir pribadi Daddy nya itu.
Apalagi saat ini cuaca sedang tidak mendukung, langit terlihat begitu gelap disertai angin yang sedikit kencang.
Alven segera menghubungi adiknya Stela untuk menggantikan dirinya menjemput Ara.
Jujur saat ini Alven merasakan sakit perut yang luar biasa, seingatnya dia tidak makan apapun yang membuatnya alergi.
Bahkan dia ingat tidak mempunyai penyakit lambung, jadi Alven merasa sangat aneh dengan dirinya yang seperti itu.
Setelah beberapa saat Reno datang dan mengetuk kaca jendela mobil tuan mudanya itu.
Alven membuka pintu dan terlihat sangat lemas sekali.
"Tuan muda Alven? Apa anda baik-baik saja?" tanya Reno panik.
Alven tidak menjawab pertanyaan Reno, dia hanya bisa menggeleng karena saat ini perut nya berasa mual kembali.
"Aku ingin muntah" lirih Alven sambil memegang perut nya.
"Tuan muda mari aku antarkan ke rumah sakit" seru Reno yang kemudian masuk ke dalam mobil Alven dan mengambil alih kemudinya.
Alven yang merasa sudah tidak kuat lagi menahan gejolak diperutnya akhirnya memuntahkan isi perutnya kembali.
"Ya Tuhan bos Alven, ada apa denganmu!!" seru Reno khawatir melihat kondisi putra majikannya yang seperti itu.
Sedangkan di sisi lain .
Ara yang sudah sampai disebuah perumahan yang cukup besar tapi terlihat sangat rapi.
Ya dia dan Anton baru saja sampai saat tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras.
Ara membuka pintu mobil dan berlari menuju rumah di depannya itu.
Anton yang juga ikut berlari menuju rumahnya kemudian masuk dan berbicara dengan seseorang didalam rumah.
Ara memandang langit yang begitu hitam di sertai hujan yang sangat deras.
Tidak lama setelah itu Anton keluar dari dalam rumah dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Nona, silahkan pakai handuk dan baju ini untuk mengganti pakaian anda yang basah, ini milik Mama saya dan belum pernah dipakai sebelumnya" ucap Anton memberikan sebuah handuk dan kaos besar milik Mama nya itu.
Ara mengambil nya dengan terenyum. "Terima kasih, maaf sudah sangat merepotkan mu Anton" ucap Ara merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Nona, mari saya antar ke kamar mandi" ucap Anton.
Kemudian Ara masuk kedalam rumah Anton mengikuti pria muda yang berprofesi sebagai sopir di rumah nya itu.
"Selamat datang di gubuk kami Nona muda Ara, maaf kalau rumah kami berantakan dan sangat sempit" ucap seorang wanita paruh baya.
Ara memandang wanita yang sangat ramah itu dengan tersenyum, dia juga yakin bahwa wanita paruh baya itu adalah Mama dari Anton.
"Tidak apa-apa bibi, maaf juga saya tadi yang memaksa Anton untuk membawa saya ke rumahnya" jawab Ara.
"Silahkan nona muda mengganti pakaian nya, itu juga belum pernah saya pakai sebelumnya nona, perkenalan nama saya Emilia, saya adalah Mama nya Anton, dia putra kedua saya dan berkerja pada Tuan Steven sudah sekitar 2 tahunan" ucap Emilia sambil memperkenalkan dirinya pada putri dari konglomerat Steven Austin itu.
"Ara" jawab Ara singkat membalas jabatan tangan Emilia.
Sedang kan Alven sudah berada dirumah sakit dan ditangani langsung oleh Dokter pribadi Steven.
Stevani yang saat itu sedang keluar dari dalam ruang rawatnya melihat Alven yang duduk di kursi roda dengan wajah yang terlihat pucat.
Ada beberapa pengawal yang berada di belakanya, Reno sudah menelepon Bos besarnya bahwa Alven masuk rumah sakit.
"Apa Alven sakit? Seperti nya pagi tadi dia masih terlihat sehat-sehat saja" gumam Stevani.
Tentu saja dia sangat penasaran dengan keadaan Alven yang seperti itu.
Dengan langkah yang masih sedikit tertatih dan membawa selang infus ditangannya Stevani berjalan mengikuti kemana Alven di bawa.
"Stevani!! Mau kemana kamu!!" seru seorang pria yang tidak lain adalah papa dari wanita itu.
Wanita itu berhenti dan menoleh ke arah suara papanya yang memanggil.
"Papa, aku tadi hanya jalan-jalan sebentar" jawab Stevani.
Wanita itu melihat sosok pria gagah berumuran sang papa berdiri tidak jauh darinya.
"Tuan Max ingin menjenguk mu, rapi kamu malah pergi keluyuran seperti ini" ucap Papa Stevani.
"Maafkan saya tuan Max" Stevani menunduk tidak berani melihat wajah dari pria yang sudah merenggut kesucian nya itu.
Sampai dia hamil dan papa nya menggunakan kehamilan Stevani untuk membuat tuan Max bisa menikahinya.
"Ayo Sweety, kita kembali ke ruang rawat mu, tidak baik keluyuran seperti ini padahal kamu masih belum pulih, hmm" ucap tuan Max sambil merangkul bahu Stevani.
Wanita itu hanya menurut saja, sudah sangat lelah rasanya apabila harus memberontak seperti dulu dan ujung-ujung nya dia dipaksa minum obat perangsang untuk melayani tuan Max, pria yang sangat suka dengan gadis muda seperti dirinya.
Di sisi lain ..
Stela dan David sudah sampai dirumah Anton. Hujan masih belum jua reda. David membawa payung dan keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah pintu rumah itu.
Sedangkan Stela tidak keluar dari dalam mobil karena David tidak memperbolehkan nya.
Tok,tok,tok ...
David mengetuk pintu itu, tidak lama setelah itu ada seseorang membukakan pintu untuknya.
Ceklek ...
"Tuan David, kenapa anda yang kesini?" tanya Anton heran kenapa malah David yang datang bukannya Alven.
"Alven sedang berada dirumah sakit sekarang, dia merasa perutnya sakit dan muL saat akan menjemput Ara, maka dari itu dia menyuruhku dan Stela datang untuk menjempun Ara" jawab David sambil menunjuk ke arah mobilnya dan melihat Stela berada di dalamnya.
"David, kenapa kamu bisa berada disini?" seru Ara dari dalam rumah Anton ketika melihat David di ambang pintu.
"Ara aku mau membicarakan seuatu padamu" ucap David kemudian berjalan ke arah Ara.
"Mau bicara apa David?" tanya Ara
"Pulanglah, Alven masuk ke rumah sakit!!" jawab pria itu serius.
Ara melotot tidak percaya mendengar ucapan calon kakak ipnya itu.
"Kamu tidak bohongkan?" tanya Ara serius.
"Tentu saja aku serius" jawab pria itu.
"Iya nona, sebaiknya anda pulang dulu" ucap Anton yang membuat Ara dan David menatapnya.
"Apa kamu yang bernama Anton?" tanya David pada pria muda itu.
"Iya tuan, tolong jangan pecat saya" jawab Anton menunduk.
Dia sungguh merasa takut apabila Steven memecat nya karena telah lancang membawa putri angkat nya pulang ke rumah.
Bersambung ...
Ingin tahu kelanjutannya udah publis di youtube lo channel Navizza Ais