My Lovely Seira

My Lovely Seira
Bab 9



Mata Seira membulat sempurna, mulutnya ternganga dan jantungnya pun berdegup kencang, benar saja Seira sudah menduga ini akan terjadi ia menatap sekeliling namun ini entah dimana gadis itu berada, tubuhnya masih utuh dan tidak terikat seperti di film penculikan. Aneh memang, seharusnya jika ia diculik keadaannya tidak seperti ini berbaring di ranjang king size yang begitu nyaman.


Seira dapat menghirup aroma maskulin dari kamar yang begitu luas ini tembok putih berpadu dengan warna abu membuatnya yakin jika ini adalah kamar milik laki-laki. Ia menduga jika ini adalah kamar milik Ilyas orang yang kemarin malam membawanya.



Ia bangkit dari ranjang king size itu kemudian berjalan mengitari beberapa sudut terdengar samar suara gemericik air dari pintu seberang menggangu pikirannya. Seira bingung harus bagaimana ia ingin melarikan diri namun juga penasaran dengan orang yang ada di kamar mandi itu.



Dengan yakin Seira memilih untuk berpura-pura tidur kembali jika ia kabur maka semua rasa penasaran ini akan sia-sia saja bagi dirinya.


Ceklek!


Suara pintu terbuka membuat Seira menahan napas sejenak lalu ia mencoba mengintip di balik selimut tebal berwarna putih bersih itu samar-samar ia bisa melihat siluet tubuh berotot sadang mengusap rambutnya, dan menggosokkan bagian-bagian tubuh lain pria itu. Sosok itu menatap Seira sebentar kemudian berlalu ke sebuah ruangan lainnya.



Masih dengan posisi sama, gadis itu masih belum bisa menerka apakah itu Ilyas atau sosok lain. Tapi besar kemungkinan pria itu adalah Ilyas. Beberapa pertanyaan sudah ia rancang di dalam hati, dan otaknya untuk segera Seira sampaikan.



Masih menunggu dengan berbaring miring, pria itu pun datang dengan keadaan sudah berpakaian lengkap seperti hendak ke kantor. Seira bangkit memposisikan dirinya duduk membuat pria itu tersentak kaget hingga melompati ke sofa besar yang bersebrangan dengan ranjang besar milik pria itu.


1 detik


2 detik


3 detik


Mereka terpaku satu sama lain tidak ada yang memulai pembicaraan entah Seira maupun Ilyas masih terdiam. Ilyas yang menyadari tingkah bodohnya di hadapan Seira segera turun dari sofa lalu bersikap dingin pada gadis cantik itu.



"Kenapa tidak bilang kalau sudah sadar? Mengagetkan saja, kupikir hantu, " gerutu Ilyas sembari berjalan untuk membuka hordeng yang berada di samping Seira.



"A—aku juga baru bangun," ucap Seira yang menunduk karena malu melihat ketampanan Ilyas begitu nyata.



"Yang benar saja kau ini." Ilyas berjalan menjauh untuk mengambil gelas berisi air putih untuk ia berikan pada Seira.



Gadis pujaannya hanya terdiam saja tidak berniat mengambil gelas itu firasat Seira bilang jika itu mengandung racun tikus.



"Minumlah kau pasti haus, " ujar Ilyas seraya duduk di hadapan Seira, " Ini hanya air putih, " sambungnya.



Perlahan Seira meraih gelas itu lalu meminum air tersebut hingga tandas, ia mengusap bibirnya yang basah dengan jemari putih mulusnya Ilyas yang melihat itu sedikit tergugah hatinya ia ingin mencicipi bibir ranum merah muda itu Ilyas penasaran seperti apa rasanya. Dengan susah payah ia meneguk ludahnya agar segera masuk kedalam kerongkongannya.



"Sudah, terimakasih. " Seira menyodorkan kembali gelas itu lalu bertanya, "Ilyas, siapa kau sebenarnya?"



Saat namanya disebut oleh Seira ada sedikit rasa mendamba yang begitu kuat ingin rasanya ia mendengar kembali namanya dipanggil oleh gadis itu. Sejenak, Ilyas melupakan jika gadis di depannya ini adalah seorang musuh yang harus ia sandera.



Bukannya menjawab Ilyas malah keluar dari kamarnya meninggalkan Seira seorang diri Pria itu bingung harus memulai darimana padahal tadi ia sudah sangat siap untuk memberi tahu siapa dirinya pada Seira namun sekarang, nyalinya tiba-tiba mengecil untuk melakukan itu.



Sekarang Ilyas lebih memilih menghindar daripada menjawab pertanyaan mematikan itu dari Seira. Ia bahkan belum tahu apa yang akan Ia lakukan setelah berhasil menculik putri dari keluarga Rodrigues.



Di tempat lain. Sean yang baru bangun dari tidurnya dikagetkan dengan kepanikan Mike dan juga Angela. Kesadarannya masih belum terkumpul penuh saat ini ia hanya berdiri sambil menguap di depan pintu sambil membawa bantal miliknya.



"Berisik sekali orang tua itu, menganggu saja, " gerutu Sean memilih masuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur indahnya.




"Dasar kalian tidak becus! Menjaga satu orang saja gagal, " geram Mike sambil melayangkan tinjuan pada anak buahnya yang semalam bertugas menjaga Seira.



"Ma—af Tuan, kami sungguh minta ampun, " lirih salah satu Bodyguard Seira berkepala plontos.



"Aku selalu mempercayai dirimu, Brad. Tapi kali ini kau sungguh mengecewakanku, " ucap Mike dengan wajah menahan amarah.



Brad masih bersujud dihadapan majikannya itu, ia sudah sedari kecil menjaga Seira dengan sepenuh hati ia pula yang selalu mencari jika Seira tiba-tiba kabur atau menghilang. Tapi kali ini ia gagal dalam menjalani tugas untuk menjaga dari kejauhan saat Seira terakhir kali dikatakan menghilang, sebenarnya Brad tahu jika Nona mudanya itu ada di kamarnya sedang tertidur pulas tentu itu atas perintah dari Seira sendiri namun kali ini berbeda, Seira tidak berpesan apapun padanya itu juga yang membuat dirinya ketakutan setengah mati jikalau Seira tertangkap oleh musuh.



"Lapor Tuan Mike, saya sudah ke rumah Nona Rei, ia mengatakan jika Nona Seira pulang dari rumahnya sekitar pukul setengah sebelas malam diantar sampai pertengahan jalan. " Suara bodyguard lainnya yang terlihat ketakutan melihat raut wajah Mike yang begitu menyeramkan.



"Kalian memang tidak becus! " Amarah Mike sudah tidak terbendung lagi, ia segera merogoh saku celana kirinya lalu menyodorkan pistol ke arah bodyguard itu.



Semua orang di ruangan itu seketika membeku, begitu pula dengan Angela yang sedari tadi menangis Angela cukup tercengang dengan tindakan Mike saat ini karena suaminya itu sedang dipenuhi jiwa Psikopat.



"Tenanglah ... Sayang, jangan seperti ini, " pinta Angel pada suaminya seraya memegangi lengan Mike.



"Bawa Sean kemari! " perintah Mike pada bodyguard lainnya. Angela yang tahu jika suaminya sedang mengamuk mencoba terus menenangkan dengan terus memeluknya dari belakang.



"Tidak perlu, aku sudah di sini, ada apa? " tanya Sean kebingungan melihat para bodyguard yang berkumpul.



"Adikmu menghilang, " Ujar Mike dengan tatapan tajamnya.



Sean menghela napas sejenak, "paling lagi tidur, " ucapnya enteng sambil meraih gelas berisi jus jeruk kesukaannya dan meminumnya. Semua orang yang berada di sana merinding bukan main mendengar ucapan Sean. Pria itu kenapa tidak bisa melihat Daddynya yang sedang marah.


"Ku bilang Seira benar-benar hilang, bodoh! " kesal Mike pada Sean yang menyepelekan omongannya.


Byuuuur!


Ingin tertawa namun takut berdosa, seperti itu lah keadaan para bodyguard dan Angela yang masih berdiri di sana.



"Hei, Dasar jorok!" umpat Mike saat wajahnya basah terkena semburan dari Sean.



"Dad jangan bercanda, ini tidak lucu! " Balas Sean yang tak kalah kesal.



Tiba-tiba saja Mike menyodorkan pistol tepat pada kepala Sean membuat orang-orang tercengang,"begini kau bilang bercanda, huh!? "



Sean mengangkat tangannya ke udara memberi tanda jika ia mengerti, "kenapa Dad baru bilang sekarang?"



"Bodoh! " Mike menarik kembali pistol itu lalu memasukkan ke dalam saku celananya.



Tanpa pikir panjang Sean pun segera bergegas keluar menuju rumah Andreas pastinya, hanya dia yang bisa membantu sekarang. Kenapa akhir-akhir ini keluarganya tidak tenang memang sudah terbiasa namun ia terlalu sering menghadapi kesulitan sekarang. Apalagi beberapa hari kedepan Sean akan menikah dengan Cindy. Tapi pengganggu seakan sedang menggempur kesabaran Sean.